HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Pengalaman Organisas
Sebanyak 2 dari 6 responden memiliki pengalaman bekerja dalam suatu perusahaan, sedangkan 4 lainnya tidak memiliki atau memiliki pengalaman sangat terbatas (kurang dari 2 tahun) bekerja di organisasi ataupun perusahaan tertentu. Pada penelitian ini, responden memiliki latar belakang pengalaman pekerjaan yang berbeda dengan alasan yang berbeda pula. JS, OS, AF, dan GG tidak pernah memiliki pengalaman bekerja menjadi karyawan sama sekali atau dalam waktu yang cukup lama. JS pernah 1 kali bekerja atau magang dalam suatu perusahaan, namun Ia merasa tidak cocok dengan sistem yang terdapat dalam perusahaan dan memutuskan untuk melanjutkan usaha yang telah dibuatnya. Rutinitas yang ada dalam sebuah sistem perusahaan membuatnya merasa lelah dan tidak ingin melanjutkan bekerja sehingga hanya bertahan dalam hitungan bulan.
OS setelah menyelesaikan sekolahnya hanya mengandalkan usaha yang dibuka secara kecil-kecilan sampai kini menjadi salah satu UMKM yang cukup besar sebagai pembuat keripik. Berbeda dengan AF dan GG, mereka sudah membuat usaha semenjak masih duduk di bangku kuliah. Keberlanjutan usaha yang dirintis semenjak kuliah hingga kini membuat mereka tidak pernah berpikir untuk bekerja pada perusahaan lain mana pun.
GG : “Tidak. Sebenarnya Saya bisa kerja dimana saja, di kantoran oke, di lapangan juga, hanya sampai sekarang belum pernah .. Saya tidak terpikirkan untuk kerja..tidak mau. Meneruskan yang ada saja.”
AF : “….. biasanya kalau sudah kuliah kita mau kerja kemana yang benar itu kalau sudah kuliah mau menambah cabang dimana….. Nanti kalau sudah kuliah kita sudah bikin cabang lagi….”
Menjadi seorang karyawan dalam suatu perusahaan memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda dengan menjadi seorang wirausaha, terutama wirausaha agribisnis yang menghadapi risiko dan tantangan yang sangat besar.
Minoritas dari responden yang memiliki pengalaman bekerja menjadi karyawan suatu organisasi. Terdapat faktor penolakan dalam diri responden untuk tetap berada dalam organisasi tersebut.
SM : “Dulu pernah melihat bos memecat teman. Yang sudah lama itu kerjanya… tanpa mengetahui apa-apa tiba-tiba tidak dibutuhkan oleh perusahaan Dia dipecat…. Dulu berawal dari ketakutan sampai kapan kita akan diperlukan sama perusahaan. Dari hal itu berpikir bahwa kalau nanti sewaktu-waktu dipecat perusahaan, akan bagaimana, mau berbuat apa. Maka dari itu kita mempersiapkan dulu sebelum dipecat lebih baik keluar dulu karena mental setelah dipecat beda dengan mengundurkan diri. Karena secara mental, kalau ketika dipecat kita tidak siap. Kalau kita keluar kita bisa mempersiapkan dulu. Maka dari itu ketika siap, Saya keluar, walau akhirnya sempat kembali lagi karena perusahaan membutuhkan.”
