• Tidak ada hasil yang ditemukan

Representasi Sosial Konsep Sehat dan Sakit Pada Responden

C. RESPONDEN PENELITIAN

3. Representasi Sosial Konsep Sehat dan Sakit Pada Responden

Percaya Dokter

a. Representasi Sosial Konsep Sehat

Responden percaya dokter, mengingat hal-hal yang menyenangkan dan semangat beraktivitas dalam menggambarkan kata sehat. Berdasarkan hasil wawancara, responden percaya dokter mengingat sehat sebagai kondisi bisa beraktivitas dan seimbang. Selain itu, responden percaya dokter ekstrim mengingat kondisi bebas penyakit untuk mendefinisikan sehat daripada responden tidak percaya dokter. Sementara untuk menjaga kesehatan, responden yang percaya dokter paling mengingat bagaimana cara menjaga kesehatan dengan keteraturan pola hidup sehari-hari (makan, istirahat, dan lain-lain).

Responden percaya dokter ekstrim merepresentasikan sehat sebagai kondisi bebas penyakit. Kondisi bebas penyakit berarti fisik dan mental tidak menderita sakit. Hal ini terkait pula dengan kepercayaan responden terhadap dokter bahwa dokter adalah ahli yang mempelajari penyakit (ada penyakit). Oleh karena mereka memperoleh sehat ketika pergi ke dokter maka sehat lebih direpresentasikan sebagai kondisi bebas penyakit. Dengan demikian, kondisi bebas penyakit merupakan bentuk konkrit dari representasi responden percaya dokter tentang sehat (objectivication). Sementara pengetahuan tentang familiarnya dokter sebagai ahli yang mempelajari penyakit merupakan

pengetahuan yang telah ada pada masyarakat. Oleh karena itu, familiarnya dokter ini merupakan anchoring dari bentuk konkritisasi sakit sebagai kondisi bebas penyakit.

Selain itu, rata-rata pendapatan per-bulan responden percaya dokter lebih tinggi daripada responden tidak percaya dokter sehingga responden percaya dokter lebih untuk tidak mengkonsumsi suplemen maupun mengupayakan hal lain untuk memperoleh kesehatan. Responden percaya dokter tidak mengalami kendala keuangan untuk pergi ke dokter jika ingin memperoleh kesehatan.

Sekalipun demikian, responden percaya dokter juga merepresentasikan sehat sebagai kondisi semangat beraktivitas karena kondisi yang seimbang dari fisik dan mental. Konsep sehat ini menunjukkan bahwa responden masih berbicara tentang harmonisasi antara jiwa dan raga (Magnis-Suseno, 2001; Paul Stange, 1998; Sciortino, 1992; de Jong, 1976), sebagaimana konsep sehat tersebut tumbuh di dalam kultur Jawa. Sementara penggambaran kondisi tubuh dan mental ataupun pikiran dalam menggambarkan konsep sehat, justru dibicarakan oleh dualisme modern (Wozniak, 1995). Harmonisasi dan dualisme modern merupakan pengetahuan yang telah ada sebelumnya, terkait dengan sehat. Inilah yang dinamakan proses anchoring, di mana sehat digambarkan sebagai kondisi yang harmonis antara fisik dan non-fisik, yang merupakan perpaduan antara harmonisasi Jawa dan

konsep dualisme modern sebagai pengetahuan tentang sehat yang telah ada sebelumnya.

b. Representasi Sosial Konsep Sakit

Responden percaya dokter lebih mengingat kata-kata yang terkait dengan kondisi badan tidak enak dan upaya penyembuhan untuk menggambarkan kata sakit. Menurut hasil wawancara, responden percaya dokter paling memahami sakit sebagai kondisi yang tidak sehat atau punya penyakit. Keadaan yang tidak sehat atau punya penyakit berarti kondisi fisik dan rohani/jiwa yang menderita sakit.

