V. GAMBARAN UMUM
5.2 Karakteristik Responden
5.2.1.3 Pengalaman Usahatani
Sebagian besar petani responden yang bersertifikat SNI memiliki pengalaman usaha pembenihan ikan gurami lebih dari 20 tahun. sebelum mengetahui adanya Standar Nasional Indonesia proses produksi pembenihan ikan gurami, pengetahuan petani tentang budidaya pembenihan ikan gurami didapat secara turun temurun dari orang tua mereka. Pengalaman petani responden bersertifikat berkisar antara 5-42 tahun (Tabel 13)
Tabel 13. Sebaran Responden Bersertifikat SNI Berdasarkan Pengalaman Usaha
Pengalaman Usahatani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 5-10 11-20 21-30 31-45 2 4 3 4 15,38 30,77 23,08 30,77 Jumlah 13 100 5.2.1.4Luas Kolam
Semua kolam yang digunakan petani responden bersertifikat SNI adalah milik sendiri sehingga petani tidak mengeluarkan biaya untuk sewa lahan untuk berusahatani ikan gurami. Luas kolam yang digunakan petani untuk memelihara benih hingga ukuran 1-2 cm beragam, mulai dari 100 m hingga 5000 m . Rata-rata luas kolam yang digunakan oleh petani responden bersertifikat untuk memelihara benih adalah 1110,38 m .
2 2
2
Tabel 14. Luas Kolam Petani Responden Bersertifikat SNI
Luas Kolam Pendederan 1 (m ) 2 Jumlah (Orang) Persentase (%) <500 500-1000 >1000 3 6 4 23,08 46,15 30,77 Jumlah 13 100 43
5.2.2 Petani Non Sertifikat 5.2.2.1Usia
Petani responden yang tidak bersertifikat SNI berjumlah 17 orang dengan usia rata-rata 49 tahun yang berkisar antara 30-67 tahun. Sebagian besar petani responden yang tidak bersertifikat SNI berusia antara 41 hingga 50 tahun yaitu sebanyak 7 orang atau sebesar 41,18% (Tabel 15).
Tabel 15. Sebaran Petani Responden Non Sertifikat SNI Berdasarkan Umur Golongan Umur Jumlah (Orang) Persentase (%)
30-40 41-50 51-60 >60 3 7 2 5 17,65 41,18 11,76 29,41 Jumlah 17 100 5.2.2.2Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan petani responden yang tidak bersertifikat SNI sebagian besar sudah tamat SD. Tingkat pendidikan petani responden yang tidak bersertifikat paling tinggi adalah tamat SLTA. Dengan tingkat pendidikan sebagian besar lulusan SD, petani non sertifikat kurang mampu dalam mengadopsi dan menerapkanan teknologi baru dalam proses produksinya serta petani kurang mampu untuk menulis hasil kegiatan produksi sebagai syarat sertifikasi SNI. Kisaran pendidikan responden yang tidak bersertifikat mulai dari tamat SD hingga SLTA dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Tingkat Pendidikan Petani Responden Non Sertifikat SNI Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%) SD SLTP SLTA 11 4 2 64,72 23,52 11,76 Jumlah 17 100 44
5.2.2.3Pengalaman Usahatani
Petani responden yang tidak bersertifikat SNI memiliki rata-rata pengalaman usaha pembenihan ikan gurami 23,52 tahun dan berkisar antara 8 sampai 50 tahun.
Tabel 17. Sebaran Responden Non Sertifikat SNI Berdasarkan Pengalaman Usaha
Pengalaman Usahatani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 5-10 11-20 21-30 31-50 4 6 3 4 23,52 35,30 17,65 23,52 Jumlah 17 100 5.2.2.4Luas Kolam
Luas kolam yang digunakan petani responden yang tidak bersertifikat SNI untuk memelihara larva hingga benih ukuran 1-2 cm, yaitu mulai dari luasan 70 m hingga luasan 2000 m . Sama halnya dengan petani responden bersertifikat, kolam yang dimiliki petani responden yang tidak bersertifikat merupakan milik sendiri. Rata-rata luas kolam yang digunakan untuk pemeliharaan larva oleh petani responden non sertifikat adalah 512,35 m .
