C. RESPONDEN PENELITIAN
2. Pengambilan Data Penelitian
Pengambilan data dilakukan dengan dua cara, yaitu angket terbuka dan wawancara semi-terstruktur.
a) Angket Terbuka
Menurut Arikunto (2002), angket (kuesioner) adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Dengan kata lain angket merupakan metode pengumpulan data untuk mencari informasi menggunakan pertanyaan yang dijawab oleh orang yang menjadi sasaran angket tersebut.
Berdasarkan bentuknya angket dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu angket terbuka dan angket tertutup (Arikunto, 2002). Angket terbuka adalah kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi bebas mengemukakan pendapatnya. Angket tertutup adalah kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan
jawaban lengkap sehingga pengisiannya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan angket terbuka dimana responden tidak diberikan pilihan jawaban melainkan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada angket secara bebas. Angket terbuka ini sekaligus menjadi stimulus awal untuk mulai membicarakan tentang sehat dan sakit.
Pertama-tama, responden diminta untuk memberikan lima buah kata yang secara spontan terlintas ketika mendengar kata sehat dan kata sakit. Selanjutnya, responden diminta untuk memberikan makna dari tiap-tiap kata yang telah diberikan. Terakhir, responden diminta untuk memprioritaskan dari lima kata yang diberikan, mana yang paling menggambarkan kata sehat dan kata sakit.
Teknik asosiasi kata digunakan untuk memperoleh reaksi spontan dan mengajak responden untuk membicarakan sehat dan sakit dimulai dari area ketidaksadarannya. Ketika responden diminta untuk memberikan lima kata secara spontan, berarti responden memberikan apa yang ada di ketidaksadaran mereka (tanpa pikir panjang). Selanjutnya, ketika responden diminta untuk memberikan makna dan prioritas, ketidaksadaran yang semula dimunculkan dibawa ke kedasaran dengan cara berpikir. Sementara pemberian makna responden terkait dengan kata-kata yang diasosiasikan dengan kata sehat dan sakit, bertujuan bahwa peneliti akan memiliki pemaknaan yang sama dengan pemaknaan yang diberikan oleh responden terkait
dengan kata-kata tersebut. Contoh angket dapat dilihat pada Lampiran 2 halaman 120.
b) Wawancara Semi-terstruktur
Poerwandari (2005) menyebutkan bahwa wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Tujuan wawancara menurut Guba dan Lincoln (1981) seperti dikutip Moleong (2002) adalah mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntunan, kepedulian, dan lain-lain. Wawancara kualitatif dilakukan dengan maksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkaitan dengan topik yang diteliti.
Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan perpaduan dari wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, atau sering disebut wawancara semi terstruktur. Wawancara dilakukan dengan menggunakan suatu panduan umum atau daftar pertanyaan yang akan diajukan dan dapat digunakan untuk menemukan informasi yang bukan baku atau informasi tunggal dan berbeda dalam hal waktu bertanya dan cara memberikan respon, yaitu jauh lebih bebas iramanya (Moleong, 2002).
Wawancara dilakukan untuk semakin memperjelas kata-kata dan makna yang telah diberikan pada angket terbuka sekaligus untuk mengkonfirmasi ulang pemaknaan responden tentang konsep sehat dan sakit.
Berikut adalah panduan umum wawancara : 1. Apa itu sehat ?
2. Bagaimana cara Anda menjaga kesehatan ? 3. Apa itu sakit ?
4. Ke mana atau apa yang akan Anda lakukan ketika sakit ?
5. Dari mana Anda tahu tentang hal tersebut (terkait dengan pertanyaan nomor 4) ?
6. Siapa ahli yang dipercaya ketika sakit ? Mengapa ?
E. METODE ANALISIS DATA
Data dianalisis dalam dua tahap, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Tahap pertama adalah menganalisis data secara kualitatif. Analisis data yang dilakukan adalah dengan melihat pola-pola pada data-data yang telah dikumpulkan di awal. Pengumpulan data dihentikan ketika respon yang diberikan oleh responden tidak memiliki variasi lagi (Adriana, 2009).
