• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

C. Pengantar Pasar Modal Syariah

Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia merupakan sebuah negara dengan penduduk yang mayoritas beragama Islam, oleh karena itu sektor industri pasar modal diharapkan bisa mengakomodir dan sekaligus melibatkan peranserta warga muslim dimaksud secara langsung untuk ikut aktif menjadi pelaku utama pasar, tentunya sebagai investor lokal di pasar modal Indonesia.

Dengan dikembangkannya produk-produk investasi syariah di pasar modal Indonesia, diharapkan bisa mewujudkan pasar modal Indonesia menjadi suatu market yang bisa menarik para investor yang ingin berinvestasi dengan memperhatikan kesesuaian produk atau instrumen yang sejalan dengan kaedah-kaedah ajaran Islam. Hal ini tidak hanyan terhadap investor lokal akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah hal ini diharapkan pula bisa memberikan daya tarik tersendiri terhadap minat investor dari macan negara.

Dalam ajaran Islam, bahwa kegiatan berinvestasi dapat dikatagorikan sebagai kegiatan muamalah itu hukumnya boleh selagi tidak ada dalil yang mengharamkannya. Dengan demikian pembentukan dan perkembangan pasar modal syariah harus bersumber hukum Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan pasar modal syariah ( Islamic stock exchange) adalah kegiatan yang berhubungan dengan perdagangan efek syariah perusahaan public yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga profesi yang berkaitan dengannya, dimana semua produk dan mekanisme operasionalnya berjalan tidak bertentangan dengan hukum muamalat Islamiyah. Pasar modal syariah dapat juga diartikan sebagai pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah.20

Salah satu hal yang dibahas dalam ilmu fiqih adalah pembahasan tentang muamalah, yaitu hubungan diantara manusia yang terkait dengan perniagaan. Berdasarkan hal tersebut maka kegiatan pasar modal syariah dikembangkan dengan basis fiqih muamalah. Didalam fiqih muamalah terdapat kaidah yang

menyatakan bahwa “pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukkan

kecuali ada dalil yang melarangnya”. Konsep inilah yang menjadi prinsip pasar modal syariah.

Prinsip syariah adalah prinsip yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist, di Indonesia pasar modal syariah diatur oleh DSN-MUI.

Gambar 2.1

Prinsip Pasar Modal Syariah

Sumber : www.bapepam.go.id

1. Prinsip Dasar di Pasar Modal Syariah Indonesia

Sebagaimana telah diketahui bahwa pasar modal syariah di Indonesia mengacu pada prinsip-prinsip syariah yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist. Apabila kita melihat dalam Al-Qur’an dan Hadist sebagai sumber

utama Islam maka kita dapat melihat beberapa ketentuan mengenai hal tersebut :

“... Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (QS 2:275)

“ Hai orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu...” (QS 4:29)

“Hai orang beriman, penuhilah akd-akad itu...” (QS 5:1)

“Rasulullah SAW melarang jual beli (yang mengandung) gharar” (HR Al Baihaqi dari Ibnu Umar)

“Tidak boleh menjual sesuatu hingga kamu memiliki” (HR Baihaqi dari Hukaim bi Hizam)

Berdasarkan Al-Qur’an, Hadist dan pendapat para ahli Fiqh (ajaran Islam), sesuatu yang diharamkan adalah : 21

a. Haram karena bendanya (zatnya)

Pelanggaran kegiatan muamalah ini disebabkan karena benda atau zat yang menjadi objek dari kegiatan tersebut berdasarkan ketentuan Al-Qur’an dan Hadist telah dilarang/ diharamkan. Benda-benda tersebut,

antara lain: 1. Babi, 2. Khamr (minuman keras), 3. Bangkai binatang, 4. Darah.

b. Haram selain karena bendanya (zatnya)

Pengertian dari pelanggaran atas kegiatan ini adalah suatu kegiatan yang objek dari kegiatan tersebut bukan merupakan benda-benda yang di haramkan karena zatnya artinya benda-benda tersebut benda-benda yang dibolehkan (dihalalkan). Akan tetapi benda tersebut menjadi diharamkan disebabkan adanya unsur:

1) Tadlis

2) Taghir/ Gharar 3) Riba

4) Terjadinya : Ikhtikar dan Bay Najash c. Tidak sah akadnya

Seperti halnya dengan pengharaman disebabkan karena selain zatnya maka pada kegiatan ini benda yang dijadikan objeknya adalah benda yang berdasarkan zatnya dikatagorikan halal (di bolehkan tetapi benda tersebuut menjadi haram di sebabkan akad atau perjanjian yang menjadikan dasar atas transaksi tersebut dilarang/ diharamkan oleh ajaran Islam.

Perjanjian-perjanjian tersebut, antara lain:

2) Terjadi suatu perjanjian dimana pelaku, objek dan periodenya sama.

Selain ajaran-ajaran dari Al-Quran dan Hadist, pasar modal syariah di Indonesia juga diatur oleh Undang-undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995. Bapepam-LK selaku regulator pasa modal di Indonesia, memiliki beberapa peraturan khusus terkait pasar modal syariah, sebagai berikut: 1) UU No.19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara 2) Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Pernerbitan Daftar

Efek Syariah

3) Peraturan Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah 4) Peraturan Nomor IX.A.14 tentang Akad-akad yang digunakan

dalam Penerbitan Efek Syariah.

Selain peraturan yang berdasarkan dari Al-Qur’an dan Hadist, serta peraturan UU NO.18 Tahun 1995, pasar modal di Indonesia juga terdapat fatwa yang dapat dijadikan sebagi rujukan ditetapkannya efek syariah. Landasan fatwa ini di keluarkan oleh Dewan Syariah Nasional MUI (DSN-MUI), fatwa ini diperlukan sebagai dasar untuk menetapkan prinsip-prinsip syariah yang dapat diterapkan di pasar modal. Sampai

dengan saat ini, pasar modal syariah di Indonesia telah memiliki landasan fatwa sebagai berikut : 22

1) Fatwa DSN-MUI No. 20/DSN-MUI/IX/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksadana Syariah.

2) Fatwa DSN-MUI No. 32/DSN-MUI/IX/2002 tentang obligasi syariah.

3) Fatwa DSN-MUI No. 33/ DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah.

4) Fatwa DSN-MUI No. 40/ DSN-MUI/ X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal.

5) Fatwa DSN-MUI No. 41/DSN-MUI/III/2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah.

6) Fatwa DSN-MUI No. 59/DSN-MUI/V/2007 tentang Obligasi Syariah Mudharabah Konversi.

7) Fatwa DSN-MUI No. 65/DSN-MUI/III/2008 tentang Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) Syariah.

8) Fatwa DSN-MUI No. 66/DSN-MUI/III/2008 tentang Waran Syariah.

22 Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah (Jakarta : Prenadamedia Kencana,

9) Fatwa DSN-MUI No. 69/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

10) Fatwa DSN-MUI No. 70/DSN-MUI/VI/2008 tentang Metode Penerbitan SBSN.

11) Fatwa DSN-MUI No. 72/DSN-MUI/VI/2008 tentang SBSN Ijarah Sale and Lease Back.

12) Fatwa DSN-MUI No. 76/DSN-MUI/VI/2010 tentang SBSN Ijarah Asset To Be Leased.

13) Fatwa DSN-MUI No. 80/DSN-MUI/III/2010 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Reguler Bursa Efek. 14) Fatwa DSN-MUI No. 82/DSN-MUI/VIII/2011 tentang Perdagangan

Komoditi Berdasarkan Prinsip Syariah.

15) Fatwa DSN-MUI No. 94/DSN-MUI/IV/2014 tentang Repo Surat Berharga Syariah (SBS) Berdasarkan Prinsip Syariah.

16) Fatwa DSN-MUI No. 95/DSN-MUI/VI/2014 tentang SBSN Wakalah.

Dokumen terkait