2 2
2
Tabel 18. Luas Kolam Pendederan Petani Responden Non Sertifikat SNI Luas Kolam Pendederan 1 (m ) 2 Jumlah (Orang) Persentase (%) <250 250-750 >750 3 12 2 17,65 70,58 11,76 Jumlah 17 100 45
5.3 Gambaran Umum Usaha Pembenihan Ikan Gurami
Kualitas benih merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan dari usaha pembesaran ikan gurami. Dengan kualitas benih yang baik maka produksi dari hasil pembesaran ikan gurami pun akan baik. Hal tersebut merupakan salah satu tujuan pemerintah dari diterbitkanya Standar Nasional Indonesia pembenihan ikan gurami. Salah satu unit pembenihan rakyat (UPR) yang sudah mendapatkan sertifikasi SNI adalah UPR Setia Maju yang berada di Desa Beji, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Banyumas.
UPR Setia Maju mendapatkan sertifikasi SNI sejak tahun 2004 hingga sekarang. Setiap satu tahun sekali UPR yang mendapatkan sertifikasi akan di evaluasi oleh pihak pelaksana teknis dari program sertifikasi SNI, sehingga tidak menutup kemungkinan UPR yang sudah mendapatkan sertifikat SNI akan di copot dari sertifikasi jika persyaratan sertifikasi tidak digunakan.
Salah satu keberhasilan yang didapatkan petani melalui program sertifikasi SNI adalah manajemen proses produksi yang dilakukan lebih terkontrol karena semua kegiatan proses produksi, hasil produksi serta biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi dibukukan oleh petani. Keberhasilan lain yang didapatkan petani yaitu berupa pengakuan penerapan SNI yang berdampak pada permintaan produk yang meningkat. Adanya pihak dinas dari daerah Kalimantan yang membeli telur dan benih ikan gurami pada petani bersertifikat merupakan contoh adanya peningkatan permintaan.
Kegiatan usaha pembenihan ikan gurami di daerah penelitian meliputi beberapa proses, diantaranya adalah pemeliharaan induk,pemijahan, pemanenan telur, pemeliharaan larva, persiapan kolam pendederan, pemeliharaan benih dan
pemanenan. Input produksi yang digunakan petani dalam proses produksi pembenihan ikan gurami di daerah penelitian adalah pupuk, kapur, pelet benih, pelet induk dan pakan daun sente.
Kegiatan pemeliharaan induk merupakan awal dari kegiatan proses produksi benih ikan gurami. Namun pada dasarnya, usaha untuk memproduksi benih ikan gurami ukuran 1-2 cm tidak harus memiliki induk, akan tetapi dapat pula membeli telur gurami lalu memelihara hingga menghasilkan benih ikan gurami ukuran 1-2 cm. Kegiatan pembenihan ikan gurami yang dilakukan petani responden dimulai dari tahap pemeliharaan induk. Dalam kegiatan pemeliharaan induk, kegiatan yang dilakukan petani responden adalah kegiatan pemberian pakan pelet dan daun sente, pengecekan sarang ikan gurami dan pengecekan saluran masuk dan buangan air kolam induk.
Perbandingan antara jantan dan betina ikan gurami yang dilakukan oleh petani responden bersertifikat adalah 1 : 4 artinya untuk satu petak kolam terdapat minimal satu ekor jantan dengan empat ekor betina, sedangkan untuk petani responden yang tidak bersertifikat perbandingan antara jantan dan betina induk ikan gurami bervariasi antara 1 : 2 hingga 1 : 4. Untuk SNI sendiri, perbandingan antara induk jantan dan betina adalah 1 : 3-4. Sebagian besar responden petani non sertifikat sudah menerapkan persyaratan SNI induk ikan gurami, namun ada beberapa petani yang belum menerapkan SNI induk ikan gurami.