Bekerja untuk orang lain dapat menghambat dalam pengembangan diri. EL : “... karakter kita tidak cocok kerja sama orang. Selain karena kadang-kadang kita punya ide yang terhambat untuk dikembangkan… kerja sama orang lain terkait dengan sistem….” Oleh karena itu Beliau memutuskan untuk berhenti bekerja dan membuka usaha. Tindakan untuk keluar dari pekerjaan dan membuka sebuah usaha dapat merupakan reaksi introspeksi dan koreksi yang terjadi dari adanya hambatan (Moeljono 2003). Introspeksi biasa menjadi reaksi dari hambatan yang cenderung negatif dan koreksi menjadi reaksi ke perilaku positif. Pada kasus yang dialami oleh SM dan EL, analisis terhadap kelemahan yang dianggap menghambat mereka dalam melakukan suatu tindakan yaitu bekerja dalam sebuah sistem yang tidak diinginkannya, memberikan reaksi koreksi dengan cara membuka usaha baru. Sikap dan perilaku ini erat hubungannya dengan kedewasaan emosi seseorang yang sadar bahwa dirinya penuh dengan kekurangan. Perilaku ini yang sesuai serta dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Pada penelitian ini, responden yang memutuskan untuk berhenti bekerja dan memutuskan untuk berwirausaha disebabkan karena mereka menginginkan kepastian dalam lama bekerja serta bisa lebih mengekspresikan dirinya. Namun, bekerja juga dapat memberikan banyak pengalaman dan memberikan dampak pembelajaran pada kepemimpinan.
SM : “Ada dari perusahaan…. Rasa berani. Dia memang (terkadang) suka memukul. Saya belajar dari Dia, dari kesalahan-kesalahan Dia. Orang biasanya belajarnya dari meniru ya, Dia memimpinnya juga tegas……. walau perangainya tidak baik, Saya belajar dari dia. Dari cara Dia, tidak Saya ambil semua yang baiknya Saya ambil, yang jeleknya Saya jadikan pelajaran.” EL : “…. bisa dipelajari dari kerja….”
EL dan SM termasuk dalam mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi di kampus. Hal ini cukup memberikan pengalaman dan pelajaran mengenai organisasi maupun kepemimpinan.
EL : “Dari SMA kayaknya. SMA Saya ikut-ikut organisasi, terus kuliah juga, yang jelas tuh saya suka bandel, tidak mau nurut sama orang…”
SM : “Saya banyak belajar dari Lawalata. Cara membawa tim, mengatur adik kelas, jarang orang lain dapatkan….”
Penelitian yang dilakukan oleh Kempster (2006) menyatakan bahwa magang pada suatu pekerjaan akan berpengaruh terhadap pembelajaran kepemimpinan. Namun, hal ini bertentangan dengan pendapat yang disampaikan oleh EL dan AF.
EL : “Sayang sekali tidak mengetahui (berwirausaha) dari awal…. padahal seharusnya dijadikan pilihan (pekerjaan) semenjak awal… Kalau Saya lihat orang yang usahanya yang udah bagus, itu karena mulainya juga cepat”.
AF : “… saya awalnya hanya mengikuti alur saja, tapi akan lebih bagus kalau dimulai dengan niat..”
Responden lain seperti AF dan GG meskipun belum memiliki pengalaman bekerja dengan orang lain, namun mereka telah memiliki banyak pengalaman berwirausaha. Variasi dari pengalaman itulah yang mereka sebutkan banyak memberikan pembelajaran dalam kepemimpinan.
Panigoro (2013) menyatakan bahwa pemimpin yang baik adalah orang yang memiliki pengalaman dipimpin. Hal ini juga senada seperti yang diungkapkan oleh Siswountomo (2013) bahwa pengalaman menjadi anak buah akan diperlukan dalam membentuk karakter pemimpin yang baik sehingga akan mengetahui tingkat mendasar dan tidak menjadi pemimpin yang otoriter. Pembahasan mengenai pembelajaran kepemimpinan melalui organisasi yang pernah dijalani oleh responden penelitian ini memberikan hasil bahwa pengalaman organisasi yang pernah dialami oleh responden memiliki pengaruh positif terhadap pembelajaran kepemimpinan wirausaha responden. Namun disamping itu, pihak yang banyak melakukan magang ditempat lain pun menganggap bahwa dengan memulai berwirausaha dari awal akan banyak membantu dalam pengembangan usaha. Selain pengalaman dari berbagai organisasi sebelumnya, hal yang umum dan dapat digunakan sebagai media pembelajaran bagi responden yaitu dengan pengalaman dalam bisnis dan lingkungan dari bisnis itu sendiri.