Djojosugito (dalam Sudardi, 2002) memberikan kerangka pemikiran tentang obat-obat tradisional yang menyangkut dua hal : obat atau ramuan obat tradisional dan cara pengobatan tradisional. Definisi obat tradisional adalah obat yang turun-temurun digunakan oleh masyarakat untuk mengobati beberapa penyakit tertentu dan dapat diperoleh secara bebas (dalam Sudardi, 2002). Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) nomor 246/Menkes/Per/V/1990, yang dimaksud dengan obat tradisional adalah setiap bahan atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
Foster dan Anderson (dalam Sudardi, 2002) menyebutkan bahwa masyarakat dan pengobatan tradisional menganut dua konsep penyebab sakit, yaitu: naturalistik dan personalistik. Penyebab naturalistik yaitu seseorang menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan), kebiasaan hidup, ketidakseimbangan dalam tubuh, termasuk sensasi merasakan panas-dingin tubuh seperti masuk angin (gejala flu) dan penyakit bawaan. Sedangkan konsep personalistik menganggap
munculnya penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif yang dapat berupa makhluk bukan manusia (hantu, roh, leluhur atau roh jahat), atau makhluk manusia (tukang sihir, tukang tenung). Selanjutnya, Foster dan Anderson (dalam Sudardi, 2002) menjelaskan untuk mengobati sakit yang disebabkan oleh naturalistik, dapat digunakan obat-obatan, ramuan-ramuan, pijat, kerokan (salah satu metode memperlebar pembuluh darah tepi yang menutup), pantangan makan, dan bantuan tenaga kesehatan. Untuk penyebab sakit personalistik harus dimintakan bantuan dukun, kyai, dan lain-lain.
Hal senada juga diungkapkan oleh Sciortino (1992) di mana pengobatan tradisional Jawa pada khususnya, terbagi ke dalam dua kategori, yaitu ilmu lahir dan ilmu batin. Untuk penyakit secara lahir, pengobatan yang ditempuh antara lain pengobatan sendiri dengan pijat atau ramuan herbal, dukun bayi, tukang pijat, dan tukang jamu. Sementara untuk penyakit secara batin, pengobatan dilakukan kepada mereka yang memiliki kekuatan spiritual atau magis, seperti : orang tua sebagai orang yang bijak, dukun prewangan, dukun kebatinan, dan pemuka agama.
Pemahaman tentang penyakit ini mempengaruhi pola pengobatan dan pemilihan alternatif pengobatan (Yitno dalam Sudardi, 2002). Konsep pengobatan tradisional Jawa yang memiliki pandangan kosmologis tentang penyakit, memandang bahwa penyakit tidak saja pada apa yang menyebabkan sakit, melainkan juga bagaimana dan mengapa seseorang menjadi sakit. Seperti yang diungkapkan oleh Sciortino (1992) yang mendefinisikan sakit dalam pengobatan tradisional Jawa sebagai
ketidakseimbangan atau ketidakharmonisan antara fisik dan elemen spiritual, sehingga pengobatan akan mengembalikannya menjadi seimbang dan harmoni. Hal senada juga diungkapkan oleh Magnis-Suseno (2001), ketika masyarakat Jawa tidak harmonis dengan lingkungan, maka mereka akan sakit. Hal ini terkait dengan kepercayaan masyarakat Jawa akan ‘roh’. Roh ini yang akan menimbulkan kecelakaan atau penyakit apabila roh dibuat marah atau masyarakat yang kurang hati-hati. Roh adalah hal-hal di luar manusia, yaitu lingkungan sekitar manusia.
Dengan demikian, sakit menurut masyarakat Jawa adalah ketidakharmonisan diri dengan lingkungannya. Misalnya ada istilah Jawa :
wong ora lumrah, ketika orang atau warga masyarakat yang melakukan pelanggaran adat-istiadat dan norma-norma yang berlaku (Sagimun & Abu, 1981). Hal ini menunjukkan bahwa wong ora lumrah tersebut adalah orang yang tidak sehat. Sakit dikarenakan melanggar aturan di tempat angker, misal : membuang hajat di pohon keramat.
