MAKNA HIDUP RELAWAN JALANAN LOWANU SQUAD
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Disusun Oleh: FX Yoga Wijaya NIM: 159114044
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2021
iv
HALAMAN MOTTO
“Ayo dek.”
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 21 Mei 2021 Penulis,
vii MAKNA HIDUP RELAWAN JALANAN LOWANU SQUAD
Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma
FX Yoga Wijaya
ABSTRAK
Membantu sesama secara sukarela dan langsung adalah sebuah pilihan yang dijalani seseorang sebagai makna hidupnya. Tujuan penelitian ini guna menggambarkan makna hidup seorang relawan jalanan yang mengambil sikap untuk bertindak altruis bagi sesama. Desain penelitian kualitatif digunakan peneliti disertai pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) sebagai metode analisis data. Informan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang anggota Lowanu Squad yang aktif terlibat dalam komunitas relawan jalanan tersebut. Wawancara semi terstruktur digunakan untuk mengambil data dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap informan menyadari ada keinginan yang muncul untuk mau membantu sesama secara altruis. Keinginan para informan direalisasikan dengan pengambilan peran sebagai relawan jalanan dengan diwadahi Lowanu Squad. Proses kebermaknaan hidup sebagai relawan jalanan digambarkan melalui logoterapi dengan menjabarkan tiga konsep landasan filosofisnya yaitu: (1) kebebasan berkeinginan; (2) keinginan akan makna; (3) makna hidup. Beragam pengalaman informan terkait dinamika relawan jalanan diurai dengan tiga sumber nilai untuk melihat kemunculan makna hidupnya berupa: (1) nilai kreatif; (2) nilai eksperiensial; (3) nilai bersikap. Pada penelitian ini proses penggambaran makna hidup para informan diawali dengan munculnya keinginan membantu sesama, lalu pemenuhan peran sebagai seorang relawan jalanan beserta reaksi lingkungan sekitar, sampai akhirnya kemunculan beberapa aspek dalam diri untuk merasakan kebahagiaan.
viii MAKNA HIDUP RELAWAN JALANAN LOWANU SQUAD
Department of Psychology Faculty of Psychology Sanata Dharma University
FX Yoga Wijaya
ABSTRACT
Helping others voluntarily and directly is a choice that one takes as the meaning of his life. The purpose of this research is to describe the meaning of life of a street volunteer who takes the attitude to act altruistically for others. The qualitative research design used by researchers was accompanied by an Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) approach as a method of data analysis. The informants in this study were three members of the Lowanu Squad who were actively involved in the street volunteer community. Semi-structured interviews were used to collect data in this study. The results of this study indicate that each informant realizes that there is a desire that arises to want to help others altruistically. The wishes of the informants were realized by taking on the role of street volunteer assisted by the Lowanu Squad. The process of a meaningful life as a street volunteer is described through logotherapy by describing three philosophical foundation concepts, namely: (1) freedom of will; (2) desire for meaning; (3) meaning of life. The various experiences of the informants related to the dynamics of street volunteers are explained by three sources of value to see the emergence of their life's meaning in the form of: (1) creative values; (2) experiential value; (3) the value of being. In this study, the process of describing the meaning of the informant's life begins with the emergence of a desire to help others, then fulfilling the role of a street volunteer and the reactions of the society, at the end of the day the emergence of several aspects in oneself to feel happiness.
ix LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma Nama : FX Yoga Wijaya
NIM : 159114044
Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul:
MAKNA HIDUP RELAWAN JALANAN LOWANU SQUAD
Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan dan mengalihkan dalam bentuk media lain, serta mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Dengan demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 21 Mei 2021 Yang Menyatakan,
x
KATA PENGANTAR
Mengambil sebuah keputusan untuk menghidupnya adalah sebuah proses seorang manusia menemukan makna. Sebuah keputusan yang berbeda telah memberikan warna dalam dinamika sosial di masyarakat. Berbeda demi kebahagiaan bersama tanpa ragu mengesampingkan segala prasangka. Sampai yang ragu ikut membahu menjadi satu. Mereka telah memulainya. Kita pun bisa, tanpa ragu, tanpa takut dan dengan setiap keunikan masing-masing.
Akhirnya kita tahu, batasan itu telah dilampaui. Perlahan dan bertahan untuk terus berusaha. Hingga tiba waktunya untuk memeluk dan mengupcakan terima kasih atas proses yang tidak sempurna, teruntuk:
1. Ibu Dr. Titik Kristiyani, M.Psi., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma dan seluruh jajaran.
2. Seorang guru, rekan dan bapak yang telah rela terlibat dalam proses panjang peneliti. Selalu mengajak peneliti berani mencoba dan menjadi lebih tangguh. Menyadarkan akan realita dengan tetap bersikap kritis. Beradaptasi dengan setiap konteks yang melekat. Terima kasih atas setiap waktu, perhatian dan bantuan yang telah diberikan. Segala hormat, Beliau yang membimbing dengan kesederhanaannya.
3. Setiap dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah membantu proses belajar peneliti semasa kuliah. Khususnya kepada para
xi dosesn penguji yang telah membimbing peneliti untuk mendiskusikan karya tulis ini menjadi lebih baik dan layak.
4. Kepada Mama, Bapak dan Mbak yang tak lelah menyemangati dan mengingatkan akan tanggung jawab peneliti, terima kasih pelukan dan doanya. 5. Kepada Lowanu Squad, khususnya ketiga informan yang telah berbagi pengalaman untuk dicurahkan dalam karya tulis ini. Kalian begitu hangat dan terbuka menerima peneliti di setiap malamnya. Kerelaan kalian mampu meyakinkan bahwa kita bisa merasakan kebahagiaan bersama sebagai sesama manusia.
6. Axcella, Intan, Flo dan Taufik yang telah meluangkan waktu untuk mendiskusikan setiap baik buruknya karya tulis peneliti. Terima kasih atas kesempatan belajar dari kalian, pun juga semangat yang diberikan hingga saat ini.
7. Teman-teman Anak Sehat, Psychotrip dan Journey. Terima kasih atas setiap pengalaman selama masa perkuliahan. Sebuah cerita masa remaja yang selalu dirindukan telah menjadi bekal esok hari.
8. Kepada Maca dan Sinyo atas keteguhannya menemani peneliti berjuang hingga saat ini.
9. Seseorang yang telah sabar menemani peneliti. Terima kasih Maharani atas afeksi yang dibutuhkan penelti selama berproses dengan kehidupan.
xii 10. Setiap pihak yang turut menyediakan waktu dan dukungan bagi peneliti. Terima kasih pada kalian semua yang tak tersebut satu per satu namun tetap peneliti syukuri keberadaannya.
Pada akhirnya, karya tulis ini peneliti persembahkan bagi seluruh pihak yang telah hadir dalam kehidupan. Sebuah karya tulis yang tidak sempurna ini akan selalu terbuka akan setiap sudut pandang yang beragam. Terima kasih atas setiap pendapat yang akan menjadi masukan peneliti untuk mengembangkannya menjadi lebih baik.
Yogyakarta, 21 Mei 2021 Penulis
xiii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR SKEMA ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 14 C. Tujuan Penelitian ... 14 D. Manfaat Penelitian ... 14 1. Manfaat Teoretis ... 14 2. Manfaat Praktis ... 14
BAB II. KAJIAN PUSTAKA ... 16
A. Relawan Jalanan ... 16
B. Makna Hidup ... 19
C. Altruisme ... 23
xiv
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 27
A. Pendekatan Penelitian ... 27
B. Fokus Penelitian ... 29
C. Refleksi Peneliti ... 29
D. Informan Penelitian ... 31
E. Metode Pengambilan Data ... 31
F. Prosedur Pengambilan Data ... 32
G. Metode Analisis Data ... 33
H. Kredibilitas Penelitian ... 36
I. Pedoman Wawancara ... 36
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38
A. Pelaksanaan Penelitian ... 36
B. Profil Informan ... 38
1. Demografi Informan ... 41
2. Latar Belakang Informan ... 41
C. Hasil Penelitian ... 44
1. Informan STY ... 46
2. Informan AM ... 64
3. Informan S ... 87
D. Analisis Data ... 129
1. Pengambilan Keputusan Untuk Menjadi Relawan Jalanan ... 130
2. Pemenuhan Peran ... 136
3. Respon Lingkungan Sekitar ... 145
4. Keterbukaan Diri Dalam Menerima Respon Sekitar ... 157
5. Berkembangnya Kepekaan Sebagai Relawan Jalanan ... 160
6. Sikap Totalitas Relawan Jalanan Pada Tindakan Prososial ... 163
7. Altruisme Sebagai Relawan Jalanan ... 166
8. Kesederhanaan Hidup Relawan Jalanan ... 169
xv
E. Pembahasan ... 173
1. Pengambilan Keputusan untuk Menjadi Relawan Jalanan ... 174
2. Proses Pemenuhan Peran ... 187
3. Keberagaman respon Lingkungan Sekitar ... 195
4. Keterbukaan Menerima Respon Sekitar... 206
5. Berkembangnya Kepekaan Sebagai Relawan Jalanan ... 208
6. Sikap Totalitas Sebagai Relawan Jalanan ... 210
7. Altruisme Relawan Jalanan ... 212
8. Kesederhanaan Hidup Relawan Jalanan ... 215
9. Pemaknaan Spiritualitas Hidup Sebagai Relawan Jalanan ... 217
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 222
A. Kesimpulan ... 222
B. Saran ... 223
DAFTAR ACUAN ... 226
xvi
DAFTAR TABEL
xvii
DAFTAR SKEMA
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Informed Consent ... 232
Lampiran 2. Lembar Persetujuan Informan 1 ... 235
Lampiran 3. Lembar Persetujuan Informan 2 ... 236
Lampiran 4. Lembar Persetujuan Informan 3 ... 237
Lampiran 5. Analisis Data Informan 1 ... 238
Lampiran 6. Analisis Data Informan 2 ... 248
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia dapat dikatakan sebagai binatang sosial dengan kebutuhan akan berhubungan dengan sesamanya, pentingnya proses ini membuat tiap individu hadir dan menjalin ikatan erat dengan orang lain (Tailor & et al., 2009). Manusia yang pada dasarnya memiliki hakekat sebagai makhluk sosial akan terlibat dalam dinamika dengan sesama di mana dia hidup. Asih dan Pratiwi (2010) mengungkapkan bahwa manusia membutuhkan keberadaan orang lain pada tiap waktu kesehariannya, sehingga dapat terjadi proses pemberian bantuan antar individu. Relawan menjadi salah satu peran yang turut berinteraksi dan berdinamika dalam masyarakat.