Hasil wawancara yang lain menunjukkan bahwa cara yang ditempuh oleh responden percaya dokter dalam menangani sakit adalah mengkonsumsi obat yang dijual bebas di pasaran dan mengobati dengan caranya sendiri (makan, istirahat, minum). Dikonsumsinya obat pasar untuk menangani sakit didukung oleh sumber informasi yang paling banyak diperoleh, yaitu melalui kemasan, iklan, atau media. Selain itu, informasi juga diperoleh karena cocok-cocokan terhadap obat atau cara penanganan tertentu. Responden yang percaya dokter, lebih merepresentasikan sakit sebagai tidak sehat. Sakit berarti fisik dan jiwa sedang menderita sakit. Hal ini terkait dengan kepercayaan responden terhadap dokter bahwa dokter adalah ahli yang mempelajari penyakit (ada penyakit). Oleh karena itu, responden percaya dokter

lebih merepresentasikan sakit sebagai kondisi ada penyakit. Kondisi sakit merupakan kondisi yang memerlukan penyembuhan atau pemulihan ke kondisi sehat. Sakit direpresentasikan pula sebagai penyembuhan. Penyembuhan ini diusahakan untuk mengembalikan kondisi sakit ke kondisi sehat. Upaya penyembuhan yang ditempuh adalah mengkonsumsi obat pasar. Informasi ini diperoleh dari kemasan obat dan cocok-cocokan.

Kondisi tidak sehat merupakan bentuk konkrit dari konsep sakit pada responden yang tidak percaya dokter. Selain itu, konsep sakit juga diubah menjadi bentuk yang lebih konkrit sebagai penyembuhan, yaitu mengkonsumsi obat pasar. Hal ini merupakan proses objectivication dari representasi tentang sakit pada responden tidak percaya dokter. Familiarnya dokter dapat menyembuhkan penyakit serta kemasan obat dan pengalaman

cocok/tidaknya obat tertentu dapat mengobati sakit, merupakan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya oleh responden percaya dokter tentang sakit. Pengetahuan tersebut merupakan

anchoring dari representasi responden percaya dokter tentang sakit. Responden percaya dokter lebih menggambarkan sakit dan sehat terkait dengan ada/tidaknya penyakit. Hal ini menunjukkan bahwa dokter hanya mengobati penyakit. Penyakit ini berada pada area fisik. Oleh karena itu, dokter hanya menangani penyakit fisik.

4. Representasi Sosial Konsep Sehat dan Sakit Pada Responden

Tidak Percaya Dokter

a. Representasi Sosial Konsep Sehat

Upaya memperoleh kesehatan lebih diingat untuk diutamakan dalam menggambarkan kata sehat oleh responden tidak percaya dokter. Selain itu, responden tidak percaya dokter juga mengingat hal-hal yang menyenangkan dan semangat untuk berakivitas dalam menggambarkan kata sehat. Hal-hal yang menyenangkan ini juga diingat untuk diutamakan dalam menggambarkan kata sehat. Berdasarkan hasil wawancara, sehat direpresentasikan sebagai kondisi bisa beraktivitas dan seimbang.

Sementara untuk menjaga kesehatan, responden yang tidak percaya dokter paling mengingat bagaimana cara menjaga kesehatan dengan keteraturan pola hidup sehari-hari (makan, minum, istirahat, olahraga) ditambah dengan suplemen. Suplemen dikonsumsi hanya ketika badan terasa tidak enak.

Upaya memperoleh kesehatan lebih direpresentasikan oleh responden tidak percaya dokter. Hal ini dimungkinkan karena responden tidak percaya dokter tidak memiliki ahli yang dipercaya atau bahkan memiliki ahli lain untuk dipercaya dalam mengusahakan kondisi sehat. Oleh karena itu, responden tidak percaya dokter lebih memperhatikan upaya apa saja yang akan dilakukan untuk menjaga kesehatan. Selain itu, responden tidak percaya dokter memilih alternatif lain untuk memperoleh

kesehatan karena mereka tidak memiliki cukup beaya jika pergi ke dokter. Hal ini dapat dilihat dari data demografi responden tidak percaya dokter, mereka memiliki rata-rata pendapatan per bulan yang lebih rendah daripada responden percaya dokter. Salah satu cara menjaga kesehatan yang dilakukan responden tidak percaya dokter adalah mengkonsumsi suplemen. Suplemen ini merupakan bentuk yang lebih familiar dari jamu (ramuan herbal) yang telah lama digunakan oleh masyarakat Jawa untuk menjaga kesehatan (Woodward dalam Boomgaard et al., 1996). Dengan demikian, suplemen merupakan bentuk konkrit dari representasi konsep sehat pada responden tidak percaya dokter (objectivication). Sementara itu, jamu merupakan anchoring dari bentuk suplemen tersebut.

