• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MEDIA SOSIALDAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL SISWA YANG BERPACARAN DI SMA NEGERI 1 BANDAR KABUPATENSIMALUNGUN TAHUN 2017 TESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH MEDIA SOSIALDAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL SISWA YANG BERPACARAN DI SMA NEGERI 1 BANDAR KABUPATENSIMALUNGUN TAHUN 2017 TESIS"

Copied!
169
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MEDIA SOSIALDAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL SISWA YANG BERPACARAN DI SMA

NEGERI 1 BANDAR KABUPATENSIMALUNGUN TAHUN 2017

TESIS

Oleh

DEWI SARAH 157032159

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)

THE INFLUENCEOFSOCIAL MEDIA AND PEER GROUP ON SEXUAL BEHAVIOUROF STUDENTS WHO ARE DATING IN SMA NEGERI 1

BANDAR SIMALUNGUN REGENCY 2017

THESIS

Oleh

DEWI SARAH 157032159

MAGISTER STUDY PROGRAM IN PUBLIC HEALTH SCIENCE FACULTY OF PUBLIC HEALTH

UNIVERSITY OF NORTH SUMATERA MEDAN

2018

(3)

PENGARUH MEDIA SOSIAL DAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL SISWA YANG BERPACARAN DI SMA

NEGERI 1 BANDAR KABUPATENSIMALUNGUN TAHUN 2017

TESIS

DiajukanSebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan Masyarakat (M.K.M) dalam Program Studi S2 Ilmu KesehatanMasyarakat

Peminatan Promosi Kesehatan

pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh DEWI SARAH

157032159

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(4)

Judul Tesis

:

Pengaruh Media Sosial dan Teman Sebaya terhadap Perilaku Seksual Siswa yang Berpacaran di SMA Negeri 1 Bandar Kabupaten Simalungun Tahun 2017 Nama Mahasiswa : Dewi Sarah

Nomor Induk Mahasiswa : 157032159

Program Studi : S2 Ilmu KesehatanMasyarakat Peminatan : Promosi Kesehatan

Menyetujui, Komisi Pembimbing :

( Dr. Lita Sri Andayani, S.K.M, M.Kes ) (Dr. Asfriyati, S.K.M, M.Kes) Ketua Anggota

Ketua Program Studi S2 Dekan

( Ir. Etti Sudaryati, M.K.M, Ph.D ) ( Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si )

Tanggal Lulus :18 Januari 2018

(5)

Telah diuji

Pada tanggal :18 Januari 2018

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Lita Sri Andayani, S.K.M, M.Kes Anggota : 1. Dr. Asfriyati, S.K.M, M.Kes

2. Dr. dr. Linda T. Maas, M.P.H

3. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M

(6)

PERNYATAAN

PENGARUH MEDIA SOSIAL DAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL SISWA YANG BERPACARAN DI SMA NEGERI 1 BANDAR KABUPATEN SIMALUNGUN

TAHUN 2017

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau di terbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 18 Januari 2018

Dewi Sarah 157032159

(7)

ABSTRAK

Perilaku seksual yang remaja lakukan memang tidak terlepas dari pengaruh lingkungan terutama pengaruh dari media sosial dan teman-teman sebayanya.Ini disebabkan remaja lebih banyak menghabiskan waktu mereka bersama dengan teman teman sebayanya dibanding dengan keluarga ditambah lagi dengan pesatnya perkembangan era globalisasi yang membawa remaja pada fenomena maraknya penggunaan media sosial. BKKBN pada tahun 2015 mencatat bahwa terdapat 51%

remaja di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (JABODETABEK) telah melakukan hubungan seks. Dari kota-kota lain di Indonesia juga didapatkan data remaja yang sudah melakukan seks pranikah tercatat 54% di Surabaya, 47% di Bandung, dan 52% di Medan.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa besar pengaruh media sosial dan teman sebaya terhadap perilaku seksual remaja yang berpacaran.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatifdengan desain rancangan cross sectionaldengan jumlah sampel sebanyak 90 responden.

Penelitian ini menggunakan Uji Chi Squaredan regresi logistic dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penggunaan media sosial berada dalam kategori lemah (83.3%) dan ada hubungan signifikan penggunaan media sosial dengan perilaku seksual dengan nilai p sebesar 0.001 (p<0.05).Konformitas teman sebaya sebagian besar berada dalam kategori lemah (64.4%) dan ada hubungan signifikan konformitas dengan perilaku seksual dengan nilai p sebesar 0.010 (p<0.05).Sebagian besar adaptasi teman sebaya berada dalam kategori lemah (65.6%) dan terdapat hubungan signifikan antara adaptasi teman sebaya dengan perilaku seksual dengan nilai p sebesar 0.005 (p<0.05). Variabel yang paling berpengaruh terhadap perilaku seksual remaja adalah adaptasi teman sebaya dengan koefisien β = - 1.479 dengan nilai OR sebesar 0.228.

Dari hasil penelitian ini diharapkan kepada pihak sekolah SMA Negeri 1 Bandar hendaknya dapat melakukan kerjasama dengan pihak terkait untuk dapat memberikan penyuluhan tentang pendidikan seksual kepada siswanya, serta diharapakan peran aktif orang tua siswa untuk meningkatkan pengawasan dalam penggunaan media sosial dan teman sebaya anak-anaknya untuk meminimalisir bahaya perilaku seksual.

Kata Kunci:Media Sosial, Adaptasi, Teman Sebaya, PerilakuSeksual.

(8)

ABSTRACT

Adolescents’ sexual behavior is closely related to the influence of environment, especially social media and peers since they usually keep in touch with their peers rather than with their own family members, coupled with the rapid increase in globalization which cause them to use social media. BKKBN in 2015 noted that 51%

of adolescents in JABODETABEK (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi), 54% in Surabaya, 47% in Bandung, and 52% in Medan had committed sexual intercourse.

The objective of this research was to find out the influence of social media and peers on the sexual behavior of adolescents who had boyfriends or girlfriends. The research used quantitative method with cross sectional design. The samples were 90 respondents.

The data were analyzed by using chi square and logistic regression test. The result of the research showed that 83.3% of the respondents were much influenced by social media, and there was significant correlation between using social media and sexual behavior (p-value=0.001; p<0.05), 64.4% of the respondents were easily influenced by their peers, and there was significant correlation between conformity with peers and sexual behavior (p-value=0.010; p<0.05), and 65.5% of the respondents were easily adapted to their peers, and there was significant correlation between adapting to peers and sexual behavior (p-value=0.0005; p<0.05). The variable which had the most dominant influence on sexual behavior was adapting to peers at the coefficient β = -1.479 with OR = 0.228.

It is recommended that the management of SMA Negeri 1 Bandar collaborate with the related agencies in providing counseling about sexual education for their students and increase the control in using social media and the influence of their peers in order to minimize the danger of sexual behavior.

Keywords: Social Media, Adaptation, Peers, Sexual Behavior

(9)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Pengaruh Media Sosial dan Teman Sebaya terhadap Perilaku SeksualSiswa yang Berpacaran di SMA Negeri 1 Bandar Kabupaten Simalungun Tahun 2017”.

Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam tesis masih terdapat kekurangan yang harus diperbaiki. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Lita Sri Andayani, S.K.M, M.Kes.danIbu Dr. Asfriyati, S.K.M, M.Kes selaku dosen pembimbing yang telah meluahkan waktu dan pemikirannya dengan keikhlasan untuk memberikan bimbingan dan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

Dalam penulisan tesis ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Ir. Etti Sudaryati, M.K.M., Ph.D., Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

(10)

4. Destanul Aulia, S,K,M., M.B.A., M.Ec., Ph.D., selaku Sekretaris ProgramStudi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

5. Dr. Lita Sri Andayani, S.K.M., M.Kes., selaku dosen pembimbing pertama saya, atas segala ketulusan dalam menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan, dorongan, perhatian dan saran kepada penulis selama proses penyelesaian tesis ini.

6. Dr. Asfriyati S.K.M, M.Kes,selaku dosen pembimbing kedua saya, atas segala ketulusan dalam menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan, dorongan, perhatian dan saran kepada penulis selama proses penyelesaian tesis.

