• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengambilan keputusan untuk menjadi relawan

HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Analisis Data

1. Pengambilan keputusan untuk menjadi relawan

Melalui berbagi dan mengabdikan diri dalam membantu sesama mampu menyadarkan individu akan perubahan yang positif di hidupnya sebagai bagian dari masyarakat (Park & Park, 2016). Berawal dari kebiasaan warga sekitar Lowanu yang meronda setiap malam, mereka pun kerap menemukan beberapa pengendara mengalami kendala dengan kendaraannya. Letak pos ronda yang berada persis di pinggir jalan raya Lowanu membuat mereka mudah menemukan beragam peristiwa di

175 jalanan. Mereka lalu mencoba untuk membantu para pengendara tersebut. Sampai akhirnya terbentuk komunitas untuk menjadikan gerakan tersebut lebih matang dan serius dengan wujud Lowanu Squad.

Pilihan menjadi seorang relawan jalanan diambil dengan kesadaran diri sendiri tanpa adanya paksaan dari sekitar. Para informan menyadari peran mereka sebagai makhluk sosial. Melihat keadaan di masyarakat sekitar mereka dan mencoba untuk berempati dengan kendala yang muncul adalah inisiatif yang ingin dilakukan oleh para informan.

Kesadaran para informan berupa ungkapan diri mereka pada modus menjadi. Modus menjadi diartikan sebagai bentuk penyarahan diri seseorang secara total untuk mau terlibat dalam menyejahterakan sesama (Sastrapratedja, 1987). Mereka mencoba untuk menjadi seseorang yang ada bagi orang lain. Kemauan ini muncul untuk merasakan kebahagiaan dengan membuat orang lain menjadi bahagia. Kepekaan para informan pada sesama yang membutuhkan merupakan penerapan modus menjadi yang pada dasarnya berpusat pada masyarakat.

Keputusan menjadi relawan jalanan dijalani sebagai sebuah pilihan dalam hidup seseorang. Para informan telah mengambil pilihan dalam hidupnya untuk hadir membantu sesama yang membutuhkan. Beragam proses muncul dalam kehidupan mereka sebelum pilihan itu diambil. Proses

176 yang terkait dengan faktor pendorong atas keputusan untuk menjadi relawan jalanan.

Secara sadar keputusan para informan tidak muncul dengan tiba-tiba tanpa ada momen tertentu yang menggerakan niatnya. Momen tersebut dapat muncul dari pergulatan dalam diri sendiri dan juga interaksi dengan lingkungan sekitar mereka. Faktor yang muncul dari dalam berupa adanya pergulatan batin informan yang berupa sebuah refleksi diri atas kehidupannya. Interaksi di luar dirinya berupa pengalaman dengan lingkungan sekitar di masa lalu, serta muncul ketertarikan pada Lowanu Squad. Faktor-faktor yang muncul memiliki perannya masing-masing. Peran untuk mendorong para informan mengambil pilihan sebagai relawan jalanan.

a. Proses refleksi diri relawan

Ada momen yang digunakan individu untuk berdiam sejenak dan melihat kembali ke dalam diri atas setiap pengalamannya. Sebuah momen untuk meresapi apa yang telah dialami hingga di waktu sekarang ini oleh individu. Momen yang kerap disebut dengan refleksi.

Tak jarang seseorang melakukan refleksi untuk mengevaluasi pengalamannya hingga menemukan bagian dalam dirinya yang dapat dijalaninya saat ini. Refleksi sendiri diartikan sebagai keseluruhan pemikiran dan perasaan manusia guna mengeksplorasi pengalaman hidup mereka (Saptono, 2012). Saptono (2012) beranggapan jika

177 seseorang yang melakukan refleksi akan lebih memahami makna dan konsekuensi atas pengalaman tersebut, untuk nantinya memilih perilaku yang sesuai pengembangan dirinya dan sekitar.

Refleksi kiranya dapat dilihat sebagai realisasi nilai eksperiensial dalam menemukan makna. Realisasi nilai ini dilihat dari penghayatan individu dalam menerima beragam kejadian yang muncul. Penerimaan akan dilakukan atas apa yang ada dalam dirinya dan setiap hal di luarnya. Melalui refleksi, individu akan menyadari peran apa yang sedang dijalaninya. Seperti yang diungkapkan Frankl bahwa makna hidup dapat muncul dan dialami seseorang dari momen yang dialami terlepas dari tindakan yang dilakukan (seperti dikutip dalam Koeswara, 1992).

