BAB 4. HASIL PENELITIAN
4.7 Pengaruh Media Sosial dan Teman Sebaya (Konformitas Teman
Pada tahap ini, untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap perilaku seksual dilakukan analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik.Variabel yang dimasukkan dalam model prediksi regresi logistik ganda adalah variabel yang mempunyai nilai p<0.25 pada analisis bivariatnya yaitu media sosial, konformitas dan adaptasi dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.14Hasil Analisis yang Memenuhi Asumsi Multivariat (Kandidat)
Variabel P
Media sosial <0.001*
Konformitas Teman Sebaya 0.010*
Adaptasi Teman Sebaya 0.005*
Keterangan : * variabel yang memenuhi syarat
Dari hasil analisis pada Tabel 4.14 diperoleh bahwa variabel media sosial, konformitas teman sebaya dan adaptasiteman sebaya mempunyai nilai p<0.25 yang berarti bahwa ketiga variabel penelitian ini masuk sebagai kandidat analisis multivariat.
Berdasarkan hasil akhir uji regresi logistik diperoleh satu variabel yang berpengaruh terhadap perilaku seksual yaitu adaptasiteman sebaya dengan nilai koefisien regresi (B) yaitu -1.479 dengan nilai OR sebesar 0.228 dan 95%CI=0.077-0.675, artinya adaptasi teman sebaya yang kuat 0.228 kali lebih besar kemungkinan perilaku seksualnya berat dibandingkan dengan adaptasi teman sebaya yang lemah, dapat dilihat pada Tabel 4.15 berikut:
Tabel 4.15 Hasil Uji Multivariat
Variabel B Sig. Exp(B)
(Odd Ratio) 95% CI
Adaptasi -1.479 0.008 0.228 0.077-0.675
Constant -0.170 - - -
Nilai Nagelkerke R Square diperoleh sebesar 12.2% yang artinya variabel adaptasi menjelaskan pengaruhnya terhadap perilaku seksual siswa sebesar 12.2%, sedangkan sisanya sebesar 87.8% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam variabel penelitian ini.
Model persamaan regresi logistik yang dapat memprediksiadaptasiteman sebaya yang memengaruhi perilaku seksual siswa adalah sebagai berikut:
))
P : probabilitas perilaku seksual siswa X1 : Adaptasi, koefisien regresi -1.479 a : Konstanta -0.170
e : Bilangan alamiah 2.71828
Persamaan di atas diketahui bahwa adaptasi teman sebaya yang lemahmaka kemungkinan untukmeringankan perilaku seksual siswa sebesar 16.12%.
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1. Karakteristik Identitas Responden
Dari hasil penelitian diketahui bahwa karakteristik identitas responden bervariasi menurut umur, jenis kelamin, tempat tinggal. Sebanyak 38 responden (42.2%) berumur 16 tahun artinya sebagian besar responden termasuk dalam kategori masa remaja tengah usia 15 – 18 tahun. Pada tahap ini remaja sedang mencari identitas diri dan mulai timbul keinginan untuk kencan serta mulai berkhayal tentang aktifitas seks sehingga besar peluang remaja untuk melakukan tindakan seksual (Monks, et al. 2006).Mereka sedang menggebu dalam halhasrat seksual karena baru saja beranjak dari kanak-kanak ke masa seksual. Para remaja lazimnya tertarik dengan lawanjenis dan mulai menjalin hubungan serius berupa pacaran. Tidak jarang bahkan ada yang menikah pada umur belasan (Lusiana, 2011).
Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 60 responden (66.7%).Santrock (2007) menyatakan terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap lawan jenis sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas.Remaja perempuan lebih memperlihatkan bentuk tubuh yang menarik bagi remaja laki-laki demikian pula sebaliknya.Berdasarkan penelitian Israwati (2011), tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap terhadap perilaku seksual pada remaja di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat hubungan variabeljenis kelamin dengan perilaku seksual pada remaja. Remaja laki-laki
cenderung 2 kali lebih besar untuk bersikap setuju jika remaja melakukan hubungan seksual dibanding remaja perempuan. Hasil penelitian Triratnawati (dalam Lusiana, 2011) juga mengungkapkan hal yang sama yaitu remaja laki-laki memang cenderung mempunyai seks yang agresif, terbuka, gigih, terang-terangan serta lebih sulit menahan diri dibandingkan remaja perempuan.
Responden sebagian besar tinggal dengan orang tua yaitu sebanyak 66 responden (73.3%).Artinya orang tua sangat berperan penting dalam pemberian informasi dan penentuan tindakan remaja terhadap perilaku seks bebas.Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Dwi Putri Apriyanthi (2011) “selain itu, dari hasil penelitian penulis terhadap remaja yang telah melakukan perilaku seksual dapat diketahui bahwa yang melatarbelakangi hal itu terjadi dikarenakan pengaruh lingkungan pergaulan dengan teman, dan kurangnya komunikasi orang tua di dalam keluarga.”
5.2. Media Sosial yang Berkaitan dengan Perilaku Seksual
5.2.1. Pengantar Informasi Media Sosial yang Berkaitan dengan Perilaku Seksual
Media Sosial memiliki banyak jenis seperti Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, Line, dan Whatsapp.Setiap media online ini memiliki penggemarnya masing-masing sesuai dengan fungsinya.Lusiana (2011) mengatakan bahwa pemanfaatan media sosialbagi remaja cenderung digunakan remaja pada penggunaan media sosial seperti facebook, path, twitterdan youtubeuntuk mendownload
video.Youtube terkenal dengan media yang memungkinkan penggunanya untuk mengunggah dan mengunduh video dengan bermodalkan jaringan internet.Konten yang dimiliki Youtube juga tidak terbatas.Kita dapat menemukan banyak konten berbau pornografi yang tidak tersensor yang dapat ditonton oleh siapa pun termasuk remaja hanya dengan bermodalkan jaringan internet.Hal ini sejalan dengan hasil penelitian pada tabel 4.3.pertanyaan No.1 dimana media sosial yang paling sering digunakan oleh remaja untuk melihat/menonton video porno adalah Youtube (52.2%).
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.3. pertanyaan No. 2 rata-rata lama remaja menggunakan media sosial adalah 2 s/d 3 jam sehari (45.6%) dengan frekuensi menonton video porno dari media sosial sebanyak seminggu sekali (34.4%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Sari (2011), tentang pola penggunaan internet untuk mengakses media sosial oleh remaja (studi kasus : enam remaja di Kelurahan Kampung Lapai Kecamatan Nanggalo Padang) diketahui bahwa rata-rata remaja mengakses media sosial selama 2 s/d 3 jam sehari. Tempat menggunakan internet adalah di rumah dan warnet, lama merekamengenal internetadalah sekitar 3 sampai 4 tahun.
Dengan maraknya konten bertemakan seks di media sosial, sejalan dengan tabel 4.3 pertanyaan No. 5 banyak remaja yang menganggap bahwa perilaku seksual bukanlah hal yang tabu lagi. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya wajar bila mereka melihat/menonton gambar/video porno di media sosial sebab semua orang pernah
melakukannya, sehingga remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru apa yang dilihat dan didengarnya dari media sosial tersebut khususnya karena remaja pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual dari orang tuanya (Sarwono, 2011).
5.2.2. Penggunaan Media Sosial yang Berkaitan dengan Perilaku Seksual
Kemajuan teknologi saat ini telah membuka jendela baru yang menawarkan kemudahan dan kecepatan untuk mengakses dunia.Kemudahan untuk memperoleh dan bertukar informasi ini dikenal dengan media sosial yaitu media yang didesain untuk mempermudah interaksi sosial yang bersifat interaktif atau dua arah.Media sosial berbasis pada tegnologi internet yang mengubah pola penyebaran informasi dari yang sebelumnya bersifat satu ke banyak audiens, banyak audiens ke banyak audiens (Paramitha, 2011).