7. Dr. dr. Linda T. Maas, M.P.H., selaku dosen penguji pertama saya, atas segala masukan selama proses penyelesaian tesis ini.

8. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M., selaku dosen penguji kedua saya, atas segala masukan yang telah diberikan kepada penulis selama proses penyelesaian tesis.

9. Mariani Samosir S.Pd,selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Bandar dan seluruh staf pegawai SMA Negeri 1 Bandar.

10. Yang terbaik dan teristimewa untuk Ayahanda Drs. Kasim dan Ibunda Wardiah Lubis (Alm) untuk cinta kasih, do’a, dukungan dan kepercayaannya kepada penulis. Dan Ibunda Ema Janiar Kirana yang senantiasa mendoakan, mendukung dan mengingatkan penulis.

(11)

11. Untuk sahabat-sahabatku (Zeri Winda Ayu, Evi Sri Wahyuni, Fanry Maulana, Anggi Mutiah Sakdiyah, Cut Tatiana Rosa, Rahmenda, dan Dina Savitri) terima kasih untuk semua bantuan dan motivasinya.

12. Untuk saudari-saudariku (Aina Krizelle Santos, Nur Ardila, Febe Liana, Julia Betty dan Resham Masood) yang selalu mendukung dan membuat hari-hari penulis lebih berwarna.

13. Untuk semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan, kerja sama dan do’anya.

Akhir kata semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan karunianya kepada kita semua dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak.

Medan, 18 Januari 2018 Penulis

Dewi Sarah 157032159

(12)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Dewi Sarah, lahir pada tanggal 2 Agustus 1992 di Medan.Penulis merupakan anak tunggal dari pasangan Ayahanda Drs. Kasim dan Ibunda Wardiah Lubis.

Pendidikan formal penulis, dimulai dari pendidikandi Sekolah Dasar Negeri No. 091618 Perdaganganselesai pada tahun 2004, Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bandar selesai pada tahun 2007, Sekolah Menengah Atas Negeri 1Bandar selesai pada tahun 2010, Universitas Sumatera Utara Fakultas Kesehatan Masyarakat selesai tahun 2014.Tahun 2015, penulis melanjutkan pendidikan lanjutan S2 Peminatan Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Sekolah Pasca Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

DAFTAR ISTILAH ... xv

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1Latar Belakang ... 1

1.2Rumusan Masalah ... 11

1.3 Tujuan Penelitian ... 12

1.3.1 Tujuan Umum ... 12

1.3.2 Tujuan Khusus ... 12

1.4 Manfaat Penelitian ... 13

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 14

2.1 Konsep Dasar Remaja ... 14

2.1.1Pengertian Remaja ... 14

2.1.2Ciri-ciri Masa Remaja ... 15

2.1.3 Tahap Perkembangan Remaja ... 16

2.1.4Perkembangan Fisik ... 17

2.2Perilaku Seksual Remaja ... 19

2.2.1 Pengertian Perilaku ... 19

2.2.2 Domain Perilaku... 21

2.2.3Perubahan Perilaku... 25

2.2.4 Perilaku Seksual pada Remaja ... 25

2.2.5 BentukPerilaku Seksual pada Remaja ... 28

2.2.6 Tingakatan Perilaku Seksual Remaja ... 29

2.2.7 Dampak Perilaku Seksual Remaja ... 30

2.3 Media Sosial ... 31

2.3.1 Defenisi Media Sosial ... 31

2.3.2 Karakteristik Media Sosial ... 35

2.4Teman Sebaya ... 37

2.4.1Defenisi Teman Sebaya... 37

2.4.2 Karakteristik Teman Sebaya ... 39

(14)

2.4.3 Konformitas Teman Sebaya ... 41

2.4.4Adaptasi Teman Sebaya ... 43

2.5 Landasan Teori ... 45

2.6 Kerangka Konsep ... 48

2.7 Hipotesis ... 48

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN ... 49

3.1 Jenis Penelitian ... 49

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 49

3.2.1 Lokasi Peneltian ... 49

3.2.2 Waktu Penelitian ... 49

3.3 Populasi dan Sampel ... 50

3.3.1Populasi ... 50

3.3.2 Sampel ... 50

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 51

3.4.1 Data Primer ... 51

3.4.2 Data Sekunder ... 51

3.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 51

3.4.4 Prosedur Pengumpulan Data ... 56

3.4.5Instrumen Penelitian... 57

3.5 Defenisi Operasional ... 57

3.6 Metode Pengukuran ... 58

3.7 Metode Analisis Data ... 60

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 62

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 62

4.2 Distribusi Karakteristik Identitas Responden ... 64

4.3 MediaSosial yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 65

4.3.1 Pengantar Informasi Media Sosial yang berkaitan denganPerilaku Seksual ... 65

4.3.2 Penggunaan Media Sosial yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 67

4.3.3 Kategori Pengguanaan Media Sosial yang berkaitan denganPerilaku SeksualAdaptasi Teman Sebaya ... 68

4.4. Teman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 69

4.4.1 Konformitas Teman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 69

4.4.1.1 KategoriKonformitas Teman Sebaya yang Berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 71

4.4.2 Adaptasi Teman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 71

(15)

4.4.2.1 KategoriAdaptasi Teman Sebaya yang berkaitan

denganPerilaku Seksual ... 73

4.5 PerilakuSeksual ... 73

4.5.1 Pengantar Informasi Perilaku Seksual ... 73

4.5.2 Bentuk Perilaku Seksual ... 76

4.5.3 Kategori Perilaku Seksual ... 77

4.6 Hubungan Media Sosial dan Teman Sebaya (Konformitas Teman Sebaya dan Adaptasi Teman Sebaya) dengan Perilaku Seksual ... 78

4.7 Pengaruh Media Sosial dan Teman Sebaya (Konformitas Teman Sebaya dan Adaptasi Teman Sebaya) dengan Perilaku Seksual ... 79

BAB 5. PEMBAHASAN ... 81

5.1 Karakteristik Identitas Responden ... 81

5.2 Media Sosial yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 82

5.2.1 Pengantar Informasi Media Sosial yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 82

5.2.2 Penggunaan Media Sosial yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 84

5.2.3 Kategori Penggunaan Media Sosial yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 87

5.3 Teman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 88

5.3.1 Konformitas Teman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 88

5.3.1.1 Kategori Konformitas Teman Sebaya yang berkaitandengan Perilaku Seksual ... 88

5.3.2 Adaptasi Teman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 92

5.3.2.1 Kategori Adaptasi Teman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 95

5.4 Perilaku Seksual ... 97

5.4.1 Pengantar Informasi Perilaku Seksual ... 97

5.4.2 Bentuk Perilaku Seksual ... 97

5.4.3 KategoriPerilaku Seksual ... 99

5.5 Hubungan Media Sosial dan Teman Sebaya (Konformitas Teman Sebaya dan Adaptasi Teman Sebaya) dengan Perilaku Seksual ... 100

5.6 Pengaruh Media Sosial dan Teman Sebaya (Konformitas Teman Sebaya dan Adaptasi Teman Sebaya) dengan Perilaku Seksual ... 102

5.7 Implikasi Penelitian ... 104

5.8 Keterbatasan Penelitian ... 105

(16)