Sekalipun demikian, responden tidak percaya dokter juga merepresentasikan sehat sebagai kondisi semangat beraktivitas karena kondisi yang seimbang dari fisik dan mental. Konsep sehat ini menunjukkan bahwa responden masih berbicara tentang harmonisasi antara jiwa dan raga (Magnis-Suseno, 2001; Paul Stange, 1998; Sciortino, 1992; de Jong, 1976), sebagaimana konsep sehat tersebut tumbuh di dalam kultur Jawa. Sementara penggambaran kondisi tubuh dan mental ataupun pikiran dalam menggambarkan konsep sehat, justru dibicarakan oleh dualisme modern (Wozniak, 1995). Harmonisasi dan dualisme modern merupakan pengetahuan yang telah ada sebelumnya, terkait dengan sehat. Inilah yang dinamakan proses anchoring, di mana sehat

digambarkan sebagai kondisi yang harmonis antara fisik dan non-fisik, yang merupakan perpaduan antara harmonisasi Jawa dan konsep dualisme modern sebagai pengetahuan tentang sehat yang telah ada sebelumnya.

b. Representasi Sosial Konsep Sakit

Responden tidak percaya dokter lebih mengingat kata-kata yang berkaitan dengan upaya penyembuhan dan tidak bersemangat dalam beraktivitas untuk menggambarkan kata sakit. Menurut hasil wawancara, responden yang tidak percaya dokter paling memahami sakit sebagai kondisi badan yang tidak sehat. Badan tidak sehat berarti kondisi badan yang tidak enak sehingga malas untuk beraktivitas.

Hasil wawancara yang lain menunjukkan bahwa responden tidak percaya dokter akan mengkonsumsi obat yang dijual bebas di pasaran dan mengobati dengan caranya sendiri (makan, istirahat, minum)dalam menangani sakit. Namun, kelompok responden yang tidak percaya dokter juga memiliki cara lain yang banyak ditempuh, yaitu dengan tidak menggunakan obat pasar sama sekali. Jadi, mereka akan mengobati dirinya sendiri, misalnya makan banyak, istirahat banyak, minum air putih yang banyak, pijat, dan lain-lain. Sumber informasi paling banyak diperoleh melalui kemasan, iklan, atau media. Selain itu, informasi juga diperoleh karena cocok-cocokan terhadap obat atau cara penanganan tertentu,

orang lain, dan obat atau cara tertentu sudah dijadikan kebiasaan untuk menangani sakit.

Responden tidak percaya dokter lebih merepresentasikan sakit sebagai tidak semangat untuk beraktivitas. Hal ini dikarenakan kondisi badan yang tidak enak akibat sakit. Sakit berarti ora bergas (tidak segar, tidak tegap, tidak sigap bertindak). Kondisi yang tidak enak (baik karena ada penyakit ataupun tidak) menimbulkan rasa malas untuk beraktivitas. Hal ini menunjukkan ada hubungan kausal antara badan dengan mental. Konsep sakit yang dimiliki oleh responden tidak percaya dokter ini sama dengan konsep dualisme modern yang diperkenalkan oleh William James (dalam Wozniak, 1995), menyebutkan bahwa antara jiwa dan raga memang terpisah, namun dihubungkan oleh perasaan sehingga keduanya memiliki hubungan kausal (dalam Wozniak, 1995).

Sakit juga direpresentasikan sebagai penyembuhan. Upaya penyembuhan yang ditempuh oleh responden tidak percaya dokter adalah mengkonsumsi obat pasar. Namun, selain mengkonsumsi obat pasar, responden tidak percaya dokter juga mengobati dengan caranya sendiri, misal : pijat. Informasi yang diperoleh responden tidak percaya dokter berasal dari kemasan, cocok-cocokan, pengalaman orang lain dan kebiasaan.

