HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Pengalaman Pembelajaran Kepemimpinan dalam Usaha
a) Pengaruh Pengalaman dalam Bisnis
Mayoritas responden merasa memiliki identitas sebagai pemimpin dalam usahanya, kecuali SM dan AF. Disamping itu, SM dan EL yang telah mengalami pengalaman bekerja pada perusahaan dalam waktu yang cukup lama telah mengambil pembelajaran mengenai kepemimpinan. Salah satu cara yang menarik untuk dilakukan untuk mengkaji mengenai pembelajaran mengenai kepemimpinan yaitu bagaimana pengalaman selama menjalani bisnis memberikan dampak pada pengembangan kepemimpinan. AF tidak menganggap dirinya sebagai seorang pemimpin namun Ia tetap menggali ilmu dan belajar untuk memajukan usahanya.
AF : “… yang paling berperan adalah diri sendiri yaitu pengalaman… ketika Saya sudah ada di posisi sekarang, yang akan lebih bagus
jikalau kita punya niat ke arah itu, ya sudah ditempuh jalannya gimana.. kalau Saya kan dulu menjalankan saja, mengalir saja… Tapi kalau sudah sampai di sini kan kalau diniatkan bisa lebih baik lagi. Saya tidak ingin jadi pengusaha, tapi ternyata jiwa dagangnya yang keluar, niat dan memperbanyak pengalaman baik mencoba maupun dari orang lain…”
OS : “….dengan karyawan dan hubungan (memasarkan) saya belajar sendiri.. awalnya saya menitipkan dagangan…saya mencoba terus”(sambil memeragakan menjual barang)
EL : “Belajar dari mengalir saja, dari pengalaman juga iya… dari
sharing-sharing dengan pengusaha juga… ya intinya pengalaman karena semakin banyak usia semakin banyak memberi pelajarannya…”
GG : “... sharing pengalaman-pengalaman dengan teman-teman, jalan- jalan ke tempat teman… ”
SM : “… justru itu yang membentuk kita, dari pengalaman…”
JS : “… banyak pelajaran dari kehidupan ini yang bisa kita ambil…”
Pengalaman dapat menjadi pembelajaran bagi hidup. Namun, pengalaman ini tidak sebatas hanya pengalaman diri sendiri. Bagi mayoritas responden, pengalaman yang juga sangat berpengaruh terhadap pembelajaran kepemimpinan mereka adalah pengalaman dari orang lain maupun pemimpin lain. Banyaknya pelajaran yang diambil saat berdiskusi dengan para pengusaha menyebabkan EL dan OS rajin untuk mengikuti organisasi bisnis. Saat ini EL dan OS tergabung dalam organisasi bisnis yang didirikan oleh sebuah universitas sehingga mereka bisa banyak mendapatkan peluang berbagi pengalaman dan pelatihan mengenai kewirausahaan.
Salah satu cara yang dilakukan oleh beberapa responden dalam meningkatkan kemampuan berwirausaha ataupun kepemimpinan yaitu mengikuti berbagai pelatihan maupun seminar mengenai kepemimpinan maupun kewirausahaan. Saat ini media pembelajaran mengenai kewirausahaan dan kepemimpinan sering dialihkan kepada lembaga pelatihan dan pendidikan. Lembaga pelatihan dan pendidikan baik formal maupun nonformal mulai banyak bermunculan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan maupun kewirausahaan berbagai kalangan, mulai dari anak kecil, pegawai kantor, manajer perusahaan sampai dengan wirausaha. Pelatihan berupa praktik teknis dapat membantu perkembangan usaha responden.
OS : “Awal mulanya hanya modal sedikit, tapi alhamdulillah dengan dapat pembinaan dari IPB mengenai cara-cara produksi dan pelabelan bisa menambah ilmu dan menambah wawasan…”.