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 107

6.1. Kesimpulan ... 107

6.2. Saran ... 108

DAFTAR PUSTAKA ... 111

LAMPIRAN ... 116

(17)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

3.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Media Sosial ... 53

3.2 Uji Validitas dan Reliabilitas Konformitas Teman Sebaya ... 54

3.3 Uji Validitas dan Reliabilitas Adaptasi Teman Sebaya ... 54

3.4 Uji Validitas dan Reliabilitas Perilaku Seksual ... 55

3.5 Aspek Pengukuran dari Variabel Penelitian ... 58

4.1 Data Keadaan Siswa SMA Negeri 1 Bandar ... 63

4.2 Distribusi Karakteristik Indentitas Responden berdasarkan Umur, Jenis Kelamin, dan Tempat Tinggal ... 64

4.3 Distribusi Pengantar Informasi Media Sosial yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 65

4.4 Distribusi Jawaban Responden berdasarkan Penggunaan Media Sosial yang berkaitan dengan Perilaku Seksual... 67

4.5 Distribusi Responden berdasarkanKategori Penggunaan Media Sosial yang berkaitan dengan Perilaku Seksual... 68

4.6 Distribusi Jawaban Responden berdasarkan Konformitas Teman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 69

4.7 Distribusi Responden berdasarkan Kategori KonformitasTeman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 71

4.8 Distribusi Jawaban Responden berdasarkan AdaptasiTeman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 71

4.9 Distribusi Responden BerdasarkanKategori Adaptasi Teman Sebaya yang berkaitan dengan Perilaku Seksual ... 73

4.10 Distribusi Pengantar Informasi Perilaku Seksual ... 73

(18)

4.11 Distribusi Jawaban Responden berdasarkanBentuk Perilaku Seksual ... 76 4.12 Dsitribusi Responden berdasarkan Kategori Perilaku Seksual ... 77 4.13 Tabulasi Silang Hubungan Media Sosial dan Teman Sebaya

(Konformitas Teman Sebaya danAdaptasi Teman Sebaya) dengan

Perilaku Seksual... 78 4.14 Hasil Analisis yang Memenuhi Asumsi Multivariat (Kandidat) ... 79 4.15 Hasil Uji Multivariat ... 80

(19)

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

2.1 Teori Stimulus Respon (S-R) Skinner (1943) ... 47

2.2 Kerangka Konsep... 48

4.1 Peta Lokasi SMA Negeri 1 Bandar Kabupaten Simalungun ... 63

4.2 SMA Negeri 1 Bandar Kabupaten Simalungun (2017) ... 64

(20)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

1. Kuesioner ... 116

2. Hasil Uji Validitas Reliabilitas ... 124

3. Hasil Uji Univariat ... 130

4. Hasil Uji Bivariat ... 142

5. Hasil Uji Multivariat ... 145

6. SK Pembimbing ... 148

7. Surat Permohonan Izin Penelitian ... 149

8. Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian ... 150

9. Foto-Foto Dokumentasi ... 151

(21)

DAFTAR ISTILAH

AIDS : Acquired Immuno Deficiency Syndrome

BKKBN : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional HIV : Human Immuno Deficiency Virus

IMS : Infeksi Menular Seksual KTD : Kehamilan Tidak Diinginkan SDGs :Suistainable Development Goals

SKKRI : Sumber Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia YRBS :Youth Risk Behaviour Survey

WHO :World Health Organization

(22)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat dunia merupakan tujuan Suistainable Development Goal (SDGs) yang ditetapkan pada tahun 2015. Salah satu tolak ukur kesejahteraan suatu negara adalah derajat kesehatan masyarakat termasuk remaja. Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 jumlah remaja Indonesia usia 10-24 tahun adalah sekitar 67 juta atau 29 persen dari seluruh populasi (BPS, 2010). Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa sepertiga jumlah penduduk Indonesia merupakan modal untuk menciptakan generasi penerus yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus dalam pertumbuhan dan perkembangannyasehingga dapat membangun negara yang sejahtera.

Masa remaja merupakan masa yang paling rawan yang pernah dihadapi individu.Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998).Oleh karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial dalam pencarian jati dirinya.

Remaja cenderung salah dalam bergaul sehingga banyak melakukan hal yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku di masayarakat seperti perkelahian dan minum-minuman keras, pencurian, perampokan,perusakan/pembakaran, narkoba

(23)

bahkan seks bebas yang biasa disebut kenakalan remaja.Perubahan psikososial yang dialami remaja mendorong remaja untuk mencari tahu mengenai bentuk perubahan baik yang dialaminya maupun lawan jenisnya melalui keluarga, media sosial, maupun teman sebaya.Namun kenyataannya seringkali remaja merasa enggan untuk membahassoal seks dengan anggota keluarga.

Keberadaan seks yang masih dianggap tabu dalam keluarga menajadikan remaja merasa lebih nyaman untuk membahas hal tersebut dengan teman sebayanya atau mencari informasi sendiri di media sosial. Hal ini dapat mengakibatkan remaja mendapatkan informasi yang salah sehingga berisiko terjun dalam perilaku seks pra nikah (Apriyanthi, 2011).

Selain peran keluarga salah satu faktor yang mendukung untuk terjadinya perilaku seksual adalah minimnya penanaman norma agama sejak dini. Beberapa pendapat menyatakan perilaku seksual pada remaja disebabkan oleh merosotnya kepercayaan pada agama.Friedman, Bowden, & Jones (2003) menyatakan bahwa agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri. Sehingga bisa dikatakan penanaman norma agama sejak dini dapat menghindarkan remaja dari kecenderungan melanggar aturan-aturan di dalamnya diantaranya seks bebas.

Perilakuseksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis.Perilaku seksual yang dilakukan remaja atau pasangan yang belum menikah biasa disebut dengan perilaku seksual pra

(24)

nikah.Seks pra nikah adalah perilaku seksual yang dilakukan oleh dua orang, pria dan wanita diluar perkawinan yang sah (Sarwono, 2011).

Perilaku seksual yang dilakukan mulai dari tingkah laku yang dilakukannya seperti sentuhan, berciuman (kissing), menempelkan alat kelamin yang biasanya dilakukan dengan memegang payudara atau melalui oral seks pada alat kelamin tetapi belum bersenggama (necking), dan bercumbuan sampai menempelkan alat kelamin yaitu dengan saling menggesek-gesekan alat kelamin dengan pasangan namun belum bersenggama (petting), dan yang sudah bersenggama (intercourse), yang dilakukan diluar hubungan pernikahan atau lebih dikenal dengan free sex atau seks bebas.

Sebagian besar dari remaja biasanya sudah mengembangkan perilaku seksualnya dengan lawan jenis dalam bentuk pacaran atau percintaan.Berdasarkan hasil penelitian Harningrum (2013) diketahui bahwa remaja melakukan hubungan dengan lawan jenis dalam arti berpacaran adalah sebagai status sosial. Kalau ada status maka ada peran yang harus dilakukan. Peran merupakan sesuatu yang harus dilakukan sesuai dengan status yang disandangnya.

Berpacaran adalah interaksi heteroseksual yang didasari oleh rasa cinta, kasih dan sayang untuk menjalin suatu hubungan yang lebih dekat pada esensinya untuk saling mengenal lebih jauh menuju pernikahan atau untuk mencari pasangan hidup yang dianggap cocok (Bachtiar A.K, 2004). Remaja hanya memikirkan statusnya saja, tetapi mereka tidak mengetahui peran dalam berpacaran itu seperti apa. Oleh karena itu peran yang dilakukan oleh remaja pacaran didefinisikan seperti

(25)

suami istri yang akhirnya juga melakukan hubungan suami istri yaitu seks.

Pacaran dianggap sebagai pintu masuk yang lebih dalam lagi yaitu hubungan seksual sebagai wujud kedekatan dua orang lawan jenis yang sedang berpacaran.

Tanpa ada komitmen yang jelas remaja terbawa untuk melakukan hubungan seksual dengan pacarnya. Hal ini dikarenakan intensitas bertemu, selain itujuga terdapat pengaruh dari media yang didorong dari rasa ingin tahu yang tinggi maka remaja melakukan hubungan seksual pada saat berpacaran. Dari sini juga terjadi pergeseran nilai dan norma.

Nilai merupakan sesuatu yang dianggap benar, nilai yang dimaksud adalah seks itu adalah kebutuhan jasmani suami istri. Norma merupakan aturan untuk bertindak (Tri, 2005). Menurut jenis norma maka termasuk norma tata kelakuan (mores). Norma yang dimaksud adalah hubungan seks itu harusnya dilakukan setelah melakukan pernikahan, akan tetapi nilai ituberubah seks dilakukan pada saat berpacaran.Hal ini yang menjadi alasan kuat bagi peneliti untuk menggunakan siswa yang pernah berpacaran sebagai objek penelitian.

