• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 . PEMBAHASAN

5.3. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala

Pada Tabel 4.36 terlihat nilai p atau nilai Sig variabel bebas antara lain pengaruh sub variabel bebas (tanggung jawab, prestasi, pengakuan, pekerjaan,

kemungkinan dan kemajuan). Sub variabel prestasi (p = 0,010), pekerjaan itu sendiri

(p = 0,020), dan kemajuan (p = 0,025). Nilai p dari masing-masing sub variabel tersebut < 0,05. Disimpulkan bahwa variabel motivasi intrinsik perawat pelaksana

kontrak berpengaruh terhadap kinerja perawat pelaksana kontrak.

Tabel 4.36. Hasil Uji Pengaruh Motivasi Intrinsik Perawat Pelaksana Kontrak terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Kontrak di Ruang Rawat Inap RSUD Dr.Pirngadi Medan Tahun 2012

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 26.677 5.593 4.769 .000 tanggung jawab .293 .590 .065 .496 .621 .213 4.702 Prestasi 1.400 .531 .365 2.636 .010 .188 5.328 Pengakuan .266 .382 .069 .695 .489 .362 2.759 Pekerjaan .771 .325 .222 2.373 .020 .411 2.431 Kemungkinan .309 .361 .076 .857 .394 .454 2.201 Kemajuan .461 .203 .171 2.277 .025 .635 1.576

a. Dependent Variable: Kinerja

4.5.3. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala Ruang dan Motivasi Intrinsik Perawat Pelaksana Kontrak terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Kontrak

Pada Tabel 4.37 terlihat nilai p atau nilai Sig dari variabel bebas antara gaya kepemimpinan transformasional kepala ruang dan motivasi intrinsik perawat

pelaksana kontrak. Variabel gaya kepemimpinan transformasional kepala ruang (p =

0,003), dan variabel motivasi intrinsik perawat pelaksana kontrak (p = 0,000). Nilai p

dari masing-masing variabel < 0,05.

Tabel 4.37. Hasil Uji Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala Ruang dan Motivasi Intrinsik Perawat Pelaksana Kontrak terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Kontrak di Ruang Rawat Inap RSUD Dr.Pirngadi Medan Tahun 2012

Coefficientsa

Model

Unstandardized

Coefficients Standardized Coefficients

T Sig.

Collinearity Statistics B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 13.083 6.188 2.114 .037

Gaya .190 .063 .241 3.026 .003 .515 1.940

Motivasi .476 .058 .650 8.146 .000 .515 1.940

a. Dependent Variable: Kinerja

Tabel 4.38 hasil analisis regresi linear menunjukkan bahwa nilai koefisien

determinasi (R square) sebesar 0,698 artinya bahwa model regresi yang diperoleh dapat menjelaskan 69,8% variasi variabel bebas gaya kepemimpinan transformasional

kepala ruang dan motivasi intrinsik perawat pelaksana kontrak terhadap variabel

kinerja perawat pelaksana kontrak, sedangkan selisih yang ada (100 %– 69,8% =

30,2%) dapat dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Hasil uji determinasi

Tabel 4.38 Hasil Uji Determinasi dengan Variabel Bebas (Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala Ruang dan Motivasi Intrinsik Perawat Pelaksana Kontrak) terhadap Variabel Terikat (Kinerja Perawat Pelaksana Kontrak)

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .836a .698 .692 7.738 2.191

a. Predictors : (Constant), Motivasi, gaya b. Dependent Variable: Kinerja

Tabel 4.39 memaparkan uji kelinieran antara variabel bebas gaya

kepemimpinan transformasional kepala ruang dan motivasi intrinsik perawat

pelaksana kontrak dengan variabel terikat kinerja perawat pelaksana kontrak. Hasil

uji diperoleh nilai Sig atau nilai p = ( 0,000) < α (0,05). Jadi model regresi linier antara variabel bebas yaitu gaya kepemimpinan transformasional kepala ruang dan

motivasi intrinsik perawat pelaksana kontrak dengan variabel terikat kinerja perawat

pelaksana kontrak adalah signifikan, dijelaskan pada tabel berikut ini:

Tabel 4.39. Uji Kelinieran Variabel Bebas Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala Ruang dan Motivasi Intrinsik Perawat Pelaksana Kontrak Dengan Variabel Terikat Kinerja Perawat Pelaksana Kontrak

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 12756.794 2 6378.397 106.536 .000a

Residual 5508.112 92 59.871

Total 18264.905 94

a. Predictors: (Constant), Motivasi, gaya b. Dependent Variable: Kinerja

Pada Tabel 4.39 nilai F hitung sebesar 106,536 dengan signifikan p = 0,000

jauh lebih kecil dari 0,05 dengan demikian model regresi dapat memprediksi kinerja

perawat pelaksana kontrak.

