HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil
4.2.3. Pengaruh jenis bakteri pelarut fosfat Bacillus sp
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis bakteri pelarut fosfat (BPF) Bacillus sp secara tunggal memberi pengaruh nyata terhadap populasi bakteri pelarut fosfat (BPF), jumlah anakan umur 8 minggu setelah tanam (MST), serapan P tanaman dan bobot kering tanaman, sedangkan pada parameter pH, P tersedia, P HCl 25%, tinggi tanaman umur 4 - 8 MST, jumlah anakan umur 4
MST, jumlah umbi, bobot umbi per tanaman, persentase grade umbi dan produksi per plot memberi pengaruh tidak nyata.
Jumlah populasi BPF di dalam tanah dapat ditingkatkan dengan pemberian BPF. Jenis BPF B. amyloliquefaciens dan B. pseudomycoides yang diberikan pada tanaman kentang lebih mampu untuk berkembang dan beraktivitas sehingga jumlah populasinya tetap lebih tinggi dari tanpa pemberian BPF. Kucey et al.
(1989) menjelaskan bahwa variasi efektivitas inokulasi mikroba pelarut fosfat pada pertumbuhan tanaman dan hasil tanaman adalah: (1) kelangsungan hidup dan kolonisasi BPF yang diinokulasi di rhizosfer, (2) persaingan dengan mikroorganisme asli, (3) sifat dan kandungan tanah dan varietas tanaman, (4) asam organik yang cukup untuk melarutkan fosfat, dan (5) ketidakmampuan BPF untuk melarutkan fosfat tanah. Hal ini menunjukkan bahwa jenis BPF mempengaruhi populasi BPF di dalam tanah.
Pemberian BPF secara umum menghasilkan serapan P tanaman yang lebih tinggi dari tanpa pemberian BPF, dimana serapan P tertinggi dihasilkan Bacillus amyloliquefaciens dengan peningkatan serapan P tanaman kentang dari tanpa pemberian BPF, yaitu sebesar 33,42%. Hal ini berhubungan dengan kandungan P di dalam tanaman dan bobot kering tanaman. Oleh karena itu peningkatan serapan P tanaman dengan menggunakan BPF B. amyloliquefaciens mengindikasikan bahwa bobot kering tanaman juga meningkat, dimana peningkatannya sebesar 27,28%. Menurut Sembiring et al. (2016), pemberian bakteri pelarut fosfat (B.
cepacia) dapat meningkatkan bobot kering tanaman kentang pucuk yaitu 50,07 - 113,73% dibandingkan dengan kontrol. Peningkatan bobot kering tanaman ini juga berhubungan dengan jumlah anakan yang terbentuk, sehingga jika bobot
kering tanaman tinggi maka jumlah anakan yang dihasilkan dengan pemberian BPF Bacillus amyloliquefaciens juga tinggi. Peningkatan jumlah anakan pada umur 4 dan 8 minggu setelah tanam dengan pemberian BPF B. amyloliquefaciens dari perlakuan tanpa BPF masing-masing adalah sebesar 16,03% dan 16,67%.
Oleh karena itu, jumlah serapan P tanaman berhubungan erat dengan bobot kering tanaman dan jumlah anakan tanaman. Tingginya P serapan, bobot kering dan jumlah anakan dengan pemberian BPF B. amyloliquefaciens menunjukkan bahwa P tersedia di dalam tanah juga lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa BPF B. amyloliquefaciens mampu melepaskan P terjerap oleh mineral liat Al-alopan di dalam tanah melalui reaksi asam-asam organik yang dihasilkan oleh BPF B. amyloliquefaciens. Khan et al. (2014) menyatakan bahwa mikroorganisme pelarut fosfat terutama bakteri pelarut fosfat dapat meningkatkan kelarutan senyawa fosfat yang tidak larut melalui pelepasan asam organik dan enzim fosfatase dan fitase yang terdapat dalam berbagai macam mikroorganisme tanah.
Peningkatan serapan P tanaman dengan pemberian BPF Bacillus amyloliquefaciens mengindikasikan bahwa kandungan P di dalam tanaman tinggi, dimana kandungan P ini dapat diindikasikan dari P tersedia di dalam tanah.
