DI WISMA SANTRI EDI MANCORO
III. PENGARUH BERKAH KIAI TERHADAP PERILAKU SANTR
Salah satu esensi dari berkah adalah munculnya karisma dari sosok seorang kiai secara otomatis atau tidak bisa dibuat-buat. Aura karisma seorang kiai dipengaruhi oleh bagaimana pola berpikir seorang kiai tersebut apakah mampu memikirkan mengenai nasib para jama’ah/santrinya dan bisa meninggalkan hal yang berbau keduniawian atau malah justru seperti kiai- kiai pada saat ini yang banyak memanfaatkan momen ketenarannya dengan meraup untung yang lebih banyak, akan tetapi tidak berpikir bagaimana dengan nasib para jamaah/santrinya.
Menurut Max Weber, sebagaimana yang diungkap kembali oleh Sukamto SH, MS. Kepemimpinan yang bersumber pada kekuasaan luar biasa disebut kepemiminan karisma atau charismatic authority. Kepemimpinan
jelas ini didasarkan pada identifikasi psikologis seseorang terhadap orang lain. Makna identifikasi adalah keterlibatan emosional seseorang individu dengan individu yang lain akhirnya nasib orang itu sendiri berkaitan dengan nasib orang lain. Bagi para pengikut, pemimpin adalah harapan untuk suatu kehidupan yang lebih baik, ia adalah penyelamat dan pelindung.
Kepemimpinan kharismatik didasarkan kualitas luar biasa yang
0
dimiliki oleh seseorang sebagai pribadi. Pengertian ini sangat teorologis, / karena untuk mengidentifikasi daya tarik pribadi yang melekat pada diri seseorang, hams menggunakan asumsi bahwa kemantapan dan kualitas yang dimiliki merupakan anugerah Tuhan. Makanya Max Weber sering menyebut sifat pemimpin seperti ini dimiliki oleh mereka yang menjadi pemimpin
agama. Penampilan seseorang bisa dianggap karismatik dapat diketahui dari ciri-ciri fisiknya, misalnya matanya yang bercahaya, suaranya yang kuat dagunya yang menonjol, atau tanda-tanda yang lain.
Istilah karismatik sendiri menunjuk pada kualitas kepribadian seseorang. Karena posisi yang demikian itu maka ia dapat dibedakan dari orang kebanyakan. Juga karena keunggulan kepribadian itu, ia dianggap atau bahkan diyakini memiliki kekuasaan supranatural.
Dilihat dari sisi para pengikut pemimpin kharismatik, rata-rata mereka seringkah bertingkah labil dan mudah berubah-ubah. Artinya,mereka terpengaruh oleh peran pemimpin tersebut yang cenderung bersifat individualistic, tergantung inspirasi pemimpinnya. Para pengikut yang sering memiliki loyalitas yang tinggi kepada pemimpinnya, bahkan mereka nyaris mengabaikan kewajiban keijanya, keluarganya. Bahkan mereka tidak segan- segan menjual harta bendanya demi mengikuti ajaran pemimpinya. Antara pemimpin dan pengikut biasanya tercipta dari sebuah hubungan erat, penuh emosional, layaknya sebuah hubungan keluarga. Segala motivasi dan nasehat dari sang pemimpin kepada pengikutnya diterima dan diyakini sebagai cermin yang bersumber pada kekuasaan Tuhan.
Kepemimpinan kiai selama ini memang mirip dengan gaya kepemimpinan karismatik. Dalam penelitian horikoshi, kiai adalah figure yang berperan sebagai penyaring informasi dalam memacu sebuah perubahan dalam pondok pesantren dan masyarakat sekitar. Kedudukan kiai adalah pemegang kepemimpinan yang menawarkan agenda perubahan social
52
keagamaan dalam kehidupan social maupun perilaku keagamaan santri. Sebagai sosok yang difigurkan oleh masyarakat secara tidak langsung menjadikan kiai mampu memfungsikan dirinya dalam mendinamisasikan pelbagai aktifitas sosial masyarakat.
