• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil

4.2.2. Pengaruh konsentrasi pupuk organik cair

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi pupuk organik cair (POC) secara tunggal memberi pengaruh nyata terhadap jumlah populasi bakteri pelarut fosfat (BPF), tinggi tanaman umur 6 minggu setelah tanam (MST) dan pertambahan tinggi tanaman umur 6 dan 8 MST, sedangkan pada parameter pH, P tersedia, P HCl 25%, tinggi tanaman umur 4 dan 8 MST, jumlah anakan, bobot kering tanaman, serapan P tanaman, jumlah umbi, bobot umbi per tanaman, persentase grade umbi dan produksi per plot memberi pengaruh tidak nyata.

Pemberian POC memberi pengaruh nyata pada jumlah populasi BPF, dimana semakin tinggi konsentrasi POC yang diberikan maka jumlah populasi BPF semakin rendah. Populasi BPF tertinggi dijumpai pada perlakuan tanpa pemberian POC, hal ini menunjukkan bahwa dengan penambahan POC maka populasi BPF di dalam tanah berkurang setelah tanaman berumur 2 bulan setelah tanam. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan BPF di dalam tanah. Kepadatan dan aktivitas mikroba tanah ditentukan oleh perubahan kondisi fisika dan kimia tanah (Spedding et al. 2003), jenis tanaman yang dibudidayakan, nutrisi tanah, pH, kelembaban, bahan organik (Ponmurugan dan Gopi 2006), serta teknik budidaya yang diterapkan (Mehrvarz et al. 2008).

Kemasaman tanah sangat mempengaruhi aktivitas dan perkembangan BPF. Pupuk organik cair salah satu yang dapat menyediakan C-organik di dalam tanah, namun POC memiliki pH yang masam, yaitu 3,45. Bakteri pelarut fosfat pada umumnya lebih menyukai lingkungan yang bersifat netral sampai basa. Hal ini sesuai dengan pendapat Taha et al. (1969) yang menyatakan bahwa pertumbuhan kelompok bakteri optimum pada pH sekitar netral dan meningkat seiring dengan meningkatnya pH tanah. Oleh karena itu bakteri kurang dapat bertumbuh dan berkembang dengan maksimal pada kondisi tanah masam, sesuai dengan hasil penelitian Agustiyani et al. (2004) yang menyatakan bahwa jumlah sel bakteri pada pH 5 (3,15 x 106 sel/m) lebih rendah dari pada pH 7 (34,67 x 106 sel/m).

Pemberian POC masing-masing taraf konsentrasi menghasilkan pH tanah asam dan berbeda tidak nyata dengan tanpa pemberian POC. Hal ini karena POC mengandung asam-asam organik seperti sitrat, oksalat, laktat dan asetat, sehingga kandungan pH menjadi asam, yaitu sebesar 3,45. Oleh karena itu dengan

pemberian POC dengan cara disiram ke tanah maka akan mempengaruhi pH tanah tetap asam meskipun terdapat peningkatan dari besaran pH POC, yaitu berkisar 4,45 – 4,66.

Kandungan P HCl 25% tanah dengan pemberian POC masing-masing konsentrasi berbeda tidak nyata dengan tanpa pemberian POC, hal ini dikarenakan POC mengandung hara P yang rendah sehingga tidak mempengaruhi total P dalam tanah dibanding tanpa pemberian POC. Konsentrasi POC tertinggi 120 ml/l air yang diberikan hanya mampu meningkatkan P HCl 25% sebesar 0,68%

dibanding tanpa pemberian POC.

P tersedia di dalam tanah tidak berpengaruh dengan adanya pemberian pupuk organik cair pada setiap taraf konsentrasi. Pemberian POC tidak berbeda dengan tanpa pemberian POC, dimana P tersedia yang dihasilkan tergolong rendah-sedang, karena di bawah nilai 10 ppm, sedangkan untuk nilai P tersedia tinggi adalah 11-15 ppm (Eviati dan Sulaeman 2009). Hal ini diduga bahwa P tersedia di dalam tanah telah diserap oleh tanaman untuk pertumbuhan vegetatif.

Pemberian POC dengan konsentrasi 40-80 ml/l air menghasilkan P tersedia yang lebih rendah dari perlakuan kontrol, sedangkan pada konsentrasi 120 ml/l air mampu meningkatkan P tersedia sebesar 1,29% dari perlakuan tanpa POC meskipun tidak berbeda, hal ini diduga bahwa konsentrasi POC yang diberikan akan mempengaruhi jumlah kandungan asam organik yang dihasilkan, dimana semakin tinggi konsentrasi POC yang diberikan maka kandungan asam-asam organik yang dihasilkan akan lebih banyak. Seperti hasil penelitian Yulnafatmawita et al. (2005), bahwa semakin banyak jumlah bahan organik yang ditambahkan maka semakin banyak pula jumlah P yang terbebaskan (P tersedia).

