• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rasional

Fluktuasi muka air tanah akibat drainase tanah gambut yang tidak terkendali selain berpengaruh terhadap hidrofobisitas, juga berpengaruh pada emisi karbon dari tanah (Berglund dan Berglund 2011; Handayani 2009), penurunan permukaan gambut (Wosten et al. 1997), produksi kelapa sawit (Hasnol et al. 2010, 2011; Lim et al. 2012), serta sifat-sifat tanah lainnya. Pengembangan sistem tata air dengan mempertahankan muka air tanah pada kedalaman tertentu sudah banyak dilakukan, namun kaitannya dengan distribusi kelembaban tanah (melalui gaya kapiler) sampai ke permukaan tanah belum banyak diketahui. Kedalaman muka air tanah juga harus dikaitkan dengan upaya menekan emisi karbon dari lahan gambut dan adanya peningkatan produksi tanaman. Dalam kerangka pengembangan kelapa sawit yang berkelanjutan pada lahan gambut, pengelolaan lahan seharusnya tidak lagi hanya menekankan pada aktivitas untuk meningkatkan produksi tanpa memperhatikan kelestarian sifat-sifat tanah gambut, tetapi harus ditekankan terhadap keduanya (Hasnol et al. 2011).

Selain pengelolaan air, untuk mencegah degradasi tanah gambut dilakukan ameliorasi untuk meningkatkan stabilitas gambut dan memperbaiki kesuburan tanah serta meningkatkan produktivitas tanaman (Salampak 1999). Dalam proses stabilisasi, kehilangan karbon organik gambut sebagai hasil dekomposisi mikroorganisme berupa gas rumah kaca (CO2 dan CH4) dapat ditekan (Sollins et al. 1996). Ikatan kation polivalen dan senyawa organik akan membentuk komplek yang stabil dan tahan terhadap proses dekomposisi (Tan 1993). Kation Fe3+ memiliki afinitas tertinggi dan paling stabil berikatan dengan senyawa-senyawa organik dibanding kation-kation lainnya (Saragih 1996). Salampak (1999) menggunakan tanah mineral sebagai amelioran dengan kandungan besi sebesar 22.06%, nyata menurunkan dekomposisi gambut dan meningkatkan produktivitas tanah. Mario (2002) melaporkan adanya peningkatan hasil gabah dan penurunan emisi karbon dengan penggunaan terak baja (bahan kaya besi). Penggunaan amelioran berkadar besi tinggi juga dilaporkan mampu meningkatkan daya simpan air (Nicholas 2002; Michel 2009), sehingga berpotensi mencegah terjadinya hidrofobisitas tanah gambut (Szajdak dan Szatylowicz 2010).

Berdasarkan uraian di atas, informasi mengenai pengaruh muka air tanah dan pemberian bahan amelioran yang dapat menjamin kelembaban tanah dapat terdistribusi sampai ke permukaan tanah dan kaitannya dengan hidrofobisitas tanah gambut belum banyak diketahui, disamping adanya penurunan emisi karbon dan peningkatan produksi tanaman kelapa sawit. Kajian mengenai hubungan kadar air tanah, hidrofobisitas dan kaitannya dengan emisi CO2 tanah gambut masih perlu dilakukan secara lebih mendalam. Untuk itu, penelitian lapangan ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kedalaman muka air tanah dan dosis terak baja terhadap distribusi kelembaban tanah gambut, hidrofobisitas aktual tanah gambut, emisi karbon dioksida dan produksi kelapa sawit.

Bahan dan Metode Lokasi Penelitian

Percobaan lapangan dilaksanakan pada blok tanaman kelapa sawit menghasilkan tahun tanam 2008 di Afdeling IV, kebun Panai Jaya. Jenis bahan tanaman kelapa sawit pada areal percobaan adalah jenis DxP (Tenera) dengan populasi tanaman awal adalah 143 pohon ha-1. Blok tanaman kelapa sawit yang digunakan sebagai petak penelitian terdiri dari 5 blok, yaitu Blok 08N, 08O, 08Q, 08K, dan 08J. Blok tanaman kelapa sawit telah dilengkapi dengan sarana tata air yang terdiri dari saluran utama (main drain), saluran sekunder (collection drain), dan sekat-sekat air, namun pengelolaannya belum dilakukan dengan baik oleh pihak kebun. Curah hujan di lokasi penelitian dicatat selama pelaksanaan penelitian dengan pemasangan ombrometer.

Pemupukan tanaman kelapa sawit pada blok tanaman yang digunakan sebagai petak penelitian dilakukan oleh pihak kebun dengan jenis, dosis, dan frekuensi aplikasi sesuai dengan standar kebun (Lampiran 5). Pelaksanaan kultur teknis tanaman lainnya (pengendalian gulma, penunasan, dan panen) juga mengikuti standar kebun dan rotasinya mengikuti norma yang berlaku di kebun.

