• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh interaksi konsentrasi pupuk organik cair dan jenis bakteri pelarut fosfat Bacillus sp pelarut fosfat Bacillus sp

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil

4.2.4. Pengaruh interaksi konsentrasi pupuk organik cair dan jenis bakteri pelarut fosfat Bacillus sp pelarut fosfat Bacillus sp

Interaksi antara konsentrasi pupuk organik cair (POC) dan jenis bakteri pelarut fosfat (BPF) Bacillus sp nyata berpengaruh terhadap jumlah populasi BPF, jumlah anakan umur 4 dan 8 minggu setelah tanam, bobot umbi per tanaman dan produksi per plot, sedangkan pada parameter pH, P tersedia, P HCl 25%, tinggi tanaman umur 4 - 8 MST, pertambahan tinggi tanaman 6 dan 8 MST, jumlah umbi dan persentase grade umbi memberi pengaruh tidak nyata.

Pemberian jenis BPF yang digabung dengan tanpa pemberian POC secara umum menghasilkan populasi BPF yang jumlahnya lebih tinggi dibanding bila

ditambahkan POC, hal ini menunjukkan bahwa dengan pemberian POC maka pertumbuhan BPF akan terhambat yang ditandai dengan terjadinya penurunan.

Pemberian B. amyloliquefaciens tanpa POC mampu meningkatkan jumlah populasi BPF 61,63% dari perlakuan tanpa POC dan BPF. Pupuk organik cair memiliki pH 3,45 (asam), sehingga pemberian POC secara terus menerus 1 kali 2 minggu akan mempengaruhi keasaman tanah setiap aplikasi. Pada saat aplikasi POC maka diduga pH tanah juga menjadi asam, sehingga sangat mempengaruhi perkembangan BPF di dalam tanah. Bakteri pada umumnya tumbuh dan berkembang optimal pada pH netral dan basa, sehingga apabila berada pada suasana asam maka bakteri kurang mampu hidup secara maksimal. Hal ini sesuai pernyataan Agustiyani et al. (2004), bahwa pada kondisi asam, membran sel menjadi jenuh oleh ion hidrogen sehingga membatasi transport membran dan akan mengalami keracunan karena sebagian substansi asam yang tidak terurai meresap ke dalam sel, sehingga terjadi ionisasi dan pH sel berubah. Perubahan tersebut akan menyebabkan proses pengiriman asam-asam amino dari RNA terhambat sehingga menghambat pertumbuhan bakteri.

Jumlah anakan umur 4 dan 8 minggu setelah tanam tertinggi dihasilkan dengan pemberian POC 80 ml/l air dan B. amyloliquefaciens dan POC 40 ml/l air dan B. amyloliquefaciens. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan POC dengan konsentrasi 40 – 80 ml/l air dan B. amyloliquefaciens mampu meningkatkan pertumbuhan anakan kentang sebesar 36,73% - 41,36% dari perlakuan tanpa POC dan BPF. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Karamina dan Fikrinda (2016) menyatakan bahwa pemberian pupuk organik cair dapat meningkatkan jumlah anakan kentang sebesar 6,6% - 28,28%. Hasil penelitian Ali et al. (2020)

menyatakan bahwa pemberian bakteri pelarut fosfat dapat meningkatkan jumlah anakan tanaman kentang sebesar 32% dari kontrol. Peningkatan jumlah anakan dengan pemberian POC dengan konsentrasi 40 – 80 ml/l air dan Bacillus amyloliquefaciens menunjukkan bahwa POC berperan dalam menyediakan unsur hara tambahan yang dikandung POC, sedangkan B. amyloliquefaciens dapat menghasilkan hormon perangsang tumbuh yang berperan dalam pembentukan anakan kentang. Hal ini didukung hasil penelitian Richardson et al. (2009) dan Idris et al. (2007) yang menyatakan B. amyloliquefaciens salah satu spesies Bacillus yang dapat memproduksi fitohormon perangsang pertumbuhan, solubilisasi dan mobilisasi fosfat, produksi siderophore, antibiosis yaitu produksi antibiotik, penghambatan sintesis etilen tanaman, dan induksi resistensi sistemik tanaman terhadap pathogen, sehingga pertumbuhan tanaman lebih baik.