OS banyak mengikuti pelatihan mengenai cara-cara memproduksi yang diberikan secara gratis oleh IPB. Selain itu dengan bergabungnya Beliau dengan Inkubator Bisnis IPB memberikan peluang baginya untuk meningkatkan kemampuan teknis dalam proses produksi. Namun, selama ini pelatihan yang dirasakannya hanya berkisar pengelolaan produksi dan manajemen keuangan, sedangkan untuk melatih kepemimpinan dalam hal bernegosiasi dengan karyawan
maupun pelanggan, cara-cara mengambil keputusan belum pernah diberikan selama pelatihan.
OS : “….dengan karyawan dan hubungan (memasarkan) saya belajar sendiri.. “
b) Pengaruh Pelatihan dan Pendidikan Formal
Pelatihan dan pengembangan yang diterima responden merupakan tambahan dari bentukan lingkungan yang diterima.
GG : “Jiwa kepemimpinan dan jiwa kewirausahaan itu sebenarnya udah ada di dasar setiap orang, …. tapi sebenarnya bisa ditumbuhkan, bisa dilatihkan, bisa diciptakan…. lingkungannya yang membuat saya bisa mandiri, kalau pelatihan dan pengembangan untuk polesan saja. Lebih ke internal dan lingkungan saja.…”
JS : “…. tidak bisa menilai (antara pengalaman dan pelatihan) yang paling berpengaruh…. Itu berpengaruh atau tidak yang menilai yang saya pimpin…. saya langsung mengaplikasikan ilmu baru yang saya dapat…. ”
GG : “Pelatihan didapat setelah tahun 2007,..pernah pelatihan bisnis selama setahun itu yang paling kerasa. Yang lainnya tidak terlalu penting….. terkadang cuma menghabiskan uang negara saja. Ada efek tapi gakterlalu besar… gak terlalu terasa…. Bukan masalah lama atau tidaknya…”
Beberapa responden juga pernah mendapatkan pendidikan formal di bangku kuliah mengenai kepemimpinan dan manajemen. Pendidikan tersebut dapat memberikan dampak terhadap pembelajaran kepemimpinan responden.
GG : “Sebenarnya yang kita pelajari di kampus itu masuk…. Bisa. Itu
kan seharusnya dasar, tapi tidak semua orang berpikir ke situ….”
SM : “..bisa dipelajari lewat formal, tapi harus ada praktiknya juga….” JS : “justru karena saya mengambil (mata kuliah) itu, saya jadi
begini…”
Pengalaman yang diingatnya mengenai seminar mengenai kepemimpinan yang diikutinya dirasakan tidak berdampak secara langsung karena hanya menjadi penambah dan pengoreksi sikap kepemimpinan yang telah diterapkannya. Moeljono (2003) menyatakan bahwa yang penting adalah beyond leadership, yaitu ketika kepemimpinan sebagai pengetahuan, ilmu, dan nilai diterapkan di dalam praktik. Menurutnya, saat ini banyak lembaga yang mengadakan seminar maupun pelatihan mengenai kepemimpinan dan kewirausahaan namun kurang dapat dimaknai isinya dan hanya formalitas saja. Ia menyatakan bahwa untuk mendapatkan esensi dari seminar maupun pelatihan yang diikuti harus benar- benar diniatkan dan memang ditujukan untuk melahirkan seorang wirausaha yang baik.
EL awalnya tidak terpikirkan akan menjadi seorang pengusaha. Oleh sebab itu, Beliau bisa dibilang tidak pernah mengikuti pelatihan dan pendidikan mengenai kewirausahaan selama masa kuliah. Namun, ketika pandangan
mengenai kewirausahaan mulai berubah, EL pun giat mengikuti berbagai seminar maupun pelatihan kewirausahaan dari mulai tingkat kota sampai provinsi. Selain seminar mengenai kewirausahaan, kegiatan yang banyak mendorong EL untuk menambah motivasi yaitu adalah dengan berdiskusi dan mendengar cerita dari teman-teman pengusahanya.
EL : “Berbeda berbicara dengan sesama pengusaha dengan orang lain, motivasinya beda… Saya senang berbicara sama orang yang punya usaha baik besar atau kecil karena nanti secara mental berbeda…secara motivasi lebih kuat..”
