• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemasangan Infus

2.1.2. Tujuan Pemasangan Infus

Pilihan untuk memberikan terapi intravena tergantung pada tujuan spesifik untuk apa hal itu dilakukan. Menurut Smeltzer & Bare (2002), umumnya cairan intravena diberikan untuk mencapai satu atau lebih tujuan berikut : menyediakan air, elektrolit, menyediakan nutrien untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan menjadi medium untuk pemberian obat secara intravena.

Menurut Setyorini (2006), tujuan pemberian terapi intravena yaitu : pertama, memberikan atau menggantikan cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak, dan kalori yang tidak dapat dipertahankan secara adekuat melalui oral. kedua, memperbaiki keseimbangan asam-basa. Ketiga, memperbaiki volume komponen-komponen darah. Keempat, memberikan jalan masuk untuk pemberian obat-obatan kedalam tubuh. Kelima, Memonitor tekanan vena sentral (CVP). Keenam, Memberikan nutrisi pada saat sistem pencernaan diistirahatkan. 2.1.3. Pedoman Pemilihan vena

Banyak tempat yang dapat digunakan untuk terapi intravena, tetapi kemudahan akses dan potensi bahaya berbeda di setiap vena. Vena di ekstremitas dipilih sebagai lokasi perifer, karena vena ini relatif aman dan mudah dimasuki kateter infus.

Vena-11

sering digunakan yakni vena sefalika, vena basilika, vena fosa antekubital, vena kubital mediana, vena sefalika asesorius, vena antebrakialis mediana, vena basilika, vena sevalika, jaring-jaring vena dorsalis, vena metakarpal dan vena digitalis. Vena di kaki sebaiknya sangat jarang digunakan, karena resiko tinggi terjadinya tromboemboli, vena ini merupakan cara terakhir dan dapat dilakukan hanya sesuai dengan program medik dokter. Tempat tambahan untuk dihindari termasuk vena di bawah infiltrasi vena sebelumnya atau di bawah area yang flebitis, vena yang sklerotik atau bertrombus, lengan fistula atau lengan yang mengalami edema, infeksi, bekuan darah atau kerusakan kulit. Selain itu, lengan pada sisi yang mengalami mastekstomi dihindari karena aliran balik vena yang terganggu. Vena sentral yang sering digunakan oleh dokter termasuk vena subclavicula dan vena jugularis interna adalah memungkinkan untuk mengakses atau mengkanulasi pembuluh darah yang lebih besar, bahkan pembuluh darah perifer sudah kolaps dan vena ini memungkinkan pemberian larutan dengan osmolar tinggi. Meskipun demikian bahanya jauh lebih besar dan mungkin termasuk penusukan yang kurang hati-hati masuk ke dalam arteri atau rongga pleura. Idealnya, kedua lengan dan tangan harus diinspeksi dangan cermat sebelum tempat pungsi vena spesifik dipilih. Lokasi harus dipilih yang tidak mengganggu mobilisasi. Untuk alasan ini, fosa antekubital dihindari, kecuali sebagai upaya terakhir. Tempat yang paling distal dari lengan atau umumnya digunakan pertama kali sehingga intravena (IV) yang berikutnya dapat dilakukan ke arah yang atas. Hal-hal berikut menjadi pertimbangan ketika memilih tempat penusukan vena adalah kondisi vena, jenis cairan atau obat yang akan

12

diinfuskan, lamanya terapi, usia, dan ukuran kateter infus yang sesuai untuk pasien, riyawat kesehatan dan status kesehatan pasien sekarang dan keterampilan tenaga kesehatan. Vena harus dikaji dengan palpasi dan inspeksi, vena harus teraba kuat, elastis, besar dan bulat, tidak keras, datar dan tidak bergelombang (Smeltzer & Bare, 2002).