Secara umum perlakuan interaksi konsentrasi POC dan jenis BPF untuk parameter pH, P tersedia, P HCl 25%, tinggi tanaman umur 4 - 8 MST, pertambahan tinggi tanaman 6 dan 8 MST, jumlah umbi dan persentase grade berbeda tidak nyata dengan perlakuan tanpa POC dan BPF. Perlakuan tanpa BPF dan POC menghasilkan pH tanah asam, sehingga tidak berbeda dengan adanya penambahan BPF dan POC karena terdapat asam-asam organik hasil ekskresi dari BPF dan POC yang mempengaruhi sifat tanah sekitarnya menjadi asam. Fosfat tersedia dan P HCl 25% di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh jenis BPF dan konsentrasi POC yang digunakan untuk menghasilkan asam-asam organik yang dapat melepas P retensi dari total P dalam tanah sehingga tersedia bagi tanaman.

Pertumbuhan tanaman dan jumlah umbi sangat dipengaruhi oleh konsentrasi POC yang diberikan untuk setiap jenis BPF, dimana POC mengandung ZPT selain

unsur hara yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan jumlah umbi. Abidin (2003) menyatakan bahwa penggunaan ZPT dapat meracuni tanaman bila digunakan dalam jumlah yang banyak, namun jika jumlahnya terlalu sedikit maka akan kurang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, sehingga diperlukan konsentrasi yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil.

Pemberian BPF yang digabung dengan POC menghasilkan jumlah populasi BPF yang nyata lebih rendah dari perlakuan pemberian BPF saja, sehingga mempengaruhi kemampuan BPF untuk menghasilkan asam-asam organik yang berperan dalam mekanisme pelarutan P terfiksasi di dalam tanah menjadi tersedia bagi tanaman. Hal ini terjadi karena kelompok bakteri optimum bertumbuh dan berkembang pada pH sekitar netral (Taha et al. 1969). Selain itu pada umumnya bakteri dapat melarutkan P terjerap secara maksimal berada pada kondisi suhu 360C dan pH 7 (Jena dan Rath 2013), sedangkan pada kondisi penelitian ini rataan suhu mulai aplikasi BPF dan selama perkembangannya adalah berkisar 18,480C - 18,810C (terlampir data klimatologi). Meskipun demikian, pemberian POC 120 ml/l air bersamaan dengan B. amyloliquefacien secara umum mampu meningkatkan P HCl 25%, serapan P dan bobot kering tanaman dari tanpa pemberian POC dan BPF, dimana masing-masing adalah 5,84%; 42,95% dan 33,79%.

Penggabungan POC 120 ml/l air bersamaan dengan B. amyloliquefacien menghasilkan peningkatan produksi kentang dari perlakuan tanpa POC dan BPF yaitu masing-masing 43,52% (bobot umbi per tanaman) dan 34,50% (produksi) dan juga jika dibandingkan dengan pemberian perlakuan secara tunggal.

Peningkatan produksi per plot dari perlakuan tanpa POC dan BPF juga diperoleh

dengan pemberian B. pseudomycoides tanpa POC, yaitu 34,91%. Produksi tanaman kentang yang dihasilkan kedua perlakuan (POC 120 ml/l air bersamaan dengan Bacillus amyloliquefacien dan B. pseudomycoides tanpa POC) dari data bobot umbi per tanaman dan produksi per plot untuk per hektar mencapai 27,01 ton dan 27,18 ton, sedangkan perlakuan tanpa POC dan BPF menghasilkan produksi 17,69 ton. Dimana hasil ini melebihi dari BPS Indonesia (2018), yang menyatakan bahwa produktivitas kentang dapat mencapai 18 ton/ha dan juga sesuai dengan produksi kentang pada deskripsi varietas granola 10-30 ton/ha.