Survei yang dilakukan oleh Youth Risk Behavior Survey (YRBS) secara Nasional di Amerika Serikat pada tahun 2015 mendapati bahwa 19,8% pelajar yang duduk di usia sekolah telah melakukan hubungan seks sebelum menikah (YRSB, 2015). Usia dimana remaja pertama kali melakukan seks juga semakin muda.

Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 tercatat 4,5% remaja laki-laki berusia 15-19 tahun megaku telah melakukan hubungan seks sebelum mereka menikah dan data menunjukkan bahwa para remaja melakukan seks

(26)

untuk pertama kali dalam usia relatif muda. (SDKI, 2012).

Hampir setengah dari seluruh populasi remaja JABODETABEK sudah pernah melakukan hubungan seks. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), diketahui sebanyak 51% remaja di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (JABODETABEK) telah melakukan hubungan seks. Dari kota-kota lain di Indonesia juga didapatkan data remaja yang sudah melakukan seks pranikah tercatat 54% di Surabaya, 47% di Bandung, dan 52% di Medan (BKKBN, 2015).

Perkembangan teknologi yang semakin canggih juga membawa remaja pada fenomena maraknya pengggunaan media sosial.Media sosial merupakan media yang dapat diperoleh dari internet.Media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube digunakan mulai untuk sekadar berkomunikasi hingga mengakses informasi dan data yang penting. Namun kegunaan dari media sosial tersebut sekarang banyak disalah gunakan untuk menyebarkan hal-hal atau informasi negatif seperti penyebarluasan situs video porno yang mendukung remaja untuk melakukan free sex atau seks bebas (Rosmawati, 2014).

Media sosial memiliki peran yang besar dalam munculnya permasalahan remaja. Sarwono(2011) mengemukakan beberapa faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual remaja tersebut, diantaranya: perubahan- perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksualitas) remaja, penyebaran informasi melalui media massadan rangsangan seksual melalui media massa yang dengan adanya teknologi canggih (VCD, Video, internet), remaja yang

(27)

sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru apa yang dilihat atau di dengarnya dari media massa (Sarwono, 2011). Khususnya karena merekapada umumnya belum pernahmengetahui masalah seksual secaralengkap dari orang tuanya yang disebabkan karena orang tuamenganggap tabu masalah seksual.

Brown (2003) dalam Wibowo (2004) mengemukakan bahwa remaja menempatkan media sosial sebagai sumber informasi seksual lebih penting dibandingkan orang tua, karena media sosial memberikan gambaran lebih baik mengenai keinginan dan kebutuhan seksual remaja.

Pengguna internet di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan hasil survei Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) pada tahun 2014 menyatakan bahwa pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 82 juta orang dimana 80 persennya adalah remaja berusia 15-19 tahun. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.

Pemerintah telah melakukan pembatasan yakni dengan pemblokiran akses pornografi pada berbagai media di internet dan mengesahkan Rancangan Undang- Undang Pornografi dan Pornoaksi (RUU PP) untuk mengontrol perilaku seksual remaja di Indonesia. Survei yang dilakukan di JABODETABEK oleh Yayasan Kita dan Buah Hati (2005) dengan 1.705 responden remaja memperoleh hasil dari persen anak usia 9-12 tahun telah mengakses materi pornografi melalui situs-situs dan menunjukkan bahwa usia terpapar pornografi pertama kali adalah usia 13 tahun sebesar 44 persen (BKKBN, 2010). Masalah di atas menyimpulkan bahwa media sosial turut berkontribusi terhadap pembentukan perilaku remajayang dapat

(28)

mengarah pada perilaku seksual berisiko.

Selain media sosial, perilaku seksual pada remaja biasanya juga dilatar belakangi oleh pengaruh pergaulan dengan teman sebaya.Teman sebaya adalah anak- anak atau remaja dengan tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Santrock berpendapat bahwa teman sebaya sangatlah menentukan perilaku-perilaku yang sering ditunjukan remaja dalam keseharian mereka bergaul dengan teman-temannya (Santrock, 2007).

Teman sebaya cenderung mendorong remaja untuk mengikuti aturan kelompoknya.Dalam beberapa kasus aturan-aturan yang ada dalam kelompok dapat menyimpang sehingga memberikan dampak negatif pada perkembangan remaja.Berdasarkan Survei Sumber Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) ditahun 2002-2003, remaja mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada usia 14-19 tahun, perempuan 34,7 persen, dan laki-laki 30,9 persen.

Sedangkan pada usia 20-24 tahun perempuan 48.6 persen dan laki-laki 46.5 persen.

SKRRI melanjutkan analisisnya pada tahun 2003 dengan menetapkan beberapa faktor yang paling mempengaruhi remaja melakukan hubungan seksual antara lain : pertama karena pengaruh teman sebaya atau pacar, kedua, punya teman yang setuju dengan hubungan seksual. Ketiga, punya teman yang mendorong untuk melakukan hubungan seksual.

Teman sebaya merupakan faktor penguat terhadap pembentukan perilaku remaja termasuk dalam pemahamannya tentang perilaku seksual.Morton dan Farhat (2010) menyatakan teman sebaya mempunyai kontribusi dominan dari aspek

(29)

pengaruh dan percontohan (modelling) dalam berperilaku seksual remaja dengan pasangannya.

Menurut Papalia (2008) ada 2 (dua) aspek dalam interaksi teman sebayayang dapat dirumuskan sebagai berikut: Tuntutan Konformitas dan Penyesuaian diri terhadap teman (adaptasi). Konformitas adalah kondisi dimanaremaja mengadopsi sikap atau perilaku remaja lain (teman sebaya) dalam kelompoknya karena tekanan dari kenyataan atau kesan yang diberikan oleh kelompoknya tersebut, sedangkan adaptasi adalah proses penyesuaian diri remaja dengan remaja lain (teman sebaya).

Remaja cenderung memiliki keinginan yang kuat untuk disukai dan diterima oleh teman sebayanya.Kristy Juing (2004) menyatakan “peran teman sebaya sangatlah tinggi dalam mempengaruhi perilaku remaja”.Hal ini sejalan dengan meningkatnya minat individu dalam persahabatan serta keikutsertaan dalam kelompok. Sebagai akibatnya, mereka akan merasa senang apabila diterima (adaptasi) atau sebaliknya akan merasa tertekan dan cemas apabila di keluarkan dan diremehkan oleh teman-teman sebayanya (konformitas).

Remaja menjadikan teman sebaya sebagai cermin penerimaan masyarakat terhadap dirinya.“Bagi remaja pandangan teman-teman terhadap dirinya merupakan hal yang paling penting” (Santrock, 2007).Maka, dapatlah dimengerti bahwa peran teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku lebih besar daripada peran keluarga (Hurlock, 2003).Bukan hanya itu remaja merasakan bahwa membahas soal seks, dan perilaku seksual bersama teman-teman sebayanya jauh lebih menyenangkan dibanding harus bercerita dengan orang tua.Hal ini dapat

(30)

mengakibatkan anak memperoleh informasi yang salah mengenai seks yang diperoleh dari teman sebayanya serta muculnya permasalahan seksual pada remaja.

Semakin maju teknologi, semakin mudah remaja mengakses informasi yang salah mengenai seks. Akibatnya terjadi pergeseran nilai dimana seks pada usia remaja sah-sah saja dilakukan sehingga banyak ditemukan remaja yang hamil di usianya yang masih belia.Kasus kehamilan tidak diinginkan (KTD) pada remaja seringkali berujung pada tindakan aborsi.Aborsi dianggap menjadi jalan paling mudah untuk menghindari malu akibat perilaku seksual pra-nikah yang pernah diperbuat. Wilayah Asia Tenggara pada tahun 2008 WHO memperkirakan ada 27,3 juta kasus aborsi yang dilakukan oleh wanita usia 15-44 tahun, dan sekitar 750.000 sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia, dimana 2.500 di antaranya berakhir dengan kematian.