Kegiatan pemanenan telur merupakan tahap kedua dari kegiatan usaha pembenihan ikan gurami di daerah penelitian,. Sebelum di panen tentunya sarang induk diperiksa terlebih dahulu. Bahan sarang terbuat dari sabut kelapa dan ijuk. Bahan sarang diletakan dipermukaan air kolam induk. Tempat sarang yang
digunakan oleh petani berupa anyaman bambu yang dibuat sedemikian rupa hingga menyerupai kerucut dengan diameter 20 cm. tempat sarang ditempatkan di sisi kolam yang ditancapkan ke dinding pematang kolam dengan kedalaman 10 cm. Untuk mengetahui sarang sudah berisi telur atau tidak dapat dilihat secara visual yaitu dengan melihat banyaknya ikan seribu di sekitar sarang. Untuk lebih meyakinkan, sarang digoyang secara perlahan atau sarang ditusuk dengan bambu kecil. Sarang yang sudah berisi telur ditandai dengan keluarnya minyak (berasal dari telur yang pecah) dari sarang ke permukaan air jika sarang ditusuk atau digoyangkan.
Pemanenan telur dilakukan dengan cara mengangkat sarang yang telah berisi telur secara hati – hati agar telur tidak pecah atau keluar dari sarang. Sarang kemudian dipindahkan kedalam baskom untuk dipisahkan dan dibersihkan dari bahan sarang yang berupa sabut kelapa atau ijuk di lokasi penetasan telur. Telur yang sudah dipisahkan dari bahan sarang kemudian di lakukan sortasi telur yang baik dan tidak. Telur yang baik berwarna kuning bening, sedangkan yang tidak baik berwarna kuning pucat agak keputihan. Setelah itu telur dihitung untuk di tetaskan dan sisanya dijual oleh petani kepada pengepul.
Telur yang sudah dihitung berdasarkan ukuran kolam pendederan akan menetas setelah dua hari. Larva yang baru menetas posisi badannya terbalik, yaitu bagian perut berada diatas sedang bagian punggung berada dibawah. Selama 3 – 4 hari setelah menetas larva hanya bergerak berputar – putar dengan posisi badan terbalik. Setelah 4 – 5 hari larva akan berbalik badan semua dan bergerak normal. Setelah larva berumur 7 hari, kolam pendederan di persiapkan untuk penebaran benih berumur 15 hari.
Kolam pendederan dipersiapkan 5-7 hari sebelum larva ditebar dikolam. Kolam pendederan yang digunakan oleh responden bersertifikat maupun non sertifikat adalah kolam tanah. Kegiatan persiapan kolam meliputi pengeringan kolam, pembalikan tanah dasar kolam, pengapuran, pemupukan dan pengisian air. Kegiatan pengapuran kolam bertujuan untuk membunuh bibit penyakit serta predator yang menyerang bakal benih ikan gurami. Sedangkan pemupukan bertujuan untuk menimbulkan pakan alami di kolam pemeliharaan.
Setelah 5-7 hari persiapan kolam, maka kegiatan selanjutnya adalah penebaran benih serta pemeliharaan benih. Kegiatan pemeliharaan benih berlangsung selama 20-25 hari. Kegiatan ini meliputi pemberian pakan dan pengecekan kolam jika agar air dalam kolam tidak merembes yang mengakibatkan ketinggian air pada kolam menjadi berkurang yang akan berpengaruh terhadap benih ikan gurami. Ketinggian air kolam untuk pemeliharaan benih adalah 40-60 cm dari dasar kolam dengan debit air 0,4 – 0,7 liter/detik.
Pakan benih yang di berikan berupa pelet halus dengan frekuensi pemberian dua kali sehari untuk petani bersertifikat maupun petani non sertifikat. Akan tetapi ada beberapa petani yang tidak memberikan pakan pelet halus pada benih dengan alasan kolam sudah di pupuk dan terdapat pakan alami di perairan kolam. Tingkat pemberian pakan untuk benih yaitu 20 % dari bobot biomasa.
