• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

B. Pengalaman Pasangan dari Penderita Penyakit Kronis

Ohman dan Soderberg (2004) mengatakan bahwa ketika seseorang menderita penyakit kronis maka hal tersebut dapat memberikan ancaman secara langsung pada kondisi kesehatan keluarganya. Hal ini dikarenakan keluarga merasa cemas akan akibat dari efek penyakit tersebut, baik terhadap

penderita maupun bagi kehidupan keluarga. Muliadinata dan Partasari (2007) mengatakan bahwa penelitian terhadap keluarga dari penderita penyakit kronis masih jarang ditemukan, padahal keluargapun merasakan beban yang sama beratnya dengan yang dirasakan oleh penderita. Beban ini diawali oleh adanya kenyataan bahwa salah satu anggota keluarga menderita penyakit kronis. Selain itu, Pasaribu (2008) mengatakan bahwa perasaan terbebani muncul karena adanya kesadaran bahwa penyakit tersebut akan merepotkan, terlebih bagi keluarga yang masih membutuhkan tenaga dan pikiran penderita. Hal ini didukung oleh Sutrisno (dalam Pasaribu, 2008) yang mengatakan bahwa pihak keluarga akan terbebani karena adanya biaya yang besar dan waktu yang tersita dalam perawatan penderita tersebut. Bakas, Austin, Lewis, dan Chadwick (dalam Pasaribu, 2008) juga mengatakan bahwa keluarga yang menjadi perawat penderita cenderung tidak siap dengan perubahan emosi dan fisik saat sedang merawat seseorang yang memiliki ketidakmampuan fisik.

Perasaan cemas dan adanya beban dalam menghadapi kenyataan penderita yang sakit kronis akan mengakibatkan adanya ketidaksesuaian dalam diri pasangan. Stephen dan Clark (dalam Pasaribu, 2008) mengatakan bahwa pasangan yang menjadi perawat dari pasangannya yang menderita penyakit kronis memiliki tatangan yang serius terlebih dalam hal penyesuaian diri. Penelitian Ohman dan Soderberg (2004) juga mengatakan bahwa pasangan mengambil tanggung jawab penuh terhadap penderita sehingga

kewajiban dan kehidupan pasangan menjadi nomor dua setelah kehidupan penderita.

Hal ini juga dapat terjadi pada pasangan dari penderita gagal ginjal karena gagal ginjal termasuk penyakit kronis. Penderita gagal ginjal mengalami perubahan secara fisik dan psikis. Perubahan tersebut memunculkan tuntutan-tuntutan kepada pasangan untuk dipenuhi. Pasangan sebagai anggota keluarga terdekat dan telah diikatkan dalam pernikahan merasa perlu untuk memenuhi tuntutan-tuntutan penderita tersebut dan ingin membahagiakan penderita.

Tanggungjawab baru pasangan tersebut dapat memicu munculnya berbagai dampak dalam proses perawatan atau pendampingan penderita. Cavanaugh dan Blanchard (dalam Pasaribu, 2008) mengatakan bahwa pasangan yang merawat akan mengalami stress pada hubungan yang tidak dapat dihindarkan. Sedangkan menurut Saravino (dalam Widiastuti, 2009), stress yang dialami oleh pasangan akan mempengaruhi kesehatan mereka sendiri yaitu imun yang rendah, hormon stress yang tinggi, bahkan bisa memunculkan tingkat kematian. Meski demikian, Levinas (dalam Ohman & Soderberg, 2004) menegaskan bahwa manusia tidak akan bisa melepaskan diri dari tanggung jawab karena tidak ada yang bisa menggantikan tempat manusia tersebut. Kenyataan ini dapat mengakibatkan munculnya inkongruensi dalam diri pasangan.

Inkongruensi dimengerti sebagai tidak adanya kesesuaian yang baik antara diri riil (real self) dengan diri ideal (ideal self). Diri riil di sini

dimengerti sebagai keadaan “diri” sebagaimana adanya jika sesuatunya berjalan dengan baik (Rogers dalam Boeree, 2006). Sedangkan diri ideal dimengerti sebagai pandangan seseorang atas dirinya berdasarkan syarat-syarat dan kepatuhan yang ada di luar dirinya, misalnya keinginan masyarakat (Rogers dalam Boeree, 2006). Rogers (dalam Gari dan Azizi, 1998) mengatakan bahwa inkongruensi merupakan indikasi ketidakpuasan, gangguan ambiguitas, dan kebingungan dalam diri seseorang. Inkongruensi merupakan bentukan dari manusia yang tidak sehat atau manusia yang bermasalah. Hal ini menunjukkan adanya kondisi yang tidak seimbang dimana pasangan tidak siap menerima kenyataan yang terjadi dengan segala aktivitas baru yang menyertainya sebagai rutinitas pasangan.

