• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Kurikulum

Dalam dokumen SABARUDIN BAYURESTIVIANA (Halaman 165-200)

B. Hasil Penelitian

2) Pengembangan Kurikulum

Pengembangan kurikulum dalam membentuk karakter peserta didik agar memilki karakter yang sesuai dengan kondisi sosial maka sekolah mengembangkan kurikulum berbasis budaya lokal seperti yang disampaikan oleh SBR:

“Kurikulum berbasisi lokal adalah dokumen pembelajaran yang mencantumkan hasil belajar yang ingin dicapai oleh peserta didik yang sudah menerapkan kesesuana antara hasil belajar dengan kondisi disekitar tempat tinggal termasuk disesuaikan dengan adat dan kebiasaan disekitar tempat tinggal ,misalnya adalah nilai gotong royong, kekeluargaan, semangat, dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa (W/ SBR/18/10/2012)”.

Menurut ARF kurikulum berbasis budaya lokal :

“Berkaitan dengan pendidikan dan kurikulum pendidikan kearifan lokal memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan kearifan lokal akan memberikan nilai tambah dalam mencetak generasi muda mendatang lebih unggul dalam penguasaan teknologi dan tanpa meninggalkan kebergaman budaya Indonesia.

Dalam prkasis pendidikan, nilai dan budaya lokal cenderung menempati posisi peripheral. Menilik persoalan diatas perlu ada kurikulum muatan lokal yang mengacu kepada kearifan lokal pada masing-masing daerah di Indonesia.

Penempatan kurikulum muatan lokal dalam proses pendidikan akan memeberika dampak yang positif terhadap peserta didik dan guru sendiri. Dibalik itu juga kesenjangan akademik yang terjadi dikalangan pelajar tidak terlepas dari budaya lokal dimana sekolah tersebut berada. Tingginya nilai akademik pada biadng studi lain tidak menjamin peserta didik baik dalam hal yang lain. Sehingga dalam pelaksanaannya kurikulum muatan lokal hilang secara perlahan dalam tatanan Pendidikan Nasional pada saat ini.Pengenalan kearifan lokal dalam lembaga pendidikan

tidak terlepas dari keberagama budaya di Negara ini, sehingga muncullah isltilah Plurali-Multikultural

( W/ARF/10/10/12)”.

Untuk mengembangkan model pendidikan karakter maka SMA Negeri Ajibarang mengembangkan kurikulum dengan cara mengembangan kurikulum seperti yang diinformasikan oleh ARF : “Kurikulum disusun dan dikembangkan kembali secara

spesifik bertujuan untuk menciptakan manusia yang paripura serta ada usaha-usaha yang dilakukan untuk mentransfer dan menanamkan nilai-nilai budaya lokal,dengan demikian usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan karakter akan dapat dilaksanakan dengan baik, serta tidak mengurangi nilai-nilai budaya lokal dalam penyusunan kurikukulum dimaksudApabila kurikulum dibuat tanpa adanya proses perumusan kurikulum terlebih dahulu, serta kebutuhan akan kurikulum bagi peserta didik serta tidak melibatkan pihak-pihak tertentu, maka dikhawatirkan akan menemukan kendala dalam pengembangannya dan akan menyulitkan dalam mengevaluasi kurikulum.

Ada tiga hal yang berkaitan dengan urgensi desentralisasi pendidikan, yaitu, pertama, pengembangan masyarakat demokrasi, kedua, pengembangan social capital, dan ketiga, peningkatan daya saing bangsa,maka sudah waktunya daerah mempersiapkan diri dalam memajukan dunia pendidikan pada daerah masing-masing. Terlepas dari ketiga hal diatas, perumusan kurikulum juga menjadi tugas daerah untuk melakukan penyusunan kurikulum, mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan serta tidak meninggalkan keberadaan daerah dengan beragam budaya, dan mengevaluasi kurikulum yang akan dijadikan tolak ukur dari pelaksanaan proses pendidikan di daerah

( W/ARF/10/10/12)”.