Tidak bersemangat untuk beraktivitas dan penyembuhan merupakan bentuk konkrit dari konsep sakit pada responden tidak percaya dokter. Penyembuhan lebih dikonkritkan lagi dengan cara

mengkonsumsi obat pasar atau diobati dengan caranya sendiri. Hal ini merupakan proses objectivication. Sementara itu, ora bergas

(tidak segar, tidak tegap, tidak sigap bertindak), konsep dualisme modern, serta sumber informasi pengobatan merupakan pengetahuan yang telah ada sebelumnya pada masyarakat Jawa terkait dengan sakit. Dengan demikian, pengetahuan yang telah ada sebelumnya pada masyarakat Jawa tersebut merupakan anchoring

110 Istilah Jawa : bergas Jawa : menjaga kesehatan

dengan ramuan herbal/jamu

Sehat menyenangkan, bisa beraktivitas dengan semangat menjaga keteraturan pola hidup semangat beraktvitas karena kondisi seimbang antara sehari-hari (makan, minum, istirahat, upaya memperoleh kesehatan fisik dan mental olahraga) dan suplemen ketika badan

terasa tidak enak

orang Nilai Jawa : harmonisasi Dualisme modern

Jawa hubungan kausal mind dan body

Sakit penyembuhan kondisi fisik dan mental minum obat pasar,

tidak bersemangat aktivitas sakit sehingga timbul rasa diobati dengan cara sendiri,

malas untuk beraktivitas didiamkan

dokter familiar dikaitkan Istilah Jawa : kemasan obat, pengalaman orang lain,

Keterangan : dengan sakit sebagai penyembuh ora bergas turun-temurun

: konkritisasi (objectivication)

: penjangkaran pada pemaknaan yang telah ada sebelumnya (anchoring)

111

A. KESIMPULAN

Sehat, pada orang Jawa, direpresentasikan sebagai dilakukannya

aktivitas dengan semangat. Semangat untuk beraktivitas dipengaruhi oleh kondisi

fisik dan mental. Ketika terjadi harmonisasi atau keseimbangan fisik dan mental

dalam keadaan sama-sama baik, maka kondisi ini akan menimbulkan semangat

untuk beraktivitas. Untuk menjaga kesehatan, orang Jawa akan memperhatikan

keteraturan pola hidup sehari-hari (makan, minum, istirahat, olahraga) dan

dikonsumsinya suplemen ketika badan tidak enak. Inilah yang disebut bentuk

konkrit representasi sosial tentang konsep sehat (objectivication). Sehat adalah semangat beraktivitas karena terjadi harmonisasi fisik dan non-fisik, keteraturan

hidup sehari-hari, dan suplemen.

Bentuk konkrit tentang konsep sehat tersebut terkait dengan

pengetahuan-pengetahuan tentang sehat yang ada pada masyarakat Jawa.

Pengetahuan-pengetahuan yang telah ada sebelumnya antara lain : nilai

harmonisasi pada kultur Jawa, konsep dualisme modern dari Barat, istilah Jawa

bergas (segar, tegap, sigap bertindak), dan jamu (ramuan herbal). Pengetahuan-pengetahuan tersebut merupakan bentuk familiar dari sehat yang sudah ada

Sebaliknya, jika fisik dan mental dalam keadaan menderita sakit, maka

akan timbul rasa malas untuk beraktivitas. Sakit juga direpresentasikan sebagai

penyembuhan. Oleh karena itu, orang Jawa akan mengkonsumsi obat pasar atau

mengobati dengan caranya sendiri untuk menyembuhkan sakit. Inilah bentuk

konkrit dari representasi sakit pada orang Jawa (objectivication). Sakit adalah malas beraktivitas karena menderita sakit, penyembuhan, obat pasar, dan

mengobati diri sendiri.

Bentuk konkrit tentang konsep sakit tersebut terkait dengan

pengetahuan-pengetahuan tentang sehat yang ada pada masyarakat Jawa.