Risiko kematian akibat aborsi yang tidak aman di wilayah Asia diperkirakan 1 berbanding 3.700 dibanding dengan aborsi yang aman. Angka aborsi di Indonesia diperkirakan mencapai 2,3 juta pertahun. Sekitar 750.000 diantaranya dilakukan oleh remaja (WHO, 2012).

Selain menyebabkan meningkatnya kasus kehamilan tidak diinginkan (KTD), perilaku seksual terlalu dini pada remaja juga menjadi salah satu penyebab remaja berisiko terkena Infeksi Menular Seksual (IMS) serta HIV/AIDS. Data untuk kasus HIV/AIDS menunjukkan bahwa dari total 118.787 kasus HIV dan 45.650 kasus AIDS (Kemenkes, 2013), persentasi tertinggi kasus AIDS 34,5 persen berada pada kelompok umur 20-29 tahun yang terus meningkat setiap tahunnya. Jika dikaitkan dengan karakteristik AIDS yang gejalanya baru muncul setelah 3-10 tahun terinfeksi

(31)

maka hal ini membuktikan bahwa sebagian besar perderita AIDS telah terinfeksi pada usia muda atau pada masa remaja.

Tingginya angka AIDS menunjukkan bahwa perilaku seksual pada remaja memiliki kontribusi yang besar. Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) pada tahun 2014 dari sebanyak 150.296 orang penderita HIV ditemukan sebanyak 55.799 kasus AIDS. Salah satu penyebab peningkatan ini adalah perilaku seksual yang didominasi oleh kelompok usia remaja (Kemenkes RI, 2014).

HIV/AIDS bukanlah penyakit yang hanya dapat ditemukan di daerah metropolitan atau perkotaan saja.Untuk tahun 2017, sampai dengan Februari ini ada 62 kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Siantar dan Simalungun. Rata-rata penderita HIV/AIDS merupakan usia produktif, berkisar usia 45 tahun kebawah namun banyak juga yang terkena virus tersebut berada di usia 19 tahun (Suara Kita, 2017). Untuk kota yang memiliki 38.771 remaja laki-laki dan 35.926 remaja perempuan (BPS Simalungun, 2015) jumlah kasus HIV/AIDS termasuk dalam kategori mengkhawatirkan.

Dalam penelitian ini peneliti mengambil objek SMA Negeri 1 Bandar.SMA Negeri 1 Bandar merupakan SMA yang terletak di Kota Perdagangan, Kabupaten Simalungun dengan jumlah siswa keseluruhan adalah sebanyak 1098 siswa dimana di SMA Negeri 1 Bandar ini peneliti menemukan masalah seperti siswa yang menyimpan dan menonton film porno dari hand phonenya.

Menyimpan danmenonton film porno merupakan salah satu bentuk dari

(32)

kegiatan yang berhubungan dengan perilaku seksual. Kebiasaan menonton video porno akan memancing seseorang untuk mencoba melakukan kegiatan seksual. Di lapangan juga peneliti melihat maraknya fenomena penggunaan media sosial seperti Facebook dan Twitter.Hampir seluruh siswa memiliki akun jejaring sosial mereka masing-masing.Sekarang video porno sangat mudah diakses oleh remaja melalui media sosialdan kemudian menyebarkannya bahkan berbagi dengan teman sebayanya.

Berdasarkan hasil wawancara singkat dengan Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Bandar peneliti menemukan adanya kasus Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dengan jumlah kasus paling tinggi ditemukan 2 kasus KTD dan 1 kasus berujung aborsi pada tahun 2015 dimana kasus ini terulang disetiap tahunnya. Pada tahun 2016 sendiri sekolah mendapat laporan bahwa seorang siswanya telah hamil dan tidak melanjutkan sekolahnya lagi.

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut perlu diadakan penelitian tentang

“Pengaruh Media Sosial dan Teman Sebaya terhadapPerilaku SeksualSiswa yang Berpacaran di SMA Negeri 1 Bandar Kabupaten Simalungun Tahun 2017”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah tingginya kasus perilaku seksual pra nikah pada remaja yang mengakibatkan berbagai masalah kesehatan reproduksi seperti Infeksi Menular Seksual (IMS), kehamilan tidak diinginkan (KTD) dan aborsi yang tidak aman

(33)

bahkan berujung pada kematian. Beberapa pendapat menyatakan bahwa perilaku ini dipengaruhi oleh media sosial dan teman sebaya untuk itu dirumuskan pertanyaan penelitian “apakah ada pengaruh media sosial dan teman sebaya terhadapperilaku seksualsiswa yang berpacaran di SMA Negeri 1 Bandar Kabupaten Simalungun tahun 2017.”

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh media sosial dan teman sebaya terhadap perilaku seksualsiswa yang berpacaran di SMA Negeri 1 Bandar Kabupaten Simalungun tahun 2017.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran pengantar informasi penggunaan media sosial dan kategori penggunaan media sosial pada siswa SMA Negeri 1 Bandar.

2. Mengetahui gambaran teman sebaya dalam hal:

a. Konformitas teman sebayadan kategori konformitas teman sebaya pada siswa SMA Negeri 1 Bandar.

b. Adaptasi teman sebaya dan kategori adaptasi teman sebaya pada siswa SMA Negeri 1 Bandar.

3. Mengetahui gambaran dan kategori perilaku seksual dan pada siswa SMA Negeri 1 Bandar.

4. Mengetahuihubungan media sosial dan teman sebaya (konformitas teman

(34)

sebaya dan adaptasi teman sebaya) dengan perilaku seksual siswa yang berpacaran di SMA Negeri 1 Bandar.

5. Mengetahui pengaruh media sosial dan teman sebaya (konformitas teman sebaya dan adaptasi teman sebaya) terhadap perilaku seksual siswa yang berpacaran SMA Negeri 1 Bandar.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan masukan instansi terkait seperti Dinas Kesehatan Simalungun dalam upaya pengembangan program edukasi bagi remaja tentang dampak perilaku seksual remaja melalui upaya promotif dan preventif.

2. Sebagai masukan kepada pihak SMA Negeri 1 Bandar untuk meningkatkan pengawasan dalam penggunaan media sosial yang mengandung pornografi khususnya di lingkungan sekolah.

3. Sebagai bahan informasi bagi peneliti dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan.

4. Bagi peneliti lain berguna sebagai bahan masukan atau tambahan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan menyelesaikan penelitian selanjutnya.

(35)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Remaja 2.1.1 Pengertian Remaja

Masa remaja adalah masa peralihan dimana terjadi perubahan secara fisik dan psikologis dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Hurlock, 2003).Perubahan psikologis yang terjadi pada remaja meliputi intelektual, kehidupan emosi, dan kehidupan sosial.Perubahan fisik mencakup organ seksual yaitu alat-alat reproduksi sudah mencapai kematangan dan mulai berfungsi dengan baik (Sarwono, 2011).Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2007) bahwa adolescence diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.

Muangman (1980) dalam Sarwono (2011) mendefinisikan remaja berdasarkan defenisi konseptual World Health Organization (WHO) yang mendefinisikan remaja berdasarkan 3 (tiga) kriteria, yaitu: biologis, psikologis, dan sosial ekonomi.

1. Remaja adalah situasi masa ketika individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder sampai saat ia mencapai kematangan seksual.

2. Remaja adalah suatu masa ketika individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.

3. Remaja adalah suatu masa ketika terjadi peralihan dari ketergantungan

(36)

sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.

2.1.2 Ciri-ciri Masa Remaja

Masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan periode sebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri remaja menurut Hurlock (2003), antara lain:

1. Masa remaja sebagai periode yang penting yaitu perubahan-perubahan yang dialami masa remaja akan memberikan dampak langsung pada individu yang bersangkutan dan akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya.

2. Masa remaja sebagai periode pelatihan. Disini berarti perkembangan masa kanak-kanak lagi dan belum dapat dianggap sebagai orang dewasa.

Status remaja tidak jelas, keadaan ini memberi waktu padanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai dengan dirinya

3. Masa remaja sebagai periode perubahan, yaitu perubahan pada emosi, perubahan tubuh, minat dan peran (menjadi dewasa yang mandiri), perubahan pada nilai-nilai yang dianut, serta keinginan akan kebebasan.