Manusia sebagai makhluk sosial melihat adanya kepercayaan akan altruisme sejati yang didasari empati, simpati dan kepedulian pada kesejahteraan orang lain (Myers, 2012). Relawan menjadi sosok yang melihat keberadaannya di masyarakat dan mencoba peduli akan masalah yang muncul. Membantu secara sukarela atas dasar kemanusiaan dilakukan relawan demi kesejahteraan orang lain. Kesejahteraan sosial menjadi usaha nyata yang bersifat langsung maupun tak langsung, sehingga masyarakat yang benar-benar membutuhkan penanganan dapat mendapatkan solusi atas permasalahannya
2 (Isbandi, 1994). Peran sebagai relawan ialah hadir menjadi sebuah alternatif solusi atas masalah orang-orang yang membutuhkan.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial Bab I Pasal 1 ayat 1, dituliskan bahwa kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Setiap pihak dapat berperan dalam upaya pemenuhan kesejahteraan sosial sesuai dengan kapasitas dan masalah yang muncul. Salah satu pihak yang dapat secara langsung terlibat adalah masyarkat itu sendiri. Keterbasan pemerintah sebagai penyedia bantuan pada warganya dapat diantisipasi dengan gerakan solidaritas masyarakat secara swadaya (Amahda & et al., 2020).
Relawan berasal dari kata sukarelawan yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti sebagai orang yang melakukan suatu hal dengan sukarela tanpa adanya kewajiban atau paksaan. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial Bab I Pasal ayat 5, mengartikan relawan sosial sebagai seseorang dan/atau kelompok masyarakat, baik yang berlatar belakang pekerjaan sosial maupun bukan berlatar belakang pekerjaan sosial, tetapi melaksanakan kegiatan penyelenggaraan di bidang sosial bukan di instansi sosial pemerintah atas kehendak sendiri dengan atau tanpa imbalan. Berdasarkan Oxford Dictionary relawan atau volunteer diartikan sebagai A person who freely offers to take part
3
in an enterprise or undertake a task dan pengertian lainnya A person who works for an organization without being paid. Peneliti menerjemahkannya sebagai
seseorang yang menawarkan dirinya secara sukarela untuk terlibat dalam suatu proyek atau mengambil suatu tugas. Pada terjemahan yang lain diartikan sebagai seseorang yang bekerja untuk suatu organisasi tanpa diberi imbalan atau upah.
Peneliti menjabarkan kedua pengertian mengenai relawan dari Oxford
Dictionary sebagai individu yang memiliki kemerdekaan untuk mengambil
keputusan dalam keterlibatannya pada suatu kegiatan atau aktivitas bagi sesama tanpa memusatkan imbalan sebagai tujuan dari proses yang dijalaninya. Kembali ditekankan terkait adanya sikap yang merdeka akan diri sendiri dan kemauan untuk terlibat dalam lingkungan sekitar sebagai suatu kemauan dalam menyejahterakan sesama yang membutuhkan akibat suatu atau beberapa hal yang dialami. Seorang relawan sendiri memiliki tujuan untuk berperan dalam kegiatan kemanusiaan yang mereka jalani bagi sesama. Tujuan yang berlawanan dengan pencapaian suatu penghargaan dalam wujud imbalan apapun sebagai timbal baliknya.
Kemanusiaan dengan katar dasar manusia memiliki arti dalam KBBI berupa sifat yang melandasi hubungan antarmanusia. Menurut Oxford
Dictionary kemanusiaan atau humanity dijelaskan sebagai the quality of being kind to people and animals by making sure that they do not suffer more than necessary; the quality of being humane. Pada terjemahaannya berarti kualitas
4 dalam bersikap baik kepada manusia dan hewan dengan memastikan bahwa mereka tidak menderita lebih dari yang diperlukan; kualitas dalam menjadi manusia. Kemanusiaan dijelaskan sebagai sifat manusia dalam bertindak baik bagi sesama agar tercapai kesejahteraan pada individu tersebut. Beragam tindakan dapat dilakukan atas dasar kemanusiaan, dimana salah satunya adalah menolong yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Pemahaman kata kemanusiaan inilah yang dibawa pada pemaknaan peran seorang relawan.
United Nations (UN) telah memberikan perhatian khusus pada fenomena ini. Keberadaan relawan telah mendapat perhatian dari orang-orang di sekitar mereka dan juga masyarakat yang lebih luas, bahkan sampai pada lingkup internasional. Perhatian UN pada bidang kemanusiaan diwujudkan dengan adanya United Nations Volunteers (UNV) yang mewadahi bahasan mengenai relawan. Muncul pandangan bahwa relawan telah memberikan dampak yang baik dalam kesejahteraan sosial masyarakat. Aksi kemanusiaan dari relawan dianggap sebagai bentuk pengekspresiaan dasar akan cara manusia berelasi (UNV, 2012). Seorang relawan coba memenuhi kebutuhan untuk terlibat dalam masyarakat demi memperoleh pengakuan sosial. Kondisi yang tidak dapat dipungkiri oleh manusia ketika masuk dalam bahasan akan bentuk sosialisasi dengan sesama.
UNV (2012) mengungkapkan bahwa setiap aksi dari relawan menjadi perwujudan akan nilai yang tertuju pada kesejahteraan diri sendiri, komunitas dan masyarakat sekitar. Selama menjalani perannya untuk mencapai tujuan,
5 relawan akan berproses dengan beberapa nilai yang muncul. Beragam nilai yang diimplementasikan relawan berupa nilai solidaritas, resiprokal, kepercayaan, kepemilikan dan pemberdayaan (UNV, 2012). Nilai-nilai tersebut terwujud dalam setiap aktivitas relawan bersama komunitasnya dan juga saat memberikan bantuan pada masyarakat di sekitar.
Manusia telah memiliki kepekaan untuk melihat adanya permasalahan sosial di sekitarnya (UNV, 2012). Menurut UNV (2012) bahwa terdapat beragam alasan dari masyarakat yang terlibat dalam aktivitas relawan seperti mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesehatan serta pendidikan, antisipasi resiko bencana dan masalah lingkungan, mengatasi pengucilan sosial dan kekerasan, dan menjaga ketersediaan air bersih dan sanitasinya. Beragam alasan tersebut mampu memunculkan kepekaan manusia untuk hadir bagi sesama dan memberikan bantuan langsung secara sukarela.
Interaksi langsung dengan permasalahan nyata di masyarakat mampu menumbuhkan minat individu untuk berperan menanganinanya secara sukarela (Park & Park, 2016). Individu mulai memperhatikan sesama yang berada dalam ancaman atau situasi yang cenderung merugikan bagi kehidupan. Baik dari permasalahan yang sederhana hingga terbilang kompleks dapat ditemukan dalam kehidupan. Salah satu pengalaman yang terjadi di masyarakat adalah adanya solidaritas para penjahit di DIY dalam memproduksi alat perlindungan diri (APD) bagi tenaga kesehatan kala masa pandemi COVID-19 secara sukarela. Syambudi (2020) memaparkan pada Tirto.id bahwa masyarakat yang
6 terlibat dalam misi kemanusiaan ini tergabung dalam Majelis Mau Jahitin. Gerakan yang dimulai masyarkat dalam membantu sesama tetap dapat muncul meski individu sedang dalam kondisi yang tidak menguntungkannya.