Pengetahuan-pengetahuan yang telah ada sebelumnya antara lain : konsep

dualisme modern dari Barat, istilah Jawa bergas (segar, tegap, sigap bertindak), familiarnya dokter sebagai ahli penyakit, dan sumber-sumber informasi diperoleh

dari kemasan obat, cocok-cocokan, pengalaman orang lain, dan/atau turun-temurun. Pengetahuan-pengetahuan tersebut merupakan bentuk familiar dari sehat

yang sudah ada sebelumnya di masyarakat (anchoring).

Orang Jawa tidak percaya dokter lebih merepresentasikan sehat ke

dalam bentuk yang lebih konkrit (objectivication) sebagai upaya untuk memperoleh kesehatan daripada orang Jawa percaya dokter. Salah satu cara yang

dilakukan adalah mengkonsumsi suplemen. Suplemen merupakan bentuk dari

jamu (ramuan herbal), yang telah lebih familiar digunankan sebelumnya, untuk menjaga kesehatan. Jamu sebagai anchoring dari suplemen. Sementara sakit, dikonkritkan sebagai rasa malas untuk beraktivitas karena merasa badan tidak

enak. Hal ini terkait dengan harmonisasi Jawa dan konsep dualisme modern

sebagai pengetahuan yang telah dimiliki oleh masyarakat sebelumnya

(anchoring).

Orang Jawa yang percaya dokter lebih merepresentasikan sehat dan sakit

sebagai kondisi ada/tidaknya penyakit pada tubuh ataupun mental

(objectivication). Hal ini berhubungan dengan familiarnya dokter, dikenal sebagai ahli yang mempelajari penyakit, untuk dikaitkan dengan kondisi sakit

(anchoring).

B. SARAN

Melihat hasil penelitian, peneliti memberikan saran kepada masyarakat Jawa

untuk meningkatkan pengetahuan terkait dengan bahan-bahan kandungan

makanan dan minuman, obat atau bahan yang dipakai, meliputi : porsi, efek

samping, pemakaian, serta penyimpanan. Oleh karena itu, masyarakat Jawa dapat

mengkonsumsi apa saja dengan aman untuk menjaga kesehatannya.

Sementara itu, bagi pemberi layanan kesehatan, peneliti memberikan saran

supaya metode-metode pelayanan kesehatan dikonstruksi sedemikian rupa

sehingga sesuai dengan konsep sehat dan sakit masyarakat Jawa. Misalnya :

ketika berobat, masyarakat diberikan situasi yang nyaman dengan cara

mendengarkan keluhan pasien, ramah karena kondisi pikiran bisa mempengaruhi

Peneliti juga memberikan saran untuk penelitian selanjutnya dengan

menggunakan karakteristik responden yang berbeda (usia, suku-bangsa, status

sosial-ekonomi), dan/atau menggunakan metode pengambilan data yang berbeda

pula. Dengan demikian, pelayanan kesehatan di Indonesia dapat ditingkatkan

karena pelayanan yang diberikan sesuai dengan konsep sehat dan sakit pada

115

dengan menggunakan integrasi metode servqual dan QFD. Artikel disajikan dalam Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi VII, Surabaya. Adriana, Galuh. (2009). Representasi sosial tentang kerja pada anak jalanan di

Stasiun Kereta Api Bogor dan Terminal Baranang Siang, kota Bogor, Jawa

Barat. Dipungut 21 Agustus, 2009 dari

http://kolokiumkpmipb.wordpress.com/tag/representasi-sosial/.

Almazini, Prima. (2007). Catatan pendidikan kedokteran dalam tinta sejarah.

Dipungut 17 Maret, 2009 dari

http://myhealing.wordpress.com/2007/12/24/catatan-pendidikan-kedokteran-dalam-tinta-sejarah/.

Ardiningtiyas. (2004). Atribusi masyarakat menghadapi Pemilu 2004. Dipungut 14 Oktober, 2008, dari http://www.e-psikologi.com/epsi/sosial_detail.asp?id=267.

Arikunto, S. (2002). Prosedur penelitian : pendekatan praktik. Jakarta : Rineka Cipta. Berry, John W., Poortinga, Ype H., Segall, Marshall H., Dasen, & Pierre R. (1999).