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah kata-kata dari angket terbuka serta data-data naratif yang berasal dari transkrip wawancara semi terstruktur, maka metode analisis data yang digunakan adalah analisis isi atau analisis konten. Barelson (dalam Zuchdi, 1993) menyatakan bahwa analisis isi merupakan salah satu teknik penelitian untuk mengasilkan deskripsi yang objektif dan sistematik mengenai isi yang terungkap dalam komunikasi.
Data berupa kata-kata dari angket terbuka menggunakan metode
clustering, yaitu salah satu metode yang mengelompokkan respon-respon ke dalam kategori-kategori yang sama. Pengelompokkan kategori respon-respon
didasarkan pada arti yang diberikan dari masing-masing kata tersebut. Metode ini digunakan untuk melihat respon-respon mana yang paling dominan merepresentasikan objek kajian.
Analisis isi yang dilakukan untuk data-data naratif hasil wawancara menggunakan analisis tematik atas transkrip wawancara. Hasil dari analisis ini berupa tema-tema khusus yang mendeskripsikan pemaknaan sosial atas sehat dan sakit. Analisis data kualitatif dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Organisasi Data
Data hasil wawancara disusun dalam sebuah transkrip verbatim. Segala sesuatu yang diucapkan oleh peneliti dan subjek dilaporkan secara tertulis. Di sini, peneliti mulai merefleksikan makna-makna dari kata-kata subjek.
2. Koding
Koding adalah pemberian label pada kata-kata subjek yang mengungkapkan makna tertentu terkait dengan tema yang diteliti. Koding dimaksudkan untuk dapat mengkategorisasikan dan mensistematisasi data secara lengkap dan mendetail sehingga dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari (Poerwandari, 2005).
3. Kategorisasi
Kategorisasi ini adalah tahap mengklasifikasikan kode-kode yang sama dalam proses koding. Kode yang sama dijadikan menjadi satu kategori yang selanjutnya kategori-kategori yang ada di susun sebagai bagian dari aspek yang ingin diteliti.
Tahap yang ke-dua, kategori-kategori atau tema-tema dari hasil angket terbuka dan wawancara yang telah terkumpul, disajikan secara kuantitatif. Penyajian kuantitatif ini dilakukan dengan memberikan jumlah respon dan responden pada tiap-tiap tema atau kategori yang ada. Jumlah respon dan responden pada tiap-tiap tema atau kategori ini selanjutnya diprosentasekan. Prosentase dilakukan berdasarkan tingkat jumlah respon dan responden yang ingin dilihat, misalnya perbandingan respon dan responden setiap tema atau kategori dengan respon dan responden keseluruhan. Jumlah respon yang memiliki prosentase paling tinggi merupakan respon yang paling diingat oleh responden, sementara jumlah responden yang memiliki prosentase paling tinggi menunjukkan bahwa tingkat persebaran respon yang diberikan tinggi pada responden. Dengan demikian, semakin tinggi prosentase respon dan responden maka semakin tinggi pula respon tersebut merepresentasikan responden.
F. PEMERIKSAAN KEABSAHAN DATA
Untuk meningkatkan derajat kepercayaan data maka dalam penelitian ini dilakukan teknik pemeriksaan data dengan cara triangulasi. Moleong (2006) memberikan istilah trangulasi untuk pemeriksaan keabsahan data. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Denzin (dalam Moleong, 2006) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori.
Dalam hal ini, peneliti menggunakan triangulasi metode, dimana peneliti menggunakan metode angket terbuka dan wawancara semi-terstruktur. Menurut Patton (dalam Moleong, 2006), terdapat dua strategi dalam triangulasi metode, yaitu pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.
45
A. HASIL PENELITIAN