Ketika pemerintah tidak memenuhi tanggung jawab mereka dalam menyediakan kebutuhan dasar warga negaranya, maka muncul gerakan solidaritas atas swadaya masyarakat (Amahda & et al., 2020). Setiawan (2020) pada Tirto.id melaporkan kemunculan dapur umum di DIY yang diinisiasi oleh Ita dalam menyediakan makanan bagi masyarakat terdampak pandemi COVID-19. Tujuan dari gerakan ini adalah dapat menyediakan makanan bagi masyarakat yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka secara sukarela. Menjadi temuan yang menarik bahwa manusia mampu berinisiatif dalam sebuah keterbatasan untuk dapat mengatasi masalah orang lain di sekitarnya.
Kehadiran para relawan akan suatu peristiwa mampu menggantikan peran negara dalam mendistribusikan kesejahteraan bagi masyarakat (Yuda, 2018). Subsitusi peran ini disebabkan keberadaan para relawan yang secara langsung berdampingan dengan masyarakat sekaligus bagian didalamnya. Kemunculan kelompok swadaya di lingkup lokal mampu menjadi kritik bagi pemangku kekuasaan maupun menjadi alternatif atas proses distribusi yang belum optimal. Solidaritas Pangan Jogja (SPJ) mejadi bukti bahwa gerakan swadaya dari masyarakat dapat berperan penting di tingkat komunitas dan
7 keluarga (Amahda & et al., 2020). SPJ mampu menginisiasi rakyat untuk bergerak membantu rakyat yang lain dengan menyediakan kebutuhan dasar secara sukarela. Yuda (Republika, 2017) menuliskan bahwa kedudukan lembaga keluarga dan kerabat berada lebih kuat preferensinya bagi masyarakat di Indonesia untuk meletakkan kepercayaan akan terpenuhinya kesejahteraan mereka.
UNV (2012) menyadari jika gerakan yang dilakukan komunitas swadaya masyarakat dan dalam jaringan lokal mampu menjadi sumber daya yang paling efektif untuk mengatasi masyarakat rentan. Beberapa kasus dalam penanganan bencana menjadi bukti bahwa gerakan di lingkup lokal memberi peran penting dan sangat berdampak positif. Salah satu kasus nyata yang dilaporkan oleh UNV (2012) adalah gerakan yang muncul saat bencana erupsi Gunung Merapi di DIY dan Jawa Tengah tahun 2010 silam. Gerakan tersebut merupakan tanggapan dari masyarakat terhadap kebutuhan korban yang distribusikan melalui salah satu komunitas lokal. Gerakan swadaya dari sebuah komunitas lokal dapat menjadi alternatif yang efektif.
Gerakan kesukarelawanan secara swadaya juga dapat ditemukan di daerah lain dengan latar belakang yang berbeda. Maraknya kemunculan profesi pengemudi ojek online (ojol) di masyarakat pun disertai dengan beberapa masalah yang terjadi di lapangan. Kecelakaan adalah salah satu permasalahan yang muncul pada saat para ojol bekerja. Namun, jaminan akan keselamatan
8 dan masalah yang muncul di lapangan belum menjadi sebuah kepastian untuk diatasi. Akhirnya kolektivitas para pengemudi ojol ini membentuk sebuah kelompok untuk dapat membantu masalah rekan-rekannya secara sukarela. Salah satunya yang telah dilakukan Unit Reaksi Cepat (URC) Grab n Go Pospol Citra Gran Cibubur. Hidayat (2019) dalam Tirto.id menjelaskan proses kemunculan URC, diawali dengan membantu rekan pengemudi yang kecelakaan hingga akhirnya turut hadir bagi masyarakat di sekitarnya.
UNV (2012) melihat adanya temuan bahwa aktivitas kesukarelawanan dapat muncul dari masyarakat yang berpenghasilan rendah. Mereka pun tetap memiliki aset non materiel yang menjadi keunggulan dalam membantu sesama secara sukarela. Mereka menjadikan pengetahuan, keterampilan, dan jaringan sosial sebagai bekal yang relevan dalam meneguhkan kapasitas lokal dalam membantu sesama meningkatkan kesejahteraan fisik, ekonomi, spiritual dan sosial yang membutuhkan (UNV, 2012). Dapat menjadi penegasan bahwa setiap orang dapat memulai sebuah gerakan sebagai seorang relawan. Synowiec (2016) menunjukkan bahwa bagi beberapa orang dengan ekonomi rendah pun dapat mengupayakan kemampuannya dalam membantu sesama menjadikan hidupnya lebih berarti daripada memaksakan memberikan sumbangan layaknya orang berpenghasilan tinggi.
Masifnya gerakan kerelawanan di Yogyakarta telah diakui oleh pemerintah dengan menobatkannya sebagai Kota Relawan pada tahun 2016. Dilansir oleh Ratnasari (2016) dalam Tirto.id, penetapan tersebut berdasarkan
9 proses penanganan bencana gempa bumi 2006 dan erupsi Gunung Merapi 2010 silam. Masyarakat dan kelompok relawan memiliki kesadaran untuk bekerjasama baik melalui arahan pemerintah maupun swadaya. Dampak positif yang bermanfaat atas aksi kerelawanan tersebut telah memantik gerakan-gerakan lain di masyarkat untuk terus muncul dan berkembang.
Menjadi hal yang wajar ketika beragam gerakan muncul dalam menangani isu kesejahteraan sosial baik skala internasional, regional, maupun lokal (Adi, 1994). Gerakan di lingkup lokal terwujud dengan aktivitas masyarakat setempat yang secara swadaya membantu mengatasi permasalahan di sekitarnya. Pemberdayaan akan keterlibatan masyarakat lokal dapat dikembangkan guna membentuk jaringan kontrol yang bersifat informal (Westall, 2020). Eksistensi relawan di Yogyakarta mulai terlihat dengan munculnya beragam kelompok masyarakat yang melakukan aksi kemanusiaan secara swadaya. Salah satunya adalah kemunculan Relawan Jalanan Jogja (RJJ) Lowanu Squad. Sebagai sebuah komunitas, Lowanu Squad membaktikan diri untuk mengatasi permasalahan di jalanan. Lowanu Squad menjadi sebuah komunitas yang terbuka untuk wadah orang-orang yang berminat untuk mau membantu sesama secara sukarela setiap malamnya. Kesukarelaan ini diwujudkan dengan setiap bantuan yang Lowanu Squad berikan secara gratis tanpa mau menerima imbalan.
Eksistensi dari Lowanu Squad terus berkembang dengan beragam aktivitas yang mereka lakukan dalam menolong sesama. Informasi akan
10 keberadaan Lowanu Squad disalurkan baik secara langsung oleh warga sekitar, serta mereka menggunakan media sosial. Hardian (2019) dalam Brilio.net memaparkan bahwa media sosial secara efektif menjadi sarana pertukaran informasi antara Lowanu Squad dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan, sekaligus memantau situasi di sekitar. Latar belakang antara Lowanu Squad dengan URC Grab n Go Pospol Citra Gran Cibubur nampak berbeda. Namun, mereka memiliki tujuan serupa dan mampu memberi dampak yang positif bagi masyarakat.
Lowanu Squad menjadi sosok yang melihat permasalahan warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai alasan mereka untuk melakukan aktivitas kemanusiaan. Permasalahan pengendara di malam hari menjadi fokus awal dari Lowanu Squad. Hardian (2019) menuliskan pada Brilio.net bahwa Lowanu Squad mengatasi berbagai permasalahan di jalanan seperti ban bocor, kendaraan yang mogok, dan kriminalitas. Beragam permasalahan tersebut menjadi perhatian Lowanu Squad karena masih terdapat keterbatasan masyarakat dalam menangani kendala tersebut di malam hari.
Perwitasari (2020) dalam Tirto.id menuliskan bahwa kerjasama antar lembaga diperlukan untuk dapat mengatasi kejahatan seperti klitih yang terjadi di DIY. Keberadaan relawan di masyarakat menjadi salah satu lembaga yang dapat bermanfaat untuk penanganan kriminalitas di DIY. Relawan mengambil peran sebagai lembaga dalam komponen masyarakat yang ikut terlibat secara swadaya. Sasongko (2020) melalui Republika.co.id menuliskan bahwa
11 kertelibatan sejumlah elemen masyarakat setempat dapat turut memantau situasi di masing-masing daerahnya sebagai wujud antisipasi. Lowanu Squad pun dapat turut berperan sebagai komponen masyarakat dengan keaktifan mereka setiap malamnya di jalanan.