Pemberian BPF Bacillus amyloliquefaciens mampu menyediakan P tersedia yang lebih tinggi dari perlakuan lainnya meskipun tidak berbeda nyata selama proses pertumbuhan tanaman. Hal ini berkaitan dengan BPF B. amyloliquefaciens menghasilkan jumlah dan jenis asam-asam organik yang lebih tinggi dari Bacillus cereus, B. pseudomycoides dan POC, yaitu asam sitrat, malat, laktat, oksalat dan asetat. Dimana Khan et al. (2013) dan Sharma et al. (2013 a,b) menyatakan
bahwa aktivitas pelarutan fosfat ditentukan oleh kemampuan mikroba untuk melepaskan metabolit, seperti asam organik, yang melalui gugus hidroksil dan karboksilnya mengkelat kation yang terikat pada fosfat, dan diubah menjadi bentuk larut. Pelarutan P yang efektif oleh metabolit asam organik terkait dengan jumlah dan struktur gugus karboksil, urutan umum efektivitas gugus karboksil:
trikarboksilat (Sitrat) > dikarboksilat (Malat) > monokarboksilat (Asetat) (Ryan et al.
2012).
Pemberian perlakuan jenis BPF Bacillus sp menghasilkan pH di dalam tanah berbeda tidak nyata dengan tanpa pemberian BPF, dimana pH yang dihasilkan asam. Hal ini disebabkan oleh BPF mengekskresikan asam-asam organik yang menghasilkan pH menjadi menurun dari pH tanah sebelum perlakuan (5,2). Khan et al. (2014) juga menegaskan bahwa produksi asam organik oleh mikroorganisme tanah menyebabkan penurunan pH sel mikroba dan sekitarnya.
Kandungan P HCl 25% dalam tanah dengan pemberian beberapa jenis BPF Bacillus sp berbeda tidak nyata dengan tanpa pemberian BPF. Hal ini dikarenakan dosis dan jenis pupuk P yang diberikan pada setiap perlakuan tidak ada perbedaan, sehingga jumlah P total di dalam tanah juga berbeda tidak nyata satu dengan yang lainnya.
Jumlah P tersedia di dalam tanah dengan pemberian BPF Bacillus sp berbeda tidak nyata dengan tanpa pemberian BPF. Kemampuan BPF melarutkan fosfat diantaranya dipengaruhi oleh jenis BPF dan kondisi sifat tanah. Menurut Kucey et al. (1989) aktivitas mikroba pelarut fosfat diantaranya dipengaruhi oleh sifat dan kandungan tanah, asam organik yang cukup untuk melarutkan fosfat, dan
ketidakmampuan BPF untuk melarutkan fosfat tanah. Selain itu menurut McDowell and Condron (2004) P tersedia (seperti H2PO4- dan HPO42-) mudah dipertahankan pada mineral aluminosilikat amorf di perairan dan tanah pada pH mendekati netral, dimana pada tanah Andisol secara umum memiliki pH asam.
Hal ini sesuai dengan pendapat Firnia (2018), bahwa pH sangat berpengaruh terhadap daya fiksasi P, dimana pada tanah masam, ketersediaan hara P sangat rendah. Li et al. (2016) juga menyatakan bahwa pH tanah merupakan salah satu faktor utama yang mengatur dinamika P dalam tanah. Meskipun demikian, pemberian BPF Bacillus amyloliquefaciens dapat meningkatkan P tersedia sebesar 5,57% dari perlakuan tanpa pemberian BPF. Hal ini dikarenakan asam-asam organik dan enzim yang dihasilkan oleh B. amyloliquefaciens mampu melarutkan P, sehingga terdapat peningkatan jumlah P tersedia yang tidak signifikan dengan tanpa pemberian BPF. Dash et al. (2017) melaporkan bahwa mikroba pelarut fosfat melarutkan P untuk diserap tanaman melalui pelepasan asam organik dan aktivitas enzimatik.