Media sosial tidak dapat dipungkiri telah menjadi kebutuhan penting bagi banyak orang.Media sosial dapat berdampak positif maupun negatif.Hal ini tergantung dari pemanfaatannya.Jika media sosial tersebut tidak digunakan dengan bijak maka dampak yang timbul dapat merugikan penggunanya.Media sosial memiliki peran yang besar dalam munculnya permasalahan remaja. Kemenkominfo (2014) menyatakan bahwa 80% dari 82 juta pengguna Internet di Indonesia remaja usia 15-19 tahun. Dari angka tersebut 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses media sosial.Dapat dilihat pada tabel 4.4pertanyaan No. 1 bahwa seluruh responden menggunakan media sosial sebagai sumber informasi utama, dimana
terdapat 42.2% responden mengaku menggunakan media sosial sebagai informasi pendidikan seksual.Sejalan dengan hal ini Rosmawati (2014) mengatakan bahwa semakin sering remaja tersebut mengakses media sosial maka semakin besar kemungkinan ia untuk memperoleh informasi seksual yang dapat mempengaruhi perilakunya.
Dari Tabel 4.4 pertanyaan No. 9 dapat dilihat bahwa 38.9% remaja mengakses media sosial untuk melihat situs porno. Bukan hanya menonton, pada pertanyaan No.10 50% remaja juga men-download video porno yang ditemukannya di media sosial. Dari hasil penelitian padaTabel 4.3.pertanyaan No.1 media sosial yang paling sering digunakan oleh remaja untuk melihat/menonton video porno adalah Youtube (52.2%).
Keadaan tersebut mengakibatkan bukan hal tabu lagi apabila para remaja menonton video porno bersama-sama bahkan saling berbagi alamat atau link video tersebut di media sosial. Pada Tabel 4.3 pertanyaan No.4 dapat dilihat bahwa sebanyak 35.6% remaja mengaku paling sering menonton video porno dengan teman-temannya.Sejalan dengan hal tersebut pada pertanyaan No.11 40% remaja berbagi dan menyebarluaskan situs porno tersebut dengan temannya.Pada tabel 4.4.pertanyaan No.13 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja (87.8%) merasa terangsang saat memperoleh informasi seksual dari media sosialnya. Informasi seksual tersebut dapat berupa artikel ataupun video.
Dari video-video yang ditonton tersebutremaja cenderung berkhayal
melakukan adegan yang ada di video porno tersebut. Lama-kelamaan rasa penasaranremaja yang tinggi mendorongnya mencoba mengaplikasikan adegan yang dilihatnya dari situs porno tersebut.Dari tabel 4.3 pertanyaan No.5 dapat dilihat bahwa 50% responden mengaku menonton video porno di media sosial untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Sejalan dengan hal yang diungkapkan Sarwono (2011) bahwa terdapat beberapa faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual remaja tersebut, diantaranya: Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksualitas) remaja, penyebaran informasi melalui media massa. Rangsangan seksual melalui media massa melalui teknologi canggih (VCD, Video, internet), remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru apa yang dilihat atau di dengarnya dari media massa (Sarwono, 2011).
Selain itu media sosial juga dapat digunakan sebagai alat interaksi antar individu seperti antara remaja dengan teman sebaya diantarannya dengan lawan jenisnya.Kegiatan saling merangsang juga dapat terjadi melalui chat room antar remaja dengan pacar. Percakapan seksual atau biasa disebut chat sex ini biasanya dilakukan dengan cara saling mengucapkan kata-kata mesra layaknya suami istri dan saling mengirimkan foto-foto mesum kepada pasangannya. Hal ini dapat mendorong untuk terjadinya perilaku seksual. Seperti dapat dilihat pada tabel 4.4pertanyaan No.