Kegiatan terakhir dari usaha pembenihan ikan gurami adalah pemanenan benih ikan gurami ukuran 1-2 cm. Pemanenan dilakukan dengan menurunkan permukaan air sedikit demi sedikit hingga semua benih berkumpul di kubangan yang memang dipersiapkan untuk kolam pendederan. Setelah benih berkumpul,
kemudian benih di panen dengan menggunakan ayakan dan di masukan ke dalam baskom yang sudah terisi air. Setelah itu dilakukan perhitungan benih serta sortasi benih untuk memilah ukuran dari benih yang dihasilkan. Pemanenan biasanya dilakukan petani sendiri.
5.4 Pemasaran Benih Ikan Gurami
Pemasaran pada dasarnya merupakan aktivitas pasca panen yang menentukan tingkat harga. Keberadaan sarana-sarana seperti pasar ikan, prasarana jalan serta alat trasportasi merupakan komponen yang sangat penting dalam tercapainya pemasaran hasil-hasil perikanan pada umumnya.
Pemasaran yang dilakukan oleh petani responden bersertifikat tidak hanya sebatas di daerah Kabupaten Banyumas akan tetapi para petani memasarkan produk ke daerah Jawa Timur untuk produk berupa telur ikan gurami, serta produk berupa benih yang dipasarkan ke daerah Jawa Barat seperti Sukabumi dan Bogor. Kabupaten lain di Jawa Tengah yang menjadi pasar petani responden bersertifikat adalah Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, Purworejo, Magelang, Semarang serta DI Yogyakarta. Terdapat beberapa konsumen yang berasal dari Dinas Perikanan Pekanbaru, mereka datang langsung ke tempat petani karena mereka mengetahui bahwa petani tersebut telah mendapatkan sertifikat SNI.
Untuk petani responden non sertifikat, mereka memasarkan benih dan telur di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat seperti Cilacap, Purbalingga, Temanggung, Kabupaten Banyumas, Bogor dan Sukabumi. Baik petani bersertifikat ataupun non sertifikat jika tidak ada pesanan telur ataupun benih, mereka menjual hasil produksinya ke pengepul kelompok masing-masing petani.
Selanjutnya para pengepul tersebut memasarkan produk telur ataupun benih ikan gurami kepada konsumen tetap yang mereka miliki.
I
II
Pedagang Pengepul
Konsumen Petani Ikan Gurami
Gambar 5. Saluran Pemasaran Telur dan Benih Ikan Gurami dari Desa Beji. Saluran pemasaran merupakan gerakan dari para produsen yaitu petani ikan ke konsumen yang mencakup beberapa lembaga pemasaran. Dari hasil penelitian, terdapat dua saluran pemasaran yang digunakan untuk menyalurkan hasil produksi ikan gurami dari produsen ke konsumen (Gambar 5). Saluran pertama merupakan saluran pendek, dimana lembaga pemasaran tidak terlibat dalam proses pemasaran hasil produksi yaitu hasil produksi langsung dipasarkan kepada konsumen yaitu petani pendeder dan petani pembesar ikan gurami. Saluran dua melibatkan lembaga pemasaran yaitu pengepul hasil produksi. Pada saluran dua petani menjual hasil produksi kepada pengepul yang kemudian dipasarkan kepada konsumen oleh pedagang pengepul.
Transaksi jual beli antara petani ikan dengan pedagang pengepul dilakukan di tempat petani ikan. Karena jarak petani dengan pengepul dekat dan tidak harus menggunakan trasportasi maka biaya pengiriman tidak ada. Penentuan harga ditentukan oleh harga yang berkisar di pasaran, sehingga tidak ada tawar-menawar antara petani dengan pengepul kelompok. Pengepul kelompok mendapatkan keuntungan melalui biaya transportasi pengiriman produk.