4. Masa remaja sebagai masa mencari identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa peranannya dalam masyarakat.

5. Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan ketakutan. Dikatakan demikian karena sulit diatur, cenderung berperilaku yang kurang baik.

Hal ini yang membuat banyak orang tua menjadi takut

(37)

6. Masa remaja adalah masa yang tidak realistik. Remaja cenderung memandang kehidupan dari kacamata berwarna merah jambu, melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya terlebih dalam cita-cita.

7. Masa remaja sebagai masa dewasa. Remaja mengalami kebingungan atau kesulitan di dalam usaha meninggalkan kebiasaaan pada usia sebelumnya dan di dalam memberikan kesan bahwa mereka hampir atau sudah dewasa, yaitu dengan merokok, minum-minuman keras, meggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perilaku seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.

Disimpulkan adanya perubahan fisik maupun psikis pada diri remaja, kecenderungan remaja akan mengalami masalah dalam penyesuaian diri dengan lingkungan. Hal ini diharapkan agar remaja dapat menjalani tugas perkembangan dengan baik-baik dan penuh tanggung jawab.

2.1.3 Tahap Perkembangan Masa Remaja

Semua aspek perkembangan dalam masa remaja secara global berlangsung antar umur 12 – 21 tahun, dengan pembagian usia 12 – 15 tahun adalah remaja awal, 15 – 18 tahun adalah remaja pertengahan, 18 – 21 tahun adalah masa remaja akhir (Monks, et al. 2006).

Menurut tahap perkembangan, masa remaja dibagi menjadi tiga tahap perkembangan yaitu :

1. Masa remaja awal (12 – 15 tahun), dengan ciri khas antara lain:

(38)

a. Lebih dekat dengan teman sebaya b. Ingin bebas

c. Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berfikir abstrak

2. Masa remaja tengah (15 – 18 tahun), dengan ciri khas antara lain:

a. Mencari identitas diri

b. Timbulnya keinginan untuk kencan c. Mempunyai rasa cinta yang mendalam

d. Mengembangkan kemampuan berfikir abstrak e. Berkhayal tentang aktifitas seks

3. Masa remaja akhir (18 – 21 tahun), dengan ciri khas antara lain:

a. Pengungkapan identitas diri

b. Lebih selektif dalam mencari teman sebaya c. Mempunyai citra jasmani dirinya

d. Dapat mewujudkan rasa cinta e. Mampu berfikir abstrak 2.1.4 Perkembangan Fisik

Pada masa remaja, pertumbuhan fisik berlangsung sangat pesat.Dalam perkembangan seksualitas remaja, ditandai dengan dua ciri yaitu ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder.Berikut ini adalah uraian lebih lanjut mengenai kedua hal tersebut.

a. Ciri-ciri seks primer

(39)

Dalam modul kesehatan reproduksi remaja (Depkes, 2002) disebutkan bahwa ciri-ciri seks primer pada remaja adalah:

1. Remaja laki-laki

Remaja laki-laki sudah bisa melakukan fungsi reproduksi bila telah mengalami mimpi basah. Mimpi basah biasanya terjadi pada remaja laki- laki usia antara 10-15 tahun.

2. Remaja perempuan

Jika remaja perempuan sudah mengalami menarche (menstruasi).Menstruasi adalah peristiwa keluarnya cairan darah dari alat kelamin perempuan berupa luruhnya lapisan dinding dalam rahim yang banyak mengandung darah.

b. Ciri-ciri seks sekunder

Menurut Sarwono (2011), ciri-ciri seks sekunder pada masa remaja adalah sebagai berikut:

1. Remaja laki-laki

a. Bahu melebar, pinggul menyempit

b. Pertumbuhan rambut di sekitar alat kelamin, ketiak, dada, tangan, dan kaki

c. Kulit menjadi lebih kasar dan tebal d. Produksi keringat menjadi lebih banyak 2. Remaja perempuan

a. Pinggul lebar, bulat, dan membesar, putih susu membesar dan

(40)

menonjol, serta berkembangnya kelenjar susu, payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat.

b. Kulit menjadi lebih kasar, lebih tebal, agak pucat, lubang pori-pori bertambah besar, kelenjar lemak dan kelenjar keringat menjadi lebih aktif lagi.

c. Otot semakin besar dan semakin kuat, terutama pada pertengahan dan menjelang akhir masa puber, sehingga memberikan bentuk pada bahu, lengan, dan tungkai.

d. Suara menjadi lebih penuh dan semakin merdu.

2.2. Perilaku Seksual Remaja 2.2.1. Pengertian Perilaku

Menurut Skinner dalam Notoatmodjo (2010) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).Perilaku manusia dari segi biologis adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas seperti berjalan, berbicara, menangis, bekerja dan sebagainya.Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus Skinner membedakan perilaku menjadi dua:

a. Perilaku tertutup (Covert behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup. Respon terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan atau kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang

(41)

yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

b. Perilaku terbuka (Overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat orang lain. Skinner dalam Notoatmodjo (2010) mengemukakan bahwa perilaku adalah merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan atau respon, respon dibedakan menjadi dua respon :

1) Respondent response atau reflexive response, ialah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu yang relative tetap.

Responden respon (Respondent behavior) mencakup juga emosi respon dan emotional behavior.

2) Operant response atau instrumental respon adalah respon yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimuly atau reinforcer. Proses pembentukan atau perubahan perilaku dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari dalam maupun dari luar individu. Aspek-aspek dalam diri individu yang sangat berperan/berpengaruh dalam perubahan perilaku adalah persepsi, motivasi dan emosi. Persepsi adalah pengamatan yang merupakan kombinasi dari penglihatan, pendengaran, penciuman serta pengalaman

(42)

masa lalu. Motivasi adalah dorongan bertindak untuk memuaskan sesuatu kebutuhan. Dorongan dalam motivasi diwujudkan dalam bentuk tindakan (Sarwono, 2006).

2.2.2. Domain Perilaku

Bloom (1908, dalam Notoatmojo; 2010) membagi perilaku menjadi tiga area.

Ketiga domain itu antara lain :

1. Pengetahuan (knowlegde)

Domain pengetahuan merupakan hal mengingat sesuatu (recall) pengetahuan yang sudah ada, pengembangan intelektual dan keterampilan.Ada enam tingkatan domain pengetahuan yaitu :

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

b. Memahami (Comprehension)

Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

c. Penerapan (Application)

Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.

d. Analisis(Analysis)

Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek

(43)

ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan ada kaitannya dengan yang lain.

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesa menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan baru.

f. Evaluasi(Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi/objek.

2. Sikap (attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Allport (1937) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok :

- Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu objek

- Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek

- Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)

Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan : a. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).

b. Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

(44)

c. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

d. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.

3. Tindakan (practice)

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior) (Rogers, E.M., 2003). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan faktor dukungan (support) praktik ini mempunyai beberapa tingkatan :

a. Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sepengaruh dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.

b. Respon terpimpin (guide response)

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat kedua.

c. Mekanisme (mechanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga.

(45)

d. Adopsi (adoption)

Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik.Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu (recall).Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.

Menurut penelitian Rogers, E.M. (2003) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan yakni :

a. Kesadaran (awareness)

Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek)

b. Tertarik (interest)

Dimana orang mulai tertarik pada stimulus c. Evaluasi (evaluation)

Menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

d. Mencoba (trial)

Dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.

e. Menerima (adoption)

(46)

Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

2.2.3. Perubahan Perilaku

Menurut WHO yang dikutip dalam Soekidjo (2007), perubahan perilaku dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu:

a. Perubahan Alamiah (Natural Change)

Perilaku manusia selalu berubah, sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau sosial budaya dan ekonomi, maka anggota masyarakat di dalamnya juga akan mengalami perubahan.

b. Perubahan Terencana (Planned Change)

Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh subjek.Dalam melakukan perilaku yang telah direncanakan dipengaruhi oleh kesediaan individu untuk berubah, misalnya apabila terjadi suatu inovasi atau program-program pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat menerima inovasi atau perubahan tersebut dan sebagian orang lagi sangat lambat menerima inovasi atau perubahan tersebut.

