• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIOGRAFI WISMA SANTRI EDI MANCORO

A. Sejarah Berdir

Wilayah keija pesantren awa’nya lebih terfokus pada dimensi religius yang bersifat normative dan ekslusive dari pada dimensi kemasyarakatan yang

bersifat praktis, humanis, dan inklusive Adapun sekarang dengan dinamika

masyarakat yang cepat, kompleksitas masyarakat yang sangat beragam, maka selanjutnya pesantren harus hadir sebagai institusi yang responsive, proaktif

dan akom odatif dengan tuntutan masyarakat yang beragam. Adalah pesantren

Edi Mancoro yang berupaya melakukan harmonisasi, integralisasi dan pribuminisasi dimensi religius dan kemasyarakatan, kenegaraan dan kebangsaan secaia kebersamaan.

Di samping dimensi keagamaan, pesantren Edi Mancoro juga berusaha melakukan upaya yang berkaitan dengan persoalan kemasyarakatan yang kompleks dan pemberdayaannya^ serta persoalan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang finalnya adalah terbentuknya masyarakat yang madani, yakni masyarakat yang lebih mengutamakan

keadilan kebersamaan, persamaan (egaliter) dengan serta merta manafikan sekat -sekat penghalang atas dasar agama, ras, suku, golongan, serta etnis yang selama ini ada dan hidup di tengah-tengah masyarakat.

Realisasi atas upaya ini, maka pesantren Edi M ancoro dengan Yayasan

D esaku M aju muncul sebagai sebuah institusi untuk menangani kerja-kerja

pemberdayaan masyarakat, di samping lembaga lain BPPT (Biro Pelaksana Pesantren Transformatif) yang berikhtiar untuk melakukan penyadaran dan sosialisasi atas keija-keija pemberdayaan masyarakat bagi komunitas internal beberapa pesantren dan masyarakat pada umumnya.

Gagasan awal yang mengilhami berdirinya pesantren Edi Mancoro adalah Yayasan Desaku Maju. Yayasan (YDM). Yayasan ini dimotori oleh para aktivis Kab. Semarang 80-an antara lain KH. Mahfudz Ridwan, Lc., KH. Muhammad HM. Sholeh BA., Matori Abdul Jalil, Zainal Ari fin, BA^ serta Ali tahsisusdi, BA. Yayasan ini kemudian berdiri secara resmi pada tahun 1984, namun aktivitasnya telah dimulai sejak 1979 dengan pengiriman beberapa kadernya dalam pelatihan-pelatihan. Selanjutnya yayasan dengan direktur eksekutif bapak KH. Mahfudz Ridwan, Lc., mendirikan pesantren alternatif yakni pesantren Edi Mancoro pada tanggal 26 Desember 1989 sebagai base

camp yayasan sekaligus lokasi diklat dan loklat.

Wisma Santri Edi Mancoro terletak di Desa Gedangan Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang, atau berada di sebelah barat daya kota Salatiga. Beberapa tokoh yang turut andil dalam pendirian wsma ini adalah, KH. Mahfudz Ridwan, KH. M. Sholeh, BA, dan H. Mathori Abdul Jalil.

B. Biografi Singkat K H. M ahfudz Ridwan, LC.

Putra pasangan K.H Ridwan dan Hj. Maimunah ini dilahirkan pada bulan Oktober tahun 1941 di desa Pulutan Sidorejo Kota Salatiga. Mahfudz Ridwan mengawali pendidikannya di SD Pulutan dan dilanjutkan kejenjang

26

MTs dan Aliyah di kota Makkah. Selanjutnya beliau kuliah di Baghdad University dengan mengambil jurusan Syariah dan Adab (sastra). Sahabat dan kawan sekamar dari K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika belajar di Baghdad ini mempersunting putri dari H. Muhammad Sholeh dari desa Gedangan yang bernama Hj. Nafisah dan telah dikaruniai empat orang anak dan empat orang cucu.

Mahfudz Ridwan hidup dalam lingkungan pesantren sejak kecil, dimana Pu'utan waktu itu menjadi salah satu ikon pesantren di Salatiga. Melanjutkan studinya ke negeri Arab dan Mesir menambah pengetahuan beliau yang mendalam tentang ilmu Islam khususnya syariah dan sastra arab yang beliau geluti tak kurang dari 5 tahun.