Pun demikian dengan penelitian yang dilakukan oleh Jackson, kiai sebagai tokoh tradisional memiliki peran yang sangat dominan dalam mempengaruhi komunitas. Kekuatan hubungan kewibawaan kiai dalam kehidupan masyarakat dibuktikan dengan adanya kepatuhan dan keikutsertaaan masyarakat dibidang sosial keagamaan yang ditentukan oleh kalangan orang tua atau tokoh - tokoh masyarakat Maka wajar apabila kiai mampu membentuk tradisi cultural yang menempatkan unsur keagamaan sebagai symbol kepemimpinan masyarakat Fungsi kiai tidak hanya sebagai ahli ilmu keagamaan yang sikap dan tanduknya dijadikan sebagai rujukan masyarakat, melainkan juga sebagai pemimpin masyarakat yang seringkah dimintai pertimbangan dalam menjaga stabilitas keamanan.
Ada dua faktor yang menyebabkan posisi kiai begitu kuat dimasyarakat, pertama, kiai adalah orang berpengetahuan luar dan kepadanya para santri serta penduduk sekitar belajar pengetahuan. Sehingga mereka punya pengikut yang tidak sedikit Kedua, kiai biasanya berasal dari keluarga berada. Namun menurut Endang Turmudi ada dua faktor lagi yang perlu dilihat, kiai menjadi sosok yang disegani di lingkungan masyarakat di satu sisi. Karena pengaruh hubungan kiai dan pengikutnya yang tak setara, pihak yang berlebihan dari pihak yang kedua. Disi lain, kiai juga diyakini
ilmu laduni : sebuah ilmu yang diperoleh tanpa melalui proses belaja \ Kemampuan ini tampak seolah-olah Tuhan telah menunjuk mereka sebagai pemimpin Islam dimuka bumi ini.
Maka wajar bila selama ini kebanyakan orang meniiai mereka sebagai pemimpin karismatik, dimana kemampuan yang dimiliki dalam memimpin bersumber dari kekuasaan suci. Kekuasaan mi pada giliranya telah berpengaruh sangat kuat di masayarakat yang mampu memainkan peran penting dalam menggerakkan pelbagai aksi - aksi sosial - budaya. Posisi terhormat para kiai dimata masyarakat selama ini sebenarnya tidak bisa lepas dari pondok pesantren. Kata ending, melalui poodok pesantren para kiai secara tidak langsung telah membangun pola patronasi antara kiai dan masyarakat Pola patronase ini mudah didapat karena kebanyakan poodok pesantren adalah milik sang kiai.
Yang kemudian sosok kiai sebariai pemimpin karismatik satu sisi memang menguntungkan akan tetapi disisi yang lain juga sebenarnya merugikan, ketika ia digandengkan dengan sebuah tatanan masyarakat modem saat ini, yang menginginkan kemerdekaan dalam menentukan pilihan. Sebuah pilihan yang didasari atas pertimbangan raskx bukan keyakinan semata. Masyarakat jamaah atau santrilah yang akan menilai apakah figur seorang kiai berkarisma tinggi atau hanya sekedar kiai biasa saja, hal ini dijelaskan oleh tulisan Nur Kholis Zein dalam majalah Ar-
54
Risalah, pernah suatu ketika ada seorang laki-laki sowan ke kiai disebuah pondok pesantren di daerah Pasuruan Jawa Timur. Ketika ia berada disana ia melihat segerombol santri sedar.g asik r.gobrol sambil berjalan itu mendadak menghentikan pembicaraan, dan spontan tanpa aba-aba mereka serentak bergerak ke arah tepi jalan sambil menundukkan kepala. Sementara itu, dari arah berlawanan, sosok laki-laki berbaju putih bersurban dan berkopyah putih berjalan pelan melewati para santri yang saat itu sedang berdiri dengan kepala tertunduk kebawah. Setelah lelaki berbaju putih itu lewat, para santri pun kembali beijalan dan melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus tadi. Laki-laki tadi yang baru seumur-umur dalam hidupnya baru kali ini menginjakkan kakinya di lingkungan pesantren bukan main bingungnya dan bertanya-tanya: mengapa mereka berbuat demikian.
