Penelitian ini dilakukan di daerah Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai dan di daerah Keleurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan. Sebelum melakukan penelitian ini penulis sudah pernah melihat langsung Bank Sampah Mutiara Medan. Namun, pada saat itu pihak pengelola Bank Sampah tidak ada di tempat jadi penulis bertanya sedikit kepada masyarakat sekitar Bank Sampah tersebut.
Di tempat penelitian ini kebetulan terdapat rumah salah seorang teman dari penulis yang sekaligus menjadi salah satu informan. Tentu ini sangat membantu karena dapat memberikan sedikit informasi mengenai keberadaan masyarakat sekitar terhadap Bank Sampah itu. Keluarga teman penulis ini sudah tinggal berpuluh-puluh tahu sehingga dia sudah mengetahui seluk beluk masyarakat di sekitar daerah tersebut.
Setelah judul di setujui departemen dan mendapatkan surat ijin penelitian penulis langsung menuju ke lokasi itu. Senin 4 April 2016 untuk melakukan penelitian. Sebelum melakukan penelitian penulis terlebih dahulu melaporkan diri kepada kelurahan setempat dengan maksud untuk meminta ijin sekaligus meminta data-data yang diperlukan untuk penelitian.
Setelah sesampainya di kantor kelurahan, penulis langsung menjumpai salah seorang pegawai kelurahan untuk menanyakan keberadaaan lurah. Dikarenakan lurah menjadi salah satu bagian dari informan penulis. Ternyata, lurah saat itu tidak ada karena sedang mengikuti rapat di kantor camat. Penulis
bertanya kapan waktu beliau kembali namun dia mengatakan kemungkinan pulangnya sedikit lama. Walaupun begitu, bapak tersebut mengantarkan penulis untuk menjumpai sekretaris kelurahan di dalam ruangannya.
Sesampainya di ruangan sekretaris lurah, penulis dipersilahkan maksud dan diberikan maksud dan tujuan kedatangan penulis ke kantor kelurahan ini. Beliau pun mengerti dan bersedia untuk diwawancarai menggantikan pak lurah yang sedang rapat di kantor camat. Pak Sulham Lubis, sekretaris kelurahan memberikan tanggapan atas pertanyaan yang diajukan penulis kepada beliau. Menurut Pak Sulham Lubis setuju dengan apa yang diteliti oleh penuli karena suah menjadi masalah yang serius. Penulis pun tak lupa meminta data-data masyarakat dan menyuruh penulis meminta ke bagian belakang tepat di belakang menja Pak Sulham Lubis. Penulis pun memberikan flashdisk untuk dimaksukkan data tersebut. Beliau menulis di surat ijin yang telah di foto kopi sebelumnya oleh penulis bahwa penulis diberikan ijin dari kelurahan. Setelah dirasa cukup penulis maka penulis mohon pamit dan mengucapkan terima kasih karena telah mmemberikan waktu kepada penulis untuk memberikan informasi.
Setelah mendapatkan ijin dari kelurahan setempat penulis menuju lokasi Bank Sampah. Sepanjang jalan penulis mengamati masih banyak sampah yang berserakan di pinggir jalan umumnya sampah berbahan plastik dan harus di daur ulang. Penulis pun meminta ijin juga kepada Kepala Lingkungan XVIII Pak Hary, supaya beliau mengetahui jika penulis sedang melakukan penelitian di daerahnya.
Kedatangan penulis sangat disambut baik oleh pak Hary, kepling XVII. Penulis pun menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan penulis. Bahkan beliau sangat setuju dengan penelitian yang dilakukan penulis. Penulis pun melakukan wawancara dengan beliau mengenai sampah dan bank sampah itu. Pak Hary menjawab dengan penuh fakta dan kenyataannya. Dari perkataannya, beliau sudah beberapa kali melakukan pembersihan tapi hasilnya tetap sama. Masyarakat pun tetap membuang sampahnya sembarangannya. Bahkan beliau mengatakan sudah capeklah kalau mengatasi sampah di sini akibat kurangnya perhatian dari masyarakat mengenai pengelolaan sampah rumah tangganya sendiri.
Setelah selesai wawancara dengan pak kepling penulis pun menuju Bank Sampah Mutiara medan. Sesampainya di situ keadaan sepi tak berpenghuni. Penulis menanyakan dengan masyarakat sekitar. Mereka mengatakan kalau hari senin bank sampah itu tidak buka, sebaiknya besok saja datangnya. Mendengar pernyataan itu akhirnya penulis melanjutkan besoknya karena haripun sudah mulai sore.
Penulis juga terus melakukan pengamatan di sekitar Bank Sampah Mutiara Medan itu. Ternyata masih banyak sampah yang berserakan baik di pinggir jalan maupun di dalam selokan yang mengakibatkan arus air dalam air menjadi tersebut. Tak jauh dari Bank Sampah itu sungai pun sudah tercemar oleh sampah-sampah dari masyarakat. Bahkan di tepi sungai dijadikan sebagai tempat pembuangan liar oleh masyarakat atau orang luar dari masyarakat itu.