2.2.4. Perilaku Seksual pada Remaja

Menurut Sarwono (2011), perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik yang dilakukan sendiri, dengan lawan jenis maupun sesama jenis tanpa adanya ikatan pernikahan menurut agama. Menurut Stuart dan

(47)

Sundeen (1999), perilaku seksual yang sehat dan adaptif dilakukan di tempat pribadi dalam ikatan yang sah menurut hukum. Sedangkan perilaku seksual pranikah merupakan perilaku seksual yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing (Mu’tadin, 2002).

Perkembangan fisik termasuk organ seksual yaitu terjadi pada remaja termasuk kematangan serta peningkatan kadar hormon reproduksi atau hormone seks baik pada laki-laki maupun pada perempuan yang akan menyebabkan perubahan perilaku seksual remaja secara keseluruhan. Pada kehidupan psikologis remaja, perkembangan organ seksual mempunyai pengaruh kuat dalam minta remaja terhadap lawan jenis.Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap lawan jenis sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas (Santrock, 2007).

Remaja perempuan lebih memperlihatkan bentuk tubuh yang menarik bagi remaja laki-laki, demikian pula remaja laki-laki tubuhnya menjadi kekar yang menarik bagi remaja perempuan (Rumini dan Sundari, 2004).Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis.Matangnya fungsi-fungsi seksual maka timbul pula dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan untuk pemuasan seksual.Sebagian besar dari remaja biasanya sudah mengembangkan perilaku seksualnya dengan lawan jenis dalam bentuk pacaran atau percintaan.Pangkahila mengemukakan bahwa bila ada kesempatan para remaja melakukan sentuhan fisik, mengadakan pertemuan untuk

(48)

bercumbu bahkan kadang-kadang remaja tersebut mencari kesempatan untuk melakukan hubungan seksual (Pangkahila dalam Soetjiningsih, 2004).

Berdasarkan hasil penelitian Harningrum diketahui bahwa remaja melakukan hubungan dengan lawan jenis dalam arti berpacaran adalah sebagai status sosial (Harningrum, 2013). Kalau ada status maka ada peran yang harus dilakukan. Peran merupakan sesuatu yang harus dilakukan sesuai dengan status yang disandangnya.Berpacaran adalah interaksi heteroseksual yang didasari oleh rasa cinta, kasih dan sayang untuk menjalin suatu hubungan yang lebih dekat pada esensinya untuk saling mengenal lebih jauh menuju pernikahan atauuntukmencari pasangan hidup yang dianggap cocok (Bachtiar A.K, 2004). Remaja hanya memikirkan statusnya saja, tetapi mereka tidak mengetahui peran dalam berpacaran itu seperti apa. Oleh karena itu peran yang dilakukan oleh remaja pacaran didefinisikan seperti suami istri yang akhirnya juga melakukan hubungan suami istri yaitu seks.

Pacaran dianggap sebagai pintu masuk yang lebih dalam lagi yaitu hubungan seksual sebagai wujud kedekatan dua orang lawan jenis yang sedang berpacaran.

Tanpa ada komitmen yang jelas remaja terbawa untuk melakukan hubungan seksual dengan pacarnya. Remaja mendapat pengalaman pertama melakukan hubungan seksual dari pacarnya. Hal ini dikarenakan intensitas bertemu, selain itu juga terdapat pengaruh dari media yang didorong dari rasa ingin tahu yang tinggi maka remaja melakukan hubungan seksual pada saat berpacaran. Dari sini juga terjadi pergeseran nilai dan norma. Nilai merupakan sesuatu yang dianggap benar, nilai yang dimaksud adalah seks itu adalah kebutuhan jasmani suami istri.

(49)

Norma merupakan aturan untuk bertindak (Tri, 2000). Menurut jenis norma maka termasuk norma tata kelakuan (mores). Norma yang dimaksud adalah hubungan seks itu harusnya dilakukan setelah melakukan pernikahan, akan tetapi nilai ituberubah seks dilakukan pada saat berpacaran.

Meskipun fungsi seksual remaja perempuan lebih cepat matang dari pada remaja laki-laki, tetapi pada perkembangannya remaja laki-laki lebih aktif secara seksual dari pada remaja perempuan.Banyak ahli berpendapat hal ini dikarenakan adanya perbedaan sosialisasi seksual antara remaja perempuan dan remaja laki- laki.Bahkan hubungan seks sebelum menikah dianggap “benar” apabila orang-orang yang terlibat saling mencintai ataupun saling terikat.Mereka sering merasionalisasikan tingkah laku seksual mereka dengan mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa mereka terhanyut cinta.Sejumlah peneliti menemukan bahwa remaja perempuan, lebih daripada remaja laki-laki, mengatakan bahwa alasan utama mereka aktif secara seksual adalah karena jatuh cinta (Santrock, 2007).

2.2.5. Bentuk Perilaku Seksual pada Remaja

Daniawati dalam Utari (2012) menyatakan remaja melakukan berbagai macam bentuk perilaku seksual berisiko yang terdiri atas tahapan-tahapan tertentu yaitu dimulai dari :

a. Berpegangan tangan

b. Berciuman, meliputi perilaku cium kering dan cium basah. Cium kering diartikan sebagai cium pipi dengan pipi atau pipi dengan bibir atau kening yang dapat menimbulkan imajinasi seksual yang dapat berkembang ke tahapan

(50)

perilaku seksual lainnya. Sedangkan cium basah (french kiss) merupakan aktifitas seksual berupa sentuhan bibir dengan bibir (Sarwono, 2011).

c. Berpelukan

d. Memegang atau meraba bagian sensitif (seperti payudara, vagina, dan penis) e. Necking, merupakan aktifitas seksual dimana individu melakukan sentukan

menggunakan mulut pada leher pasangan baik meninggalkan bekas maupun tidak.

f. Petting, merupakan bersatunya tubuh individu dengan pasangan tanpa memasukkan alat genital ke dalam genital pasangannya. Petting dapat berisiko penularan penyakit menular seksual.

g. Oral sex, merupakan tindakan seksual memasukkan alat kelamin ke dalam mulut.

h. Bersenggama (sexual intercourse), merupakan aktifitas seksual dengan cara memasukkan kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin perempuan. Risiko yang dapat ditimbulkan adalah kekhawatiran akan kehamilan yang tidak diinginkan yang berujung pada aborsi, penularan penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS yang berujung pada kematian.

2.2.6. Kategori Perilaku Seksual pada Remaja

L”Engle et.al. dalam Tjiptaningrum (2009) mengatakan bahwa perilaku seksual terbagi menjadi dua, yaitu:

a. Ringan mencakup : 1) menaksir; 2) pergi berkencan; 3) menghayal; 4) masturbasi; 5) berpegangan tangan; 6) berciuman kening dan pipi; 7)

(51)

memeluk.

b. Berat mencakup: 1) berciuman bibir/mulut dan lidah; 2) meraba dan mencium bagian sensitif seperti payudara, alat kelamin; 3) necking; 4) petting atau menempelkan atau menggesekkan alat kelamin; 5) oral sex;

6) bersenggama (sexual intercourse).

2.2.7. Dampak Perilaku Seksual Remaja

Perilaku seksual dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada remaja, diantaranya sebagai berikut :

a. Dampak psikologis

Dampak psikologis dari perilaku seksual pada remaja diantaranya perasaan marah, takut, cemas, depresi, rendah diri, bersalah dan berdosa.

b. Dampak fisiologis

Dampak fisiologis dari perilaku seksual tersebut diantaranya dapat menimbulkan kehamilan tidak diinginkan dan aborsi.

c. Dampak sosial

Dampak sosial yang timbul akibat perilakuseksual yang dilakukan sebelum saatnya antara lain dikucilkan, putus sekolah pada remaja perempuan yang hamil, dan perubahan peran menjadi ibu. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan menolak keadaan tersebut (Sarwono, 2011).

d. Dampak fisik

Dampak fisik lainnya sendiri menurut Sarwono (2011) adalah

(52)

berkembangnya penyakit menular seksual di kalangan remaja, dengan frekuensi penderita penyakit menular seksual (PMS) yang tertinggi antara usia 15-24 tahun. Infeksi penyakit menular seksual dapat menyebabkan kemandulan dan rasa sakit kronis serta meningkatkan risiko terkena PMS dan HIV/AIDS.