Sepulang dari Mesir, sekitar tahun 70-an, beliau pindah ke desa Gedangan bersama sang istri dan memulai aktifi tas sosial keagamaan di desa ini. Gambaran masyarakat gedangan, dalam hal sosial keagamaan, pada waktu itu ibarat hutan rimba yang tak kenal hukum dan aturan atau nilai-nilai Islam. Masyarakat hanya memaknai Islam sebagai agama saja, bukan sebagai sebuah tatanan nilai yang mengatur hidup agar manjadi selaras dan sesuai dengar nilai-nilai ketuhanan yang tercermin dalam diri manusia. Ibarat babad alas, Mahfudz Ridwan harus memulai aktifitas sosial keagamaannya di desa yang dekat rawa pening ini. Dikatakan babad alas karena memang pada waktu itu hampir tidak ada aktifitas keagamaan yang berarti, bahkan solat Idul Adha dan qurban pun tidak dilaksanakan. Ditambah lagi persoalan budaya , buruk masyarakat pada waktu itu, dimana setiap ada momen kemasyarakatan, seperti

orang meninggal, melahirkan, orang menikah, dll, selalu diwarnai dengan peijudian.

Tokoh yang dikenal sangat dekat dengan Gus Dur ini, memulai aktifi tas sosial yang berorientasikan kepada pemberdayaan masyarakat diberbagai bidang bersama-sama dengan tokoh lain seperti H. Mathori Abdul Djalil, Ali Tahsisudin, HM Sholeh dll. Lembaga pertama yang dibentuk adalah Yayasan Desaku Maju (YDM) yang secara resmi didirikan, pada tahun 1984, walaupun sebenarnya aktifitas sudah dimulai pada tahun 1979 dengan melakukan berbagai pelatihan-pelatihan bagi masyarakat Dalam menjawab tantangan di bidang keagamaan, juga dibentuk sebuah lembaga pesantren transformatif Edi Mancoro atau yang sekarang lebih dikenal dengan Wisma Santri Edi Mancoro (WSEM). Pesantren yang dibuat dengan maksud mentransformasikan nilai-nilai keagamaan bagi pemberdayaan masyarakat ini berdiri pada tanggl 26 desember 1989. Gagasan harmonisasi, integralisasi dan pribuminisasi dimensi keagamaan dan kemasyarakatan, kenegaraan dan kebangsaan secara bersamaan ini dilakukan secara mendalam dari dua lembaga yang dibentuk itu.

Dengan sepak teijang yang cukup lama dalam aktifitas sosial keagamaan dilandasi dengan nilai-nilai kebangsaan, keragaman dan kesetaraan, membuat Mahfudz Ridwan dapat diterima di semua kalangan, tidak terkecuali di umat beragama lain. Sebagai ketua Forum Silaturrahmi Umat Beragama (FSUB), Mahfudz Ridwan mengaktualisasikan pemahaman bahwa keanekaragaman keyakinan tidak menjadi kendala dalam berbangsa

28

dan bernegara yang berujung pada penciptaan kondisi sosial ekonomi politik yang adil bagi seluruh warga, siapapun itu. Gagasan tentang pemberdayaan masyarakat, tanpa mengenal sekat keyakinan itu, terus diupayakan Mahfudz Ridwan melalui forum bersama, berisikan orang dari berbagai latar belakang, yang berusaha terus melakukan aktifitas pemberdayaan kemasyarakatan. Aktifitas yang baru disebut adalah Forum Gedangan (FORGED) yang mempunyai visi pemberdayaan masyarakat miskin (mustadh'afin) melalui berbagai kegiatan.

C. Visi dan Misi Wisma Santri Edi Mancoro

Visi dan misi pesantren adalah membentuk santri yang berwawasan keagamaan secara mendalam, juga berwawasan kebangsaan, kemasyarakatan dalam konteks ke-Indonesiaan yang plural. Disamping membentuk santri yang peduli serta berkemampuan untuk mendampingi masyarakat secara luas.