Selama melakukan penelitian penulis melakukan wawancara mendalam dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah dibuat sebelumnya serta menyiapkan alat rekaman guna merekam seluruh hasil wawancara supaya jelas dan terperinci. Penulis tidak serta merta langsung melakukan wawancara melainkan mengamati sambil menikmati jualan yang di jual di warung informan tersebut dengan begitu penulis dapat menggali informasi dari informan.
Kemudian penulis menjumpai pimpinan dari Bank Sampah Mutiara Medan. Awalnya beliau tidak ada di tempat jadi saya disuruh oleh stafnya untuk menghubungi beliau. Penulis pun menghubungi beliau dan menentukan kapan dan dimana untuk melakukan perjumpaan. Tak seperti yang dipikirkan oleh penulis ternyata untuk memintaa data dan mewawancarai beliau penulis harus membeli produk-produk hasil kerajinan tangan yang dibuat oleh para staf dan nasabah Bank Sampah Mutiata Medan seharga Rp. 200.000,00. Tentu ini membuat penulis sedikit terkejut. Hal ini dimaksudkan beliau supaya ada feedback / umpan balik antara penulis dan Bank Sampah Mutiara Medan atau dengan kata lain penulis mempromosikan hasil kerajinan tangan tersebut.
“Bapak bukan untuk memproleh keuntungan,dek. Bapak cuman ingin ada hasil yang kau dapat dari bank sampah mutiara medan ini. Ini juga bisa sebagai bentuk promosi barang hasil daur ulang sampah kepada
teman-temanmu dan kau jual pada mereka.”(Bapak Effendi Agus, Pembina Bank
Sampah Mutiara Medan)
Setelah mendengarkan pernyataan seperti itu peneliti pun mengangguk setuju dan menginformasikan besok untuk datang kembali. Dikarenakan peneliti tidak membawa uang sebesar itu.
Peneliti datang keesokan harinya, tetapi Bapak Efendi sebagai Pembinanya tidak ada di Bank Sampah. Peneliti pun menunggu hingga 1 jam lebih dari waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Akhirnya peneliti mewawancarai beliau mengenai informasi tentang Bank Sampah Mutiara Sampah Medan sekaligus peneliti meminta data dan beliau menyarankan saya untuk memintanya kepada salah satu stafnya. Selesai wawancara, penulis diberikan berbagai produk daur ulang sampah sebagai persyaratan yang harus dipenuhi jika ingin mengetahui tentang Bank Sampah Mutiara Medan.
Kemudian penulis juga lanjutkan mencari informasi mengenai permasalahan sampah yang ada di Kota Medan ini sekaligus tentang Bank Sampah Mutiara Medan. Sebab Bank Sampah Mutiara Medan juga hasil kerja sama dengan Dinas Kebersihan Kota Medan. Oleh karena itu, penulis mendatangi Kantor Dinas Kebersihan Kota Medanuntuk mendapatkan data-datanya melalui wawancara dengan pihak Dinas Kebersihan Kota Medan. Sebelumnya penulis mengurus surat ijin penelitian ke BALITBANG dikarenakan pihak dari Dinas Kebersihan meminta surat dari BALITBANG. Oleh karena itu, penulis pun mendatangi kantor BALITBANG Kota Medan. Beberapa hari kemudain surat yang dimaksud telah selesai dan pada hari itu juga penulis menuju kantor Dinas Kebersihan Kota Medan guna mencari data seputar permasalahan sampah di Kota Medan termasuk perkembangan bank sampah yang ada di Kota Medan juga.
Kemudian guna menambah informasi, penulis pun mengunjungi Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang yang berada di daerah Belawan. Kedatangan penulis disambut baik oleh salah satu pegawai Rumah Kompos dan
Bank Sampah Induk Sicanang. Beliau senang dengan kedatangan penulis karena beliau mau memberikan informasi seputar Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang sebab sudah banyak yang datang mengunjungi seperti penulis jadi beliau sudah tau dan memberikan informasi untuk penulis.
Kebetulan saat itu, lagi ada kegiatan menyortir barang barang bekas sepeerti kertas, kardus, kaleng, yang dipisahkan dan dimasukkan ke dalam masing-masing goni besar. Itu dilakukan dikarenakan barang-barang tersebut akan dijual ke pabrik ataupun kepada si pembeli. Penulis juga mewawancarai Bang Hutagalung yang sedang sibuk mengurusi barang-barang bekas tersebut. Penulis sempat merasa segan karena takut mengganggu tetapi beliau tidak merasa keberatan dan bersedia untuk diwawancarai. Setelah dari Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang, penulis pun melanjutkannya kepada masyarakat untuk diwawancarai mengenai pendapat mereka tentang Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang dan cara mereka mengolah sampah rumah tangganya sendiri. Selain wawancara, penulis juga mengambil foto di sekitar Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang untuk dokumentasi penulis dalam penelitian ini.