• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Biaya Tidak Terduga terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa

J. Perumusan Hipotesis Penelitian

1. Pengaruh Biaya Tidak Terduga terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa

Terjemahan dari kata Extraordinary adalah “Luar Biasa”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2020), kata “Luar Biasa” memiliki makna, yaitu: “tidak seperti biasa; tidak sama dengan yang lain, istimewa”.

Kata extraordinary dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang di

luar batas dan tidak biasa. Dalam bidang Akuntansi, dikenal istilah Extraordinary Items atau Pos Luar Biasa. Accounting Principles Board (APB) dalam Harahap (1993: 136) mendefinisikan:

“Extraordinary Items sebagai kejadian atau transaksi yang mempengaruhi secara material yang tidak diperkirakan terjadi berulangkali dan tidak dianggap merupakan hal yang berulang dalam proses operasi yang biasa dari suatu perusahaan."

Suatu kejadian dapat diklasifikasikan sebagai pos luar biasa jika memenuhi dua kriteria yaitu suatu kejadian yang tidak biasa terjadi dan suatu kejadian yang tidak sering terjadi. Salah satu kejadian yang tidak biasa dan tidak sering terjadi adalah pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 pertama kali diumumkan oleh World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020 (CNNIndonesia, 2020). COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 (WHO, 2020). Virus SARS-CoV-2 pertama kali muncul di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China pada bulan November 2019 (Kusnayat, 2020).

Wabah COVID-19 juga telah menyebar ke sejumlah wilayah di Indonesia. Keputusan Presiden Nomor 12 tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non-alam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 Sebagai Bencana Nasional menyatakan bahwa pandemi COVID-19 adalah peristiwa yang tidak terduga akan terjadi sebelumnya. Pemerintah Indonesia menerapkan berbagai kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia, salah satunya menerapkan pembatasan fisik (physical distancing) (Tuwu, 2020).

Penyesuaian kebijakan di bidang pendidikan dalam masa pandemi COVID-19 saat ini, mempengaruhi kebijakan lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk menunjang kehidupan masyarakat dalam menyesuaikan perkembangan dunia. Undang-undang Pendidikan Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengatakan:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.”

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tertanggal 17 Maret 2020 tentang Pembelajaran Secara Daring dan Bekerja dari Rumah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19.

Kemudian, surat edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 302/E.E2/KR/2020 tertanggal 31 Maret 2020 tentang Masa Belajar Penyelenggaraan Program Pendidikan yang berbunyi seluruh pimpinan Perguruan Tinggi dapat memantau dan membantu kelancaran mahasiswa melakukan pembelajaran dari rumah (Kemdikbud, 2020).

Universitas Sanata Dharma telah menindaklanjuti edaran tersebut dengan mengeluarkan Surat Rektorat Nomor 107/Rektor/III/2020 tentang meliburkan perkuliahan tatap muka dan menggantinya dengan perkuliahan secara daring. Salah satu dampak perkuliahan secara daring yang dilaksanakan oleh mahasiswa yaitu mahasiswa harus mengeluarkan biaya

tambahan untuk membeli kuota internet karena sebagian besar perkuliahan secara daring dilakukan dalam bentuk video konferensi menggunakan aplikasi Zoom yang menghabiskan kuota cukup banyak.

Hasil penelitian Santoso (2020) menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi Zoom untuk video konferensi selama satu jam dengan kualitas video 720p menghabiskan kuota sebesar 1,08 GB. Harga kuota internet sebesar 1 GB berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Cable UK adalah Rp 9.400 (Stephanie, 2020). Jika diasumsikan bahwa rata-rata mahasiswa memprogramkan 8 mata kuliah tiap semester dan masing-masing mata kuliah melaksanakan kuliah daring menggunakan aplikasi konferensi video selama satu jam setiap minggu, maka mahasiswa harus mengeluarkan biaya minimal sekitar Rp.80.000 per minggu, tergantung provider seluler yang digunakan. Sehingga dalam kegiatan perkuliahan secara daring, kuota internet menjadi salah satu biaya pendidikan langsung yang sangat diperlukan oleh mahasiswa karena tanpa kuota internet mahasiswa tidak dapat mengikuti perkuliahan secara daring dengan baik (Kalesaran dalam Kuumat, 2020).

Menurut Biro Perencanaan Depdikbud (1989, dalam Dadang Suhardan, 2012: 65) biaya pendidikan adalah biaya yang harus dikeluarkan baik oleh perorangan/individu, keluarga yang menanggung anak yang sedang belajar, masyarakat, maupun oleh lembaga penyelenggara pendidikan untuk memperoleh pendidikan yang diinginkannya. Oleh karena itu, biaya kuota internet yang dikeluarkan oleh mahasiswa mengalami peningkatan

dan menjadi salah satu biaya pendidikan utama yang sangat diperlukan oleh mahasiswa agar perkuliahan secara daring yang mereka lakukan dapat berjalan dengan baik dan lancar (Rasyida, 2020).

Peningkatan biaya kuota internet yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa adalah dampak dari perkuliahan secara daring di masa pandemi COVID-19 sebagai suatu peristiwa tidak diduga atau tidak diprediksi sebelumnya oleh pihak manapun (Kharisma, 2020). Biaya tambahan untuk kuota internet ini dapat disebut dengan istilah biaya tidak terduga karena biaya ini timbul akibat dari pandemi COVID-19 sebagai suatu peristiwa yang tidak diduga akan terjadi sebelumnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2020), biaya tidak terduga merupakan biaya yang digunakan untuk pengeluaran yang tidak diperkirakan atau diluar perencanaan.

Biaya tidak terduga adalah salah satu biaya pendidikan yang memiliki konstribusi dan kaitan dengan prestasi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Juhri (2013) dan Seni et al. (2018) yang menyatakan bahwa biaya pendidikan memiliki kontribusi dan hubungan positif yang signifikan dengan prestasi belajar siswa.

Hasil penelitian yang dilakukan Muhroji (2012) dan Alvionita et al.

(2013) juga menyatakan bahwa biaya pendidikan dan sarana pembelajaran berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Dengan adanya biaya tidak terduga yang memadai, maka proses perkuliahan secara daring dapat dilakukan oleh mahasiswa dengan baik sehingga mahasiswa dapat mencapai prestasi belajar yang memuaskan.

Berdasarkan uraian di atas hipotesis yang dirumuskan adalah sebagai berikut:

Ha1: Biaya tidak terduga berpengaruh terhadap prestasi belajar mahasiswa selama kuliah daring.

2. Pengaruh Komitmen terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa selama Kuliah