Sehat dan sakit pada masyarakat Jawa selalu berbicara tentang harmonisasi diri dengan lingkungannya. Hal ini dikarenakan oleh orang Jawa mengenal lahir dan batin sebagai sebuah kesatuan yang harmonis di dalam diri individu. Batin ditangkap oleh ’rasa’ dan dikaitkan dengan hal-hal mistis (roh). Sementara hal-hal mistis tersebut berada di luar diri manusia (lingkungan). Dengan demikian, sehat adalah ketika individu menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan dan sakit adalah ketika individu tidak harmonis dengan lingkungan. Selain itu, sehat dan sakit juga disebabkan
oleh lingkungan sehingga pelayanan kesehatan tradisional Jawa akan mengembalikan harmonisasi individu dengan lingkungannya.
D. REPRESENTASI SOSIAL TENTANG KONSEP SEHAT DAN SAKIT
Setiap masyarakat mempunyai pengertian sendiri tentang sehat dan sakit sesuai dengan pengalaman dan kebudayaannya (Notosoedirdjo & Latipun, 2001). Perbedaan pengertian sehat dan sakit tiap kelompok masyarakat terdapat dalam memahami kondisi sehat atau sakit, penyebab sakit, memberi kewenangan orang yang dapat menetapkan kondisi sehat atau sakit, merespon terhadap kesakitan, dan menetapkan klasifikasi kesakitan. Oleh karena itu konsep sehat dan sakit dapat diungkap melalui pemahaman, gagasan, sikap, perilaku individu-individu dalam kelompok masyarakat terkait dengan konsep tersebut.
Representasi sosial akan membantu mengkaji konsep sehat dan sakit ini karena representasi sosial merupakan sistem nilai, ide, dan praktik-praktik yang membangun sebuah pemaknaan sosial (Moscovici, 2001). Representasi sosial merupakan sistem nilai, ide, dan praktek-praktek yang membangun sebuah makna sosial dari fenomena dan memungkinkan terjadinya komunikasi antar anggota kelompok (Moscovici, 2001; Walmsley, 2004). Paradigma ini merupakan kerangka berpikir konsep-konsep dan ide-ide psikologis di dalam ruang sosial untuk mempelajari berbagai fenomena-fenomena sosial (Wagner, Duveen, Farr and Jovchelovitch, Lorenzi-Cioldi , Marková, & Rose, 1999).
Representasi sosial merupakan produk sosial. Representasi tidak diperoleh secara replika, tetapi diciptakan oleh ruang sosial. Moscovici (dalam
Walmsley, 2004) mengatakan bahwa representasi sosial dirumuskan melalui tindakan dan komunikasi di masyarakat dan memahami serta mengkomunikasikan apa yang sudah dipahami dengan cara tertentu. Tujuannya yakni untuk mempelajari hubungan yang terjadi antara pengetahuan yang bersifat opini umum dan pengetahuan keilmuan; menjelaskan proses terjadinya pemikiran sosial; pembiasaan akan hal-hal baru dan pemahaman kebaruan tersebut berdasarkan pengalaman sosial yang berfungsi untuk mengarahkan perilaku, berkomunikasi dalam dinamika sosial (Jodelet, 2006). Dengan kata lain, sistem representasi sosial menunjukkan adanya relasi antara individu-lingkungan-sistem budaya (Purkhardt, 1993). Relasi tersebut mempengaruhi kepercayaan, nilai-nilai, interaksi sosial, dan interaksi masyarakat dengan lingkungan itu sendiri. Oleh karena itu, representasi sosial dilihat sebagai bagian dari realitas sosial.
