• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN

Dalam dokumen Kepmen PU No. 441 tentang 1998 tentang P (Halaman 50-55)

V.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. Ketahanan Api dan Stabilitas.

a. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran, sehingga:

i. cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman;

ii. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api;

iii. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya.

b. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api, terutama pada bangunan klas 2, 3 atau bagian dan bangunan klas 4:

i. yang menghubungkan kompartemen api, dan ii. antara bangunan.

c. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran, yang sesuai dengan:

i. fungsi atau penggunaan bangunan;

ii. beban api;

iii. intensitas kebakaran; iv. tingkat bahaya api;

v. ketinggian bangunan; vi. kedekatan dengan bangunan lain;

vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan; viii.ukuran setiap kompartemen api;

ix intervensi pasukan pemadam kebakaran; dan x. elemen bangunan lainnya.

d. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat.

e. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api, membatasi berkembangnya asap dan panas, serta gas-gas beracun yang mungkin timbul, sampai dengan tingkat tertentu, yang sesuai dengan:

i. waktu evakuasi

ii. jumlah, mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya; iii. fungsi atau penggunaan bangunan;

f. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan, keruntuhan tersebut dapat dihindari.

g. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi, atau potensial dapat meledak.

h. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api, sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran.

i. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api, yaitu pada bukaan, sambungan konstruksi, dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian, sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut.

j. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran, untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai, sesuai dengan:

i. fungsi bangunan,

ii. beban api,

iii. intensitas kebakaran, iv. tingkat bahaya api, v. sistem proteksi aktif, dan vi. ukuran kompartemen. 2. Tipe Konstruksi Tahan Api.

Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api, terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. Tipe A:

Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya.

b. Tipe B:

Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam.

c. Tipe C:

Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api.

3. Tipe konstruksi yang diwajibkan

Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut:

Tabel V.1.3

Tipe Konstruksi yang diwajibkan KLAS BANGUNAN KETINGGIAN

(dalam jumlah lantai) 2,3,9 5,6,7,8

4 atau lebih A A

3 A B

2 B C

1 C C

4. Kompartemenisasi dan Pemisahan a. Ukuran Kompartemen

Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial, perambatan api dan asap, agar dapat:

i. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.

ii. mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan.

iii. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran. Tabel V.1.4

Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran

Tipe Konstruksi bangunan Klasifikasi Bangunan

Tipe A Tipe B Tipe C

Klas 5 atau 9b Maksimum luasan lantai 8.000 m2 5.500 m2 3.000 m2 Maksimum volume 48.000 m3 33.500 m3 18.000 m3 Klas 6,7,8 atau 9a (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum luasan lantai 5.000 m2 3.500 m2 2.000 m2 Maksimum volume 30.000 m3 21.500 m3 12.000 m3 b Pemberlakuan.

ii. ketentuan pada butir c, d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler, tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.

c. Batasan umum luas lantai.

i. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5, 6, 7, 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V.1.4 dan butir f, kecuali seperti yang diijinkan pada butir d.

ii. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara, ventilasi, atau peralatan Lift, tanki air, atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan, tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium

iii. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium, maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium.

iv. Bagian bangunan, ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran, harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api, asap dan gas beracun.

d. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi.

Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v.1.4 bila:

i. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108.000 m3 dengan ketentuan:

(1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut, yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4.e.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter,

(2) bangunan klas 5 s.d. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4.e.ii, atau:

ii. Bangunan dengan luasan melebihi 18.000 m2 atau 108.000 m3 dengan sistem sprinkler, dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4.e.ii, dan apabila:

(1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter, dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku; atau

(2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter, dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku.

iii. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling, dan

(1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas;

(2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter, maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i, atau ii.

e. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. i. Ruang terbuka yang diperlukan harus:

(1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan, sungai, atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut, namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya;

(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4.e.ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material; dan

(4) tidak ada bangunan diatasnya, kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa), yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka, tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling, atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut.

ii. Jalan masuk kendaraan harus:

(1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum, (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18

meter terhadap bangunan, serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki

(3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai;

(4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran, dan ;

(5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s.d. (4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya.

f. Pemisahan

Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar, pemisahan oleh dinding tahan api, dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku.

g. Tangga dan Lift pada satu shaft.

Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama, bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api.

h. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3.

Pada bangunan klas 2 dan 3, koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap, mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku.

5. Proteksi Bukaan

a. Seluruh bukaan harus dilindungi, dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan.

b. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa, shaft ventilasi, dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas, dan tertutup pada setiap lantai.

c. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b, maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai.

d. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api, damper, dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi.

e. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10;

ii sambungan pengendali, lubang tirai, dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan, dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak, bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan;

iii. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators), bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45.000 mm2, dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama.

f. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar.

Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari:

(1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai; atau

(2) 1,5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai; dan

ii. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari:

(1) 3 m dari batas belakang persil bangunan; atau

(2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil, dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan; atau

(3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama, yang bukan dari klas 10, maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h, dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan, dan

iii. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii, maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada, kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka.

g. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran. Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9, jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V.1.5.

Tabel V.1.5

Dalam dokumen Kepmen PU No. 441 tentang 1998 tentang P (Halaman 50-55)