19 dimana24.4% remaja pernah melakukan percakapan seksual “chat sex” di media sosial, dengan 7.8% diantaranya mengirimi foto pribadi berbau porno.Hal ini sesuai dengan hasil wawancara bersama guru pada survei awal pada tanggal 10November
2016, pernah ditemukan siswa membawahandphoneyang berisi film semi porno, dan siswa yang bolos sekolahduduk di warnet untuk menikmati media sosial melalui internet yang tersedia dan daripengakuan beberapa siswa mereka mengatakan pernah berkencan dengan temanyang dikenal melalui media sosialyaitu facebook dan twitter.
5.2.3. Kategori Penggunaan Media Sosial yang Berkaitan dengan Perilaku Seksual
Hasil penelitian pada Tabel 4.5 menunjukkan83.3% responden pengguna media sosial berada dalam kategori lemah, sedangkan 16.7% responden beradadalam kategori kuat. Semakin lemah penggunaan media sosial makan semakin ringan pula perilaku seksualnya.Nursal (2008) mengatakan bahwa paparan media merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja. Remaja sering memperoleh informasi tentang banyak hal dari media sosial maka cendrung memberi perhatian terhadaphal yang dinilainya dapat meningkatkan harga diri atau jati diri tanpaadanya penyaringan kemudian mengadopsinya tanpa menilai sesuatu dengannilai, norma agama ataupun budaya yang berlaku dilingkungannya (Nursal, 2008).Kecenderungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media sosial, dengan adanya teknologi canggih seperti telepon genggam yang didalamnya juga dilengkapi dengan jaringan internet, sehingga remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru apa yang dilihat dan didengarnya dari media sosial tersebut (Sarwono, 2011).
Rasa keingintahuan remaja yang begitu besar akan mendorong remaja untuk
lebih jauh mengakses informasi seks dan melakukan berbagai percobaan sesuai dengan informasi yang didapatkannya.Keterpaparan remaja terhadap media seperti pornografi dalam bentuk bacaan, melalui film porno semakin meningkat. Saat ini video-video porno sudah biasa kita temukan keberadaannya saat menggunakan media sosial.Video-video porno sudah sangat mudah diakses melalui media sosial hanya dengan bermodalkan jaringan internet saja.
Keberadaan media sosial sebagaistimulus yang mendukung terjadinya perilaku seksual telah lama menjadi akses bagi remaja untuk lebih leluasa mengakses hal-hal berbau pornografi.Dengan adanya paparan dari media sosial, remaja yang memiliki rasa keingintahuan tinggi cenderung mencoba segala hal yang dirasa baru baginya bahkan bila hal tersebut adalah hal yang tabu untuk diungkap.Informasi melalui media yang ditayangkan secara vulgar dan bersifat tidak mendidik, lebih cendrung mempengaruhi dan mendorong perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab. Konsultasi seks yang diberikan melalui media sebagai pendidikan seks dapat menyebabkan salah persepsi/ pemahaman pada remaja (Pinem, 2009).
Peneliti berasumsi bahwa intensitas yang tinggi dalam penggunaan media sosial terlebih lagi untuk mengakses informasi seksual dapat mendorong remaja untuk mengaplikasikan informasi yang mereka peroleh di media sosial dengan teman sebayanya.