VI. HASIL dan PEMBAHASAN
6.1 Analisis Pendapatan
6.1.1 Penggunaan Sarana Produksi per 1000 m2 6.1.1.1 Pupuk
Petani responden bersertifikat dan responden non sertifikat menggunakan pupuk kandang yang berasal dari kotoran hewan. Harga pupuk adalah Rp 150/kg. Rata-rata pupuk kandang yang digunakan oleh petani bersertifikat adalah 3000 Kg per tahun atau menerapkan SNI dengan dosis 500gram/m2. Sedangkan petani non sertifikat pupuk yang digunakan rata-rata sebanyak 4.323,48 kg. Beberapa petani responden non sertifikat sudah menerapkan SNI dengan dosis 500gram/m2.
6.1.1.2Kapur
Kapur digunakan pada saat persiapan kolam pendederan, kegiatan pengapuran berfungsi untuk membunuh bibit penyakit dan hama yang ada di dalam kolam. Petani responden bersertifikat menghabiskan kapur rata-rata sebanyak 300 kg per tahun atau menerapkan SNI dengan dosis 50 gram/m2. Untuk petani responden non sertifikat, menghabiskan kapur rata-rata 345,42 kg dengan harga perkilogram kapur adalah Rp 5000,-.
6.1.1.3Daun Sente
Daun sente adalah pakan alami untuk induk ikan gurami, rata-rata petani responden bersertifikat menghabiskan pakan daun sente sebanyak 184,8 pikul per tahun. Sedangkan untuk petani non sertifikat rata-rata menghabiskan daun sente sebanyak 107,4 pikul per tahun. Berat rata-rata satu pikul adalah 30 kg, harga satu pikul daun sente adalah Rp 15.000, sehingga rata-rata biaya yang dikeluarkan
untuk daun sente oleh petani bersertifikat adalah Rp 2.772.000/tahun sedangkan petani non sertifikat menghabiskan biaya sebesar Rp 1.611.000/tahun.
6.1.1.4Pelet Induk
Pakan pelet yang diberikan untuk induk hanyalah pelengkap dari pakan daun sente, akan tetapi ada beberapa petani yang menjadikan pelet sebagai pakan utama untuk induk. Pakan pelet yang dihabiskan oleh petani bersertifikat dalam satu tahun rata-rata sebanyak 139,38 kg dan petani non sertifikat sebanyak 102 kg dengan harga Rp 4000/kg.
6.1.1.5Pelet Benih
Pelet benih yang digunakan berupa pelet halus atau tepung yang dibeli dengan harga Rp 10.000/kg. Pakan pelet benih yang dihabiskan dalam satu tahun adalah sebanyak 40,80 kg untuk petani responden bersertifikat dan 25,74 kg untuk petani non sertifikat. Rata-rata biaya pakan pelet benih yang dikeluarkan oleh petani bersertifikat adalah Rp 408.000 dan untuk petani non sertifikat adalah Rp 257.400,-.
6.1.1.6Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang digunakan oleh petani adalah tenaga kerja dalam keluarga dan di luar keluarga tani. Tenaga kerja luar keluarga hanya digunakan pada saat persiapan kolam, sedangkan untuk kegiatan pemberian pakan dilakukan oleh petani itu sendiri. Rata-rata jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam satu tahun untuk petani bersertifikat adalah 118,32 HKP. Sedangkan petani non sertifikat adalah 162,96 HKP. Upah tenaga kerja adalah Rp 20.000 per HKP baik untuk petani bersertifikat ataupun non sertifikat.
