TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemasangan Infus
2.3. Konsep Flebitis
2.5.2. Pengaruh dan Respon Anak pada Pemasangan Infus
Penyakit dan perawatan anak di rumah sakit (hospitalisasi) seringkali menjadi krisis pertama yang harus dihadapi anak karena menimbulkan stress pada anak. Salah satu stresor utama hospitalisasi pada anak adalah nyeri yang akan berdampak menimbulkan trauma. Oleh karena itu, anak perlu dipersiapkan dalam menghadapi pengalaman hospitalisasi dan berbagai prosedur yang menimbulkan nyeri agar anak mampu mengarahkan energi mereka untuk menghadapi stres akibat hospitalisasi yang tidak dapat dihindari (Hockenberry & Wilson, 2009).
33
pemasangan infus dapat menimbulkan rasa cemas, takut, dan nyeri pada anak (Wang, Sun, & Chen, 2008). Anak prasekolah akan bereaksi terhadap tindakan penusukan bahkan mungkin bereaksi untuk menarik diri terhadap jarum karena menimbulkan rasa nyeri yang nyata yang menyebabkan takut terhadap tindakan penusukan. Karakteristik anak usia prasekolah dalam berespon terhadap nyeri diantaranya dengan menangis keras atau berteriak, mengungkapkan secara verbal ”aaow” ”uh”, ”sakit”,
memukul tangan atau kaki, mendorong hal yang menyebabkan nyeri, kurang kooperatif, membutuhkan restrain, meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri, menempel atau berpegangan pada orangtua, perawat atau yang lain, membutuhkan dukungan emosi seperti pelukan, dan antisipasi terhadap nyeri aktual (Hockenberry & Wilson, 2009). Salah satu yang dapat dilakukan oleh perawat untuk mencapai perawatan yang tidak menimbulkan trauma adalah mengurangi nyeri, dalam hal ini nyeri akibat pemasangan infus (Hidayat, 2005).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
Pemasangan infus atau terapi intravena adalah suatu tindakan pemberian cairan melalui intravena yang bertujuan untuk menyediakan air, elektrolit, dan nutrien untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemasangan infus dapat menggantikan air dan memperbaiki kekurangan cairan elektrolit serta merupakan suatu medium untuk pemberian obat secara intravena (Smeltzer & Bare, 2001).
Kemampuan pemasangan infus merupakan kompetensi dan tanggung jawab perawat. Kompetensi perawat yang diharapkan adalah memilih tempat vena yang sesuai, jenis kanula yang paling sesuai untuk pasien tertentu, mahir dalam teknik aseptik, dan teknik penusukan vena. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi pemasangan infus antara lain jenis larutan yang akan diberikan, lamanya terapi intravena, keadaan umum pasien dan tempat vena yang digunakan, dan keterampilan orang yang akan melakukan pemasangan infus. Banyak tempat yang dapat digunakan untuk pemasangan infus, tetapi kemudahan akses dan potensi bahaya berbeda di setiap vena. Vena di ekstremitas atas dipilih sebagai lokasi perifer, karena vena ini relatif aman dan mudah dilakukan pemasangan infus, sedangkan vena di kaki jarang di gunakan karena resiko tinggi terjadinya tromboemboli vena. Tempat lain yang harus dihindari dalam pemasangan infus adalah vena di bawah infiltrasi vena sebelumnya atau di bawah area yang flebitis, vena yang sklerotik atau bertrombus,
2
lengan dengan arteriovena atau fistula, atau lengan yang mengalami edema, infeksi, bekuan darah, dan kerusakan kulit (Smeltzer & Bare, 2001).
Pemasangan infus atau terapi intravena yang dilakukan secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama, tentunya akan meningkatkan terjadinya komplikasi dari pemasangan infus, salah satunya adalah flebitis. Flebitis merupakan peradangan pada intima tunika dari vena dangkal yang disebabkan oleh iritasi mekanik, kimia atau sumber bakteri (mikro organisme) yang dapat menyebabkan pembentukan trombus (Royal College of Nursing, 2010). Flebitis mekanik disebabkan oleh pergerakan benda asing (kanula) yang menyebabkan gesekan dan peradangan vena (Stokowski et al, 2009). Hal ini sering terjadi ketika ukuran kanula terlalu besar untuk vena yang dipilih (Martinho & Rodrigues, 2008). Penempatan kanula terlalu dekat dengan katup, akan meningkatkan risiko flebitis mekanis akibat iritasi pada dinding pembuluh darah dengan ujung kanula (Macklin, 2003). Flebitis kimia disebabkan oleh obat atau cairan yang diberikan melalui kanula. Faktor-faktor seperti pH dan osmolalitas dari zat memiliki dampak yang signifikan terhadap kejadian flebitis. Flebitis yang disebabkan oleh bakteri berasal dari tehnik aseptik yang kurang dari keterampilan perawat dalam memasang infus (Kohno et al, 2009).