2.3. Media Sosial

2.3.1 Defenisi Media Sosial

Menurut “What is”, media sosial adalah “saluran komunikasi online kolektif yang didedikasikan untuk input, interaksi berbagai konten, dan kolaborasi berbasis masyarakat”. Situs web dan aplikasi yang didedikasikan untuk forum, microblogging, jaringan sosial, bookmark sosial, kurasi sosial, dan wiki adalah salah satu jenis media sosial (Laksono, dkk, 2014).

Social media atau dalam Bahasa Indonesia disebut media sosial adalah media yang didesain untuk mempermudah interaksi sosial yang bersifat interaktif atau dua arah.Media sosial berbasis pada teknologi internet yang mengubah pola penyebaran informasi dari yang sebelumnya bersifat satu ke banyak audiens, banyak audiens ke banyak audiens (Paramitha, 2011).

Teknologi informasi telah membuka mata dunia dengan dunia baru, interaksi baru, market place baru, dan sebuah jaringan bisnis dunia yang tanpa batas.Kemajuan teknologi di bidang informasi berupa pengembangan internet baik website maupun chating menjadikan dunia semakin mudah dijangkau. Namun, kemajuan

(53)

teknologi informasi tersebut bisa berdampak positif maupun negatif tergantung pada pemanfaatannya. Internet adalah penemuan penting, saat ini kehidupan manusia sebagian besar terpengaruhi olehnya, mulai dari penggunaan media-media social onlinesepertiTwitter, Facebook, Instagram dan lain-lain.Sebagai contoh pengguna mediasocial onlinesepertiFacebook di Indonesia sendiri pertumbuhannya merupakan yang tertinggi di dunia (Eldon, 2010).

Media memiliki peran yang besar dalam munculnya permasalahan remaja.Sarwonomengemukakan beberapa faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual remaja tersebut, diantaranya: perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksualitas) remaja, penyebaran informasi melalui media massa. Rangsangan seksual melalui media sosial melalui teknologi canggih (VCD, Video, internet), remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru apa yang dilihat atau di dengarnya dari media sosial (Sarwono, 2011).

Memasuki masa remaja ini, seseorang mulai mengalami beberapa perubahan, diantaranya adalah perubahan perkembangan kognitif dan sosial dalam diri individu yang akan mempengaruhi perilaku, sikap dan nilai-nilai sepanjang masa remaja (Mukhtar, dkk: 2003). Terkait dengan hadirnya situs media sosial yang telah terintegrasi dalam kehidupan keseharian mereka, perubahan perkembangan kognitif dan sosial pada remaja ini tentunya juga akan menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku mereka dalam menggunakan media sosial.

(54)

Menurut Juju (2010), media sosial adalah sebuat media online yang memungkinkan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan suatu karya. Juju juga mengatakan bahwa apa yang disampaikan dalam media sosial memberikan efek kekuatan (power) tersendiri karena berbasis pembangunannya berupa teknologi dan juga berbagai media interaksi yang dikomunikasikan dalam teks, gambar, audio, maupun video. Tambahan pula, elemen jejaring sosial yang memang ditujukan untuk terus terkoneksi, berkomunikasi bahkan saling berbagi (sharing). Namur ketidak terbatasan dari media ini juga dapat berdampak negatif mulai dari berbagi link-link dari situs porno hingga keberadaan chat sex yang dapat berinvestasi untuk terjadinya perilaku seksual dapat merugikan.

Media sosial dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian besar, yaitu:

1. Social Networks, media sosial untuk bersosialisasi dan berinteraksi (Facebook, Myspace, Hi5, Linked in, Bebo, dan sebagainya)

2. Discuss, media sosial yang memfasilitasi sekelompok orang untuk melakukan obrolan dan diskusi (Google Talk, Yahoo! M, Skype, Phorum, dan sebagainya) 3. Share, media sosial yang memfasilitasi kita untuk saling berbagi file, video,

music (Youtube, Slideshare, Feedback, Flickr, Crowdstorm, dan sebagainya) 4. Publish, (Wordpress, Wikipedia, Blog, Wikia, Digg, dan sebagainya)

5. Social Game, media sosial berupa game yang dapat dilakukan atau dimainkan bersama-sama (Koongregate, Doof, Pogo, Café.com, dan sebagainya)

6. MMO (Kartrider, Warcraft, Neopets, Conan, dan sebagainya) 7. Virtual Worlds (Habbo, Imvu, Starday, dan sebagainya)

(55)

8. Livecast (Y! Live, Blog TV, Justin TV, Listream TV, Livecastr, dan sebagainya)

9. Livestream (Socializr, Friendsfreed, dan sebagainya)

10. Micro Blog (Twitter, Plurk, Pownce, Ttwirxr, Plazes, Tweetpeek, dan sebagainya)

Menurut Horrigan, terdapat dua hal mendasar yang harus diamati untuk mengetahui intensitas penggunaan Situs Jejaring Sosial seseorang, yakni frekuensi Situs Jejaring Sosial yang sering digunakan dan lama menggunakan tiap kali mengakses Situs Jejaring Sosial yang dilakukan oleh pengguna Situs Jejaring Sosial (Horrigan, 2000).

The Graphic, Visualization & Usability Center, the Georgia Institute of Technology (dalam Surya: 2002) menggolongkan pengguna Situs Jejaring Sosial menjadi tiga kategori dengan berdasarkan intensitas Situs Jejaring Sosial yang digunakan:

1) Heavy users (lebih dari 40 jam per bulan).

2) Medium users (antara 10 sampai 40 jam per bulan) 3) Light users (kurang dari 10 jam per bulan)

Horrigan (2002) menggolongkan aktivitas - aktivitas Situs Jejaring Sosial yang dilakukan para pengguna Situs Jejaring Sosial menjadi empat kelompok kepentingan penggunaan Situs Jejaring Sosial, yaitu:

1. Berkrim pesan melalui E-mail

2. Aktivitas kesenangan (Fun activities) yaitu aktivitas yang sifatnya untuk

Gambar

Gambar 4.1Peta Lokasi SMA Negeri 1 Bandar Kabupaten Simalungun  Sumber: Google Map data, 2017
Gambar 4.2   SMA Negeri 1 Bandar Kabupaten Simalungun (2018)  Sumber: Dokumentasi peneliti, 2017

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa besarnya nilai hubungan interaksi sosial kelompok teman sebaya (variabel x) terhadap perilaku konsumtif remaja

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja di lingkungan Sekolah Menengah Kejuruan Y di Pacitan pada tahun

Dari faktor-faktor yang ada dalam interaksi teman sebaya seperti kecemasan, penerimaan teman sebaya, frustasi, konflik, dan lainnya merupakan hal yang paling

Interaksi bersama teman sebaya merupakan faktor yang dapat memicu remaja melakukan perilaku seksual karena kebiasaan teman sebaya yang telah melakukan perilaku seksual

Ada hubungan, jenis kelamin, pengetahuan kespro, sikap, pendidikan orang tua lingkungan tempat tinggal, peran orang tua, teman sebaya dengan perilaku seksual, variabel paling

Cluster Random Sampling. Instrumen yang digunakan ialah skala perilaku seksual berpacaran, skala peran ayah, skala dukungan teman sebaya dan skala ekspose media

Ada hubungan, jenis kelamin, pengetahuan kespro, sikap, pendidikan orang tua lingkungan tempat tinggal, peran orang tua, teman sebaya dengan perilaku seksual, variabel paling

Ada pengaruh teman sebaya dan sumber informasi terhadap perilaku seksual pranikah pada siswa SMA Negeri 2 Medan. Sebagai bahan masukan bagi guru dan Kepala Sekolah SMA Negeri