5.3. Teman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual
5.3.1. Konformitas Teman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual Salah satufaktor kuat penguat dalam pembentukan perilaku remaja adalah
teman sebaya.Teman sebaya cenderung menekan remaja untuk mengikuti aturan-aturan yang ada di kelompoknya.Dalam beberapa kasus aturan-aturan-aturan-aturan tersebut dapat menyimpang sehingga memberikan dampak negatif pada perkembangan remaja.Konformitas adalah kondisi dimana remaja mengadopsi sikap atau perilaku teman sebayanya dalam sebuah kelompok karena tekanan.Tekanan dalam konformitas datang dari luar yaitu dari kelompoknya.Sebagai contoh apabila aturan yang ada dalam kelompok mengharuskannya untuk melakukan tindakan seksual maka iaharus mematuhi aturan tersebut jika tidak ingin dikenakan sanksi kelompok.Kebanyakan remaja hanya takut tidak memiliki teman, diasingkan, bahkan dikucilkan.Faktor inilah yang mengakibatkan konformitas teman sebaya patut mendapat perhatian.Sejalan dengan hal ini dapat kita lihat dalam tabel 4.6pertanyaan No.9 bahwa sebanyak 41.1% respondenmengaku diejek oleh sahabatnya karena belum pernah melakukan hubungan seks. Cynthia (2007) mengatakan bahwa pada saat ini perilaku seks telah dianggap biasa terjadi bahkan orang yang tidak pernah melakukannya akan diejekataudianggap tidak“keren”oleh teman-temannya.Sebanyak 52.2%respondentakut dimusuhi sahabatnya jika tidak mengikuti keputusan kelompok, dimana 30% diantaranya mengatakan akan benar-benar dimusuhi sahabatnya jika tidak mengikuti keputusan kelompok. Dari tabel 4.6 juga dapat dilihat bahwa 30%
remaja mengaku sering dipengaruhi sahabatnya untuk melakukan hubungan seks.Hal tersebut bukan merupakan paksaan namun jika dilakukan akan berpengaruh negatif pada perilaku remaja yang dapat menimbulkan rasa ingin tahunya untuk melakukan seks yang berisiko di usianya yang masih muda.
Cynthia juga mengatakan apabila lingkungan peer remaja tersebut mendukung untuk dilakukan seks, serta konformitas remaja tersebut juga tinggi pada peer-nya, maka remaja tersebut sangat berpeluang untuk melakukan seks (Cynthia, 2007).Sejalan dengan hal ini pada tabel 4.6.pertanyaan No.12 menunjukkan 13.3%
responden mengatakan bahwa untuk masuk menjadi anggota geng tertentu harus melakukan hubungan seks dahulu sebab mereka menganggap bahwa melakukan seks merupakan hal yang wajar untuk remaja seusia mereka. Sebanyak 7.8% responden juga mengatakan sahabatnya pernah mengajak untuk melakukan hubungan seks dengan pelacur (PSK) sebagai eksperimen.Dengan adanya peraturan-peraturan di dalam kelompok tersebut 35.6% remaja mengaku merasa tertekan.
Peneliti berasumsi bahwa rasa takut remaja akan dikucilkan inilah yang menjadi alasan kuat remaja untuk mengikuti tekanan dari teman sebayanya (konformitas teman sebaya) yaitu dengan mematuhi tuntutan yang ada dikelompoknya.
5.3.1.1.
Kategori Konformitas Teman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku SeksualHasil uji statistik pada tabel 4.7. menyatakan bahwa sebanyak 64.4% responden berada dalam konformitas teman sebaya kategori lemah, sedangkan 35.6% responden berada dalam kategori kuat. Semakin lemah konformitas teman sebaya semakin ringan pula perilaku seksualnya.Asch (2009) menjelaskan konformitas adalah situasi dimana individu mengikuti tekanan dari kelompok walaupun tidak ada tuntutan atau permintaan langsung dari kelompok. Dikatakan juga oleh Deaux, et.al (2011) bahwa konformitas berarti menyerah pada tekanan kelompok walaupun tidak ada permintaan
langsung untuk mengikuti apa yang telah dibuat oleh kelompok tersebut.
Konformitas teman sebaya diasumsikan sebagai salah satu stimulus yang mendukung remaja untuk melakukan hubungan seks yang berisikodikarenakan konformitas tersebut memaksa seorang remaja untuk melakukan hubungan seks untuk dapat diterima oleh kelompoknya.Rasa takut remaja akan dikucilkan inilah yang menjadi alasan kuat remaja untuk mengikuti tekanan dari teman sebayanya (konformitas teman sebaya) yaitu dengan mematuhi tuntutan yang ada dikelompoknya.
