• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan Populasi Brachionus plicatilis

Dalam dokumen ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga (Halaman 42-47)

V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.1 Pertumbuhan Populasi Brachionus plicatilis

Brachionus plicatilis merupakan zooplankton bersifat omnivora yang jenis

makanannya berupa partikel organik dan jasad renik yang mempunyai ukuran

lebih kecil dari dirinya, seperti alga, ragi roti, protozoa. Kebiasaan makan ini

memungkinkan diberikannya partikel organik yang memiliki nilai gizi untuk

mendapatkan populasi Brachionus plicatilis tertinggi.

Pertumbuhan populasi rotifer Brachionus plicatilis pada penelitian ini

diamati setiap hari. Hasil pengamatan penelitian berupa data kepadatan populasi

Brachionus plicatilis. Data tersebut diperoleh dari pengamatan populasi Brachionus plicatilis secara mikroskopik selama 7 hari masa pemeliharaan. Data

populasi Brachionus plicatilis setiap harinya dapat dilihat pada lampiran 2.

Sedangkan gambar Brachionus plicatilis yang diamati dengan mikroskop

perbesaran 100x dapat dilihat pada Gambar 5.1 di bawah ini.

Gambar 5.1 Brachionus plicatilis

Data tersebut untuk mengetahui pengaruh kombinasi Nannochloropsis

plicatilis dan untuk mengetahui pertumbuhan populasi Brachionus plicatilis

tertinggi.

Data harian yang diperoleh selama penelitian yang dianalisis dengan

Analisis Varian (ANAVA) menunjukkan bahwa setiap perlakuan terdapat

perbedaan yang nyata terhadap kepadatan populasi Brachionus plicatilis,

kemudian dilanjutkan Uji Jarak Duncan untuk mengetahui pengaruh perlakuan

satu dengan perlakuan yang lain. Data pertumbuhan populasi Brachionus plicatilis

untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5.1 di bawah ini.

Tabel 5.1 Data Pertumbuhan Populasi Brachionus plicatilis (ind/ml) Pada Hari Pertama Hingga Hari Ketujuh.

Waktu Pengamatan

Hari Ke-

Rata-rata Pertumbuhan Populasi Brachionus plicatilis (ind/ml)

A B C D E 0 10 10 10 10 10 1 42 b 51,5 a 44,75 ab 43,5 b 43 b 2 98,5 b 135,5 a 87,25 bc 79,25 bc 70,75 c 3 121,25b 167 a 122 b 91 b 84,75 b 4 176,75a 179 a 138 ab 126,75 ab 116,25 b 5 224 ab 238,5 a 179,5 bc 159,75 bc 154,5 c 6 171,75 ab 196,75 a 151 bc 133,75 cd 110,75 d 7 149,75 b 184,25 a 118,5 bc 108 cd 84 d Total 994 1162 851 752 674 Keterangan :

Huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0,05).

Perlakuan A : Pemberian N. Oculata 2.250.000 sel/ml + ragi roti 0,001 gram Perlakuan B : Pemberian N. oculata 1.500.000 sel/ml + ragi roti 0,002 gram Perlakuan C : Pemberian N. oculata 750.000 sel/ml + ragi roti 0,003 gram

Perlakuan D : Pemberian pakan alami N. Oculata sebanyak 3x106 sel/ml tanpa penambahan ragi roti (kontrol)

Perlakuan E : Pemberian ragi roti sebanyak 0,004 gram tanpa penambahan

Nannochloropsis oculata (kontrol)

Analisis ANAVA data harian dan uji jarak berganda Duncan terdapat pada

menunjukkan tidak berbeda nyata di antara perlakuan terhadap hasil pengamatan.

Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari pertama menunjukkan bahwa

perlakuan B berbeda nyata dengan perlakuan A, D, E. Perlakuan C tidak berbeda

nyata dengan perlakuan A, D, E, namun perlakuan C memiliki kepadatan rotifer

sebesar 44,75 ind/ml lebih tinggi dari perlakuan A = 42 ind/ml, D = 43,5 ind/ml,

dan E = 43 ind/ml.

Pada hari kedua hasil Analisis Varian (ANAVA) menunjukkan perbedaan

yang nyata di antara perlakuan terhadap hasil pengamatan. Lalu hasil uji jarak

berganda Duncan pada hari kedua menunjukkan bahwa perlakuan B berbeda

nyata dengan semua perlakuan A, C, D, E. Perlakuan A tidak berbeda nyata

dengan perlakuan C dan D, namun berbeda nyata dengan perlakuan B dan E.

