• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4.2 Pengaruh Karakteristik Pemilik Anjing Terhadap Partisipasinya

Manusia adalah individu dengan jati diri yang khas yang memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik adalah sifat individu yang relatif tidak berubah,

Elfira Malahayati : Pengaruh Karakteristik Pemilik Anjing Terhadap Partisipasinya Dalam Program Pencegahan Penyakit Rabies Di Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor Kota Medan Tahun 2009, 2010.

karakteristik tersebut seperti: umur, jenis kelamin, suku bangsa, kebangsaan, pendidikan, dan lain-lain (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Notoatmodjo (2003), beberapa faktor individu (person) yang terkait kesehatan antara lain:

a) Umur

Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan dalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun kematian di dalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur. Untuk kepentingan perbandingan WHO menganjurkan pembagian-pembagian umur menurut tingkat kedewasaan: 0-14 tahun : bayi dan anak-anak

15-49 tahun : orang muda dan dewasa 50 tahun ke atas : orang tua

b) Jenis kelamin

Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi di kalangan wanita, sedangkan angka kematian lebih tinggi di kalangan pria. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor intrinsik yang meliputi faktor keturunan yang terkait jenis kelamin atau perbedaan hormonal dan faktor-faktor lingkungan (lebih banyak pria penghisap rokok, minum-minuman keras, pekerja berat).

c) Kelas Sosial

Kelas sosial ini ditentukan oleh unsur-unsur seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan, tempat tinggal. Hal-hal ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan.

d) Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan juga dapat berperan di dalam timbulnya penyakit. e) Penghasilan

Merupakan variabel yang dinilai hubungannya dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan penyakit.

f) Golongan etnik/ Suku

Berbagai golongan etnik dapat berbeda di dalam kebiasaan makan, susunan genetika, gaya hidup, dan sebagainya yang dapat mengakibatkan perbedaan- perbedaan di dalam angka kesakitan atau kematian.

Menurut Azwar (1988), kebutuhan dan tuntutan seseorang terhadap kesehatan amat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, sosial budaya, dan ekonomi orang tersebut. Jika tingkat pendidikan baik, keadaan sosial budaya dan sosial ekonomi juga baik, maka secara relatif kebutuhan dan tuntutannya terhadap kesehatan akan tinggi. Hal ini sebaiknya akan ditemukan jika tingkat pendidikan, keadaan sosial budaya dan sosial ekonomi belum memuaskan.

Menurut Notoatmodjo (2003), perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budaya. Latar belakang sosial, srtuktur sosial, dan ekonomi mempunyai pengaruh terhadap perilaku kesehatan masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak faktor karakteristik individu yang berhubungan atau berpengaruh terhadap perilaku kesehatan. Faktor karakteristik tersebut tidak dapat secara keseluruhan menjadi materi analisa penelitian ini, karakteristik individu yang diduga mempunyai pengaruh

Elfira Malahayati : Pengaruh Karakteristik Pemilik Anjing Terhadap Partisipasinya Dalam Program Pencegahan Penyakit Rabies Di Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor Kota Medan Tahun 2009, 2010.

terhadap perilaku yang dalam hal ini adalah partisipasi pemilik anjing dalam program pencegahan penyakit rabies dibatasi hanya pada karakteristik: (1) Umur, (2) Pendidikan, (3) Pendapatan, (4) Pengetahuan, (5) Sikap.

2.5. Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat merupakan suatu bentuk peran serta atau keterlibatan masyarakat dalam pencegahan penyakit rabies. Partisipasi masyarakat, yang dalam hal ini partisipasi pemilik anjing menunjukkan bukti bahwa pemilik anjing merasa terlibat dan merasa menjadi bagian dari pembangunan. Hal ini akan sangat berdampak positif terhadap keberhasilan pelaksanaan suatu program pembangunan (Depkes RI, 2003).

Menurut Mikkelsen yang dikutip Ardian (2006) yang mengutip berbagai kajian FAO (Food Agriculture Organization) terdapat beragam arti kata partisipasi, antara lain:

1) Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat kepada program tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan.

2) Partisipasi adalah ‘pemekaan’ (membuat peka) pihak masyarakat untuk meninggalkan kemauan menerima dan kemampuan untuk menanggapi program- program pembangunan.

3) Partisipasi adalah suatu proses yang aktif yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk menggunakan hal itu.