Berdasarkan pemahaman Frankl, bahwa fakta yang mendasar akan kesenangan sebenarnya adalah hasil atau efek samping atas terpenuhinya dorongan atau tercapainya tujuan seseorang, dan akan bermasalah jika dianggap sebagai tujuan (seperti dikutip dalam Koeswara, 1992). Menjadi temuan yang khas bahwa informan S (23) menerapkan refleksi untuk melihat kembali pengalamannya. S (23) coba mendalami pengalamannya untuk melihat bagian penting dalam dirinya. Pada momen tersebut, S (23) menyadari bahwa ketenangan muncul dalam kelancaran aktivitasnya. S (23) pun membekali dirinya dengan ketenangan dalam setiap penyelesaian masalahnya.

178 Melalui refleksinya, S (23) melihat ketenangan sebagai keadaan yang hendak ditujunya. Tujuan yang nantinya dapat diimplementasikan dalam keseharian S (23). Jika dilihat kembali, apa yang hendak dituju oleh S (23) sendiri telah ditemukannya dalam pengalaman-pengalaman sebelumnya. Tujuan S (23) sebenarnya sudah ada di sekitarnya, namun perlu momen tertentu untuk menyadari.

Nilai eksperiensial yang direalisasikan S (23) dalam refleksi telah mencangkup cara pandangnya terhadap peran di masyarakat. Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial (Myers, 2012). Kebutuhan yang muncul pada individu akan menarik individu lain untuk terlibat dalam pemenuhannya. Situasi tersebut dianggap telah muncul sejak kelahiran individu di dunia sampai akhirnya meninggalkan kehidupan.

“Jadi kalo hakikat manusia itu hidup bertoleransi

itu mas. Ya saling membutuhkan itu loh, ketergantungan hidup kita itu kepada orang lain. Jadi kalo tanpa orang lain mana mungkin kita bisa hidup. Jadi tolong menolong itu sebagai dari toleransi kepada yang membutuhkan gitu.”(S, 562-566)

S (23) melihat adanya alur timbal balik dalam interaksi manusia. Ada saat menjadi yang membutuhkan dan ada saat menjadi yang memberi bantuan. Kedua posisi yang pastinya pernah dan akan dialami setiap manusia dengan lingkungan sosialnya. Melalui kesadarannya, S (23) merefleksikan situasi sosial tersebut sebagai peran yang perlu dijalani.

179 Manusia membutuhkan pergerakan dan perjuangan menuju makna sebagai tujuan yang sesuai dengan dirinya dalam wujud keinginan akan makna (Koeswara, 1992). Baik untuk terbuka dengan sekitarnya ataupun hadir dalam kendala yang dihadapi sesama. S (23) mengungkapkan bahwa refleksi yang dilakukannya menjadi momen penting dalam pengambilan keputusannya. S (23) yakin jika dirinya mengambil pilihan yang tepat menjadi seorang relawan jalanan.

“Saya itu bisa mendapatkan ketenangan karena

saya itu kalo saya gak tenang saya gak bisa sampai saat ini saya gak bisa melakukan kebaikan kan saya gak bisa bantu orang lain kan pasti posisi saat saya sedang tenang kan saya ah males mau membantu orang itu kan saya juga males karena saya aja gak ada yang nolong kan seperti itu. Makannya dari rasa tenang itu kan hati ini bisa ada rasa iba kan gitu.”(S, 254-259)

Manusialah yang bergerak secara terarah dengan dinamika-dinamika eksitensial pada dirinya, bukan diarahkan pun didorong sebagai objek (Koeswara, 1992). Dapat dipahami setiap individu akan dihadapkan pada beragam pilihan dalam hidupnya. Sampai akhirnya tiba waktunya untuk memilih atas kehendaknya sendiri. Kebebasan menjadi hak yang dimiliki setiap individu dalam menentukan pilihannya masing-masing. Individu itu sendiri yang menuju pilihannya, bukan karena digerakan oleh faktor di luar diri.

180 Pengalaman di masa lalu ternyata memberi pengaruh seseorang dalam perjalanan hidupnya. Mulai untuk mendatangi tempat baru dan berinteraksi dengan orang baru, sampai akhirnya melakukan aktivitas yang baru. Beragam aktivitas akan membentuk dinamika dan relasi dengan lingkungan sekitar.