Hal ini menunjukkan bahwa asam-asam organik yang berasal dari POC masih dapat berperan dalam melarutkan P yang terjerap menjadi tersedia meskipun tidak berbeda dengan tanpa pemberian POC. Billah et al. (2019) menyatakan bahwa salah satu mekanisme pelarutan fosfat adalah dihasilkannya asam-asam organik berbobot molekul rendah seperti oksalat, suksinat, tartrat, sitrat, laktat, α-ketoglutarat, asetat, formiat, propionat, glikolat, glutamat, glioksilat, malat, fumarat, yang akan bereaksi dengan bahan pengikat fosfat seperti Al pada mineral alopan membentuk khelat organik yang stabil sehingga mampu membebaskan ion fosfat terikat menjadi tersedia bagi tanaman.

Pertumbuhan vegetatif tanaman kentang dengan pemberian pupuk organik cair secara umum lebih rendah dari perlakuan tanpa pemberian POC untuk masing-masing taraf konsentrasi. Pemberian POC menunjukkan kurang dapat meningkatkan tinggi tanaman pada umur 4-8 minggu setelah tanam, jumlah anakan dan bobot kering tanaman dibandingkan dengan tanpa pemberian POC.

Hal ini diduga bahwa nutrisi yang dikandung POC kurang mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman dari perlakuan tanpa pemberian POC, dikarenakan kandungan hara pada POC jumlahnya relatif rendah yaitu N 0,22%;

K2O 0,16% dan P2O5 0,56%. Hal ini sesuai pendapat Hartatik et al. (2015), bahwa pupuk organik memiliki kandungan kadar hara yang relatif rendah. Hasil penelitian Parman (2007) menyatakan bahwa pemberian pupuk organik cair dari masing-masing konsentrasi perlakuan tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman kentang. Marpaung et al. (2014) juga menyatakan bahwa pemberian pupuk organik cair berpengaruh tidak nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman kentang umur 1 dan 2 BST dan jumlah anakan pada teknik penanaman tanpa

mulsa. Selain itu pH juga sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, dimana tanaman kentang toleran terhadap pH pada selang yang cukup luas, yaitu 4,5 sampai 8,0, tetapi untuk pertumbuhan yang baik dan ketersediaan unsur hara, pH yang baik adalah 5,0 sampai 6,5 (Balai Penelitian Tanah 2007). Hal ini juga didukung hasil penelitian Soti et al. (2015) bahwa L. microphyllum mampu bertahan dan tumbuh pada semua tingkat pH tanah; namun, biomassa akhir, laju pertumbuhan relatif, fotosintesis, dan luas daun spesifik lebih besar pada pH tanah 5,5–6,5.

Serapan P tanaman dengan pemberian POC berbeda tidak nyata dengan tanpa pemberian POC, hal ini dikarenakan P tersedia di dalam tanah juga berbeda tidak nyata. Serapan P tanaman sangat berhubungan dengan P tersedia di dalam tanah, dimana jika P tersedia dalam tanah tinggi maka tanaman dapat menyerap P tersedia tersebut dan meningkatkan serapan P tanaman (Ingle dan Padole 2017).

Produksi tanaman kentang dengan pemberian POC juga berbeda tidak nyata dengan tanpa pemberian POC untuk setiap taraf konsentrasi. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian POC pada konsentrasi 40 – 120 ml/l air belum mampu menghasilkan produksi yang nyata lebih tinggi dari tanpa pemberian POC, sehingga diduga dibutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi untuk dapat meningkatkan produksi. Pemberian POC dengan konsentrasi 40-80 ml/l air menghasilkan produksi yang lebih rendah dari tanpa pemberian POC, namun pada pemberian konsentrasi 120 ml/l air mampu meningkatkan jumlah umbi, bobot umbi per tanaman, persentase grade umbi besar dan produksi dengan peningkatan masing-masing sebesar 12,15%; 15,10%; 14,13% dan 10,32%. Hal ini memperlihatkan bahwa pemberian POC 120 ml/l air berpotensi dalam

peningkatan hasil karena mengandung unsur-unsur hara esensial dalam jumlah kecil dan hormon tumbuh yang berasal dari bahan baku POC (air kelapa), dan pemberian konsentrasi suatu zat akan mempengaruh kinerja zat tersebut, sehingga pemberian konsentrasi perlu dilakukan secara tepat (Ariyanti et al. 2018).

Menurut Karimah et al. (2013), kandungan air kelapa yaitu hormon sitokinin (5,8 mg/l), auksin (0,07 mg/l), hormon giberelin dalam jumlah yang sedikit. Hasil penelitian Marpaung dan Hutabarat (2015) menyatakan bahwa air kelapa sebagai salah satu bahan baku POC, dapat menggantikan perangsang akar sintetis sebagai ZPT, dimana dihasilkan panjang dan bobot basah akar yang tinggi pada bibit tin.

Renvillia et al. (2016) juga menghasilkan pemberian air kepala 100%

menghasilkan jumlah akar pada setek batang jati yang lebih tinggi. Dihasilkannya pembentukan akar didalam tanah yang lebih baik dengan adanya peranan air kelapa sebagai bahan baku POC yang mengandung ZPT, maka akan mempengaruhi terbentuknya jumlah bintil akar untuk umbi kentang. Hal ini terbukti dengan dihasilkannya produksi kentang yang lebih tinggi pada perlakuan POC 120 ml/l air dari perlakuan lainnya, yaitu 23,28 ton/ha dan sesuai dengan produksi kentang pada deskripsi varietas granola 10-30 ton/ha.

Dokumen terkait