Jumlah ketersediaan fosfat juga dipengaruhi oleh jumlah serapan P oleh tanaman. Data P tersedia dengan pemberian BPF secara umum tergolong rendah-sedang, hal ini dikarenakan hara P tersedia di dalam tanah sudah diserap oleh tanaman, yang terbukti dengan P serapan dengan pemberian BPF lebih tinggi dari perlakuan tanpa BPF ( B. pseudomycoides dan B. amyloliquefaciens).
Pertumbuhan vegetatif tanaman kentang berbeda tidak nyata dengan perlakuan tanpa BPF. Unsur hara P sangat berperan dalam pertumbuhan vegetatif tanaman, diantaranya adalah untuk mengembangkan sel tanaman (Suwandi 2009), sehingga tanaman dapat bertumbuh dan berkembang secara maksimal. Pemberian
jenis BPF secara umum menghasilkan P tersedia di dalam tanah yang juga tidak berbeda dengan tanpa pemberian BPF, dimana P tersedia yang dihasilkan tergolong sedang, yaitu diantara 8-10 (Eviati dan Sulaeman 2009). Hal tersebut mengindikasikan bahwa tanaman masih kekurangan unsur hara P yang dimanfaatkan untuk pertumbuhan. Elfiati (2005) dan Lastianingsih (2008) menyatakan bahwa unsur fosfat (P) tersedia penting untuk pertumbuhan sel sehingga dapat memperkuat batang. Meskipun pemberian BPF tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kentang, namun diperoleh peningkatan dari perlakuan tanpa BPF . Peningkatan tinggi tanaman umur 4, 6 dan 8 minggu setelah tanam (MST), jumlah anakan umur 4 dan 8 MST dan bobot kering tertinggi dari perlakuan tanpa BPF diperoleh pada pemberian BPF Bacillus amyloliquefaciens, yaitu masing-masing 0,63%; 5,56%; 2,60%; 16,03%; 16,70%
dan 27,28%. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian jenis BPF Bacillus amyloliquefaciens berperan dalam peningkatan pertumbuhan vegetatif tanaman dengan kemampuannya dalam menyediakan P tersedia yang dapat diserap tanaman. Hal ini didukung oleh Kim et al. (2017) yang menyatakan bahwa strain B. amyloliquefaciens mengekskresikan giberelin dan kemampuan pelarutan fosfatnya dapat berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Hasil tanaman kentang (jumlah umbi, bobot per tanaman, produksi per plot dan persentase grade umbi) dengan pemberian BPF tidak menunjukkan perbedaan dengan tanpa pemberian BPF. Walaupun demikian jika dilihat dari data, terdapat peningkatan jumlah umbi, bobot umbi per tanaman, produksi dan persentase grade umbi dengan pemberian BPF dari perlakuan tanpa pemberian BPF. Jenis BPF Bacillus pseudomycoides mampu meningkatkan persentase grade umbi besar
12,25%; produksi 12,24% dan menurunkan grade umbi kecil 5,36%, sedangkan Bacillus amyloliquefaciens mampu meningkatkan jumlah umbi 8,51%; bobot umbi per tanaman 13,21%; produksi 7,82%; grade umbi besar 0,83%; grade umbi sedang 3,40% dan menurunkan grade umbi kecil 3,07%. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian BPF mampu meningkatkan hasil, meskipun peningkatannya tidak tinggi. Kemampuan BPF melarutkan P terikat di dalam tanah dipengaruhi oleh kemampuan BPF menghasilkan jumlah asam-asam organik. Dimana sebagian jenis asam-asam organik yang diekskresikan oleh BPF jumlahnya masih tergolong rendah sehingga mempengaruhi kemampuan untuk melarutkan P. Pada tanah Andisol yang mengandung mineral liat alopan yang mampu meretensi P dengan sangat tinggi (98,48% menurut hasil analisis tanah awal), sehingga untuk melarutkan P dibutuhkan jenis dan jumlah asam-asam organik yang maksimal.
Dimana menurut Pizarra et al. (2008) afinitas anion asam organik terhadap loka jerapan (Al) adalah sitrat 8,65 > oksalat 6,1 > asetat 1,51 > format 1,36.
4.2.4. Pengaruh interaksi konsentrasi pupuk organik cair dan jenis bakteri