Dalam rangka untuk melestarikan kearifan lokal maka SMA Negeri Ajibarang memasukan kedalam kurikulum hal ini senada dengan informasi yang diperoleh dari ARF:

“Pengembangan kurikulum memasukan kearifan budaya lokal melalui pemaknaan kembali dan rekonstruksi nilai-nilai luhur budaya lokal. Dalam kerangka itu, upaya yang perlu commit to user

dilakukan adalah menguak makna substantif kearifan lokal. kearifan lokal yang digali, dipoles, dikemas dan dipelihara dengan baik bisa berfungsi sebagai alternatif pedoman hidup manusia Indonesia dewasa ini dan dapat digunakan untuk menyaring nilai-nilai baru/asing agar tidak bertentangan dengan kepribadian bangsa dan menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Khalik, alam sekitar, dan sesamanya. Dan sebagai bangsa yang besar pemilik dan pewaris sah kebudayaan yang adiluhung pula, bercermin pada kaca benggala kearifan para leluhur dapat menolong kita menemukan posisi yang kokoh di arena global ini. Revitalisasi budaya lokal (kearifan lokal) yang relevan untuk membangun pendidikan karakter. Dalam konteks tersebut di atas, kearifan lokal menjadi relevan. Anak bangsa di negeri ini sudah sewajarnya diperkenalkan dengan lingkungan yang paling dekat di desanya, kecamatan, dan kabupaten, setelah tingkat nasional dan internasional. Kearifan lokal mempunyai arti sangat penting bagi anak didik kita. Dengan mempelajari kearifan lokal anak didik kita akan memahami perjuangan nenek moyangnya dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Nilai-nilai kerja keras, pantang mundur, dan tidak kenal menyerah perlu diajarkan pada anak-anak kita. Proses interaksi yang melibatkan semua pihak dalam kearifan lokal sama saja mempelajari karakteristik dari materi yang dikaji sehingga siswa secara langsung dapat menggali karakter peristiwa kelokalan itu. Oleh karenanya kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai kebijaksanaan atau nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan-kekayaan budaya lokal berupa tradisi, petatah-petitih dan semboyan hidup

( W/ARF/10/10/12)”.

Berdasarkan pengembangan kurikulum dengan memasukan nilai-nilai kearifan lokal maka akan dapat dihasilkan peserta didik yang memiliki sikap atau perilaku yang sesuai dengan karakter baik dilingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Tabel 5.7

Pentingnya Pengembangan Kurikulum No Pentingnya Pengembangan Kurikulum

1 Pengembangan kurikulum adalah pelaksanaan kurikulum yang sudah disesuaikan dengan memasukan nilai-nilai luhur atau karakter yang terdapat dalam lingkungan masyarakat maupun lingkungan sekolah 2 Pengembangan kurikulum merupakan pengelolaan

proses, tujuan pembelajaran oleh sekolah agar peserta didik memiliki kecintaan dan ketahaan daerah

3 Pengembangan kurikulum disesuaikan di setiap daerah berdasarkan kebutuhan dan kodisi sosial maka kurikulum tersebut berkembang menjadi kurikulum berbasis budaya local

4 Pengembangan kurikulum berbasis budaya lokal memberikan nilai tambah kepada peserta didik yaitu tidak meninggalkan kearagaman budaya yang didmiliki (Sumber : Data Primer, Diolah tahun 2013).

Pengembangan kurikulum mengandung pengertian sebagai kegiatan menghasilkan kurikulum yang lebih baik atau efektif dalam membentuk karakter peserta didik yang mencakup tujuan, pengetahuan, metode pembelajaran serta metode dan cara penilaian. Pengembangan kurikulum tersebut dengan memasukan nilai-nilai kearifan lokal sehingga disebut sebagai kurikulum berbasis kearifan lokal melalui pemaknaan kembali dan rekonstruksi nila-nilai luhur budaya lokal berupa tradisi, petatah-petitih dan semboyan hidup.

b. Melestarikan kearifan Lokal Islam Aboge.

Upaya yang dilaksanakan dalam rangka melestarikan Islam Aboge antara lain menurut ID yaitu :

Siji tansah ngelakoni pituture si kaki , loro angger lagi ngakoni apa sing di waraih karo wong tua kaya ngaloni slametan, gawe ancengan, weton, nyekar sarean, kirim dongga nggo wong tua ,ngalap berkah neng petilasan aja darani lagi ngakoni musrik sebab angger lagi nggakoni adat utawa perentaeh wong tua aja di capur aduk karo agama, telu tetep ngudu bisa sabar karo priatin sebeb nek diarani utawa disebut wong Aboge ora usah isin nek diarani wong kolot apa wong sing ketinggalan jaman ya belih bae sebab apa sing diwaraih karo wong tua kue sangune wong urip dadi muga-mungga ayuh pada ngakoni apa sing didawuhi neng

wong tua supaya slamet dunia karo akherat. (Satu selau

menjalankan apa yang diwariskan oleh kakek atau nenek moyang, dua jika sedang melaksanakan upacara slamatan, membuat bubur mereh bubur putih, memperingati hari kelahiran, ziarah kubur, kirim doa untuk arwah orang tua dan mencari bantuan dari arwah

leluhur jangan dimaknai sebagai tindakan syirik atau

menyekutukan Allah dengan appapun tetapi merupakan

menjalankan amanat dari leluhur jadi jangan dicampuradukan dengan ajaran agama, tiga tidak usah malu apabila dikatakan sebagai orang Aboge yang memiliki pikiran kolat atau ketinggalan jaman tetapi memiliki kesabaran hati hal ini harus dimaklumi karena apa yang diajarkan oleh para leluhur merupakan bekal dalam hidup sehigga mudah-mudahan apa yang diajarkan oleh para leluhur dapat menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat )

(W/ID/5/9/2012)”.