Meskipun EL belum pernah mendapatkan pelatihan mengenai seminar dan pelatihan khusus untuk kepemimpinan, ketika ditanyakan apakah pelatihan yang diberikan memberikan pengaruh dalam pembelajarannya memimpin, Ia mengatakan:
EL : “Ada. Kan kita belajar dan mendapat informasi, cara menangani karyawan dengan sharing dengan orang lain, dari pelatihan dan yang harus banyak diikuti itu naluri juga.. Belajar dari pengalaman karena semakin lama manusia bisa semakin matang berpikirnya…”
Pada hal ini berarti yang dibutuhkan bukan hanya pelatihan namun juga naluri dan belajar melalui pengalaman. AF berpendapat bahwa untuk dapat belajar dan berlatih mengenai kepemimpinan maka yang paling dibutuhkan adalah belajar dari yang ahli (pengusaha) dan tetap diimbangi dengan praktik di lapangan. Ia tidak pernah mengikuti pelatihan maupun pendidikan mengenai kewirausahaan maupun kepemimpinan karena menurutnya kepemimpinan tidak dapat diajarkan melalui pendidikan dan pelatihan formal. Padahal apabila dilihat lebih dalam, sosok AF merupakan sosok yang tidak asing berperan sebagai motivator dalam acara-acara seminar kewirausahaan. Baginya, pembelajaran yang diperlukannya sekarang bukan melalui pelatihan atau pembelajaran formal lainnya namun menggali pengalaman diri sendiri termasuk pengalaman idolanya Rasulullah SAW. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan TH bahwa dalam mengembangkan kepemimpinan dalam organisasi bukanlah pekerjaan yang dapat didelegasikan kepada lembaga pelatihan, namun juga organisasi itu sendiri yang memberikan kesempatan dalam pengembangan karir.
Lembaga pendidikan menjadi salah satu alat yang digunakan oleh responden dalam meningkatkan keahlian memimpin. Lembaga-lembaga pendidikan non- formal dalam Wibawa (2011) memiliki 5 peran penting, yaitu:
1. Membangkitkan kesadaran masyarakat, yaitu untuk menyadarkan masyarakat tentang struktur dan strategi perubahan sosial serta dimensi multikultural sebagai modal partisipasi dan bertindak secara efektif. 2. Menyampaikan informasi, yaitu memberikan informasi yang relevan
mengenai masalah yang sedang dihadapi.
3. Mengonfrontasi yaitu peran yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan yang ada setelah adanya pertimbangan bahwa kalau kondisi yang ada sekarang terjadi tetap dibiarkan maka keadaan akan dapat semakin memburuk.
4. Pelatihan yakni peran spesifik yang secara mendasar berfokus pada pengajaran masyarakat cara untuk melakukan sesuatu.
5. Pendidikan kepemimpinan, yaitu peran pendidikan yang melahirkan kepribadian dan kecerdasan akal budi bagi warga untuk belajar agar berani dalam hal pengambilan keputusan yang menentukan hajat hidup orang banyak.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Umar (2011) menyatakan bahwa ada pengaruh hasil outbound training terhadap peningkatan karakter kepemimpinan pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta. Mayoritas responden (83%) pernah mengikuti berbagai seminar dan pelatihan mengenai kewirausahaan maupun kepemimpinan, namun efek yang diterima dari seminar maupun pelatihan bagi responden memiliki dampak yang berbeda. Namun dari percakapan yang telah dilakukan, peneliti menyimpulkan bahwa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh responden bukan hanya pelatihan mengenai kepemimpinan, namun juga memperbanyak pengalaman dengan praktik dan latihan, serta berkomunikasi secara mendalam dengan sesama pengusaha untuk menggali pengalaman dari sumber lain. Pengalaman yang dikumpulkan oleh responden dapat memengaruhi pembelajaran mengenai kepemimpinan sehingga akan menarik jika melihat lebih jauh pengalaman mengenai kepemimpinan dengan faktor utama pembentuk karakter, yaitu lingkungan keluarga.