Meskipun tidak berbeda nyata perlakuan A memiliki kepadatan rotifer yang lebih

tinggi sebesar 98,5 ind/ml dibandingkan perlakuan C dan D yang kepadatannya

87,25 ind/ml dan 79,25 ind/ml.

Hasil Analisis Varian pada hari ketiga menunjukkan bahwa setiap

perlakuan yang diberikan pakan berbeda dosisnya menunjukkan perbedaan yang

nyata pengaruhnya terhadap pertumbuhan populasi rotifer. Hasil uji jarak

berganda Duncan pada hari ketiga menunjukkan bahwa perlakuan B berbeda

nyata dengan semua perlakuan, yaitu A, C, D dan E.

Hasil ANAVA menunjukan bahwa pada hari keempat di antara 5

perlakuan yang diberikan pakan dengan dosis berbeda menunjukkan perbedaan

yang tidak nyata. Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari keempat

berbeda nyata dengan perlakuan C dan D. Meski tidak berbeda nyata perlakuan E

memiliki kepadatan rotifer sebesar 116,25 ind/ml yang lebih rendah dari

perlakuan C = 138 ind/ml dan D = 126,75 ind/ml. Sedangkan perlakuan C dan D

tidak berbeda nyata dengan perlakuan A dan B. Namun demikian perlakuan C, D

memiliki kepadatan rotifer sebesar 138 ind/ml, 126,75 ind/ml yang lebih rendah

dibandingkan perlakuan A dan B sebesar 176,75 ind/ml dan 179 ind/ml.

Pada hari kelima hasil Analisis Varian menunjukkan bahwa diatara 5

perlakuan terdapat perbedaan yang nyata pengaruhnya terhadap kepadatan

populasi rotifer. Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari kelima menunjukkan

bahwa perlakuan B berbeda nyata dengan perlakuan C, D, E. Perlakuan E berbeda

nyata dengan perlakuan A dan B. Perlakuan A tidak berbeda nyata dengan

perlakuan C dan D, namun demikian perlakuan A masih memiliki kepadatan

rotifer lebih tinggi yaitu sebesar 224 ind/ml dibanding perlakuan C dan D sebesar

179,5 ind/ml dan 159,75 ind/ml.

Pada hari keenam hasil Analisis Varian menunjukkan bahwa

masing-masing perlakuan yang diberikan terdapat perbedaan yang nyata pengaruhnya

terhadap kepadatan populasi rotifer. Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari

keenam menunjukkan bahwa perlakuan B berbeda nyata dengan perlakuan C, D,

E. Perlakuan E berbeda nyata dengan perlakuan C, B, A. Perlakuan A berbeda

nyata dengan perlakuan D dan E. Perlakuan C tidak berbeda nyata dengan

perlakuan A dan D, namun demikian perlakuan A masih memiliki kepadatan

rotifer lebih tinggi yaitu sebesar 171,75 ind/ml dibanding perlakuan D dan C

Pada hari ketujuh hasil Analisis Varian menunjukkan bahwa tiap

perlakuan terdapat perbedaan yang nyata pengaruhnya terhadap pertumbuhan

populasi rotifer. Adapun hasil uji jarak berganda Duncan pada hari ketujuh

menunjukkan bahwa perlakuan B berbeda nyata dengan semua perlakuan.

Perlakuan A berbeda nyata dengan perlakuan B, D, E, namun tidak berbeda nyata

dengan perlakuan C berbeda nyata dengan perlakuan B dan E. Meski perlakuan A

tidak berbeda nyata dengan perlakuan C, namun masih memiliki kepadatan rotifer

lebih tinggi sebesar 149,75 ind/ml dibanding perlakuan C sebesar 118,5 ind/ml.

Selanjutnya pengaruh pemberian pakan kombinasi terhadap pertumbuhan

populasi tertinggi dapat dilihat pada grafik Gambar 5.2 di bawah ini.

Gambar 5.2 Grafik Pertumbuhan Populasi Brachionus plicatilis (ind/ml) Setelah Diberi Pakan Kombinasi Nannochloropsis oculata dan Variasi Dosis Ragi Roti Hari Pertama Hingga Hari Ketujuh.

0 50 100 150 200 250 0 1 2 3 4 5 6 7 R at a-ra ta P o pul as i B rac hi onus pl ic at il is (i n d/ m l)

Waktu Pengamatan (Hari)

Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C Perlakuan D Perlakuan E

Dalam dokumen ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga (Halaman 42-47)

Dokumen terkait