Penggabungan perlakuan tersebut menunjukkan bahwa unsur hara yang dihasilkan untuk kebutuhan tanaman mampu menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Hal ini dikarenakan nutrisi merupakan salah satu faktor keberhasilan tanaman untuk bertumbuh, berkembang dan berproduksi dengan baik, selain itu kandungan hormon tumbuh (ZPT) dalam POC juga sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan produksi. Dimana perbedaan konsentrasi POC menghasilkan produksi yang berbeda, hal ini dikarenakan ZPT berfungsi sebagai pemacu dan penghambat pertumbuhan tanaman, apabila konsentrasi yang digunakan tepat maka akan memacu, namun jika tidak tepat maka pertumbuhan tanaman akan terhambat. Sesuai dengan pendapat Abidin (2003), bahwa penggunaan ZPT dalam jumlah yang terlalu banyak justru akan merugikan pertumbuhan tanaman karena akan meracuni tanaman dan jika dalam jumlah yang sedikit maka akan kurang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, sehingga diperlukan penggunaan dengan jumlah yang tepat. Menurut Vinci et al. (2018), kombinasi inokulasi Bacillus amyloliquefaciens dengan pupuk organik kompos yang kaya karbon metabolik

tersedia sebagai alternatif yang efisien untuk pupuk mineral untuk meningkatkan serapan hara dan mendorong mekanisme pertumbuhan pada tanaman jagung.

Disamping itu, pemberian BPF bersamaan dengan POC menghasilkan jumlah asam-asam organik yang lebih banyak, sehingga asam-asam organik tersebut berperan dalam menyediakan unsur hara P yang dapat diserap tanaman dan digunakan untuk pertumbuhan dan berproduksi, dimana serapan P tanaman dengan pemberian POC 120 ml/l air bersamaan dengan B. amyloliquefacien lebih tinggi dari perlakuan tanpa POC dan BPF, sehingga menghasilkan pertumbuhan dan produksi (bobot kering tanaman, bobot umbi per tanaman dan produksi per plot) yang juga lebih tinggi. Mineral alopan pada tanah Andisol memiliki permukaan tapak jerapan yang luas dan bermuatan positif yang bereaksi dengan ortofosfat yang bermuatan negatif, sehingga diperlukan asam-asam organik yang bermuatan negatif untuk menggantikan P terikat sehingga menjadi terlarut dan tersedia bagi tanaman yang akan berperan dalam pertumbuhan dan hasil tanaman.

Hal ini sesuai pendapat Yulnafatmawita et al. (2005), bahwa peningkatan ketersediaan P juga dapat disebabkan oleh proses pertukaran anion atau terjadinya kompetisi antara asam organik dan P dalam memperebutkan tapak jerapan.

Menurut Omar (1998), asam-asam organik memiliki kemampuan untuk mengkelat kation yaitu Al-alopan yang terikat dengan P atau dapat mengakibatkan pertukaran anion asam dengan anion fosfat. Zhu et al. (2018) menyatakan bahwa fosfat yang terjerap yang terakumulasi melalui penambahan pupuk fosfat yang sembarangan dapat dimanfaatkan oleh tanaman dengan menggunakan mikroba pelarut fosfat yang berbeda, enzim fosfatase, asam organik dengan berat molekul rendah, dan pupuk organik. Dimana peningkatan serapan P oleh tanaman sangat

berperan penting pada proses metabolisme tanaman. Hal ini berkaitan dengan fungsi penting P di dalam tanaman yaitu sebagai unsur yang berperan penting dalam proses fotosintesis, penggunaan gula serta pati, transfer energi, pembelahan dan pembesaran sel. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mas’ud (1993) yang menyatakan bahwa fosfat berperan penting dalam proses penyimpanan dan pemindahan energi di dalam tubuh tanaman, sehingga defisiensi P dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang maksimum (Sumarni et al. 2012) dan akan mempengaruhi produksi tanaman.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait