V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.1 Pertumbuhan Populasi Brachionus plicatilis
Brachionus plicatilis merupakan zooplankton bersifat omnivora yang jenis
makanannya berupa partikel organik dan jasad renik yang mempunyai ukuran
lebih kecil dari dirinya, seperti alga, ragi roti, protozoa. Kebiasaan makan ini
memungkinkan diberikannya partikel organik yang memiliki nilai gizi untuk
mendapatkan populasi Brachionus plicatilis tertinggi.
Pertumbuhan populasi rotifer Brachionus plicatilis pada penelitian ini
diamati setiap hari. Hasil pengamatan penelitian berupa data kepadatan populasi
Brachionus plicatilis. Data tersebut diperoleh dari pengamatan populasi Brachionus plicatilis secara mikroskopik selama 7 hari masa pemeliharaan. Data
populasi Brachionus plicatilis setiap harinya dapat dilihat pada lampiran 2.
Sedangkan gambar Brachionus plicatilis yang diamati dengan mikroskop
perbesaran 100x dapat dilihat pada Gambar 5.1 di bawah ini.
Gambar 5.1 Brachionus plicatilis
Data tersebut untuk mengetahui pengaruh kombinasi Nannochloropsis
plicatilis dan untuk mengetahui pertumbuhan populasi Brachionus plicatilis
tertinggi.
Data harian yang diperoleh selama penelitian yang dianalisis dengan
Analisis Varian (ANAVA) menunjukkan bahwa setiap perlakuan terdapat
perbedaan yang nyata terhadap kepadatan populasi Brachionus plicatilis,
kemudian dilanjutkan Uji Jarak Duncan untuk mengetahui pengaruh perlakuan
satu dengan perlakuan yang lain. Data pertumbuhan populasi Brachionus plicatilis
untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5.1 di bawah ini.
Tabel 5.1 Data Pertumbuhan Populasi Brachionus plicatilis (ind/ml) Pada Hari Pertama Hingga Hari Ketujuh.
Waktu Pengamatan
Hari Ke-
Rata-rata Pertumbuhan Populasi Brachionus plicatilis (ind/ml)
A B C D E 0 10 10 10 10 10 1 42 b 51,5 a 44,75 ab 43,5 b 43 b 2 98,5 b 135,5 a 87,25 bc 79,25 bc 70,75 c 3 121,25b 167 a 122 b 91 b 84,75 b 4 176,75a 179 a 138 ab 126,75 ab 116,25 b 5 224 ab 238,5 a 179,5 bc 159,75 bc 154,5 c 6 171,75 ab 196,75 a 151 bc 133,75 cd 110,75 d 7 149,75 b 184,25 a 118,5 bc 108 cd 84 d Total 994 1162 851 752 674 Keterangan :
Huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0,05).
Perlakuan A : Pemberian N. Oculata 2.250.000 sel/ml + ragi roti 0,001 gram Perlakuan B : Pemberian N. oculata 1.500.000 sel/ml + ragi roti 0,002 gram Perlakuan C : Pemberian N. oculata 750.000 sel/ml + ragi roti 0,003 gram
Perlakuan D : Pemberian pakan alami N. Oculata sebanyak 3x106 sel/ml tanpa penambahan ragi roti (kontrol)
Perlakuan E : Pemberian ragi roti sebanyak 0,004 gram tanpa penambahan
Nannochloropsis oculata (kontrol)
Analisis ANAVA data harian dan uji jarak berganda Duncan terdapat pada
menunjukkan tidak berbeda nyata di antara perlakuan terhadap hasil pengamatan.
Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari pertama menunjukkan bahwa
perlakuan B berbeda nyata dengan perlakuan A, D, E. Perlakuan C tidak berbeda
nyata dengan perlakuan A, D, E, namun perlakuan C memiliki kepadatan rotifer
sebesar 44,75 ind/ml lebih tinggi dari perlakuan A = 42 ind/ml, D = 43,5 ind/ml,
dan E = 43 ind/ml.
Pada hari kedua hasil Analisis Varian (ANAVA) menunjukkan perbedaan
yang nyata di antara perlakuan terhadap hasil pengamatan. Lalu hasil uji jarak
berganda Duncan pada hari kedua menunjukkan bahwa perlakuan B berbeda
nyata dengan semua perlakuan A, C, D, E. Perlakuan A tidak berbeda nyata
dengan perlakuan C dan D, namun berbeda nyata dengan perlakuan B dan E.