Berdasarkan hasil analisis multivariat dapat disimpulkan bahwa variabel gaya

kepemimpinan transformasional kepala ruang dan motivasi intrinsik perawat

pelaksana kontrak berpengaruh terhadap kinerja perawat pelaksana kontrak. Hasil uji

regresi berganda diperoleh persamaan sebagai berikut :

Y= 13,083( Constanta) + 0,190X1 + 0,476 (X2)

Y = Kinerja Perawat Pelaksana Kontrak

X1

X

= Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala ruang

2

Hasil persamaan diartikan bahwa pengaruh variabel gaya kepemimpinan

transformasional kepala ruang dan motivasi intrinsik perawat pelaksana kontrak

searah terhadap kinerja perawat pelaksana kontrak, artinya setiap peningkatan skor

gaya kepemimpinan transformasional kepala ruang dan motivasi intrinsik perawat

pelaksana kontrak maka variabel kinerja perawat pelaksana kontrak juga akan

meningkat.

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Kinerja Perawat Pelaksana Kontrak

Kinerja perawat pelaksana kontrak adalah hasil kerja yang dicapai oleh

perawat pelaksana kontrak di RSUD Dr. Pirngadi Medan dalam memberikan asuhan

keperawatan kepada pasien meliputi pengkajian keperawatan, diagnosis keperawatan,

perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan evaluasi tindakan. Berdasarkan hasil

penelitian di lapangan tentang kinerja perawat pelaksana kontrak di ruang rawat inap

paling banyak adalah kategori kurang baik yaitu 50 orang (52,6%), kategori baik

sebanyak 41 orang (43,2%) dan kategori tidak baik sebanyak 4 orang (4,2%), dapat

diambil kesimpulan bahwa kinerja perawat pelaksana kontrak dalam melaksanakan

asuhan keperawatan belum optimal. Hasil penelitian ini sesuai dengan permasalahan

pada perawat pelaksana kontrak yang kurang percaya diri dan ragu-ragu, lamban,

kurang mandiri, kurang memahami tentang asuhan keperawatan, tidak semua asuhan

keperawatan dilaksanakan dan pendokumentasian asuhan keperawatan yang masih

tidak lengkap.

Dokumentasi data rekapitulasi asuhan keperawatan tahun 2011 yang

mencapai rata-rata 80% seyogyanya menurut peneliti tidak bertentangan dengan

kinerja perawat pelaksana kontrak yang belum optimal. Dokumentasi asuhan

keperawatan tahun 2011 dijabarkan secara rinci per triwulan Januari s/d Maret pada

dan evaluasi 78,06%. Pada April s/d Juni pengkajian 79,72%, diagnosa 78,33%,

perencanaan 78,80%, pelaksanaan 78,66%, dan evaluasi 78,52%. Pada Juli s/d

September pengkajian 79,72%, diagnosa 78,33%, perencanaan 78,89%, pelaksanaan

78,75%, dan evaluasi 78,61%. Pada Oktober s/d Desember pengkajian 79,72%,

diagnosa 78,33%, perencanaan 78,89%, pelaksanaan 78,75%, dan evaluasi 78,61%.

Dokumentasi asuhan keperawatan menurut peneliti tidak bisa menggambarkan bahwa

kinerja perawat secara keseluruhan sudah baik. Berdasarkan wawancara peneliti

secara mendalam terhadap kepala ruang dapat diketahui bahwa yang membuat

penilaian tentang dokumentasi keperawatan adalah kepala ruang. Kepala ruang dalam

memberikan penilaian tidak berdasarkan atas aturan-aturan tertentu ataupun

kriteria-kriteria yang sudah ditetapkan. Kepala ruang membuat penilaian berdasarkan logika

mereka sendiri atau asumsi sendiri, jika pada dokumentasi asuhan keperawatan terisi

penuh maka akan dinilai tinggi, jika masih ada yang kosong akan dinilai rendah.

Penilaian seperti ini menurut peneliti bisa bersifat subjektif. Kemungkinan lain adalah

dokumentasi keperawatan yang terisi penuh belum tentu menggambarkan hasil

kinerja perawat secara nyata dirasakan memang baik. Penilaian kinerja perawat dalam

hal dokumentasi asuhan keperawatan dilakukan oleh Pandawa (2007), tentang

determinan kinerja perawat pelaksana di ruang rawat inap RSUD dr. H. Chasan

Boesoirie Ternate mengungkapkan bahwa mayoritas perawat pelaksana mempunyai

kinerja kurang baik dalam hal pendokumentasian, yaitu 81,4%. Determinan kinerja

perawat pelaksana dalam pendokumentasian adalah variabel tingkat pendidikan dan

Menurut Nursalam (2011), penilaian kualitas pelayanan keperawatan kepada

pasien menggunakan standar praktik keperawatan yang merupakan pedoman bagi

perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Standar pelayanan keperawatan

adalah pernyataan deskriptif mengenai kualitas pelayanan yang diinginkan untuk

mengevaluasi pelayanan keperawatan yang telah diberikan pada pasien.