2.1.4. Pemilihan Alat dalam Pemasangan Infus 2.1.4.1. Jenis Larutan Intravena

Larutan intravena sering dikategorikan sebagai larutan isotonik, hipotonik atau hipertonik. Hal ini sesuai dengan osmolaritas total larutan intravena , kurang dari atau lebih besar dari osmolaritas darah. Larutan elektorlit dianggap isotonik jika kandungan elektrolit totalnya (anion ditambah kation) kira-kira 310 mEq/L. Larutan dianggap hipotonik jika kandungan elektrolit totalnya kurang dari 250mEq/L, dan larutan hipertonik jika kandungan elektrolit totalnya melebihi 375 mEq/L. Perawat juga harus mempetimbangkan osmolaritas suatu larutan, tetap mengingat bahwa osmolaritas plasma adalah kira-kira 300 mosm/L. Jika memberikan cairan parenteral, penting untuk memantau respons pasien terhadap cairan. Perawat harus mempertimbangkan volume cairan, kandungan cairan dan status klinis pasien. Jenis-jenis cairan intravena menurut Smeltzer & Bare (2002) antara lain :

1. Cairan Isotonik

Cairan yang diklasifikasikan isotonik mempunyai osmolaritas total yang mendekati cairan eksetraseluler dan tidak menyebabkan sel darah merah mengkerut

13

memungkinkan mendekati komposisi CES. Cairan isotonik meningkatkan volume cairan ekstraseluler. Satu liter cairan isotonik meningkatkan cairan ekstraseluler sebesar 1 liter, meskipun demikian cairan ini meningkatkan plasma hanya sebesar ¼ liter karena cairan isotonik merupakan cairan kristaloid dan berdifusi dengan cepat ke dalam kompartemen CES. Untuk alasan yang sama, 3 liter cairan isotonik dibutuhkan untuk menggatikan 1 liter darah yang hilang. Larutan dekstrosa 5% dalam air mempunyai osmaliritas serum sebesar 252 mosm/L. Sekali diberikan, glukosa dengan cepat dimetabolisasi dan larutan yang pada awalnya merupakan larutan isotonis kemudian berubah menjadi cairan hipotonik, sepertiga ekstraseluler dan dua pertiga intraseluler. Karena itu, dekstrosa 5% dalam air terutama dipergunakan untuk mensuplai air dan untuk memperbaiki osmaliritas serum yang meningkat. Satu liter dekstrosa 5% dalam air memberikan kurang dari 200 kkal dan merupakan sumber kecil kalori untuk kebutuhan sehari-hari tubuh. Saline normal (0,9 % natrium klorida) mempunyai osmalalitas total sebesar 308mOsm/L. Karena osmolalitasnya secara keseluruhan ditunjang oleh elektrolit, larutan ini tetap dalam kompartemen ekstra seluler. Untuk alasan ini, salin normal sering dugunakan untuk mengatasi

kekurangan volume ekstraseluler, meskipun disebut sebagai “normal”, salin normal hanya mengandung natrium dan klorida dan tidak merangsang CES secara nyata. Beberapa larutan lain mengandung ion-ion selain natrium klorida dan kurang lebih sama dengan komposisi CES. Larutan ringer mengandung kalium dan kalsium selain natrium klorida. Laruran ringer lactate juga mengandung prekursor bikarbonat.

14

2. Cairan Hipotonik

Salah satu tujuan dari cairan hipotonik adalah untuk mengganti cairan seluler, karena larutan ini bersifat hipotonis dibandingkan dengan plasma. Tujuan lainnya adalah untuk menyediakan air bebas untuk ekskresi sampah tubuh. Pada saat-sat tertentu, larutan natrium hipotonik digunakan untuk mengatasi hipernatremia dan kondisi hperosmolar yang lain. Salin berkekuatan menengah (natrium klorida 0,45%) sering digunakan. Larutan elektrolit multipel juga tersedia. Infus larutan hipotonik yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya deplesi cairan intravaskuler, penurunan tekanan darah, edema seluler dan kerusakan sel. Larutan ini menghasilkan tekanan osmotik yang kurang dari cairan ekstraseluler.