Dalam proses interview dengan salah satu nara sumber mengatakan, ketika bermukim di salah satu pondok pesantren di kudus dia benar-benar merasakan begitu kuat karisma yang dimiliki sang kiai. Awalnya dia terkejut dengan tidak masuk satu persen pun syahriah (iuran bulanan santri) kedaiam keuangan kiai karena kiai tersebut benar-benar memikirkan bagaimana nasib para santri dalam kesehariannya, sehingga timbul rasa penghargaan dari diri santri dengan melihat begitu perhatian sang kiai kepada santri, padahal belum tentu semua santri tahu akan hal ini.
Imbas dari berkah terhadap perilaku santri, ada yang memandang bahwa bertambahnya ketaqwaan dalam diri santri itu sendiri, dalam arti
santri mampu mengadopsi serta menyerap pola hidup kesederhanaan seorang kiai ke dalam kehidupan seorang santri.
Kemudian dalam kehidupan bermasyarakat berakhlaqul karimah merupakan ciri yang utama bagi sosok santri yang mampu memaknai berkah kiai sebagai wahana pembelajaran hidup bermasyarakat yang didapat dalam dunia pesantren salaf tatkala santri tersebut belajar disana. Dalam kehidupan bermasyarakat ketika seorang santri dihadapkan berbagai permasalahan pergaulan, santri mampu memilah mana yang harus menjadi corak atau pola pergaulan hidup bermasyarakat dan demikian adanya yang ditemui oleh penulis dilapangan.
B A B Y
PENUTUP
Dalam bab ini akan dijelaskan tentang kesimpulan hasil penelitian, kritik dan saran ke depan, sehingga dapat menjadi sebuah wacana dan pembelajaran bagi kita semua mengenai apa dan bagaimana berkah kiai yang selama ini menjadi sisi mistis bagi santri sa la f sehingga bisa kita fahami bersama secara ilmiah.
I. K ESIM PU LA N
Dari hasil penelitian ini, penulis dapat memberikan beberapa kesimpulan tentang fenomena berkah kiai dalam pandangan santri, yaitu :
a) Bahwasannya berkah kiai semata-mata menjadi tradisi yang kuat dalam pesantren salaf namun tidak dalam pesantren modem, Karen hanya kiai dalam pesantren salaf yang mau dan menyempatkan diri bangun pada waktu malam hari untuk mendo’akan santri-santrinya, memanjatkan do’a kepada Allah SWT dengan ihlas mendo’akan santri-santrinya agar diberikan keberkahan dalam mencari ilmu serta dapat mengamalkan tata cara kehidupan yang sederhana (wira’i).
b) Berkah semata-mata hanya milik Allah SWT kiai merupakan mercusuar yang harus dilewati oleh para kapal pesiar untuk menuju ke pulau yang akan diinginkan bukan untuk didatangi, oleh karena mercusuar sebagai satu tanda
atau peringatan adanya karang didepannya. Begitu juga untuk memperoleh keberkahan ilmu dari Allah SWT santri harus melaui tahap-tahap atau proses ngalap berkah melalui kiai.
c) Berkakhlaqul karimah merupakan satu cermin gambaran berkah kiai yang mana tidak semua santri bisa mendapatkan itu.
d) Munculnya berkah, bersumber dari kewibawaan kiai, hal ini dikarenakan adanya 5 (lima) faktor, yaitu : sumber kewibawaan moral, kiai adalah pemilik dari pesantren, jaringan antar kiai, relasi antara kiai dengan pemerintah pusat, dan kualitas pribadi kiai itu sendiri.