Moscovici (2001) mendeskripsikan dua proses besar dalam pembentukan representasi sosial, yaitu anchoring dan objectivication. Proses
anchoring mengacu pada pemaknaan suatu fenomena (objek, relasi, pengalaman, praktik, dan lain-lain), yang diintegrasikan dengan makna yang telah ada (familiar) sebelumnya mengenai objek yang direpresentasikan tersebut. Sementara proses objectivication akan mengubah sesuatu yang masih abstrak menjadi lebih konkrit. Dalam hal ini, objek yang akan direpresentasikan adalah sehat dan sakit. Sehat dan sakit merupakan suatu objek yang masih abstrak dan tidak familiar. Oleh karena itu, sehat dan sakit akan direpresentasikan ke dalam suatu penggambaran objek yang lebih konkrit dan familiar.
Teori representasi sosial menekankan pentingnya melihat keberagaman pengalaman individu dan bagaimana pengalaman diorganisasikan dan dipahami dalam masyarakat. Dalam hal ini tetang konsep sehat dan sakit. Segala macam gagasan, pengetahuan, pengalaman, dan sikap tentang sehat dan sakit akan saling dikomunikasikan dalam masyarakat sehingga masyarakat memiliki wacana mengenai sehat dan sakit dalam kognisinya. Wacana ini kembali dikonsumsi dalam masyarakat, begitu seterusnya menjadi sebuah representasi sosial. Dengan demikian, representasi sosial akan mengungkap bagaimana konsep sehat dan sakit pada masyarakat.
Secara khusus, penelitian ini akan dilakukan pada orang dewasa, bersuku-kebangsaan Jawa dan tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris adalah paling sedikit berusia 18 (delapan belas) tahun atau telah menikah. Usia ini dimaksudkan bahwa responden telah memiliki kemandirian untuk mengambil suatu keputusan. Sementara itu, usia kerja dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa responden memiliki kemandirian ekonomi. Undang- Undang Nomor 20 Tahun 1999 bahwa yang boleh dipekerjakan berusia 18 tahun ke atas. Oleh karena itu, usia orang dewasa yang menjadi responden dalam penelitian ini berusia 21 – 58 tahun, dengan catatan bahwa mereka sudah menikah dan atau bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa usia dewasa-pekerja ini telah memiliki kemandirian secara ekonomi dan kemandirian dalam mengambil keputusan.
Sementara itu, Daerah Istimewa Yogyakarta masih menempuh pengobatan tradisional dan pengobatan modern. Di satu sisi, Yogyakarta memiliki budaya tradisional Jawa yang tercermin pada praktik-praktik
pengobatan tradisional, seperti kerokan, pijat, pergi ke ahli spiritual, jamu, dan lain-lain (Woodward dalam Boomgard et al., 1996). Namun di sisi lain, Yogyakarta juga mengalami modernisasi dengan semakin banyaknya pusat perbelanjaan, bioskop, dan teknologi-teknologi yang semakin canggih terutama digunakan dalam bidang kesehatan. Terkait dengan kesehatan ini, data dari Badan Pusat Statistik DIY menunjukkan bahwa pada tahun 2007 sarana kesehatan yang ada sebanyak 44 unit rumah sakit, 22 unit rumah bersalin, 35 unit balai pengobatan, dan 118 unit puskesmas induk. Hal ini menunjukkan bahwa DIY masih menggunakan pengobatan tradisional, namun pengobatan modern juga semakin banyak. Dengan demikian, DIY menjadi salah satu tempat yang tepat untuk mengungkap makna sosial dari sehat dan sakit pada orang Jawa.
