V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.2 Pengamatan Kualitas Air
Kualitas air selama pemeliharaan merupakan parameter pendukung
terhadap pertumbuhan populasi Brachionus plicatilis yang terdapat pada Tabel 5.2
di bawah ini.
Tabel 5.2 Kisaran Kualitas Air Selama Penelitian
Parameter Nilai Suhu 0C pH Salinitas (ppt) DO (ppm) Kadar Amoniak (mg/l) 27 – 310C 7,6 – 8,2 27 – 29 ppt 5,1 – 6,1 ppm 0 – 0,5 mg/l
Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan populasi
Brachionus plicatilis selalu dijaga dan dikondisikan sama pada setiap perlakuan.
Lingkungan kultur yang diharapkan pada penelitian ini adalah : suhu antara
26-31˚ C, salinitas 27-33 ppt, pH 7,5-8,3 dan DO 4-6,5 ppm (Cahyaningsih dkk,
2009) serta kadar amoniak tidak melebihi 1 mg/l pada kultur rotifer (Fulks dan
Main, 1991). Kondisi tersebut selalu diamati setiap hari agar terjaga. Pengukuran
sanilitas dilakukan sekali sehari, sedangkan pengukuran kadar amoniak dan DO
dilakukan pada awal dan akhir pemeliharaan. Khusus mengenai pengukuran suhu
dan pH dilakukan dua kali sehari pada jam 07.00 dan 16.00.
5.2 Pembahasan
pengaruh terhadap pertumbuhan populasi Brachionus plicatilis. Selama
pengamatan didapatkan hasil bahwa kombinasi pakan Nannochloropsis oculata
dan variasi dosis ragi roti berpengaruh terhadap populasi Brachionus plicatilis
dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan pakan Nannochloropsis oculata
saja dan ragi roti saja tanpa dikombinasi.
Kepadatan populasi Brachionus plicatilis tertinggi sebesar 1162 ind/ml
didapatkan pada perlakuan kombinasi antara Nannochloropsis oculata 1.500.000
sel/ml ditambah ragi roti 0,002 gram. Hal ini disebabkan kondisi media yang baik
dan tersedianya nutrisi yang mencukupi dalam media kultur dapat menyebabkan
terjadinya pertumbuhan populasi Brachionus plicatilis dengan cepat (Dahril,
1996).
Populasi Brachionus plicatilis terendah terjadi pada perlakuan pemberian
ragi roti saja sebanyak 0,004 gram yang menghasilkan populasi Brachionus
plicatilis terendah dengan kepadatan populasi 154,5 ind/ml yang terjadi pada hari
kelima. Hal ini disebabkan jumlah dosis ragi roti yang terlalu banyak, sehingga
tidak termanfaatkan dengan baik. Ragi roti memiliki kandungan alkohol yang
relatif rendah, namun demikian jika pemberian dosis dilakukan dengan komposisi
yang tidak tepat atau terus-menerus dapat meningkatkan jumlah kandungan
alkohol pada kultur rotifer, sehingga dapat menyebabkan penurunan jumlah
populasi Brachionus plicatilis (Dahril, 1996).
Puncak populasi terjadi pada hari kelima berdasarkan data harian yang
diperoleh saat penelitian selama masa tujuh hari kultur (Lampiran 2). Perlakuan
menghasilkan populasi Brachionus plicatilis tertinggi terjadi pada hari ke-5
sebesar 238,5 ind/ml (puncak populasi), diikuti pada hari ke-6 sebesar 196,75
ind/ml. Hal ini diduga karena nutrien yang diberikan sesuai dengan kebutuhan
nutrien Brachionus plicatilis untuk pertumbuhannya. Pemberian ragi roti dengan
komposisi yang tepat merupakan sumber nutrisi bagi Brachionus plicatilis untuk
kehidupan dan perkembangbiakannya (Yoshinaga et al, 1999).