Pengalaman menjadi relawan mampu membawa manusia untuk berproses mencari makna dan cara menghidupinya, serta berkesempatan mengembangkan kematangan diri dan pikiran dengan menghadirkan perubahan yang positif (Park & Park, 2016). Pencarian makna dalam hidup dipahami sebagai kekuatan, intensitas, dan usaha nyata seseorang untuk membentuk pemahaman akan makna, signifikansi, dan tujuan dari hidup mereka (Steger &
et al., 2008). Lowanu Squad berusaha menjadi pihak yang secara sukarela
membantu masyarakat. Manusia memiliki tanggung jawab terhadap apa yang dihadapinya, berupa masyarakat, kemanusiaan, sesama manusia ataupun hati nurani manusia itu sendiri (Koeswara, 1992). Peneliti berusaha memahami pemenuhan tanggung jawab yang dilakukan oleh relawan jalanan Lowanu Squad sebagai bagian dari masyarakat.
Melalui pengalaman langsung dalam membantu sesama yang membutuhkan dapat menstimulus kebahagiaan dan kepuasan subjektif dalam diri manusia (Park & Park, 2016). Dampak positif berikut dialami para siswa yang mengabdikan diri untuk menjadi relawan bagi masyarakat di daerah krisis. Temuan Park dan Park (2016) menunjukkan bahwa keterlibatan seseorang sebagai relawan mampu memberi pengaruh pada sikap akan kehidupan dengan
12 pikiran positif akan realita yang dijalani. Pengalaman menjadi relawan mampu membawa manusia untuk berproses mencari makna dan cara menghidupinya, serta berkesempatan mengembangkan kematangan diri dan pikiran dengan menghadirkan perubahan yang positif (Park & Park, 2016).
Ketidakpastian akan masa depan dapat memicu tekanan pada individu untuk menjadi pragmatis dalam menangani masalah, sehingga cenderung mengabaikan makna hidupnya (Park & Baumeister, 2016). Individu kiranya dapat menjalani hidup dengan penuh makna, namun kekhawatiran cenderung mengambil fokus dalam prosesnya. Park dan Baumeister (2016) mengungkapkan bahwa dengan memaknai kehidupannya individu dapat mereduksi tekanan hidupnya agar lebih bahagia. Makna hidup dapat berperan akan keterbukaan seeorang dalam melihat masa depan yang tidak pasti sehingga menyiapkan diri untuk mengantisipasinya (Park & Baumeister, 2016).
Pemaknaan akan pilihan yang diambil di awal dan selama proses pemenuhan perannya membawa pada pemaknaan hidup seorang relawan (Hutapea & Dewi, 2012). Hutapea dan Dewi (2012) menemukan peningkatan kebermaknaan hidup pada kategori yang terbilang tinggi oleh sukarelawan lembaga swadaya masyarakat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa para relawan memenuhi dirinya dengan memberi kualitas dalam kehidupannya. Temuan lain yang nampak adalah adanya kebebasan dalam berbuat, bertanggung jawab atas pilihan yang diambil, mampu mengendalikan diri, menjadi diri yang seimbang,
13 dan dapat mengungkapkan nilai-nilai akan daya cipta, pengalaman, dan bersikap (Hutapea & Dewi, 2012).
Melalui hidup yang bermakna, individu akan dapat menjaga perasaannya tetap terkendali sehingga stres dan kebencian akan pengalaman negatif dapat direduksi (Park & Baumeister, 2016). Peristiwa yang tidak menyenangkan dan memberikan dampak negatif sangat mungkin dihadapi oleh manusia. Melalui peristiwa tersebut individu berkesempatan untuk bertahan dan menjadi diri yang tangguh. Koeswara (1992) mengukapkan bahwa memaknai setiap keberagaman peristiwa sebagai bagian dalam hidup, memungkinkan individu dapat berdamai dengan setiap pengalamannya.
Melalui penelitian ini, peneliti ingin mencari tahu pengalaman seseorang dalam menjalani perannya sebagai relawan. Peran yang dijalani relawan sebagai salah satu proses dalam menemukan makna hidupnya. Manusia memiliki tanggung jawab terhadap apa yang dihadapinya, berupa masyarakat, kemanusiaan, sesama manusia ataupun hati nurani manusia itu sendiri (Koeswara, 1992). Tanggung jawab yang kiranya menjadi sikap dasar tindakan prososial oleh relawan jalanan Lowanu Squad.
Logoterapi menjadi dasar peneliti untuk mengamati kemunculan makna pada pengalaman para informan. Ketiga nilai sumber munculnya makna hidup dalam logoterapi yang menjadi kataliasator terdiri dari nilai kreatif, eksperiensial, bersikap (Koeswara, 1992). Pengalaman para informan terkait dengan segala aktivitas yang dapat direpresentasikan pada pelaksanaan
14 tanggung jawab dari seorang relawan jalanan. Pemikiran yang muncul dalam diri peneliti adalah tentang fenomena relawan jalanan Lowanu Squad sebagai pemenuhan hakikat makhluk sosial. Baik sebagai pernyataan maupun pertanyaan yang hendak dikaji secara lebih mendalam.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana pemaknaan hidup seorang relawan jalanan Lowanu Squad? C. Tujuan Penelitian
Menggambarkan pemaknaan hidup seorang relawan jalanan Lowanu Squad.
D. Manfaat Penelitian a. Teoretis
Memberikan tambahan pengetahuan pada disiplin ilmu psikologi klinis dan juga psikologi sosial. Pada lingkup psikologi klinis, penelitian ini memberikan pengetahuan akan gambaran pemaknaan hidup yang diulas dalam lingkup psikoterapi dari peran yang dijalani seorang relawan jalanan. Sedangkan pada lingkup psikologi sosial, penelitian ini mengungkap dinamika individu dengan komunitas relawan dan juga interaksi pada masyarakat di sekitarnya.
b. Praktis
Memberikan alternatif pandangan bagi para praktisi psikologi di lingkup psikologi klinis dan sosial terkait pengetahuan akan pemaknaan hidup seorang relawan. Lalu, dapat membantu masyarakat luas untuk
15 memberikan informasi akan keberadaan relawan jalanan yang aktif di sekitar mereka, khususnya akan adanya Lowanu Squad. Nantinya akan menjadi media penghubung bagi masyarakat yang tertarik akan dinamika para relawan jalanan di Lowanu Squad. Baik untuk terlibat atau sekedar mengapresiasi.
16
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Relawan
Menurut Schroender (seperti dikutip dalam Hutapea & Dewi, 2012) relawan merupakan seseorang yang secara sukarela memberikan tenaga atau jasa, keahlian, dan waktu tanpa tujuan untuk memperoleh imbalan secara materiel maupun finansial dari pihak yang mengorganisir pelayanan sebagai suatu kegiatan secara formal. Schroender (seperti dikutip dalam Hutapea & Dewi, 2012) menjelaskan bahwa relawan memiliki tanggung jawab untuk mau melayani sesama, berbagi beragam manfaat positif pada sesama terkait bidang kesehatan, relasi sosial, kepercayaan dan norma kesukarelaannya. Sedangkan manfaat yang kiranya dapat diperoleh relawan adalah kebahagiaan menjalani beragam aktivitas prososialnya selama menjadi relawan.
United Nations Volunteers (UNV) mengimplementasikan pandangan mereka dalam pengertian akan relawan itu sendiri. Mengadaptasi pemahaman dari United Nations General Assembly di tahun 2011, UNV (2012) memaparkan aksi relawan dalam tiga bagian. Pertama, relawan melakukan aksi dengan sukarela dan didasari kebebasan sebagai individu tanpa adanya kewajiban yang terikat dengan undang-undang, kontrak atau persyaratan akademis. Kedua, relawan tidak mengatasnamakan aksinya pada imbalan
17 finasial dan materiel. Terakhir, relawan melakukan aksinya demi kebaikan bersama, yang dapat menguntungkan secara langsung atau tidak langsung orang-orang di luar lingkup keluarga, rumah tangga, atau adanya suatu alasan tertentu, meskipun relawan itu sendiri kerap mendapat keuntungan.
Peneliti memahami penjelasan UNV (2012) terkait aksi relawan sebagai seseorang yang melakukan aktivitas kemanusiaan dalam menolong sesama secara sukarela. Seorang relawan melandasi aktivitasnya dengan kesadaran dan kebebasan sebagai individu tanpa adanya keterikatan pada syarat maupun pihak tertentu. Keberadaan seorang relawan kiranya dapat memberikan dampak yang baik bagi dirinya dan sesama.
Baik dari pemerintah atau organisasi di luar pemerintahan menyadari peran komunitas relawan dalam aksi mereka yang kerap lebih cepat tanggap akan suatu masalah karena sifatnya yang lebih fleksibel (UNV, 2012). Kebebasan dan kedewasaan relawan dalam menjalani perannya mampu memberikan dampak yang positif bagi beberapa pihak. Kebebasan mereka untuk menjalankan aksi kemanusiaan dan kebebasan dari segala kewajiban yang mengikat adalah keunggulan komunitas relawan non formal. Park dan Park (2016) menemukan bahwa pengalaman individu dalam mengupayakan bantuan bagi sesama dapat meningkatkan kualitas peran yang dijalaninya. Khususnya komunitas ini hidup langsung dalam masyarakat dan mereka pun berasal dari masyarakat itu sendiri. Sehingga aksi mereka untuk masyarakat juga akan lebih mudah terwujud.