3. Cairan Hipertonik

Jika dekstrosa 5% ditambahkan pada salin normal atau larutan ringer, osmolalitas totalnya melebihi osmolalitas CES. Meskipun demikian, dekstrosa dengan cepat dimetabolisasi dan hanya tersisa larutan isotonik. Kerena itu efek apapun pada kompartemen intraseluler sifatnya sementara. Sama halnya, dekstrosa 5% biasanya ditambahkan pada larutan elektrolit multipel hipotonik. Setelah dekstrosa dimetabolisasi, larutan ini menyebar sebagai cairan hipotonik. Dekstosa dengan konsentrasi yang lebih tinggi, seperti dekstrosa 50% dalam air, diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan kalori. Larutan ini sangat hipertonis dan harus diberikan pada vena sentral sehingga mereka dapat didilusi dengan aliran darah yang cepat. Larutan salin juga tersedia dalam konsentrasi osmolar yang lebih tinggi

15

kompartemen ekstraselular dan menyebabkan sel-sel mengkerut. Jika diberikan dengan cepat atau dalam jumlah besar mereka mungkin menyebabkan kelebihan volume ekstraselular dan mencetuskan kelebihan cairan sirkulatori dan dehidrasi. Sebagai akibatnya, larutan ini diberikan dengan hati-hati dan biasanya hanya jika osmolalitas serum menurun sampai ke batas rendah yang berbahaya. Larutan hipertonik menghasilkan tekanan osmoltik yang lebih besar dibandingkan dengan cairan ekstraseluler.

4. Subtansi lain yang diberikan secara intravena

Jika saluran gastrointestinal pasien tidak dapat menerima makanan, kebutuhan nutrisi sering kali dipenuhi melalui intravena. Pemberian parenteral mungkin termasuk konsentrasi tinggi dari glukosa, protein atau lemak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Banyak pengobatan juga diberikan secara intravena baik melalui infus atau langsung ke dalam vena. Karena pengobatan intravena bersirkulasi dengan cepat, pemberian melalui cara ini berpotensi sangat berbahaya. Kecepatan pemberian dan dilusi yang dianjurkan untuk tiap obat tersedia dalam teks-teks khusus yang menyangkut medikasi intravena dan dalam lampiran paket pabrik, hal ini harus dibaca untuk memastikan pemberian medikasi secara intravena yang aman.

2.1.4.2. Ukuran Kateter Intravena

Jarum infus atau abocath atau kateter intravena, secara umum diberi warna yang berbeda-beda dengan alasan untuk mempermudah petugas mengenali ukuran

abbocath yang diperlukan. Semakin rendah ukuran abochath maka semakin besar

16

digunakan adalah : Ukuran 16G berwarna abu-abu berguna bagi pasien dewasa, bedah Mayor, dan trauma. Apabila sejumlah besar cairan perlu diinfuskan pertimbangan perawat dalam penggunaan ukuran 16G adalah adanya rasa sakit pada insersi dan membutuhkan vena besar. Ukuran 18G berwarna hijau digunakan pada pasien anak dan dewasa, biasanya untuk tranfusi darah, komponen darah, dan infus kental lainnya. Ukuran 20G berwarna merah muda biasanya umum dipakai pada pasien anak dan dewasa, Sesuai untuk kebanyakan cairan infus, darah, komponen darah, dan infus kental lainnya. Ukuran 22G warna biru digunakan pada bayi, anak, dan dewasa (terutama usia lanjut), cocok untuk sebagian besar cairan infus dan memerlukan pertimbangan perawat karena lebih mudah untuk insersi ke vena yang kecil, tipis dan rapuh, Kecepatan tetesan harus dipertahankan lambat, dan Sulit insersi melalui kulit yang keras. Ukuran 24G berwarna kuning, 26 berwarna putih digunakan pada nenonatus, bayi, anak dewasa (terutama usia lanjut), Sesuai untuk sebagian besar cairan infus, tetapi kecepatan tetesan lebih lambat.Wing yaitu jarum infus yang mirip sayap kupu-kupu yang jarumnya padat dan sangat halus (Potter & Perry, 2005)

Menurut Arifin (2014), dalam Training Perawat RSCAM, kecepatan aliran infus menurut ukuran abocath sebagai berikut:

17

Tabel 2.1. Kecepatan aliran cairan infus menurut ukuran abocath

Rata-rata kecepatan aliran cairan infus menurut ukuran abocath Ukuran kateter Panjang kateter (mm) Warna kateter Flow Rate ml/min(H2O) Flow Rate I/hr(H2O) Flow rate ml/min(darah) 22 25 Biru 42 2.5 24 20 32 Merah Muda 67 4.0 41 18 32 Hijau 103 6.2 75 18 45 Hijau 103 6.2 63 16 45 Abu-abu 236 14.2 167 14 45 Orange 270 16.2 215

Dokumen terkait