BAB 4 HASIL PENELITIAN
5.2. Pengaruh Karakteristik Bidan Desa terhadap Kinerja
Berdasarkan uji regresi logistik pada variabel karakteristik bidan desa menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh secara signifikan yaitu masa kerja dan tempat tinggal, sedangkan variabel umur, pengetahuan, sikap, dan motivasi tidak berpengaruh dalam uji regresi logistik.
5.2.1. Masa Kerja
Bidan desa yang bekerja >10 tahun mempunyai kinerja yang baik, sedangkan bidan desa yang bekerja <10 tahun mempunyai kinerja yang kurang baik. Hasil uji statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara masa kerja dengan kinerja bidan desa dengan nilai probabilitas (p) = 0,001<0,05. Uji regresi logistik bahwa pengaruh masa kerja terhadap kinerja bidan desa dengan nilai OR (odds rate) 10,717(95%CI:2,333-49,223) artinya bidan desa dengan masa kerja >10 tahun berpeluang mempunyai kinerja yang baik 10,7 kali dibandingkan dengan bidan desa yang bekerja ≤10 tahun. Semakin lama bidan desa bekerja semakin baik kinerjanya.
Penelitian Zulfansyah (2008) menunjukkan bahwa bidan desa yang
yang bekerja <10 tahun, mempunyai kinerja yang kurang baik pula. Hal ini berarti semakin lama bidan bekerja maka kinerja bidan desa tersebut akan semakin baik (meningkat).
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Palluturi (2007), menunjukkan dari 21 responden (65,6%) yang mengatakan bekerja >10 tahun terdapat 15 responden (71,4%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (28,6%) memiliki kinerja kurang, sedangkan dari 11 responden yang bekerja <10 tahun terdapat 7 responden (63,6%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (36,4%) memiliki kinerja kurang. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.652 (p> 0,05) maka Ho diterima. Hal ini berarti tidak ada hubungan masa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.
Menurut Depkes RI (1996), lama bekerja seorang bidan desa dapat diidentikkan dengan banyaknya pengalaman yang sudah dimilikinya. Dengan semakin banyaknya pengalaman yang diperoleh seseorang selama bekerja maka pengetahuan bidan juga bertambah pula, dengan pengetahuannya tersebut bidan dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang diembannya. Sedangkan menurut Notoatmodjo (2002), pengalaman adalah guru yang baik, oleh sebab itu pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dan peningkatan kualitas pelayanan. Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh
Rostianna Purba : P e n g a r u h K a r a k t e r i s t i k D a n P e r a n B i d a n D e s a Terhadap Kinerja Dalam Memberikan Pelayanan Kebidanan Di Kabupaten Tapanuli Tengah, 2009 116
pengetahuan, hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.
Berdasarkan hasil penelitian ini terlihat bahwa penempatan bidan desa tanpa memperhatikan faktor pengalaman bidan tersebut menimbulkan masalah- masalah baru dalam pelayanan kesehatan. Banyak bidan desa yang ditempatkan di desa, ketika baru saja tamat (menyelesaikan) pendidikan D-III Kebidanan, sementara pengalaman dan keahlian dalam memberikan pertolongan pada masyarakat khususnya ibu dan bayi masih belum memadai, sering ditemui bahwa teori yang diperoleh di bangku kuliah tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan sehingga dibutuhkan pengalaman yang baik. Selain faktor demografi yang sulit dijangkau, faktor pengalaman bidan desa ini merupakan salah satu faktor tingginya angka kesakitan dan angka kematian ibu dan bayi di Tapanuli Tengah. Untuk itu Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah dalam upaya peningkatan kinerja bidan desa perlu melakukan pelatihan dan kursus tentang APN secara bertahap dan kontinyu, memberikan bidan kit agar pelayanan kepada masyarakat terutama ibu dan bayi dapat meningkat. Kerjasama antara aparat pemerintahan dan Kepala Puskesmas untuk memberikan pembinaan dan pengarahan kepada bidan secara bertahap, melakukan pemilihan bidan desa teladan dan memberikan penghargaan (reward) bagi bidan yang dapat mencapai target pelayanan kebidanan yang telah ditetapkan.