18 Kesejahteraan sosial menjadi sebuah sistem teroganisir dari institusi dan pelayanan sosial, yang dirancang untuk membantu individu maupun kelompok dalam usaha mencapai standar hidup dan kesehatan yang lebih memuaskan (Friedlander, 1994). Kemunculan relawan nampaknya tak lepas dari pemahanan Friendlander (1994), akan adanya sekelompok orang yang rela membaktikan dirinya untuk memenuhi tujuan bersama dalam meningkatan kesejahteraan masyarakat yang membutuhkan. Pada peran yang diambil, relawan mendasari tindakan mereka dengan kemauan bukan atas perintah yang atau sistem yang dikerjakan sebagai tuntutan.
Yuda (2018) melalui Tempo.co menuliskan bahwa gerakan relawan kini terus berkembang tidak hanya sekedar isu-isu sosial masyarakat. Keterlibatan beragam usia, bentuk, dan ranah memberi kesempatan topik pada relawan menjadi menarik. Beragam kategori berakar dari berbagai fenomena di lingkup sosial yang muncul. Masyarakat memunculkan beragam kebutuhan dalam mempertahankan hidupnya. Terdapat beberapa faktor yang membawa mereka untuk menerima bantuan dari orang lain dalam pemenuhannya. Seorang relawan akhirnya memutuskan untuk terlibat dalam masing-masing komunitas atau organisasi. Mereka memilihnya sesuai minat yang muncul dalam diri. Komunitas pun menjadi wadah yang memberikan identitas hingga tujuan kegiatan atau bidang pada tiap relawannya. Berdasarkan data dari laman resmi Komunita.id menunjukkan bahwa terdapat 1.526 komunitas di Indonesia hingga tahun 2018 yang terdaftar dalam bidang sosial. Komunitas tersebut
19 masih terbagi secara spesifik oleh tiap kategori. Seperti adanya UNHCR yang berfokus pada pemberdayaan pengungsi dalam skala internasional, Bagi Nasi Pagi Jogja yang membantu sesama lewat media sebungkus nasi di pagi hari, Braille’iant selaku komunitas inklusi dengan disabilitas penglihatan yang memberdayakan aspek pendidikan lewat proses pendampingan belajar, dan beragam komunitas lainnya dengan masing-masing spesifikasi yang masih berada dalam bidang besar sosial.
B. Makna Hidup
Frankl (1972) mengungkapkan segala hal tentang makna dan nilai-nilai dengan istilah logos. Logos sendiri dipahami sebagai pendamping objektif dari fenomena subjektif yang disebut keberadaan. Tujuan yang coba diterapkan dari logoterapi adalah realisasi nilai-nilai dan pemberian makna pada hidup (Koeswara, 1992).
Frankl (1972) memberikan penjelasan tentang kebermaknaan hidup sebagai kekuatan hidup seseorang untuk memiliki komitmen akan kehidupan, bahwa pada awalnya muncul alasan kenapa manusia harus bertahan hidup. Setiap manusia memiliki kebebasan memilih kebermaknaannya, namun akan lebih sehat ketika memilih kebermaknaan yang memenuhi sifat dasarnya. Bastaman (2007) juga menjelaskan tentang kebermaknaan hidup sebagai penghayatan seseorang akan sesuatu yang penting, berharga, dipercaya faktanya dan memberi nilai khusus, sampai pada menjadi tujuan dalam kehidupan (the purpose of life).
20 Pada dasarnya logoterapi memiliki tiga landasan filosofis dari konsep yang dibangun oleh Frankl (Koeswara, 1992). Ketiga konsep yang dibangun Frankl adalah kebebasan berkeinginan, keinginan akan makna, dan makna hidup (Bastaman, 2007). Penjelasan masing-masing konsep sebagai berikut dijabarkan oleh Koeswara (1992):
1. Kebebasan berkeinginan
Kebebasan adalah suatu konsep yang terbilang kuat dan khas menurut ilmu eksitensialis. Selain menjadi sebuah konsep, kebebasan pun dianggap mampu mengambil peran praksis. Kebebasan berkeinginan merupakan puncak dalam pemilihan akan kebebasan. Manusia sendiri memiliki kebebasan untuk menentukan sikap akan beragam kondisi yang membatasinya. Kebebasan yang dimiliki manusia terbatas sebagai kebebasan pada batas-batas dengan kondisi biologis, psikologis, dan sosiologis.
2. Keinginan akan makna
Fakta tentang kesenangan yang sebenarnya hasil dari pemenuhan dorongan atau pencapaian tujuan seseorang akan berdampak buruk jika dijadikan tujuan sejak awal. Ketika seseorang membawa dirinya secara langsung pada kesenangan itu, maka yang ditujunya akan semakin hilang. Kondisi tersebut didukung dengan fakta bahwa manusia merupakan keberadaan yang mendatangi keberadaan-keberadaan lain di luarnya guna memenuhi makna.
21 Istilah keinginan akan makna sendiri memiliki arti dimana manusia memenuhi makna sekedar untuk mengurangi tegangan dalam merestorasi homeostasis pada dirinya. Kondisi yang membuat seseorang tidak secara utuh berurusan dengan makna, namun dengan keseimbangan dan dalam analisis akhir, dengan dirinya sendiri.
3. Makna hidup
Makna mampu melampaui intelektualitas manusia, dengan kata lain pencapaiannya tidak hanya dicapai dengan proses akal atau usaha intelektual. Maka, seseorang harus dapat memiliki komitmen dari kedalaman pusat kepribadiannya dan usaha tersebut berakar pada totalitas keberadaannya. Berangkat dari komitmen yang dibentuk, seseorang melakukan realisasi untuk menjawab tantangan sebagai wujud pemberian pada hidupnya.
Muncul penekanan bahwa makna dipahami sebagai suatu hal yang mutlak dan objektif. Namun, tidak dipungkiri jika makna memiliki unsur subjektif terkait dengan heterogenitas tiap individunya. Pada dasarnya kehidupan seseorang tidak akan bisa saling ditukarkan beserta perspektif di dalamnya. Perspektif dapat berperan dalam melihat dunia nilai-nilai mereka.
Logoterapi sebagai katalisator membantu tiap individu melihat makna yang muncul sesuai keunikan pengalamannya (Koeswara, 1992). Makna dapat
22 ditemukan manusia dengan beragam sumber nilai dalam kehidupan. Nilai-nilai ini bersifat situasional dalam realisasinya dan diungkapkan secara subjektif. Nilai-nilai yang muncul berupa nilai kreatif, nilai eksperiensial dan nilai bersikap. Ketiga nilai tersebut menjadi sumber untuk mengidentifikasi makna yang muncul dalam pengalaman relawan jalanan Lowanu Squad. Berikut penjelasan nilai-nilai tersebut (Koeswara, 1992) :
1. Nilai Kreatif
Individu akan mengungkapkan kreativitas dirinya melalui keberadaan langsung dan totalitas usaha atas komitmen yang dibuatnya. Pada nilai ini, individu cenderung memberikan suatu upaya yang bermanfaat bagi dirinya dan sekitar. Individu memenuhi komitmen mereka demi tercapainya makna. Upaya ini sendiri muncul karena makna telah melampaui intelektualitas manusia. Sehingga manusia akan berupaya untuk menjalani beragam tantangan yang muncul secara nyata tanpa batasan intelektual mereka.
2. Nilai eksperiensial
Individu mencoba untuk menerima pengekspresian yang muncul dari luar dirinya. Kecenderungan penerimaan pada nilai ini bersifat terbalik dari nilai kreatif yang cenderung untuk memberi. Secara khusus penerimaan dilakukan dengan menghayati ekspresi keindahan, kebenaran dan sesama. Individu akan menerima beragam
23 stimulus dari luar dirinya sebagai suatu hal yang patut disyukuri dan dihargai dalam kehidupannya.
3. Nilai bersikap
Nilai yang menempatkan individu pada sikap untuk siap dan pasrah menghadapi situasi terburuk dalam hidupnya. Individu akan menentukan sikap untuk mau menjalani penderitaan yang menghampirinya. Bahkan nilai bersikap dianggap sebagai nilai tertinggi karena terealisasikan setelah nilai-nilai yang lain tidak dapat dipenuhi. Dapat dikatakan individu bersiap menyerahkan dirinya pada keadaan yang tak terelakan lagi.