Islam Aboge merupakan peninggalan/ warisan para leluhur. Peninggalan ini harus terus dilestarikan dalam rangka penghormatan kepada leluhur. Kepercayaan terhadap leluhur yang telah mendarah daging di hati sampai sekarang tetep berusaha untuk melestarikan tradisi tersebut seperti Suranan, sedekah bumi, slametan, tahlilan, nyekar, ngalap berkah di petilasan dan juga meyangkut perhitungan Jawa yang berhubungan dengan penentuan hari-hari tertentu yang dianggap hari baik bagi masyarakat seperti dalam penentuan awal bulan Kamariah, kedua keyakinan dan kepercayaan yang menyangkut tradisi hendaknya dibedakan dengan keyakinan yang menyangkut ibadah, ketiga bagi para commit to user

penerus generasi silahkan saja untuk menambah jenjang pendidikan atau silahkan lanjutkan tingkatan pendidikan tetapi jangan malu untuk menggunakan peninggalan dari para leluhur jadi jangan lupakan warisan leluhur agar kehidupan dapat selamat dunia dan akhirat.

Upaya untuk melestarikan Islam Aboge menurut peserta didik disampaikan oleh TEP,APW,DF dalam FGD sebagai berikut:

“Cara melestarikan Islam Aboge antara lain:

1. Selalu mengajarkan pengajian tentang Aboge setiap hari sabtu 2. Selalu silaturahmi kepada leluhur, orang tua serta

orang-orang

3. Setiap bulan Mulud berziarah ke makam para sunan

4. Adat Jawa tetap dikembangkan seperti slametan, ruwatan,

nyadran

(FGD/TEP/APW/DF 23/9/2012)”. Tabel 5.8

Upaya Melestarikan Kearifan Lokal Islam Aboge No Upaya Melestarikan Kearifan Lokal Islam Aboge

1 Cara melestarikan Islam Aboge antara lain: Selalu mengajarkan pengajian tentang Aboge setiap hari sabtu, Selalu silaturahmi

kepada leluhur, orang tua serta orang-orang, Setiap bulan Mulud berziarah ke makam para sunan, Adat Jawa tetap dikembangkan seperti slametan, ruwatan, nyadran

2 Islam Aboge adalah suatu bentuk pernyataan banhwa agama Islam adalah ajaran,perintah, larangan dalam hidup manusia dimana menggunakan tradisi-tradisi orang Jawa sebagai petunjuk perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Islam Aboge adalah Islam yang berpedoman serta pelaksanaan ibadah dengan menggunakan penaggalan dan perhitungan yang diambil dari hari rebo wage.

3 Nilai karakter Islam Aboge menjalankan syariat Islam, menghormati orang tua termasuk leluhur, jujur, adil, tolong commit to user

menolong, gotong royong mengembangkan ilmu rasa, mengutamakan tolong menolong dan menegakkan kebenaran serta kejujuran

(Sumber : Data Primer, Diolah tahun 2013)

3. Pengaruh Kearifan Lokal Islam Aboge Terhadap Karakter Peserta Didik.

a. Nilai-Nilai Karakter.

Definisi karakter berdasarkan prinsip etimologis, kata karakter (Inggris:character) berasal dari bahasa Yunani Greek), yaitu charassein yang berarti “toengrave. Kata“toengravedapat diterjemahkan mengukir, melukis, memahatkan, atau menggoreskan (Marzuki, 2002:4).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , kata “karakter” diartikan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain dan watak orang lain. Karakter juga berarti huruf, angka, ruang, simbul khusus yang dapat dimunculkan pada layar dengan papan ketik. Orang berkarakter berarti orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak. Dengan demikian karakter juga dapat diartikan sebagai kepribadian atau akhalak. Kepribadian merupakan ciri, karakteristik atau sifat khas dalam diri seseorang. Karakter bisa terbentuk melalui lingkungan, misalnya lingkungan keluarga pada masa kecil ataupun bawaan dari lahir. Ada yang berpendapat baik dan buruknya karakter manusia memanglah bawaan dari lahir. Jika jiwa bawaannya baik, maka manusia itu commit to user

akan berkarakter baik. Tetapi pendapat itu bisa saja salah. ika pendapat itu benar, maka pendidikan karakter tidak ada gunanya, karena tidak akan mungkin merubah karakter orang.