Santrock (2007) mengatakan, bahwa konformitas kelompok bisa berarti kondisi dimana seseorang mengadopsi sikap atau perilaku dari orang lain dalam kelompoknya karena tekanan dari kenyataan atau kesan yang diberikan oleh kelompoknya tersebut. Hal ini sejalan dengan Hurlock (2003) yang menyatakan bahwa dalam menguasai tugas-tugas perkembangan remaja yaitu pembentukan hubungan-hubungan yang baru dan lebih matang dengan lawan jenis serta memainkan peran jenis kelamin, remaja mengalami konformitas (tekanan-tekanan) sosial baik dari lingkungan maupun dari teman sebaya tetapi terutama adalah minat remaja pada seksual dan keingintahuan tentang seksual yang cenderung meningkat.
Peneliti berasumsi bahwa peran orang tua sangat besar dalam mengawasi anaknya dalam pergaulan baik di rumah maupun di luar rumah.Pengawasan perlu dilakukan dengan cara-cara yang persuasif, tidak membuat remaja merasa dihakimi ataupun digurui seolah-olah remaja selali membuat masalah yang harus terus menerus diatur.Pengawasan orang tua dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan pada
anak bahwa harus hati-hati dalam memilih teman dalam bergaul. Orang tua juga harus mempunyai pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi dan pendidikan seks sehingga dapat memberikan informasi yang tepat pada anaknya tentang seks yang sehat, bahaya melakukan hubungan seks di usia dini, penularan penyakit akibat perilaku seksual yang tidak sehat.
5.3.2. Adaptasi Teman Sebaya yang Berkaitan dengan Perilaku Seksual
Remaja cenderung memiliki keinginan untuk disukai dan diterima oleh teman sebayanya.Untuk melakukan hal tersebut remaja harus dapat berbaur dan menyesuaikan diri dengan teman sebayanya.Hal inilah yang dinamakan adaptasi teman sebaya. Dengan adanya kesamaan yang ditemukan maka minat individu tersebut dalam persahabatan serta keikutsertaan kelompok akan meningkat (Kristy Juing, 2004).
Remaja akan senang apabila diterima dalam kelompok, dengan kata lain proses adaptasinya berhasil. Sebaliknya remaja akan merasa cemas dan tertekan apabila diremehkan teman sebayanya. Dorongan adaptasi berasal dari (dalam) individu itu sendiri. Dengan demikian remaja akan berusaha untuk menyesuaikan minat mereka dengan teman sebayanya karena mereka menganggap teman sebaya merupakan cermin penerimaan masyarakat terhadapa dirinya. Sebagai contoh apabila di lingkungan teman sebayanya perilaku seksual dianggap wajar maka remaja tersebut nantinya akan menyesuaikan pola pikirnya bahwa perilaku seksual wajar untuk anak seusia mereka.Ada trend yang beredar dalam lingkup pergaulan remaja.Trend ini biasanya diciptakan oleh anak-anak yang populer dalam pergaulannya sehingga
terlihat pantas untuk ditiru atau dicontoh.Majeres (dalam Sarwono, 2011) mengemukakan bahwa banyak anggapan populer tentang remaja yang berarti remaja tersebut bernilai, dan sayangnya banyak diantaranya yang bersifat negatif.Kepopuleran sangat berhubungan dekat dengan penampilan seseorang.Seseorang dianggap ketinggalan jaman jika tidak bisa menyesuaikan penampilannya dengan trend yang ada, pada tabel 4.8 pertanyaan No.2 dapat dilihat bahwa 67.8% remaja mengaku merasa minder apabila tidak bisa menyesuaikan gaya dalam berpenampilan dengan sahabat-sahabatnya.