Dualisme : Sehat/sakit : kondisi fisik dokter, psikolog
Barat Hubungan kausal dan pikiran dalam keadaan (Joesoef dan Sutanto, 1990)
(Modern) mind dan body baik atau tidak, keduanya saling
(Wozniak, 1995) mempengaruhi (Wozniak, 1995)
WHO (1948)
UU No. 23 / 1999 tentang Kesehatan Indonesia
Dokter masuk ke Indonesia Sehat/sakit : ada/tidaknya Pendidikan Dokter Djawa (sejak 1558) (Almazini, 2007) penyakit pada tubuh didirikan oleh Belanda (1851)
misal : cacar, kolera (Khumaidi, 208; Almazini, 2007)
Monisme : jiwa dan raga Sehat : harmonisasi diri slametan, tapa brata, meditasi
adalah satu kesatuan dengan lingkungan (roh) pencak silat, ramuan herbal,
(Magnis-Suseno, 2001; Stange, 1998; (Magnis-Suseno, 2001; kyai, ziarah
Jawa Sciortino, 1992) Stange, 1998)
Konsep pengobatan tradisional : Sakit : ketidakseimbangan dalam ramu-ramuan, pijat, kerok, Naturalistik dan Personalistik tubuh, disharmoni diri dengan pantang, kyai, dukun, atau
(Sudardi, 2002) lingkungan (roh) tenaga kesehatan
34
A. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deksriptif dengan menggunakan paradigma representasi sosial. Penelitian kualitatif merupakan penelitian dengan konteks ilmiah yang lebih berfokus pada variasi pengalaman subjek penelitian (Danim, 2002).
Suryabrata (2002) mengatakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian dengan tujuan utama membuat pendeskripsian sistematis, faktual, dan akurat mengenai kenyataan yang ada atau fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Pada penelitian deskriptif jenis data yang dikumpulkan adalah data yang sifatnya deskriptif seperti transkrip wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video, dan sebagainya (Poerwandari, 2005). Peneliti dalam melakukan penelitian menyusun suatu gambaran yang menyeluruh dan kompleks, menganalisis kata-kata, melaporkan secara detail pendapat atau pandangan informan dan melaksanakan penelitian tersebut dalam lingkungan alamiahnya.
Untuk menggambarkan atau melukiskan pendapat atau pandangan informan ini dapat diungkap dengan menggunakan representasi sosial dimana masyarakat akan membentuk sebuah pemaknaan sosial dari permasalahan-permasalahan yang muncul. Pemaknaan sosial ini merupakan perspektif yang terdiri dari sistem nilai, ide, gagasan, pengetahuan, sikap, dan praktek-praktek yang saling dikomunikasikan satu sama lain (Moscovici dalam Walmsley,
2004). Oleh karena itu, representasi sosial akan mengungkap ide, gagasan, dan praktek-praktek terkait dengan permasalahan tertentu yang ada dalam masyarakat.
Dengan demikian, pemaknaan sosial masyarakat mengenai sehat dan sakit dapat diungkap dengan representasi sosial, melalui ide, gagasan, pengetahuan, dan sikap masyarakat terhadap konsep sehat dan sakit. Namun, untuk mempermudah membaca data dan menemukan representasi sosial masyarakat tentang sehat dan sakit, data kualitatif tersebut dianalisis dan disajikan secara kuantitatif.
B. BATASAN ISTILAH
Representasi sosial tentang konsep sehat dan sakit adalah segala sesuatu yang dipahami mengenai kondisi sehat dan sakit yang diperoleh melalui iteraksi sosial. Segala sesuatu yang dipahami ini meliputi : gagasan, pengetahuan, dan sikap yang saling dikomunikasikan di dalam masyarakat tentang sehat dan sakit sehingga membangun sebuah makna sosial dari konsep sehat dan sakit.
Gagasan, pengetahuan, dan sikap masyarakat Yogyakarta terhadap konsep sehat dan sakit tersebut diungkap melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dalam angket terbuka dan wawancara. Respon-respon yang diberikan terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan produk sosial dari representasi masyarakat tentang konsep sehat dan sakit. Angket wawancara terbuka dapat dilihat pada Lampiran 2, halaman 120 dan panduan wawancara dapat dilihat pada halaman 41.