Psikologi lintas-budaya : Riset dan aplikasi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Boomgaard, P., Sciortino, R., & Smyth, I. (1996). Health care in java. Nederland : KITLV Press.

Damayanti, Laili. (2009, 26 Agustus). Waspadai konsumsi makanan instan. Dipungut

23 November, 2009, dari

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/08/26/09592019/waspadai.konsum si.makanan.instan.

Danim, S. (2002). Menjadi peneliti kualitatif. Bandung : CV Pustaka Setia. de Jong, S. (1976). Salah satu sikap hidup orang Jawa. Yogyakarta : Kanisius.

Dualism. (2007) Dipungut 23 Februari, 2009, dari

Dukun cilik muhammad ponari. (2009, 10 Februari). Dipungut 22 Mei, 2009, dari http://regional.kompas.com/read/xml/2009/02/10/1016459/BERITA.FOTO.Du kun.Cilik.Muhammad.Ponari.

Eliasmith, Chris. (2006). Introduction dualism. Dipungut 23 Februari, 2009, dari http://philosophy.uwaterloo.ca/MindDict/dualism.html.

Handayani. (2007). Bahaya kandungan formalin pada makanan. Dipungut 23 November, 2009, dari http://www.katamutiara.info/ari.php?id=11.

Harianto, Khasanah, & Supardi. (2005). Kepuasan pasien terhadap pelayanan resep di Apotek Kopkar Rumah Sakit Budhi Asih Jakarta. Majalah Ilmu Kefarmasian, II, 12-21.

Ilmie, M. Irfan. (2009, 23 Februari). Fenomena ponari dalam tinjauan medis dan

sosiologi. Dipungut 12 Desember, 2009, dari

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/02/23/18095223/fenomena.ponari. dalam.tinjauan.medis.dan.sosiologi.

Jamu, obat warisan leluhur. (2006, 1 Maret). Dipungut 15 Juli, 2009, dari http://www.trulyjogja.com/index.php?action=news.detail&cat_id=7&news_id= 399.

Jodelet, Denise. (2006). Le dictionnaire des sciences humaines [Latar belakang teoretik teori representasi sosial]. Paris : PUF.

Joesoef, D., & Sutanto, J. (1990). Dua renungan tentang manusia, masyarakat, dan alam semesta. Jakarta : Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Kerokan bikin nyandu. (2009). Dipungut 15 Juli, 2009, dari

http://kumpulan.info/sehat/artikel-kesehatan/48-artikel-kesehatan/185-apotek- hidup-tanaman-obat-sehat-cantik.html.

Khumaidi, A. M. (2008). Film dokumenter seabad kiprah dokter Indonesia. Jakarta : Ikatan Dokter Indonesia.

Laksmono, Bambang S. (2009). Fenomena ponari dan parade kemiskinan. Dipungut

24 Agustus, 2009, dari Universitas Gajah Mada Web site:

http://plod.ugm.ac.id/plodugm/index.php/berita/203-fenomena-ponari-dan-parade-kemiskinan.

Lestari, Eka. (2009). Mulai dari diri sendiri. Dipungut 25 Agustus, 2009, dari http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/18698/mulai-dari-diri-sendiri.

Magnis-Suseno, Franz. (2001). Etika Jawa : Sebuah analisa falsafi tentang kebijaksanaan (ed. Ke-8). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Malpraktek oleh dokter Tedjasukmana di RS. Mitra Int’l Jatinegara. (2007). Dipungut 27 September, 2008, dari http://www.mediakonsumen.com/Artikel1032.html.

Marks, David F., Murray, M., Evans, B., & Billig, C. (2000). Health psychology : Theory, research, and practice. London : SAGE Publications.

Moleong, L. J. (2002). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Moleong, L. J. (2006). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Moscovici, S. (2001). Social representations : Explorations in social psychology. Washington Square, New York : New York University Press.

Nevid, J.S., Rathus, S.A., % Greene, B. (Terj). (2005). Psikologi abnormal (ed. Ke-5). Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Notosoedirdjo, M., & Latipun. (2001). Kesehatan mental : Konsep dan penerapan. Malang : Universitas Muhammadiyah.