6.1.1.7Induk Ikan Gurami
Rata-rata jumlah induk ikan gurami yang digunakan oleh petani responden bersertifikat sebanyak 80 ekor, sedangkan rata-rata jumlah induk yang digunakan oleh petani responden non sertifikat sebanyak 58 ekor. Harga induk ikan gurami per kilogram adalah Rp 30.000 dengan rata-rata berat per ekor 2,5 kg, baik untuk petani bersertifikat ataupun non sertifikat. Induk yang sudah tidak produktif akan dijual oleh petani dengan harga Rp 30.000/ekor. Induk dapat berproduksi selama tiga tahun sejak pertamakali induk berproduksi. Dengan bertambahnya umur induk ikan gurami maka kualitas dan kuantitas telur yang dihasilkan akan menurun, sehingga akan terjadi penurunan harga dengan bertambahnya umur induk. Akan tetapi dalam penelitian ini di asumsikan induk hanya digunakan selama satu tahun atau 6 periode produksi benih ikan gurami ukuran 1-2cm, sehingga setelah satu tahun petani akan mendapatkan penerimaan dari penjualan induk.
6.1.2 Penerimaan Usahatani
Analisis pendapatan meliputi analisis pendapatan atas biaya tunai dan analisis pendapatan atas biaya total. Komponen biaya dibagi atas biaya tunai dan biaya tidak tunai (biaya diperhitungkan). Penerimaan diperoleh melalui penjualan hasil produksi. Petani responden bersertifikat dan non sertifikat menjual produk berupa telur dengan harga Rp 18/butir dan benih ikan gurami ukuran 1-2 cm dengan harga Rp 150/ekor. Harga tersebut merupakan harga petani jika menjual produk kepada pengepul. Tidak ada perbedaan harga antara petani bersertifikat dan non sertifikat.
Hasil produksi telur rata-rata petani bersertifikat adalah sebanyak 1.063.999,87 ekor per tahun. Hasil produksi benih ukuran 1-2 cm petani responden bersertifikat 135.109,56 ekor/tahun. Untuk petani non sertifikat rata-rata produksi telur per tahun adalah 685.604,60 ekor, dengan hasil produksi benih ukuran 1-2 cm sebanyak 97.685,64 ekor/tahun.
Penerimaan yang diperoleh petani bersertifikat untuk hasil produksi telur yang tidak dipelihara hingga benih sebesar Rp 19.151.997,66 per tahun. Hasil ini didapatkan dari perkalian antara harga dengan jumlah hasil produksi. Sedangkan penerimaan tunai dari hasil benih ukuran 1-2 cm adalah Rp 20.266.434 per tahun dimana dalam satu tahun terdapat 6 periode produksi benih. Untuk petani non sertifikat, penerimaan dari hasil telur yang tidak dipelihara hingga benih sebesar Rp 12.340.882,8 dan untuk hasil produksi benih ukuran 1-2 cm per tahun sebesar Rp 14.652.846. Penerimaan yang didapatkan dari penjualan induk untuk petani bersertifikat adalah Rp 2.400.000, sedangkan untuk petani non sertifikat adalah Rp 1.740.000. Total penerimaan yang didapatkan oleh petani bersertifikat adalah Rp 41.818.431,66, sedangkan untuk petani non sertifikat adalah Rp 28.733.728,8.
Penerimaan yang didapatkan petani bersertifikat SNI lebih besar dibandingkan dengan petani non sertifikat SNI. Hal ini tidak disebabkan oleh perbedaan harga akan tetapi disebabkan produkstivitas petani bersertifikat lebih besar dibandingkan dengan petani non sertifikat. Artinya dengan penggunaan faktor produksi dengan jumlah yang sama, petani bersertifikat mampu menghasilkan produk yang lebih besar dibandingkan petani non sertifikat.
6.1.3 Struktur Biaya per Luasan 1000m2
Komponen biaya terbagi atas biaya tunai dan biaya tidak tunai. Biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani baik petani bersertifikat maupun non sertifikat meliputi Pembelian induk, pupuk kandang, kapur, daun sente, pelet benih, pelet induk dan tenaga kerja upahan atau tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Biaya tidak tunai atau biaya diperhitungkan meliputi biaya penyusutan alat, biaya penyusutan induk ikan gurami dan biaya untuk tenaga kerja dalam keluarga (TKDK).