4) Partisipasi adalah pemantapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf yang melakukan persiapan, pelaksanaan, monitoring agar memperoleh informasi mengenai konteks sosial dan dampak-dampaknya.

5) Partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukan sendiri.

6) Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan dan lingkungan mereka.

Menurut Notoatmodjo (2007), partisipasi masyarakat di bidang kesehatan berarti keikutsertaan seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan mereka sendiri. Di dalam partisipasi, setiap anggota masyarakat dituntut suatu kontribusi atau sumbangan yang diwujudkan dalam 4 M, yaitu manpower (tenaga), money (uang), material (benda-benda lain seperti kayu, bambu, beras, dan sebagainya), dan mind (ide atau gagasan).

Syarat-syarat tumbuhnya partisipasi dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu: pertama, adanya kesempatan untuk membangun dalam pembangunan, kedua adalah adanya kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan itu, dan ketiga adalah adanya kemauan untuk berpartisipasi. Untuk meningkatkan partisipasi, maka kesempatan, kemampuan, dan kemauan untuk berpartisipasi dalam pembangunan itu perlu ditingkatkan.

Peningkatan partisipasi masyarakat adalah suatu proses dimana individu, keluarga, dan masyarakat dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan pencegahan penyakit di wilayahnya. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meyakinkan masyarakat

Elfira Malahayati : Pengaruh Karakteristik Pemilik Anjing Terhadap Partisipasinya Dalam Program Pencegahan Penyakit Rabies Di Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor Kota Medan Tahun 2009, 2010.

bahwa program ini perlu dilaksanakan oleh masyarakat untuk mengatasi masalah yang ada di lingkungannya.

Kegiatan ini dapat meningkatkan rasa percaya diri masyarakat untuk ikut melaksanakan pembangunan. Peningkatan partisipasi masyarakat menumbuhkan berbagai peluang yang memungkinkan seluruh anggota masyarakat untuk secara aktif berkontribusi dalam pembangunan, sehingga dapat menghasilkan manfaat yang merata bagi seluruh warga.

Dengan demikian jelaslah bahwa partisipasi masyarakat khususnya kepala keluarga merupakan suatu syarat yang mutlak diperlukan demi keberhasilan program pembangunan. Suatu program akan dianggap tidak berhasil jika tidak melibatkan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, penting sekali dipertimbangkan meningkatkan partisipasi kepala keluarga dalam setiap program pembangunan (Depkes RI, 2003).

2.6. Kerangka Konsep Penelitian

Adapun kerangka konsep dari penelitian ini adalah:

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 2.3. Kerangka Konsep Penelitian Karakteristik Pemilik Anjing:

- Umur - Pendidikan - Pendapatan - Pengetahuan - Sikap Partisipasi Pemilik Anjing Dalam Program Pencegahan Penyakit Rabies

Definisi Konsep:

1. Karakteristik kepala keluarga adalah ciri dari individu yang melekat pada diri mereka yang dapat dibedakan satu individu dengan individu lainnya yang berhubungan dengan partisipasinya dalam program pencegahan penyakit rabies. Karakteristik ini meliputi umur, suku, pendidikan, pendapatan, pengetahuan, dan sikap.

2. Partisipasi dalam pelaksanaan pencegahan penyakit rabies adalah gambaran keikutsertaan pemilik anjing dalam pelaksanaan program pencegahan penyakit rabies yang meliputi pemberian vaksinasi pada anjing peliharaan, mengikat anjing dengan rantai yang tidak lebih dari 2 meter, mengikat anjing dengan rantai yang panjangnya tidak lebih dari 2 meter dan memberangus moncongnya ketika dibawa keluar rumah, dan melaporkan anggota keluarga ke pelayanan kesehatan terdekat bila terjadi kasus gigitan.

2.7. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka konsep di atas, dapat disusun hipotesis penelitian sebagai berikut: “Terdapat pengaruh karakteristik pemilik anjing (meliputi umur, pendidikan, pendapatan, pengetahuan, dan sikap) terhadap partisipasinya dalam program pencegahan penyakit rabies”.

Elfira Malahayati : Pengaruh Karakteristik Pemilik Anjing Terhadap Partisipasinya Dalam Program Pencegahan Penyakit Rabies Di Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor Kota Medan Tahun 2009, 2010.

Dokumen terkait