Karakter dapat dibentuk dan diupayakan. Dalam pendapat ini mengandung makna bahwa pendidikan karakter sangat berguna untuk merubah manusia menjadi manusia yang berkarakter baik.Sebenarnya karakter juga bisa diartikan sebagai tabiat, yang bermaknakan perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan atau kebiasaan atau diartikan sebagai watak, yaitu sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku atau kepribadian.

Pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui

pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar budaya dan karakter bangsa. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu pendidikan budaya dan karakter bangsa pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini:

1) Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa

selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

2) Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

3) Budaya:sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat

mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

4) Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Tabel 5.9

Arti Nilai-Nilai Karakter No Arti Nilai-nilai Karakter

1 Nilai-nilai karakter adalah nilai-nilai yang menjadi dasar budaya dan karakter suatu bangsa

2 Nilai-nilai karakter merupakan nilai yang diperoleh peserta didik melalui pendidikan sehingga disebut sebagai pendidikan karakter

3 Nilai-nilai karakter merupakan nilai yang bersumber dari agama, pancasila, dan budaya

(Sumber : Data Primer, Diolahtahun 2013)

Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti. Karenanya, pendekatan holistik dalam pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Peserta didik memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model, dan mempraktekkan pemecahan masalah yang commit to user

melibatkan nilai. Peserta didik belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas beradab, mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip-prinsip pembelajaran yang digunakan dalam

pengembangan pendidikan karakter bangsa mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai karakter bangsa sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip ini, peserta didik belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan sosial dan mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk sosial. b. Nilai-Nilai Karakter Islam.

Nilai-nilai yang ada dalam ajaran islam dapat membentuk akhlak yang sesuai dengan ajaran dalam AlQuran dan Hadist hal senada juga di sampaikan oleh Bapak AQ berikut :

“Karakter menurut ajaran Islam dapat diperoleh melalui bawaan lahir, sebagai karunia Allah dan hasil usaha melalui pendidikan dan penggemblengan jiwa. Berdasarkan konsep pendidikan Islam yang berlandaskan Al Quran dan Hadits, pendidikan karakter yang baik seyogyanya memenuhi enam prinsip pendidikan akhlaq, yaitu: Pertama; menjadikan Allah Sebagai Tujuan Islam mengimani Allah sebagai Tuhan yang

wujud sehingga ketaatan kepada Nya menjadi mutlak.Kedua; memperhatikan perkembangan akal rasional. Ketiga; memperhatikan Perkembangan Kecerdasan Emosi. Pendidikan karakter yang baik memperhatikan pendidikan emosi, yaitu bagaimana melatih emosi anak agar dapat berperilaku baik. Keempat; praktik melalui keteladanan (uswah) dan pembiasaan (`adah). Kelima; memperhatikan pemenuhan kebutuhan hidup. Karakter tidak dapat dilepaskan dari pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Keenam; menempatkan nilai sesuai prioritas. Pendidikan karakter seringkali tidak efektif karena ada perbedaan prioritas dalam memandang nilai(W/AQ/21/9/2013)”.

Pendapat senada juga diinformasikan oleh salah satu peserta didik yang aktif dalam kegiatan Rohani Islam (ROHIS) meberikan informasi tentang karakter dalam Islam berikut ini :

Karakter dalam Islam antara lain: Kejujuran ,toleransi, atau tercermin dalam sifat-sifat Rosullulah misalnya sidik artinya benar, amanah dapat dipercaya ,tabligh artinya menyampaikan dan fatonah berarti cerdas (W/DASM/22/9/2012)”.

Tabel 5.10

Nilai-Nilai Karakter Islam No Nilai-nilai Karakter Islam

1 Nilai karakter dalam Islam adalah akhlak yang sesuai dengan AlQuran dan Hadist

2 Nilai karakter dalam islam Ke Esaan, akal sehat manusia, kecerdasan emosi, keteladanan, pemenuhan kebutuhan dasar, dan nilai prioritas

3 Nilai karakter dalam islam antara lain jujur, dapat dipercaya, benar dan cerdas

(Sumber : Data Primer, Diolah tahun 2013).