5.2. Karakteristik Responden

Karakteristik individu adalah segala sesuatu ciri yang melekat pada individu

baik ciri biologis maupun ciri sosio-demografi. Variabel yang termasuk dalam

karakteristik individu adalah umur, pendidikan, masa kerja, jenis kelamin dan status

perkawinan.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh mayoritas perawat pelaksana

kontrak berumur antara 26-40 tahun yaitu 82 orang (86,3%), sangat berhubungan

dengan kinerja perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan karena semakin

dewasa usia perawat, semakin banyak pula pengalaman yang dimiliki. Pada usia lebih

tua, seseorang mempunyai pertahanan fisik dan mental, serta pengalaman sehingga

berpengaruh terhadap kinerja dibandingkan dengan usia lebih muda. Pendidikan

perawat pelaksana kontrak yang terbanyak adalah S1 yaitu sebanyak 52 orang

(54,7%), berhubungan dengan kinerja perawat karena kemahiran dalam bekerja

tergantung pada tingkat pendidikan, pengetahuan dan pengalaman seseorang.

Diperlukan juga pelatihan-pelatihan atau seminar sehingga diharapkan dapat

kontrak yang terbanyak adalah yang bekerja di bawah 5 tahun yaitu 54 orang

(56,8%), berhubungan dengan kinerja perawat karena salah satu faktor yang

memengaruhi adalah pengalaman yang tinggi melalui masa kerja yang sudah dijalani.

Mayoritas perawat pelaksana kontrak berjenis kelamin perempuan yaitu 82 orang

(86,3%), berhubungan dengan kinerja perawat karena jenis kelamin dapat

menunjukkan adanya variasi stres kerja yang dapat mempengaruhi pelaksanaan

asuhan keperawatan. Jenis kelamin membedakan ciri, fisik, sifat dan karakter antara

perempuan dan laki-laki. Status perkawinan perawat pelaksana kontrak yang

terbanyak adalah status kawin yaitu 72 orang (75,8%), berhubungan dengan kinerja

perawat karena dengan status perkawinan akan memberikan peningkatan tanggung

jawab, membuat pekerjaan akan tetap menjadi lebih berharga dan begitu penting

sehingga kinerja baik dapat dipertahankan. Pada yang status belum kawin, memiliki

motivasi kerja yang tinggi disebabkan karena belum ada tuntutan keluarga.

Karakteristik responden berhubungan dengan kinerja perawat sesuai dengan Gibson

(1997) bahwa variabel individu memengaruhi perilaku dan prestasi. Menurut Gibson,

variabel individu digolongkan atas kemampuan dan keterampilan (mental dan fisik),

latar belakang (keluarga, tingkat sosial dan pengalaman), dan demografis (umur,

asal-usul, dan jenis kelamin), sedangkan menurut Robbins (2009)

karakteristik-karakteristik biografis yang berpengaruh terhadap produktivitas karyawan adalah

5.3. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala Ruang terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Kontrak di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Pirngadi Medan

Kepemimpinan merupakan suatu keterampilan yang wajib dikuasai manajer

rumah sakit agar dapat menjalankan roda organisasi sesuai dengan visi dan misi

organisasi yang telah ditetapkan. Gaya kepemimpinan transformasional yang di

terapkan merupakan gaya kepemimpinan yang mengacu pada komitmen terhadap

sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada pengikut untuk mencapai

tujuan organisasi.

Pada hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh gaya kepemimpinan

transformasional kepala ruang terhadap kinerja perawat pelaksana kontrak adalah

positif dan signifikan. Positif terlihat dari koefisien regresi gaya kepemimpinan

transformasional kepala ruang sebesar B = 0,190 dan signifikan karena nilai p atau

sig 0,003 < 0,05. Pengaruh positif menunjukkan bahwa pengaruh gaya kepemimpinan transformasional kepala ruang adalah searah dengan kinerja perawat pelaksana

kontrak atau dengan kata lain gaya kepemimpinan transformasional kepala ruang

yang baik akan berpengaruh terhadap kinerja perawat pelaksana kontrak yang baik,

demikian sebaliknya bila gaya kepemimpinan transformasional kepala ruang buruk

maka kinerja perawat pelaksana kontrak akan buruk.

Menurut pendapat Robbins (2008) bahwa pemimpin transformasional

menginspirasi para pengikut untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi mereka

demi kebaikan organisasi dan pemimpin transformasional mampu memiliki pengaruh

cara membantu orang lain memandang masalah lama dengan cara yang baru dan

dapat menginspirasikan para pengikut untuk bekerja keras guna mencapai

tujuan-tujuan bersama.