C. Altruisme
Synoweic (2016) mengungkapkan jika individu yang berbuat altruis mampu menempatkan kebahagiaan sebagai penggerak untuk membantu sesama. Individu telah menikmati perannya ketika dapat melakukan suatu hal yang penting dan berkesan bagi orang lain. Altruisme nyatanya menjadi salah satu tindakan prososial yang mampu memberi dampak bagi orang lain atau masyarakat luas. Altruisme adalah tindakan untuk membantu orang lain secara sukarela dan tanpa pamrih, atau sekedar ingin berbuat baik (Schroeder & et al., 1995). Taylor & et al. (2009) mengungkapkan altruisme sebagai tindakan seseorang dalam membantu sesama tanpa pamrih sekali pun (Taylor & et al., 2009).
24 Menurut Batson (1997) altruisme dijelaskan sebagai motivasi yang semata-mata untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain sebagai tujuan utama. Kesejahteraan orang lain menjadi dorongan yang kuat bagi seorang relawan untuk berjuang. Taufik (2012) mengungkapkan altruisme sebagai tindakan yang bertujuan untuk menolong dan memberikan manfaat positif bagi sesama, di mana individu melakukannya secara sukarela tanpa mengharapkan apa pun dari orang yang ditolongnya.
Altruisme menjadi komponen penting dalam meningkatkan kelangsungan hidup orang lain sebagai sebuah motivasi dalam diri (Milanovic, 2012). Seorang relawan menyadari keberadaannya yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Menjadikan kesejahteraan orang lain sebagai sebuah prioritas adalah motivasi yang dibangun seorang altruis. Dapat dipahami bahwa altruisme merupakan kesadaran individu dalam mengupayakan kesejahteraan sesama, tanpa mempertimbangkan dampak dan keuntungan bagi dirinya.
D. Pemaknaan Hidup Relawan Jalanan Lowanu Squad
Kemewahan dan kebebasan dapat dirayakan oleh manusia, namun arti kehidupan itu sendiri pun hilang (Myers, 2000). Pemaknaan dalam hidup menjadi penting bagi manusia, hingga akhirnya kepuasaan dalam diri tidak terbatas pada kepemilikan yang bersifat sementara. Pada temuaan Park dan Park (2016), pemaknaan peran sebagai seorang relawan telah menyadarkan subjek penelitian akan pentingnya stabilitas mental dan kebahagiaan yang posisitf dalam hidup mereka. Subjek penelitian tersebut mengalami pergeseran
25 akan kebahagiaan berdasarkan pemenuhan materiel menjadi pemaknaan akan hidup itu sendiri (Park & Park, 2016). Setiap perubahan yang muncul dalam diri para informan juga akan diamati peneliti. Perubahan yang dialami setelah bergabung dengan Lowanu Squad dan menjalani peran sebagai relawan jalanan.
Bagi individu yang dapat menemukan kebermaknaan di hidupnya akan turut berperan dalam proses batin mereka (Park & Baumeister, 2016). Kesadaran dan kemauan untuk menjadi relawan merupakan sebuah pilihan yang tidak mudah untuk diambil. Terlebih saat individu mampu menjalani peran tersebut dengan bahagia tanpa ada paksaan. Proses pengambilan keputusan untuk menjadi relawan juga akan dilihat peneliti. Melihat keunikan latar belakang para informan dalam menjalani peran sebagai relawan jalanan. Park dan Park (2016) memaparkan bahwa kepemilikan materiel bukan membawa individu pada kebahagiaan, namun cara menyikapi kehidupan itu sendiri. Peran yang dijalani seorang relawan telah melibatkan empati mereka untuk berinteraksi langsung dalam sebuah permasalahan di lingkungan sosial.
Kegiatan yang dijalani secara penuh tanggung jawab dan totalitas merupakan realisasi dalam mencapai makna hidup (Koeswara, 1992). Kondisi yang coba dilihat pada pengalaman Lowanu Squad dalam menyikapi hasil atau timbal balik dari masyarakat. Park dan Park (2016) menunjukkan bahwa keterlibatan seseorang sebagai relawan mampu memberi pengaruh pada sikap akan kehidupan dengan pikiran positif akan realita yang dijalani. Hadirnya
26 Lowanu Squad kiranya mencoba jadi alternatif masalah yang muncul di sekitar mereka. Harapan dari kehadiran Lowanu Squad adalah memberi dampak yang positif bagi masyarakat yang membutuhkan.
Individu yang dapat menemukan kebermaknaan di hidupnya akan turut berperan dalam proses batin mereka (Park & Baumeister, 2016). Sebagai seorang relawan, peran yang dipilih mampu memberi ruang bagi batin mereka untuk bekerja atas interaksinya dengan sosial. Individu akan menemukan gambaran diri sendiri pada makna yang dihidupinya, karena logoterapi sekedar katalisator dalam membuka pandangan terhadap dunia (Koeswara, 1992). Melalui logoterapi, peneliti berupaya untuk melihat fenomena atas peran yang dijalanani seorang relawan jalanan Lowanu Squad dalam memaknai hidupnya.
Ketika tanggung jawab seorang relawan disertai realisasi nilai dan makna, maka kebahagiaan dapat diwujudkan sebagai hasil dari pemenuhan makna hidup (Naraswari & Syafiq, 2018). Kebahagiaan bukan tujuan dari apa yang dilakukan seorang relawan, melainkan pada upaya mereka memenuhi tanggung jawab dengan bahagia. Pada teorinya, kehadiran makna terjadi saat individu memahami keberadaan diri sendiri dan sinergi dengan dunia, serta mampu menentukan apa yang hendak dicapai dalam hidup (Steger & et al, 2008). Perasaan yang muncul dalam diri relawan jalanan Lowanu Squad menjadi perhatian. Peneliti coba mengidentifikasi perasaan yang muncul dari setiap informan atas peran mereka sebagai relawan jalanan Lowanu Squad.
27
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini berusaha menggali pemaknaan hidup berdasarkan pengalaman para anggota Lowanu Squad selama membantu sesama. Desain penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini demi data yang utuh dan padat. Selaras dengan ungkapan Creswell (2016) bahwa penelitian kualitatif memiliki tujuan untuk mengeksplorasi dan memahami makna dari masalah sosial oleh individu atau kelompok tertentu. Keberadaan Lowanu Squad menjadi sebuah anomali bagi masyarakat pada umumnya. Keunikan mereka dalam mengambil sebuah keputusan untuk terlibat di Lowanu Squad dan proses menghidupinya, menjadi daya tarik peneliti untuk memahami makna atas perannya.
Penelitian kualitatif dapat diterapkan di bidang ilmu sosial dan perilaku, khususnya pada bidang yang menyoroti perilaku dan peran manusia sebagai permasalahan (Strauss & Corbin, 2009). Pemilihan desain disesuaikan dengan konteks Lowanu Squad sebagai sebuah komunitas yang hidup di masyarakat. Penelitian kualitatif sendiri memposisikan peneliti untuk berada pada sudut pandang induktif, terfokus pada makna tiap individu, dan mampu mengurai kerumitan suatu persoalan untuk dapat dipahami pembaca (Creswell, 2016).
28 Peneliti secara langsung hadir untuk mengenal dan memahami pengalaman tiap informan sesuai keunikan mereka dalam berdinamika di Lowanu Squad.
Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah Interpretative
Phenomenological Analysis (IPA). IPA merupakan pendeketan kualitatif yang
bertujuan untuk mendalami pemahaman seseorang akan pengalaman hidup yang utama (Smith & et al., 2009). Informan akan berkesempatan untuk memahami kehidupan mereka yang nantinya akan coba dipelajari oleh peneliti. Pada penelitian yang dilakukan Aresti et al., (2010) IPA digunakan untuk menyelidiki masalah sosial yang memiliki dampak berkelanjutan, emosional dan menimbulkan dilema. Lowanu Squad mengambil peran untuk membantu sesama secara sukarela setiap malam yang menjadi tantangan bagi masyarakat. Pengalaman Lowanu Squad kiranya mampu memberi gambaran akan bahasan menjadi altruis bagi sesama. Sebuah bahasan yang terus hidup di masyarakat dan menjadi topik yang emosional.
Peneliti secara langsung berperan untuk memberikan pandangannya akan interaksi dengan informan untuk menghasilkan sebuah interpretasi (Willig, 2008). IPA memiliki peran untuk mengeksplorasi pengalaman di masyarakat dan terbuka pada temuan baru atas pengalaman dalam kesehariannya. Pendekatan ini mampu menjembatani peneliti untuk menemukan pengalaman Lowanu Squad sebagai sebuah fenomena yang unik.
29 B. Fokus Penelitian
Penelitian ini mengambil fokus pada proses pemaknaan peran informan dari apa yang dipilih dan dijalani sebagai seorang relawan jalanan Lowanu Squad. Pengalaman menolong agar bermanfaat bagi diri sendiri dan sesama adalah fenomena yang coba digambarkan sebagai suatu makna dalam diri informan. Fenomena yang coba diungkap adalah munculnya tiga nilai akan sumber makna dari aktivitas keseharian informan sebagai relawan jalanan, khususnya peran aktifnya dalam Lowanu Squad.
