BAB 5. PEMBAHASAN
5.2 Media Sosial yang berkaitan dengan Perilaku Seksual
5.2.1 Pengantar Informasi Media Sosial yang berkaitan dengan
2011) juga mengungkapkan hal yang sama yaitu remaja laki-laki memang cenderung mempunyai seks yang agresif, terbuka, gigih, terang-terangan serta lebih sulit menahan diri dibandingkan remaja perempuan.
Responden sebagian besar tinggal dengan orang tua yaitu sebanyak 66 responden (73.3%).Artinya orang tua sangat berperan penting dalam pemberian informasi dan penentuan tindakan remaja terhadap perilaku seks bebas.Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Dwi Putri Apriyanthi (2011) “selain itu, dari hasil penelitian penulis terhadap remaja yang telah melakukan perilaku seksual dapat diketahui bahwa yang melatarbelakangi hal itu terjadi dikarenakan pengaruh lingkungan pergaulan dengan teman, dan kurangnya komunikasi orang tua di dalam keluarga.”
5.2. Media Sosial yang Berkaitan dengan Perilaku Seksual
5.2.1. Pengantar Informasi Media Sosial yang Berkaitan dengan Perilaku Seksual
Media Sosial memiliki banyak jenis seperti Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, Line, dan Whatsapp.Setiap media online ini memiliki penggemarnya masing-masing sesuai dengan fungsinya.Lusiana (2011) mengatakan bahwa pemanfaatan media sosialbagi remaja cenderung digunakan remaja pada penggunaan media sosial seperti facebook, path, twitterdan youtubeuntuk mendownload
video.Youtube terkenal dengan media yang memungkinkan penggunanya untuk mengunggah dan mengunduh video dengan bermodalkan jaringan internet.Konten yang dimiliki Youtube juga tidak terbatas.Kita dapat menemukan banyak konten berbau pornografi yang tidak tersensor yang dapat ditonton oleh siapa pun termasuk remaja hanya dengan bermodalkan jaringan internet.Hal ini sejalan dengan hasil penelitian pada tabel 4.3.pertanyaan No.1 dimana media sosial yang paling sering digunakan oleh remaja untuk melihat/menonton video porno adalah Youtube (52.2%).
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.3. pertanyaan No. 2 rata-rata lama remaja menggunakan media sosial adalah 2 s/d 3 jam sehari (45.6%) dengan frekuensi menonton video porno dari media sosial sebanyak seminggu sekali (34.4%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Sari (2011), tentang pola penggunaan internet untuk mengakses media sosial oleh remaja (studi kasus : enam remaja di Kelurahan Kampung Lapai Kecamatan Nanggalo Padang) diketahui bahwa rata-rata remaja mengakses media sosial selama 2 s/d 3 jam sehari. Tempat menggunakan internet adalah di rumah dan warnet, lama merekamengenal internetadalah sekitar 3 sampai 4 tahun.
Dengan maraknya konten bertemakan seks di media sosial, sejalan dengan tabel 4.3 pertanyaan No. 5 banyak remaja yang menganggap bahwa perilaku seksual bukanlah hal yang tabu lagi. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya wajar bila mereka melihat/menonton gambar/video porno di media sosial sebab semua orang pernah
melakukannya, sehingga remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru apa yang dilihat dan didengarnya dari media sosial tersebut khususnya karena remaja pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual dari orang tuanya (Sarwono, 2011).
5.2.2. Penggunaan Media Sosial yang Berkaitan dengan Perilaku Seksual
Kemajuan teknologi saat ini telah membuka jendela baru yang menawarkan kemudahan dan kecepatan untuk mengakses dunia.Kemudahan untuk memperoleh dan bertukar informasi ini dikenal dengan media sosial yaitu media yang didesain untuk mempermudah interaksi sosial yang bersifat interaktif atau dua arah.Media sosial berbasis pada tegnologi internet yang mengubah pola penyebaran informasi dari yang sebelumnya bersifat satu ke banyak audiens, banyak audiens ke banyak audiens (Paramitha, 2011).