Menurut Santrock (2007) kualitas hubungan pertemanan dengan teman sebaya akan memberikan umpan balik bagi remaja mengenai bagaimana seharusnya bersikap dan mengevaluasi diri dan orang lain. Kepopuleran tersebut akan memberikan beberapa keuntungan bagi remaja tersebut misalnya dalam berkomunikasi dan memperoleh teman. Hal ini didukung pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Meijis et al. (2010) mengenai keterampilan sosial dan prestasi akademik sebagai prediktor popularitas remaja, yang menunjukkan bahwa keterlibatan remaja dalam aktivitas peer group dan dapat diterima dan beradaptasi di dalamnya akan membantu remaja dalam membangun perasaan menjadi anak yang popular. Menjadi anak yang popular dapat membantu anak dalam melakukan tindakan prososial dan menciptakan kebiasaan membantu kelompok teman sebaya. Tindakan prososial yang dimaksud seperti kemampuan untuk memecahkan masalah sosial, perilaku sosial yang positif, dan membantu mereka menjalin hubungan pertemanan dengan kata lain anak tersebut harus dapat beradaptasi dengan teman sebayanya.Sejalan dengan hal itu pada tabel
4.8 pertanyaan No.4 sebanyak 31.1% remaja mengaku berpacaran karena ingin diterima dan diakui di dalam kelompoknya. Jika anak tersebut beradaptasi dengan lingkungan peer group yang salah maka hal ini akan berdampak negatif bagi remaja seperti terjun ke perilaku seksual yang berisiko.
Dapat dilihat pula pada tabel 4.8. pertanyaan No.8 95.6%
respondenmenyatakan bahwa mereka selalu berusaha menyesuaikan sikap dengan sahabatnya dalam segala hal. Hal ini menunjukkan bahwa apabila remaja tersebut memilki teman yang baik maka hal tersebut akan berdampak positif pada perilakunya, namun apabila remaja tersebut memiliki teman yang memberikan dampak buruk baginya besar kemungkinan ia akan terpengaruh dan ikut terjun ke hal-hal negatif seperti perilaku seks yang berisiko.Dalam teman sebaya sekumpulan individu membentuk suatu kelompok yang terdiri dari teman-teman seperkembangan atau sebaya yang memiliki pola perilaku (kebiasaan) dan tujuan yang sama, dimana individu memiliki kecenderungan untuk berusaha mengikuti dan menerima segala keputusan yang dibuat oleh kelompok, sehingga persepsi individu diabaikan untuk dapat menerima persepsi kelompoknya (Taimiyah dan Utomo, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa penting bagi remaja untuk mengikuti persepsi teman sebayanya agar tidak dibilang ketinggalan jaman. Namun kadang remaja juga meniru hal-hal negatif seperti gaya berpacaran sahabatnya bahkan jika hal tersebut jelas sangat tidak
respondenmenyatakan bahwa mereka selalu berusaha menyesuaikan sikap dengan sahabatnya dalam segala hal. Hal ini menunjukkan bahwa apabila remaja tersebut memilki teman yang baik maka hal tersebut akan berdampak positif pada perilakunya, namun apabila remaja tersebut memiliki teman yang memberikan dampak buruk baginya besar kemungkinan ia akan terpengaruh dan ikut terjun ke hal-hal negatif seperti perilaku seks yang berisiko.Dalam teman sebaya sekumpulan individu membentuk suatu kelompok yang terdiri dari teman-teman seperkembangan atau sebaya yang memiliki pola perilaku (kebiasaan) dan tujuan yang sama, dimana individu memiliki kecenderungan untuk berusaha mengikuti dan menerima segala keputusan yang dibuat oleh kelompok, sehingga persepsi individu diabaikan untuk dapat menerima persepsi kelompoknya (Taimiyah dan Utomo, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa penting bagi remaja untuk mengikuti persepsi teman sebayanya agar tidak dibilang ketinggalan jaman. Namun kadang remaja juga meniru hal-hal negatif seperti gaya berpacaran sahabatnya bahkan jika hal tersebut jelas sangat tidak