C. Refleksi Peneliti
Peneliti kerap kesulitan untuk melakukan sesuatu untuk sesama. Sulit untuk hadir secara langsung dan mengambil peran dalam permasalahan orang lain. Peneliti melihat adanya prasangka yang kerap muncul ketika melihat ada suatu fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya. Kebingungan muncul untuk memilih sikap apa yang harus dipilih dan dilakukan oleh peneliti.
Peneliti terlalu khawatir akan apa yang belum dilakukannya, terlalu khawatir akan hari esok dan khawatir akan hidupnya sendiri. Tak jauh dari keresahan peneliti yang sebenarnya masih kebingungan dengan makna hidupnya sendiri. Peneliti kerap memilih untuk diam dan tetap berprasangka pada respon orang lain jika ikut terlibat. Sampai akhirnya muncul cerita tentang adanya relawan jalanan. Sebuah cerita dari pengalaman langsung rekan peneliti yang dibantu relawan jalanan secara sukarela di DIY.
30 Berbekal keresahan ini, peneliti dibawa pada rasa penasaran akan relawan jalanan. Penasaran pada orang-orang yang memilih untuk dengan senang hati menolong orang secara sukarela, tanpa mengharapkan apapun. Peneliti penasaran kenapa relawan jalanan ini bersedia untuk membantu sesama dengan sukarela.
Sebenarnya apa yang menjadi alasan relawan ini bersedia berbuat baik tanpa mengkhawatirkan respon sekitar. Sebuah fenomena yang menjadi permasalahan peneliti dalam benak. Peneliti mencoba untuk berada dalam sudut pandang relawan jalanan melalui interaksi langsung dan mendengarkan pengalaman mereka.
Pada awalnya peneliti terlalu khawatir akan diri sendiri dalam penelitian ini. Peneliti merasa jika dirinya harus menjadi seperti relawan dalam penelitiannya. Sampai akhirnya peneliti merasa inferior untuk melanjutkannya. Namun, ternyata maksud tersebut salah karena peneliti harusnya tetap menjadi diri sendiri dalam mendalami pengalaman relawan jalanan.
Sikap yang objektif coba untuk diteguhkan peneliti dalam menerima setiap pengalaman dari para informan. Sikap ini juga yang membantu peneliti untuk tidak membawa kekhawatirannya lebih jauh dalam menganalisis hasil temuannya. Peneliti menyadari bahwa penelitian ini bukan berpusat pada dirinya, namun tema yang coba diimplementasikan pada setiap pengalaman informan. Malah informan akhirnya dapat belajar dari setiap pengalaman informan untuk direfleksikan dan diterapkan dalam hidupnya.
31 Perlahan peneliti berproses menyampaikan hasil temuannya kepada khalayak melalui penelitan ini. Penelitian yang mungkin menjadi keresahan serupa orang lain dalam hidupnya. Peneltian yang coba memberikan gambaran bahwa berbuat baik itu nyatanya ada dalam masyarakat. Ada untuk terus dilakukan dan dikembangkan di tiap individunya. Sampai akhirnya terbentuk kesadaran akan sosial kemanusiaan.
D. Informan Penelitian
Informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah 3 relawan jalanan yang tergabung dalam salah satu komunitas relawan jalanan Lowanu Squad di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tiap informan terlibat aktif dalam rutinitas yang ada dalam komunitas. Semua informan bergender laki-laki dengan usia beragam di atas 20 tahun.
E. Metode Pengambilan Data
Peneliti menggunakan metode wawancara dalam proses pengambilan data dalam penelitian ini. Melalui wawancara, peneliti dan informan akan dipertemukan secara langsung untuk mengkonstruksi makna dari pengalaman tertentu (Djamal, 2015). Metode wawancara dipilih dengan tujuan mampu mendalami dan memahami sudut padang relawan dari tiap penggalian pengalamannya. Wawancara sendiri akan mendeskripsikan makna dari fenomena yang diteliti bagi informan yang menjalani langsung pengalamannya untuk menjadi data penelitian (Creswell, 2016).
32 Peneliti menggunakan jenis wawancara semi terstruktur dalam proses pengambilan data. Wawancara semi terstruktur sendiri memiliki sifat yang fleksibel untuk menyesuaikan dengan kondisi alami informan. Patton menjelaskan bahwa wawancara semi terstruktur akan memberi ruang terbuka bagi peneliti dalam mengembangkan beragam pertanyaan yang didasari dengan latar belakang masing-masing informan sesuai kerangka utama wawancara (Moleong, 2002). Melalui jenis wawancara ini, peneliti menyesuaikan kondisi natural dalam keseharian relawan, baik gaya bicara, tempat dan waktu wawancara. Keputusan tersebut ditujukan agar informan tetap merasa nyaman selama wawancara dilakukan.
F. Prosedur Pengambilan Data
1. Pemilihan informan yang sesuai dengan kriteria penelitian. Peneliti mencari komunitas relawan jalanan yang dapat dijangkau, lalu menentukan beberapa relawan yang aktif tergabung dalam komunitas untuk dijadikan informan.
2. Melakukan pendekatan dengan informan dan menyampaikan tentang penggunaan informed consent. Peneliti menjelaskan tentang isi informed
consent terkait identitas peneliti, tujuan penelitian, dan metode
pengumpulan data. Penjelasan yang disampaikan juga terkait hak dan kewajiban informan, jaminan kerahasiaan data, dan pernyataan kesediaan informan untuk terlibat dalam penelitian. Peneliti juga menjelaskan tentang teknis proses wawancara yang akan berlangsung, agar informan merasa
33 aman dan nyaman. Hal tersebut dilakukan peneliti agar informan mampu membagikan pengalamannya dengan terbuka dan natural.
3. Peneliti melakukan wawancara pada tiga waktu yang berbeda sesuai ketentuan dengan masing-masing informan. Tempat yang digunakan dalam proses wawancara adalah basecamp komunitas itu sendiri untuk menciptakan kondisi yang sesuai dengan keseharian aktivitas informan. Peneliti menyiapkan kerangka wawancara dan beberapa pertanyaan inti sebagai bentuk dari jenis wawancara semi terstruktur.
4. Peneliti membuat transkip wawancara dari tiap informan untuk nantinya diolah pada tahap analisis data.
G. Metode Analisis Data
Penelitian ini menggunakan IPA (Interpretative Phenomenological
Analysis) sebagai metode dalam menganalis data. Berikut akan dipaparkan
tahapan dalam proses analisis data menggunakan IPA yang diadaptasi dari Smith et al. (2009):
1. Membaca data berulang-ulang (reading and re-reading)
Pada tahap pertama ini peneliti membaca secara berulang dan perlahan hasil transkrip wawancara dari tiap infoman. Hal tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa selama wawancara, informan tetap menjadi fokus analisis yang utama. Peneliti diharapkan dapat memperoleh data yang utuh dan lengkap saat masuk tahap ini. Membaca berulang-ulang dapat memunculkan potensi
34 berkembangnya model struktur wawancara. Selain itu, peneliti berkemungkinan untuk memahami hubungan dari topik pokok penelitian dengan topik-topik yang muncul saat wawancara.
2. Menuliskan catatan penting (initial noting)
Tahap ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh catatan dan komentar yang luas, lengkap dan terperinci terkait data yang diperoleh. Proses yang dilakukan berupa pemeriksaan makna dari isi transkrip dan bahasa informan dalam jangkuan yang sangat eksploratif. Peneliti secara terbuka menulis hal-hal penting dari pengalaman informan dan arti pemaknaannya. Bersamaan dengan itu, peneliti dapat mengembangkan penafsirannya dalam memahami masalah yang dialami informan dan tanggapan akan hal itu. Peneliti akan mencermati bahasa, konteks pikiran akan hidup, dan konsep-konsep yang masih abstrak guna memahami struktur makna pada informan.
3. Mengembangkan tema-tema yang muncul (developing emergent
themes)
Peneliti mengembangkan catatan eksploratif yang lebih rinci menjadi beberapa tema yang mencangkup hal-hal yang cenderung sama. Dengan kata lain, peneliti mulai membagi catatan-catatan dari transkrip ke dalam beberapa kelompok besar tema yang mampu mewakili bahasan tersebut. Selain untuk mengurangi bahasan yang
35 spesifik, tahap ini juga akan menjaga kompleksitas serta melihat hubungan dan pola antar catatan sebelumnya. Dalam IPA, peneliti memulai interpretasinya atas refleksi informan dalam mengembangkan tema-tema yang muncul.