Harga induk per-kg adalah Rp 30.000 dengan rata-rata berat induk adalah 2,5 kg. Jumlah induk yang dimiliki oleh petani bersertifikat rata-rata sebanyak 80 ekor, sedangkan rata-rata petani non sertifikat sebanyak 58 ekor. Biaya yang dikeluarkan oleh petani bersertifikat untuk pembelian induk sebesar Rp 6.000.000, sedangkan petani non sertifikat sebesar Rp 4.350.000. Pupuk kandang merupakan salah satu komponen biaya tunai yang digunakan dalam persiapan kolam pemeliharaan benih. Harga pupuk kandang adalah Rp 150/kg baik untuk petani bersertifikat maupun petani non sertifikat. Total biaya yang dikeluarkan oleh petani bersertifikat untuk penggunaan pupuk rata-rata sebesar Rp 450.000 dengan jumlah rata-rata sebanyak 3000 kg. Untuk petani non sertifikat, total biaya yang digunakan untuk pupuk rata-rata sebesar Rp 648.522 per tahun dengan jumlah sebanyak 4.323,48 kg. Biaya yang dikeluarkan petani bersertifikat untuk kapur sebesar Rp 1.500.000 dengan rata-rata jumlah kapur sebanyak 300 kg. Sedangkan untuk petani non sertifikat, total biaya yang dikeluarkan untuk kapur adalah Rp 1.727.100 per tahun dengan rata-rata jumlah kapur yang digunakan sebanyak 345,42 kg.
Biaya yang dikeluarkan oleh petani bersertifikat untuk penggunaan daun sente selama satu tahun rata-rata sebesar Rp 2.772.000 dengan jumlah rata-rata 184,8 pikul, dimana berat satu pikul rata-rata adalah 30 kg dengan harga Rp 15.000/pikul. Jika dikonversi kedalam kilogram, maka harga rata-rata daun sente adalah Rp 500/kg. Untuk petani non sertifikat, biaya untuk daun sente rata-rata sebesar Rp 1.611.000 dengan jumlah daun sente yang dihabiskan selama setahun sebanyak 107,4 pikul.
Jumlah pelet benih yang dihabiskan dalam satu tahun dengan luasan 1000 m2 oleh petani bersertifikat rata-rata sebanyak 40,80 kg dengan harga Rp 10.000/kg, maka total biaya yang dikeluarkan untuk pelet benih oleh petani bersertifikat rata-rata sebesar Rp 408.000. Sedangkan untuk petani non sertifikat, total biaya yang dikeluarkan untuk pelet benih sebesar Rp 257.400 dengan jumlah pelet yang digunakan sebanyak 25,74 kg. Untuk pelet induk, rata-rata jumlah pelet yang dihabiskan oleh petani bersertifikat adalah 139,38 kg dengan harga Rp 4000/kg sehingga rata-rata total biaya untuk pelet induk yang dikeluarkan oleh petani bersertifikat sebesar Rp 557.520. Sedangkan untuk petani non sertifikat, total biaya yang dikeluarkan untuk pakan pelet induk adalah Rp 408.000 dengan rata-rata pelet yang dihabiskan dalam satu periode produksi benih adalah 102 kg.
Tenaga kerja yang digunakan oleh petani, baik petani bersertifikat maupun non sertifikat hanya pada saat persiapan kolam pendederan saja, selanjutnya untuk kegiatan pemeliharaan induk dan benih dikerjakan oleh petani sendiri. Rata-rata jumlah tenaga kerja yang digunakan oleh petani bersertifikat sebanyak 118,32 HKP. Sedangkan untuk petani non sertifikat, rata-rata tenaga kerja yang digunakan untuk persiapan kolam adalah 162,96 HKP. Upah yang berlaku untuk
per Rp 20.000/HKP. Total biaya yang dikeluarkan oleh petani bersertifikat adalah Rp 2.366.400 per tahun dengan luasan 1000 m2, sedangkan untuk petani non sertifikat, total biaya tenaga kerja yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 3.259.200