Jumlah individu Brachionus plicatilis pada tiap perlakuan dengan waktu
pengamatan bervariasi selama masa pemeliharaan 7 hari, namun pada semua
perlakuan mengalami puncak populasi pada hari kelima. Setelah melewati masa
puncak, kepadatan populasi rotifer mulai mengalami penurunan pada hari keenam
dan ketujuh. Perlakuan yang diberi pakan Nannochloropsis oculata saja dan
perlakuan yang hanya diberikan ragi roti saja mengalami penurunan pada hari
keenam dan ketujuh. Sedangkan perlakuan yang diberi pakan Nannochloropsis
oculata dan ditambahkan ragi roti juga mengalami penurunan pada hari yang
sama, namun masih tetap memiliki kepadatan populasi rotifer tertinggi. Hal ini
menunjukkan perlakuan dengan pakan kombinasi memiliki nilai pertumbuhan
populasi Brachionus plicatilis tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Fase pertumbuhan pada rotifer terdiri dari fase adaptasi, fase logaritmik
dan fase kematian. Pada perlakuan pakan kombinasi N. oculata dan ragi roti fase
adaptasi terjadi pada hari pertama hingga hari kedua, lalu fase logaritmik terjadi
pada hari ketiga hingga hari kelima dan puncak populasi B. plicatilis terjadi pada
hari kelima. Fase kematian mulai terjadi pada hari ke enam hingga hari ketujuh.
terjadi mulai hari pertama hingga hari ketiga, lalu fase logaritmik terjadi pada hari
keempat hingga hari kelima yang merupakan puncak populasi. Sedangkan fase
kematian terjadi sesudahnya yaitu mulai hari keenam.
Pertumbuhan Brachionus plicatilis ditandai dengan bertambahnya jumlah
individu rotifer, bertambahnya jumlah individu rotifer merupakan salah satu
indikator yang dapat digunakan untuk melihat pertumbuhan populasi Brachionus
plicatilis. Pertumbuhan populasi masing-masing perlakuan setelah penebaran awal
meningkat setiap harinya. Faktor-faktor yang berpengaruh pada pertumbuhan
Brachionus plicatilis adalah faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal
yang mempengaruhi pertumbuhan plankton adalah faktor genetik, sedangkan
faktor eksternal dipengaruhi oleh ketersediaan dan jenis pakan (Taw, 1990).
Puncak populasi Brachionus plicatilis tertinggi terdapat pada perlakuan
dengan penambahan dosis ragi roti sebesar 0,002 gram dengan kepadatan populasi
238,5 ind/ml yang terjadi pada hari kelima. Dosis ragi roti tersebut dapat
mendukung pertumbuhan Brachionus plicatilis yang optimal. Hal ini disebabkan
oleh sesuainya kombinasi pakan dengan dosis ragi roti tersebut yang mencukupi
kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan Brachionus plicatilis. Ragi roti
mengandung protein sebesar 42,92%, lemak 0,66% dan karbohidrat 51,44%
(Chumaedi dan Djajadireja, 1982).
Nilai kandungan gizi karbohidrat dan protein ragi roti yang tinggi tersebut
sangat baik bagi pertumbuhan populasi Brachionus plicatilis (Roosharoe, 2006),
oleh ketersediaan nutrisi yang optimal dan didukung kondisi lingkungan yang
baik (Dhert et al, 1995).
Pertumbuhan Brachionus plicatilis yang baik selain dipengaruhi oleh faktor
nutrisi dan ketersediaan pakan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan media
pemeliharaan. Faktor lingkungan yang mampu menunjang pertumbuhan
Brachionus plicatilis adalah suhu, salinitas, pH, DO dan kadar amoniak.
Hasil pengukuran suhu air selama pemeliharaan berkisar antara 27-310C, hasil pengukuran salinitas pada media pemeliharaan rotifer berkisar antara 27-29
ppt. Suhu air dan salinitas dalam media kultur rotifer ini masih dalam kondisi baik
untuk pertumbuhan Brachionus plicatilis. Sedangkan salinitas 27-29 ppt dan
derajat keasaman (pH) dalam penelitian ini berkisar antara 7,6-8,2 yang
merupakan salinitas dan pH optimal untuk pertumbuhan Brachionus plicatilis. Hal
ini sesuai dengan pernyataan Cahyaningsih dkk. (2009) menyatakan bahwa suhu
antara 26-310C, salinitas 27-33 ppt dan pH 7,5-8,3 merupakan lingkungan kultur terbaik untuk Brachionus plicatilis.
Kadar amoniak selama penelitian berkisar antara 0 – 0,5 mg/l. Konsentrasi
amoniak bebas yang optimum untuk peningkatan jumlah populasi rotifer adalah
tidak melebihi 1 mg/l (Fulks dan Main, 1991). Hasil pengukuran DO selama
pemeliharaan berkisar antara 5,1–6,1 ppm. Batas oksigen terlarut untuk
pertumbuhan Brachiomus plicatilis adalah 4-6,5 ppm (Cahyaningsih dkk, 2009).
Dari hasil data pengamatan kualitas air diatas dapat disimpulkan bahwa nilai
dengan kondisi optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan Brachionus