Pedagang Bakso Berani Diperiksa. (2006, 20 Januari). Dipungut 23 November, 2009, dari http://www.suaramerdeka.com/harian/0601/20/mur02.htm.

Pelayanan kelas 1 RS Hermina Bekasi mengecewakan. (2007). Dipungut 27 September, 2008, dari http://www.mediakonsumen.com/Artikel1648.html.

Pelayanan dokter di RSUD Cibinong – Bogor. (2007). Dipungut 27 September, 2008, dari http://www.mediakonsumen.com/Artikel2291.html.

Pemberton, John. (2003). On the subject of “Java” [Jawa]. Yogyakarta : Mata Bangsa.

Poerwandari, Kristi. (2005). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta : Perfecta LPSP3 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Prasetyo, E. E. (2009, 1 Oktober). DIY Urutan Kedua Daerah Rawan Konsumsi

Narkoba. Dipungut 23 November, 2009, dari

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/10/01/20361011/diy.urutan.kedua.d aerah.rawan.konsumsi.narkoba.

Purkhardt, S. Caroline. (1993). Transforming social representations : A social psychology of common sense and science. London and New York : Routledge. Putra, Idhamsyah Eka, Wardhani, Citra, & Muwardani, Resky. (2009). Representasi

sosial tentang pemimpin antara dua kelompok usia dan situasi sosial yang berbeda di Jakarta dan Palembang. Dipungut 21 Agustus, 2009 dari

http://idhamputra.wordpress.com/2009/01/19/representasi-sosial-tentang- pemimpin-antara-dua-kelompok-usia-dan-situasi-sosial-yang-berbeda-di-jakarta-dan-palembang/.

Rachmawati, R. (2004, 31 Mei). Konsumsi Rokok Indonesia Lima Besar Dunia.

Dipungut 23 November, 2009, dari

http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2004/05/31/brk,20040531-22,id.html.

Sagimun, M. D., Abu, Rivai. (1981). Sistim kesatuan hidup masyarakat setempat DIY. Departemen Pendidikan & Kebudayaan : Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Sciortino, Rosalia. (1992). Care-takers of cure : An anthtopological study of health centre nurses in rural Central Java. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Soejoeti, Sunanti Z., (2005). Konsep sehat, sakit dan penyakit dalam konteks sosial budaya. Cermin Dunia Kedokteran, 149, 49-52.

Stange, Paul. (1998). Politik perhatian : rasa dalam kebudayaan Jawa. Yogyakarta : LKiS.

Sudardi, Bani. (2002). Konsep pengobatan tradisional Jawa menurut Primbon Jawa.

Humaniora Volume XIV, 1, 12-19.

Supratiknya, A. (1995). Mengenal perilaku abnormal. Yogyakarta : Kanisius.

Supratiknya, A. (2007). Kiat merujuk sumber acuan dalam penulisan karya ilmiah. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.

Supratiknya, A. (2008). Tata tulis artikel ilmiah. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.

Taylor, Shelley E. (2003). Health psychology (ed. Ke-5). New York: McGraw-Hill. Wagner, W., Duveen, G., Farr and Jovchelovitch, Lorenzi-Cioldi, F., Marková, I., &

Rose, D. (1999). Theory and method of social representations. Asian Journal of Social Psychology, 2, 95-125.

Walmsley, Christopher James. (2004). Social representation and the study of professional practice. International Journal Of Qualitative Methods, 3(4), article 4.

Wilson, G.T., et al. (1996). Abnormal psychology : Integrating perspective. Boston : Allyn and Bacoon.

Wozniak, Robert H. (1995). Mind and body : Rene Descartes to William James.

Dipungut 23 Februari, 2009, dari

Lampiran 1 : Panduan Umum Wawancara Penelitian Pendahuluan

SEHAT

1. Apa itu “sehat”?

2. Jika mendengar kata ”sehat”, hal apa yang segera terlintas di kepala? Mengapa? 3. Apa saja kriteria orang yang ”sehat” ?

4. Apa saja yang dapat membuat orang menjadi ”sehat”?

5. Bagaimana dengan kesadaran akan kesehatan pada masyarakat saat ini? 6. Punya penyakit khusus? Apa? Sudah berapa lama?

Dokumen terkait