Meskipun tidak berbeda nyata perlakuan A memiliki kepadatan rotifer yang lebih
tinggi sebesar 98,5 ind/ml dibandingkan perlakuan C dan D yang kepadatannya
87,25 ind/ml dan 79,25 ind/ml.
Hasil Analisis Varian pada hari ketiga menunjukkan bahwa setiap
perlakuan yang diberikan pakan berbeda dosisnya menunjukkan perbedaan yang
nyata pengaruhnya terhadap pertumbuhan populasi rotifer. Hasil uji jarak
berganda Duncan pada hari ketiga menunjukkan bahwa perlakuan B berbeda
nyata dengan semua perlakuan, yaitu A, C, D dan E.
Hasil ANAVA menunjukan bahwa pada hari keempat di antara 5
perlakuan yang diberikan pakan dengan dosis berbeda menunjukkan perbedaan
yang tidak nyata. Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari keempat
berbeda nyata dengan perlakuan C dan D. Meski tidak berbeda nyata perlakuan E
memiliki kepadatan rotifer sebesar 116,25 ind/ml yang lebih rendah dari
perlakuan C = 138 ind/ml dan D = 126,75 ind/ml. Sedangkan perlakuan C dan D
tidak berbeda nyata dengan perlakuan A dan B. Namun demikian perlakuan C, D
memiliki kepadatan rotifer sebesar 138 ind/ml, 126,75 ind/ml yang lebih rendah
dibandingkan perlakuan A dan B sebesar 176,75 ind/ml dan 179 ind/ml.
Pada hari kelima hasil Analisis Varian menunjukkan bahwa diatara 5
perlakuan terdapat perbedaan yang nyata pengaruhnya terhadap kepadatan
populasi rotifer. Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari kelima menunjukkan
bahwa perlakuan B berbeda nyata dengan perlakuan C, D, E. Perlakuan E berbeda
nyata dengan perlakuan A dan B. Perlakuan A tidak berbeda nyata dengan
perlakuan C dan D, namun demikian perlakuan A masih memiliki kepadatan
rotifer lebih tinggi yaitu sebesar 224 ind/ml dibanding perlakuan C dan D sebesar
179,5 ind/ml dan 159,75 ind/ml.
Pada hari keenam hasil Analisis Varian menunjukkan bahwa
masing-masing perlakuan yang diberikan terdapat perbedaan yang nyata pengaruhnya
terhadap kepadatan populasi rotifer. Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari
keenam menunjukkan bahwa perlakuan B berbeda nyata dengan perlakuan C, D,
E. Perlakuan E berbeda nyata dengan perlakuan C, B, A. Perlakuan A berbeda
nyata dengan perlakuan D dan E. Perlakuan C tidak berbeda nyata dengan
perlakuan A dan D, namun demikian perlakuan A masih memiliki kepadatan
rotifer lebih tinggi yaitu sebesar 171,75 ind/ml dibanding perlakuan D dan C
Pada hari ketujuh hasil Analisis Varian menunjukkan bahwa tiap
perlakuan terdapat perbedaan yang nyata pengaruhnya terhadap pertumbuhan
populasi rotifer. Adapun hasil uji jarak berganda Duncan pada hari ketujuh
menunjukkan bahwa perlakuan B berbeda nyata dengan semua perlakuan.
Perlakuan A berbeda nyata dengan perlakuan B, D, E, namun tidak berbeda nyata
dengan perlakuan C berbeda nyata dengan perlakuan B dan E. Meski perlakuan A
tidak berbeda nyata dengan perlakuan C, namun masih memiliki kepadatan rotifer
lebih tinggi sebesar 149,75 ind/ml dibanding perlakuan C sebesar 118,5 ind/ml.
Selanjutnya pengaruh pemberian pakan kombinasi terhadap pertumbuhan
populasi tertinggi dapat dilihat pada grafik Gambar 5.2 di bawah ini.
Gambar 5.2 Grafik Pertumbuhan Populasi Brachionus plicatilis (ind/ml) Setelah Diberi Pakan Kombinasi Nannochloropsis oculata dan Variasi Dosis Ragi Roti Hari Pertama Hingga Hari Ketujuh.
0 50 100 150 200 250 0 1 2 3 4 5 6 7 R at a-ra ta P o pul as i B rac hi onus pl ic at il is (i n d/ m l)
Waktu Pengamatan (Hari)
Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C Perlakuan D Perlakuan E