Flebitis berat hampir selalu diikuti bekuan darah atau trombus pada vena yang sakit atau mengalami peradangan dan selanjutnya menjadi tromboflebitis. Perjalanan penyakit ini biasanya jinak, tetapi walaupun demikian jika thrombus terlepas kemudian terbawa aliran darah dan masuk ke jantung maka dapat menimbulkan
3
gumpalan darah yang bisa menyumbat atrioventrikular secara mendadak dan menimbulkan kematian (Sylvia, 2005).
Tanda dan gejala yang paling umum dari flebitis adalah eritema, pembengkakan di sepanjang jalur vena, vena akan teraba mengeras, daerah pemasangan infus terasa hangat, dan pasien mungkin mengalami rasa sakit atau ketidaknyamanan selama pemberian obat. Untuk itu perawat harus menilai apakah rasa sakit ini terus berlanjut atau tidak (Endacott et all, 2009).
Sekitar 20 juta dari 40 juta pasien rawat inap di Amerika Serikat telah dilaporkan menerima pemasangan dan perawatan infus (Yalcin, 2004). Tingkat flebitis karena pemasangan infus telah dilaporkan oleh Maki dan Ringer (2009) sebesar 41,8%, serta Kocaman dan Sucuoglu (2011) sebesar 64,7%. Indonesia tahun 2010, Jumlah kejadian flebitis pada pasien rawat inap menurut distribusi penyakit sistem sirkulasi darah, berjumlah 744 orang atau 17,11% (DepKes RI, 2008). Penelitian Jarumiyati (2011), yang berjudul hubungan lama pemasangan kateter intravena dengan kejadian flebitis pada pasien rawat inap di RSUD Wonosari, menunjukkan bahwa ada hubungan antara lama pemasangan kateter intravena dengan kejadian flebitis, ini dibuktikan dengan nilai korelasinya 0,007. Aprilin (2011), dalam penelitiannya yang berjudul hubungan perawatan infus dengan terjadinya flebitis di Puskesmas Krian Sidoarjo menunjukkan bahwa ada hubungan perawatan infus dengan terjadinya flebitis pada pasien yang terpasang infus di Puskesmas Krian Sidoarjo. Mardiah (2012), dalam penelitiannya yang berjudul rata- rata lama hari pemasangan infus
4
kejadian flebitis pada pasien yang dipasang infus sebanyak 61,7% terjadi flebitis dengan rata-rata hari pemasangan infus pada hari ketiga pemasangan infus dan hari pertama pemasangan infus belum terjadi flebitis sama sekali. Hasil- hasil penelitian diatas menggambarkan bahwa pemasangan dan perawatan infus adalah hal yang harus dilakukan secara benar dan sesuai dengan ketentuan Standart Operasional
Procedure (SOP). Penelitian-penelitian tersebut dapat dijadikan sebagai acuan bagi
perawat dan rumah sakit dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien yang dipasang infus dengan pemantauan lokasi insersi intravena kateter, melakukan tindakan aseptik pada pemasangan infus, dan juga cara kerja yang sesuai SOP agar terhindar dari flebitis.
Pemantauan pemasangan dan perawatan infus di Rumah Sakit Columbia Asia Medan (RSCAM) merupakan salah satu sasaran mutu yang harus dicapai, dimana angka kejadian flebitis yang tinggi menunjukkan mutu yang rendah. Pada bulan Januari - Agustus 2015 tercatat jumlah pasien yang dilakukan pemasangan infus di ruang pediatrik RSCAM sebanyak 635 orang dan terdapat 12 pasien (1,8%) mengalami flebitis pada ≤ 72 jam setelah pemasangan infus (Unit Quality Control
dalam Sasaran Mutu RSCAM, 2015). Depkes RI merekomendasikan kejadian flebitis pada setiap pemasangan infus adalah ≤ 1,5%. Sementara itu, perawatan infus yang dilakukan di RSCAM adalah 1x72 jam sesuai dengan SOP yang berlaku. The
Centers for Disease Control and Prevention (CDC), merekomendasikan untuk
pergantian kateter infus setiap 48-72 jam, kateter infus harus diganti tidak lebih dari 72 jam, kecuali ada indikasi klinis atau kateter infus rusak. CDC menyarankan untuk
5
mengganti set yang digunakan untuk mengelola darah, produk darah, atau lipid emulsi dalam waktu 24 jam.
Pemasangan dan perawatan infus memerlukan kompetensi perawat dalam mengontrol angka kejadian flebitis. Roe (2001) menyatakan bahwa kompetensi itu adalah kemampuan untuk melaksanakan satu tugas atau peran, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan-keterampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan. Kompetensi menurut Undang-Undang Keperawatan Bab IV pasal 16 ayat (2), standart kompetensi perawat meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, mental, moral, penguasaan bahasa dan tehnologi. Kompetensi perawat dalam hal pemasangan, dan perawatan infus harus mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan tehnologi untuk mengurangi angka kejadian flebitis, sehingga citra dan kualitas pelayanan rumah sakit dapat tercapai.