Media sosial tidak dapat dipungkiri telah menjadi kebutuhan penting bagi banyak orang.Media sosial dapat berdampak positif maupun negatif.Hal ini tergantung dari pemanfaatannya.Jika media sosial tersebut tidak digunakan dengan bijak maka dampak yang timbul dapat merugikan penggunanya.Media sosial memiliki peran yang besar dalam munculnya permasalahan remaja. Kemenkominfo (2014) menyatakan bahwa 80% dari 82 juta pengguna Internet di Indonesia remaja usia 15-19 tahun. Dari angka tersebut 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses media sosial.Dapat dilihat pada tabel 4.4pertanyaan No. 1 bahwa seluruh responden menggunakan media sosial sebagai sumber informasi utama, dimana
terdapat 42.2% responden mengaku menggunakan media sosial sebagai informasi pendidikan seksual.Sejalan dengan hal ini Rosmawati (2014) mengatakan bahwa semakin sering remaja tersebut mengakses media sosial maka semakin besar kemungkinan ia untuk memperoleh informasi seksual yang dapat mempengaruhi perilakunya.
Dari Tabel 4.4 pertanyaan No. 9 dapat dilihat bahwa 38.9% remaja mengakses media sosial untuk melihat situs porno. Bukan hanya menonton, pada pertanyaan No.10 50% remaja juga men-download video porno yang ditemukannya di media sosial. Dari hasil penelitian padaTabel 4.3.pertanyaan No.1 media sosial yang paling sering digunakan oleh remaja untuk melihat/menonton video porno adalah Youtube (52.2%).
Keadaan tersebut mengakibatkan bukan hal tabu lagi apabila para remaja menonton video porno bersama-sama bahkan saling berbagi alamat atau link video tersebut di media sosial. Pada Tabel 4.3 pertanyaan No.4 dapat dilihat bahwa sebanyak 35.6% remaja mengaku paling sering menonton video porno dengan teman-temannya.Sejalan dengan hal tersebut pada pertanyaan No.11 40% remaja berbagi dan menyebarluaskan situs porno tersebut dengan temannya.Pada tabel 4.4.pertanyaan No.13 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja (87.8%) merasa terangsang saat memperoleh informasi seksual dari media sosialnya. Informasi seksual tersebut dapat berupa artikel ataupun video.
Dari video-video yang ditonton tersebutremaja cenderung berkhayal
melakukan adegan yang ada di video porno tersebut. Lama-kelamaan rasa penasaranremaja yang tinggi mendorongnya mencoba mengaplikasikan adegan yang dilihatnya dari situs porno tersebut.Dari tabel 4.3 pertanyaan No.5 dapat dilihat bahwa 50% responden mengaku menonton video porno di media sosial untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Sejalan dengan hal yang diungkapkan Sarwono (2011) bahwa terdapat beberapa faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual remaja tersebut, diantaranya: Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksualitas) remaja, penyebaran informasi melalui media massa. Rangsangan seksual melalui media massa melalui teknologi canggih (VCD, Video, internet), remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru apa yang dilihat atau di dengarnya dari media massa (Sarwono, 2011).
Selain itu media sosial juga dapat digunakan sebagai alat interaksi antar individu seperti antara remaja dengan teman sebaya diantarannya dengan lawan jenisnya.Kegiatan saling merangsang juga dapat terjadi melalui chat room antar remaja dengan pacar. Percakapan seksual atau biasa disebut chat sex ini biasanya dilakukan dengan cara saling mengucapkan kata-kata mesra layaknya suami istri dan saling mengirimkan foto-foto mesum kepada pasangannya. Hal ini dapat mendorong untuk terjadinya perilaku seksual. Seperti dapat dilihat pada tabel 4.4pertanyaan No.
19 dimana24.4% remaja pernah melakukan percakapan seksual “chat sex” di media sosial, dengan 7.8% diantaranya mengirimi foto pribadi berbau porno.Hal ini sesuai dengan hasil wawancara bersama guru pada survei awal pada tanggal 10November
2016, pernah ditemukan siswa membawahandphoneyang berisi film semi porno, dan siswa yang bolos sekolahduduk di warnet untuk menikmati media sosial melalui internet yang tersedia dan daripengakuan beberapa siswa mereka mengatakan pernah berkencan dengan temanyang dikenal melalui media sosialyaitu facebook dan twitter.
5.2.3. Kategori Penggunaan Media Sosial yang Berkaitan dengan Perilaku