Menurut pendapat Bass (1985) dalam Yukl (1994) bahwa seorang pemimpin

transformasional diukur melalui hubungan efek kepemimpinan terhadap para

pengikut. Para pengikut seorang pemimpin transformasional merasa adanya

kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan hormat pada para pemimpin dan para

pengikut termotivasi untuk melakukan lebih daripada yang diharapkan. Hasil

penelitian Boerner, Eisenbeiss & Griesser (2007) disimpulkan bahwa kepemimpinan

transformasional memengaruhi kinerja pengikut dan inovasi. Pemimpin

transformasional meningkatkan kinerja pengikut dengan merangsang perilaku warga

organisasi berakibat perilaku kepemimpinan dapat lebih selaras dengan tujuan

kepemimpinan. Pemimpin transformasional memberikan pengaruh yang sangat besar

terhadap pengikut, yang bisa merubah perilaku pengikut kearah yang lebih positip.

Analisis regresi berganda diketahui bahwa pada α 5% untuk sub variabel karisma (p = 0,007), motivasi inspirasional (p = 0,007), stimulasi intelektual (p =

0,000) berpengaruh terhadap kinerja perawat pelaksana kontrak. Sub-variabel

karisma merupakan komponen yang diperlukan dari kepemimpinan transformasional.

Inti dari karisma adalah dipandang sebagai luar biasa oleh pengikut yang bergantung

pada pemimpin untuk bimbingan dan inspirasi pengikut. Atribusi karisma bagi

inovatif, mengambil resiko pribadi untuk mempromosikan. Perilaku lain yaitu

memiliki ciri dan keterampilan seperti keyakinan diri, pendirian yang kuat, sikap

tenang, kemampuan berbicara akan meningkatkan karisma.

Pada sub variabel motivasi inspirasional, pemimpin transformasional

menyampaikan visi yang jelas, membangun komitmen terhadap visi baru dan

membantu pengikut untuk memahami tujuan, sasaran dan prioritas dari organisasi.

Keberhasilan dari sebuah visi bergantung pada cara menyampaikan kepada pengikut.

Visi harus disampaikan berulang kali pada setiap kesempatan dengan cara-cara yang

berbeda. Berkomunikasi secara langsung untuk menjelaskan visi dan menjawab

pertanyaan tentang visi adalah lebih efektif dari pada cara komunikasi lain.

Pada sub variabel stimulasi intelektual, pemimpin transformasional

meningkatkan kesadaran pengikut akan permasalahan dan memengaruhi para

pengikut untuk memandang masalah dari perspektif yang baru, meningkatkan

kecerdasan pengikut, rasionalitas dan pemecahan masalah dengan cara yang cermat.

Menurut penelitian Bolkan, Goodboy & Griffin (2011) hasil penelitian menunjukkan

bahwa ketika para guru mempengaruhi motivasi intrinsik siswa melalui penggunaan

secara stimulasi intelektual, siswa mendekati pembelajaran mereka dengan cara yang

mendalam dan strategis. Hasil penelitian ini berarti mempertimbangkan bahwa

pendekatan yang mendalam dan strategis telah dikaitkan dengan hasil pembelajaran

yang positip, sehingga jika diterapkan oleh kepala ruang terhadap bawahan maka

keperawatan yaitu pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan

keperawatan, implementasi dan evaluasi keperawatan.

Hasil penelitian Islam, Aamir, Ahmed & Muhammad (2012) bahwa gaya

kepemimpinan transaksional dan transformasional ditemukan secara positip dan

signifikan berhubungan dengan motivasi dan kinerja. Gaya kepemimpinan

transformasional ditemukan memiliki dampak yang lebih besar pada motivasi para

siswa. Penelitian ini juga menemukan bahwa para siswa termotivasi tampil lebih baik

dibandingkan dengan para siswa yang tidak termotivasi.

Menurut Robbins (2008), para pemimpin transformasional mendorong

bawahan agar lebih inovatif dan kreatif. Para pemimpin yang transformasional lebih

efektif karena lebih kreatif, tetapi pemimpin transformasional lebih efektif karena

mampu mendorong para pengikut menjadi kreatif pula. Para pengikut pemimpin

transformasional cenderung mengejar tujuan-tujuan ambisius, memahami dan

menyetujui tujuan-tujuan strategis organisasi, dan yakin bahwa tujuan-tujuan yang

dikejar adalah memang penting. Pada akhirnya, kepemimpinan transformasional juga

menghasilkan komitmen di pihak para pengikut dan menanamkan pada diri pengikut

5.4. Pengaruh Motivasi Intrinsik Perawat Pelaksana Kontrak terhadap Kinerja