Seseorang yang menjalani dinamika dengan sesamanya sebagai suatu rutinitas akan muncul perasaan nyaman. Beberapa individu yang menjalin hubungan personal sebagai teman dan kerabat akan secara lumrah membantu satu sama lain (Taylor & et al., 2009). Perasaan nyaman yang dirasakan dapat berupa keintiman relasi dengan sesama dan muncul kepedulian. Lowanu Squad sendiri memberi perhatian akan relasi yang terjalin antar anggotanya. Ternyata relasi yang intim antar anggota mampu menyejahterakan sebagai kesatuan dalam komunitas, serta daya tarik bagi orang di sekitarnya.

Peran seseorang dalam menjalani suatu dinamika dengan orang lain dapat menjadi realisasi nilai kreatif. Individu perlu melakukan suatu tindakan yang total dari dirinya untuk menemukan makna (Koeswara, 1992). Menjalani tanggung jawab secara total menjadi bagian penting dalam melihat nilai kreatif dari pengalaman relawan jalanan Lowanu Squad. Para informan secara sadar dan utuh menghadirkan diri di lingkup aktivitasnya. Selayaknya AM (55) dan STY (47) yang sepenuh hati menghadirkan diri mereka di jalanan. Aktivitas di Lowanu Squad

181 awalnya sekedar pengalih masalah yang dialami para informan, hingga akhirnya mereka bertahan dan berkembang dengan rutinitas di jalanan. Ketika seseorang mendapatkan bantuan dari orang lain, akan memungkinkan adanya perasaan utang budi, rendahnya harga diri dan membatasi kebebasan diri (Taylor & et al., 2009). Lowanu Squad ternyata telah menepis anggapan akan inferioritas indivu dalam pengalaman prososial. Para informan menjalani hidup mereka dengan peran yang baru di Lowanu Squad. Mereka bersatu dan saling menguatkan satu sama lain mengupayakan kebahagiaan bagi sesama.

Lowanu Squad telah menjadi lingkup alternatif dari suatu permasalahan para informan. AM (55) dan STY (47) memilih jalanan sebagai alternatif itu dari permasalahan mereka di rumah. Dinamika di jalanan telah membuat mereka belajar untuk bertahan hidup dengan segala keterbatasan yang terbilang tak mudah bagi usia mereka di waktu itu. Pengalaman langsung di jalanan mampu memberi dampak akan pengambilan keputusan mereka untuk menjadi seorang relawan jalanan. Pengalaman yang membawa AM (55) untuk menginisiasi Lowanu Squad sebagai sebuah pilihan yang dihidupinya.

Permasalahan atas kurangnya perhatian dan jauhnya dari hidup yang layak dalam keluarga membuat mereka menghargai sebuah relasi. Mereka belajar akan solidaritas dalam mengatasi keterbatasan di jalanan. Belajar untuk dapat merasakan kesejahteraan bersama dan

182 mentoleransi segala kekurangan yang dimiliki. AM (55) memberikan gambaran solidaritas yang dialami langsung atas keterbatasannya selama di jalanan.

“Di jalanan itu pasti kebanyakan broken home. Beda sama orang yang perumahan, yang di rumahan itu kasih sayangnya full diperhatikan orang tua, itu udah beda. Jadi kebanyakan kita belajar di jalanan. Jadi waktunya orang perumahan itu tidur dengan keluarganya dengan bahagianya, kita hidup di jalanan dan langsung secara langsung pahit getirnya kehidupan kan begitu. Cara berbagi… contohnya kita sama temen di jalanan gak punya uang, rokok 1 batang kita bagi sama temen kita.”(AM, 12-19)

Sebagai manusia yang telah mengalami penderitaan di kamp maut Nazi, Frankl (1972) mengungkapkan bahwa penderitaan bermakna sebagai pembentuk karakter serta kekuatan atau ketahanan diri seseorang. Ketika penderitaan diterima dan dihadapi, maka proses bagi individu untuk menguatkan karakternya telah dimulai. Batasan-batasan dalam diri seseorang akan ditemui atas penderitaan yang dialami. Memilih untuk melampauinya atau menetap di tempurung. Beragam pengaruh dari luar dapat memberikan dorongan, tapi tetap keputusan ditentukan oleh diri sendiri.

Realisasi nilai bersikap ditunjukkan pada keberanian dan kemuliaan individu dalam menghadapi penderitaan (Koeswara, 1992). Nyatanya bukan kesulitan yang semakin bertambah ketika melihat orang lain menolong. AM (55) dan STY (47) yang mendapatkan

Dokumen terkait