4. Mencari hubungan antar tema yang muncul (searching for
connections across emergent themes)
Peneliti mulai mencari hubungan antar tema yang telah dituliskan sebelumnya. Pada tahap ini, tidak semua tema dapat dihubungkan dan dimasukkan. Tema-tema mulai dihubungkan jika ada keterkaitan dan disusun secara struktural membentuk suatu skema. Apabila ada tema yang terlalu jauh dari topik utama maka akan disisihkan. Tahap ini didasari dari eksplorasi dan inovasi peneliti dalam menganalis tema-tema yang bergantung pada pertanyaan dan ruang lingkup penelitian.
5. Melanjutkan analisis ke kasus berikutnya (moving to the next case) Pada tahap ini peneliti mulai masuk ke informan selanjutnya setelah menyelesaiakan analisis pada informan pertama. Peneliti akan menerapkan proses yang sama namun tetap menjaga kemurnian data masing-masing informan. Saat masuk pada informan berikutnya, akan memungkinkan peneliti untuk menemukan tema-tema baru yang dapat berhubungan atau malah berseberangan. Oleh karena itu,
36 peneliti tetap memberi jarak antar informan agar tidak ada bias dalam menganalis setiap data yang ada.
6. Mencari pola dari seluruh kasus (looking for patterns across case) Setelah analisis semua informan selesai, maka peneliti mulai mempertemukan tiap skema. Keberagaman skema dari setiap informan akan dihubungkan menjadi satu skema yang utuh. Pada tahap ini memungkinkan peneliti untuk mengatur dan menamai ulang keseluruhan tema.
H. Kredibilitas Penelitian
Pemeriksaan dilakukan peneliti dalam memeriksa akurasi hasil penelitian dengan tata cara tertentu. Pemeriksaan kredibilitas ini menjadi bagian penting penelitian kualitatif yang didasari dari temuan yang didapat akurat dari sudut pandang peneliti, informan, dan pembaca (Creswell & Miller, 2000). Pada bagian ini peneliti menerapkan beberapa cara dalam memeriksa kredibilitas. Yang pertama adalah member checking, peneliti menyajikan analisnya kepada informan untuk memastikan apakah analisis tema dari hasil wawancara sudah akurat. Lalu peneliti juga melakukan refleksi diri yang jujur dan terbuka untuk mengklarifikasi bias selama penelitian dilaksanakan. I. Pedoman Wawancara
1. Mengetahui latar belakang informan sebelum menjadi relawan. a. Apa yang membuat anda tertarik menjadi relawan?
37 a. Komunitas relawan yang anda ikuti ini sebenarnya seperti apa?
b. Apa saja yang dilakukan dalam komunitas dan bagaimana mekanisme di dalamnya?
c. Bagaimana sistem kepengurusan dan status dari komunitas ini? 3. Mengetahui dinamika sebagai relawan.
a. Bagaimana interaksi dan relasi dengan sesama relawan baik di dalam maupun di luar komunitas?
b. Bagaimana pengalaman susah dan senang anda selama menjadi relawan?
c. Bagaimana peran media sosial dalam melaksanakan aktivitas sebagai relawan?
4. Mengetahui respon orang di sekitar informan.
a. Bagaimana respon keluarga dan orang terdekat anda dengan keterlibatan sebagai relawan?
b. Bagaimana peran anda dalam keluarga selama menjadi relawan? 5. Mengetahui makna informan dalam menjadi relawan.
a. Kenapa anda mau membantu orang lain secara sukarela? b. Bagaimana perasaan anda setelah membantu orang lain?
c. Bagaimana pandangan dan harapan anda terhadap masyarakat dan kehidupan ke depannya?
38
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Penelitian
Peneliti menetapkan tiga orang relawan sebagai informan dalam penelitian ini. Ketiga informan merupakan anggota dari Lowanu Squad. Peneliti mencari informasi tentang para informan melalui Facebook (FB) Lowanu Squad dan beberapa media massa yang meliput aktivitas mereka. Pada tahap selanjutnya peneliti meninjau secara langsung basecamp Lowanu Squad untuk mengenal dan memastikan keberdaan mereka. Kedatangan peneliti dimaksudkan untuk menyampaikan tujuan dari penelitian dan keterlibatan dari para informan para informan.
Lowanu Squad merupakan sebuah komunitas relawan jalanan Jogja yang aktif membantu sesama secara sukarela. Peneliti mengumpulkan beberapa informasi terkait Lowanu Squad berdasarkan tinjauan langsung dan kabar dari media online. Lowanu Squad pada awalnya merupakan kumpulan warga sekitar yang memiliki rutinitas meronda malam. Pos jaga mereka berada di pinggir Jalan Lowanu dengan kondisi jalanan yang cukup aktif hingga malam. Tak jarang mereka menemukan dan menolong pengendara yang mengalami masalah dengan kendaraannya di sekitar Jalan Lowanu, seperti ban bocor dan mogok. Mereka akhirnya membentuk Lowanu Squad yang dirasa dapat
39 mewadahi mereka dan masyarakat yang berminat dalam membantu sesama di malam hari. Lowanu Squad telah berkembang menjadi sebuah komunitas relawan yang terbuka pada beragam permasalahan. Seiring berjalannya waktu mereka terlibat dalam aktivitas bakti sosial, penanganan bencana, dan beberapa masalah unik lainnya dari masyarakat.
Lowanu Squad menjadi alternatif atas permasalahan masyarakat yang belum sepenuhnya terfasilitasi. Lowanu Squad sendiri tidak mau menerima imbalan atas setiap bantuan yang telah mereka disalurkan pada masyarakat. Terbatasnya bengkel dan situasi jalanan yang mulai sepi di malam hari menjadi pemicu keberadaan Lowanu Squad. Mereka akan merespon ketika ada panggilan dari masyarakat yang membutuhkan. Setibanya di lokasi, mereka akan mencoba sesuai kapasitasnya dalam mengatasi masalah yang ada.
Peneliti kemudian memberikan informed consent kepada para anggota Lowanu Squad yang telah bersedia terlibat. Wawancara dilakukan dengan teknik semi terstruktur kepada setiap informannya. Pertanyaan yang diajukan didasari dari beberapa pokok pertanyaan yang telah disesuaikan dengan topik penelitian. Semua wawancara dilakukan di basecamp Lowanu Squad, dengan waktu yang berbeda tiap informannya. Penentuan latar wawancara telah disesuaikan dengan kesediaan informan. Peneliti berusaha untuk menciptakan kondisi yang selazimnya mereka beraktivitas sebagai relawan.
Wawancara dengan informan 1 dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2019 dengan durasi kurang lebih 50 menit. Sewaktu proses wawancara terdapat
40 beberapa jeda. Secara tiba-tiba muncul orang yang membutuhkan bantuan dari rekan-rekan Lowanu Squad sehingga menyebabkan jeda dalam proses wawancara. Jeda yang muncul tidak menjadi pengaruh yang signifikan dan proses wawancara tetap berjalan lancar.
Wawancara dengan informan 2 dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 2019 dengan durasi kurang lebih 1 jam 15 menit. Sewaktu proses wawancara terdapat beberapa jeda. Informan 2 sempat meminta jeda untuk melakukan patroli komplek perumahan saat proses wawancara dilakukan. Wawancara tetap berjalan lancar tanpa pengaruh signifikan atas jeda muncul.
Wawancara dengan informan 3 dilaksanakan pada 20 Maret 2020 dengan durasi kurang lebih 50 menit. Proses wawancara dengan informan 3 cenderung lancar. Tidak ada jeda yang muncul, namun ada beberapa distraksi dari suara rekan-rekan di sekitarnya. Sampai akhir wawancara distraksi dari eksternal tidak berdampak signifikan.
Semua proses wawancara dilakukan secara mengalir dengan bahasa campuran antara Indonesia dan Jawa, sesuai dengan latar belakang dan kebiasaan tiap informan. Proses wawancara data dilakukan pada malam hingga dini hari, hal ini menyesuaikan dengan ketersediaan dan aktivitas tiap informan dalam komunitas.
Peneliti melanjutkan pada proses member checking sebagai tahap akhir dengan para informan. Member checking menjadi tahap bagi peneliti melakukan pengecekan transkrip dan analisis atas wawancara sebelumnya
41 kepada para informan. Keakuratan analisis tema dari wawancara yang disampaikan para informan menjadi titik pengecekan dalam proses ini. Sampai akhirnya kedua pihak menemukan kesesuaian atas makna dari setiap temanya. Proses ini dilakukan pada 30 Desember 2020 kepada para informan di pos relawan Lowanu Squad.
B. Profil Informan
1. Demografi Informan Tabel 1.
Data Informan
No. Keterangan Informan 1 Informan 2 Informan 3
1. Inisial STY AM S
2. Usia 47 55 23
3. Jenis kelamin Laki-laki Laki-laki Laki-laki
4. Suku Jawa Jawa Jawa
5. Pekerjaan Sales Marketing Satpam perumahan Wirausaha 6. Posisi di komunitas
Humas Ketua Anggota
7. Status Menikah Menikah Belum menikah
2. Latar Belakang Informan a. Informan 1