DesRosier, Catanzaro, and Piller, O’Brien, Robinson, and Scholte op Reimer, de Haan, Rijinders, Limburg, and van den Bos (dalam Cheung & Hocking, 2004) menyatakan bahwa para pasangan yang menjadi perawat bagi pasangannya yang menderita penyakit kronis merasa bahwa mereka kehilangan waktu untuk diri mereka sendiri, kehilangan gaya hidup, dan kehilangan hubungan sosial. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Ohman dan Soderberg (2004) yang mengatakan bahwa pasangan merasa memiliki hidup yang kering. Mereka tidak bisa lagi merasakan sukacita yang timbul dari hubungan sosial dengan teman dan kegiatan mereka karena kebebasan mereka mulai terbatas.

Hal ini sesuai dengan Rogers (dalam Info Seputar Skripsi, 2011) yang berpendapat bahwa manusia akan merasa gelisah ketika diri riil mereka

terancam. Selain itu, Rogers (dalam Feist dan Feist, 2010) mengatakan bahwa individu memiliki diri riil yang dipengaruhi oleh pengalaman. Pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak pernah diperhitungkan sebelumnya mengakibatkan individu merasa gelisah karena tidak siap untuk menghadapinya.

Kegelisahan ini secara tidak langsung dapat memunculkan depresi dan kebingungan pada diri pasangan penderita gagal ginjal. Rogers (dalam Boeree, 2006) mengatakan bahwa jika seseorang mengalami inkongruensi maka dirinya berada pada situasi yang mengancam. Kondisi mengancam ini akan membawa seseorang pada kecemasan. Kecemasan adalah kondisi yang tidak menyenangkan atau adanya tekanan dari suatu sumber yang tidak diketahui (Rogers dalam Feist dan Feist, 2010). Hal ini terjadi karena pasangan belum memahami realitas yang terjadi secara utuh.

Menanggapi perasaan-perasaan yang muncul tersebut, pasangan perlu berusaha untuk memahami penyakit yang diderita oleh pasangannya yang sakit. Hal ini dijelaskan oleh Cheung dan Hocking (2004) serta Ohman dan Soderberg (2004) bahwa pasangan perlu untuk bisa menyikapi segala perubahan yang terjadi. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan merombak pola pikir. Rogers (dalam Feist dan Feist, 2010) menjelaskan bahwa seseorang membutuhkan kesadaran untuk bisa terlepas dari kondisi terancam dan cemas. Kesadaran dibutuhkan agar pasangan mampu melihat realita secara lebih utuh dan mampu terbuka terhadap pengalaman orang lain.

Keterbukaan yang terjadi mampu memberikan pemaknaan pada pengalaman pasangan.

Makna dimengerti sebagai tujuan hidup yang perlu dicari dalam proses kehidupan karena menyebabkan kehidupan tersebut menjadi lebih berarti dan berharga (Bastaman, 1996). Makna yang ditemukan akan menyebabkan individu terhindar dari keputusasaan (Bastaman, 1996). Bastaman (1996) menjelaskan bahwa penghayatan individu akan makna nampak pada perilaku-perilaku yang muncul, yaitu: 1) menjalani hidup dengan semangat, 2) memiliki tujuan hidup yang jelas, 3) merasakan kemajuan yang telah diperoleh, 4) dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, 4) menyadari bahwa makna hidup dapat ditemukan, 5) mampu bersikap sabar dan tabah dalam keadaan apapun, 6) dan benar-benar menghargai kehidupan.

Beberapa literatur sebelumnya yang berkaitan dengan penghayatan makna nampak pada penelitian Ohman dan Soderberg (2004) yang mengatakan bahwa pasangan akan selalu berusaha untuk memberikan bantuan kepada penderita. Pasangan tetap berjuang untuk mendapatkan kekuatan dan tidak ingin meninggalkan tanggung jawabnya meskipun banyak perasaan-perasaan negatif yang muncul disertai kondisi fisik yang kian menurun. Ohman dan Soderberg (2004) juga menjelaskan bahwa pasangan berjuang untuk tetap memiliki kehidupan yang normal. Salah satu usaha tersebut adalah dengan mengkondisikan rumah menjadi lebih nyaman. Hal ini sesuai dengan Levinas (dalam Ohman & Soderberg, 2004) yang mengatakan bahwa rumah merupakan tempat yang nyaman untuk “diri”, di dalam rumah

seseorang dapat merasakan sukacita, penderitaan, keiintiman, dan kelembutan.

Berdasarkan pada literatur-literatur sebelumnya, nampak adanya proses pengalaman yang terjadi pada pasangan dari penderita penyakit kronis. Meski demikian, rangkaian dari proses pengalaman psikologis yang terjadi belum terankai dengan jelas sehingga pemaknaan terhadap pengalaman belum terungkap. Berdasarkan hal tersebut, peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian mengenai makna pengalaman psikologis pada pasangan dari penderita gagal ginjal.

Dokumen terkait