5.2.2. Tempat Tinggal
Responden yang bertempat tinggal di polindes mempunyai kinerja yang baik, sedangkan responden yang tinggal di luar polindes sebagian besar mempunyai kinerja yang kurang baik. Pada uji regresi logistik menunjukkan bahwa tempat tinggal merupakan faktor yang paling berpengaruh dibandingkan
dengan variabel yang diteliti lainnya dengan nilai OR (odd rate) 23,823
(95%CI:5,204-109,059) artinya bidan desa yang bertempat tinggal di polindes berpeluang mempunyai kinerja yang baik 23,8 kali dibandingkan dengan bidan desa yang tinggal di luar polindes. Mengacu hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menempati polindes atau bidan desa tinggal di tempat tugasnya maka pelayanan kesehatan pada masyarakat terutama ibu dan anak maka akan meningkatkan status kesehatannya. Hasil ini sejalan dengan survei awal penelitian ini bahwa alasan ibu tidak melakukan pemeriksaan dan persalinan pada bidan desa karena bidan desa tidak tinggal di desa / polindes tersebut sehingga bila ingin mendapatkan pelayanan pemeriksaan atau persalinan selama 24 jam tidak terpenuhi.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Winarni (2007), yang melakukan penelitian pada bidan desa di Kabupaten Aceh Utara mendapati bahwa kinerja bidan desa kurang baik disebabkan 62,4% tidak tinggal pada tempat yang telah ditentukan (polindes).
Penelitian Zulfansyah (2008) menunjukkan bahwa bidan desa yang
Rostianna Purba : P e n g a r u h K a r a k t e r i s t i k D a n P e r a n B i d a n D e s a Terhadap Kinerja Dalam Memberikan Pelayanan Kebidanan Di Kabupaten Tapanuli Tengah, 2009 118
bidan desa yang tinggal di luar desa mempunyai kinerja yang kurang baik dengan nilai signifikan (p<0,05). Hal ini berarti ada pengaruh tempat tinggal bidan desa dengan kinerja bidan desa.
Berbeda dengan penelitian Riyanto (2006) mendapati bahwa bidan yang tinggal di polindes sebagian besar kinerjanya sedang sebanyak 28 orang (45,2%), sedangkan bidan desa yang tidak tinggal di polindes sebagian besar kinerjanya juga sedang sebanyak 17 bidan (27,4%). Rata-rata (mean) kinerja bidan yang mempunyai polindes lebih kecil (mendekati sama) dari bidan yang tidak tinggal di polindes. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna (p=0,071).
Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Syahlan (2002), bahwa bidan desa yang bertempat tinggal di desa atau polindes memiliki kinerja yang lebih baik bila dibandingkan dengan bidan desa yang tidak bertempat tinggal di polindes. Hal ini sangat logis karena dari beberapa fakta, bidan yang tidak bertempat tinggal di desa (polindes) sebagian waktu kerjanya habis tersita perjalanan pulang pergi dari tempat tinggal ke polindes sehingga mengganggu kinerjanya.
Letak geografis Kabupaten Tapanuli Tengah turut menunjang rendahnya kinerja bidan desa. Bidan yang tidak tinggal di polindes (di desa tempat tugasnya) akan mempunyai banyak hambatan dalam melaksanakan tugas, termasuk dalam hal transportasi termasuk kondisi jalan dan cuaca. Kondisi jalan yang kurang baik dan perubahan cuaca terutama pada musim hujan akan mempengaruhi kehadiran
bidan di desa. Hal ini berbeda jika bidan desa tinggal di polindes, maka warga masyarakat terutama ibu akan lebih mudah menemuinya dan mendapatkan