Dalam Islam, karakter identik dengan akhlaq, yaitu kecenderungan jiwa untuk bersikap atau bertindak secara otomatis. Pendidikan akhlak dalam Islam bertujuan melahirkan generasi muslim yang cerdas intrapersonal dan cerdas interpersonalnya. Hal commit to user

ini, sebagaimana tergambar dalam pribadi Rasululloh SAW yang memiliki empat sifat, yaitu Shiddiq, Fathonah, Amanah dan Tabligh. Empat sifat Nabi ini menjadi gambaran yang utuh bagi profil generasi muslim yang unggul.

Sifat Shiddiq (Believer) menjadi modal bagi generasi muslim yang memiliki kemampuan olah hati (kecerdasan spiritual). Yaitu generasi yang memiliki sifat jujur, ikhlas, mensyukuri atas apa yang ada, menerima (tawakkal) atas apa yang telah terjadi, serta selalu berlaku adil. Sifat Fathonah (Thinker) merupakan wujud bagi generasi muslim yang memiliki kemampuan olah fikir (kecerdasan intelektual) yang tinggi, memiliki visi jauh kedepan, cerdas, kreatif dan terbuka. Sifat Amanah (Doer) menjadi simbol bagi generasi muslim yang memiliki kegigihan dalam bertindak, semangat. Senantiasa bekerja keras, disiplin dan bertanggung jawab. Sifat Tabligh (Networker), merupakan perwujudan bagi generasi muslim yang memiliki kemampuan olah rasa/karsa (kecerdasan emosi) yang matang. Mereka senantiasa peduli dengan penderitaan orang lain, memiliki kepekaan untuk selalu membantu orang yang membutuhkan, senang bergotong royong dan bertindak demokratis dalam memutuskan sesuatu.

c. Nilai-Nilai Karakter Di SMA Negeri Ajibarang Kecamatan Ajibarang.

Dalam proses internalisasi pendidikan karakter, peneliti memberikan gambaran nilai-nilai karakter yang harus dipahami seorang pendidik. Nilai-nilai tersebut didasarkan kajian berbagai nilai agama, norma sosial, peraturan atau hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip hak asasi manusia, telah teridentifikasi butir-butir nilai yang dikelompokkan menjadi lima nilai utama. Pertama, nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan. Kedua, nilai karakter hubungannya dengan diri sendiri yang meliputi kejujuran, tanggung jawab, bergaya hidup sehat, disiplin, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirausaha, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, mandiri, ingin tahu, dan cinta ilmu. Ketiga, nilai karakter hubungannya dengan sesama, yang meliputi nilai kesadaran akan hak dan kewajiban diri dan orang lain, patuh pada aturan-aturan sosial, menghargai karya dan prestasi orang lain, santun, dan demokratis. Keempat, nilai karakter hubungannya dengan lingkungan. Kelima, nilai kebangsaan yang meliputi nasionalis dan menghargai keberagaman. Nilai-nilai karakter yang di tanamkan kepada peserta didik di SMA Negeri Ajibarang selain sesuai dengan tujuan pendidikan karakter juga memasukan nilai dari kearifan lokal seperti yang disampaikan oleh informan ADH berikut ini :

“Nilai-nilai yang dimasukan dalam pembelajaran disesuaikan dengan kearifan lokal yang nantinya dapat dapat muncul pada: pemikiran, sikap, dan perilaku. Ketiganya hampir sulit dipisahkan. Jika ketiganya ada yang timpang, maka kearifan lokal tersebut semakin pudar. Dalam pemikiran, sering terdapat akhlak mulia, berbudi luhur, tetapi kalau mobah mosik, solah bawa, tidak baik juga dianggap tidak arif, apalagi kalau tindakannya serba tidak terpuji. Apa saja dapat tercakup dalam kearifan lokal. Paling tidak cakupan luas kearifan lokal dapat meliputi: pemikiran, sikap, dan tindakan berbahasa, berolah seni, dan bersastra, pemikiran, sikap, dan tindakan dalam berbagai artefak budaya, misalnya keris, candi, dekorasi, lukisan, dan sebagainya; dan pemikiran, sikap, dan tindakan sosial bermasyarakat, seperti unggah- ungguh, sopan santun, dan tata krama( W/ADH/18/10/2012)”.

Nilai-nilai karakter yang dikembangkan di SMA Negeri Ajibarang seperti yang disampaikan oleh ARF :

“Dalam perkembangannya, pendidikan karakter tidak terlepas dari beberapa nilai yang harus dilaksanakan,nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut:

1)Nilai keuataman. Manusia memiliki keutamaan kalau ia menghayati dan melaksanakan tindakan-tindakan yang utama, yang membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang

Dalam dokumen SABARUDIN BAYURESTIVIANA (Halaman 165-200)

Dokumen terkait