Rancangan Percobaan

Penelitian lapangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Petak Terpisah. Petak utama adalah kedalaman muka air tanah yang terdiri dari 3 taraf: 1. WLM-1 = pengelolaan kedalaman muka air tanah pada kisaran 35-50 cm dari

permukaan tanah.

2. WLM-2 = pengelolaan kedalaman muka air tanah pada kisaran 60-75 cm dari permukaan tanah.

3. WLM-3 = pengelolaan kedalaman muka air tanah pada >75 cm dari permukaan tanah.

Karena adanya faktor bulan kering dan bulan basah yang cukup ekstrim selama pelaksanaan penelitian dan dukungan sarana tata air kawasan yang masih terbatas, menyebabkan perlakuan pengelolaan kedalaman muka air tanah sulit untuk mempertahankan ketiga kisaran kedalaman muka air tanah tetap stabil selama periode penelitian, sehingga tidak diperoleh kisaran kedalaman muka air sesuai perlakuan awal. Namun demikian, berdasarkan Gambar 24 (pada bab hasil dan pembahasan) diperoleh tiga kelompok muka air tanah (MAT), yaitu MAT-1 berkisar pada kedalaman 30-50 cm, MAT-2 berkisar pada kedalaman 45-70 cm, dan MAT-3 berkisar pada kedalaman 70-90 cm yang dianggap dapat mewakili kedalaman muka air tanah sesuai perlakuan awal. Selanjutnya, dalam analisis dan penyajian hasil penelitian didasarkan pada 3 kelompok MAT tersebut.

Anak petak adalah dosis terak baja yang terdiri dari 4 taraf, yaitu: 1. A0 = tanpa aplikasi terak baja.

2. A1 = dosis terak baja 3.15 kg pohon-1 (setara untuk netralisasi tanah gambut untuk meningkatkan kejenuhan basa menjadi sebesar 20%).

3. A2 = dosis terak baja 6.51 kg pohon-1 (setara untuk netralisasi tanah gambut untuk meningkatkan kejenuhan basa menjadi sebesar 30%).

4. A3 = dosis terak baja 9.86 kg pohon-1 (setara untuk netralisasi tanah gambut untuk meningkatkan kejenuhan basa menjadi sebesar 40%).

Aplikasi terak baja dilakukan dengan cara menyebar secara merata pada daerah piringan pohon tanaman kelapa sawit. Untuk keperluan pengamatan dan pengambilan sampel dari luar piringan pohon, maka aplikasi juga dilakukan gawangan antar pohon. Aplikasi terak baja dilakukan 2 kali per tahun, aplikasi I pada Desember 2013 dan aplikasi II dilakukan pada Mei 2014. Dosis setiap aplikasi adalah setengah dari dosis total per pohon.

Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 36 kombinasi perlakuan atau 36 petak penelitian. Satu petak penelitian terdiri dari 36 pohon kelapa sawit, terdiri dari 16 pohon pengamatan dan 20 pohon pagar. Layout penelitian lapangan dan petak penelitian disajikan pada Gambar 17. Model matematika yang digunakan adalah:

Yijk = µ + αi + ik + βj + (αβ)ij + ijk

dimana:

Yijk = nilai pengamatan pada faktor pengelolaan muka air tanah taraf ke i, faktor dosis terak baja taraf ke j, dan pada ulangan ke-k

µ = nilai rerata sesungguhnya

αi = pengaruh aditif taraf ke-i dari faktor pengelolaan muka air tanah

βj = pengaruh taraf ke-j dari faktor dosis terak baja

(αβ)ij = pengaruh interaksi taraf ke i faktor pengelolaan muka air tanah dengan taraf ke -j faktor dosis terak baja

ik = pengaruh acak dari petak utama

ijk = pengaruh acak dari anak petak.

Gambar 17. Layout penelitian lapangan (A) dan petak penelitian (B)

Untuk mengetahui perbedaan pengaruh perlakuan dilakukan analisis ragam (ANOVA), sedangkan perbedaan pada masing-masing perlakuan dan interaksinya dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan (Duncan’s Multiple Range

Test). Analisis statistik pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SAS (Statistical Analysis System).

Pengamatan Hidrofobisitas Aktual Tanah Gambut

Pengamatan hidrofobisitas tanah gambut dikaitkan dengan dinamika kedalaman muka air tanah dan pemberian amelioran. Hidrofobisitas yang diukur pada percobaan lapangan ini merupakan hidrofobisitas aktual, yaitu pada kondisi kadar air lapangan dan dibandingkan dengan kadar air kritis (terjadinya hidrofobisitas) yang telah diperoleh pada percobaan laboratorium. Pengamatan hidrofobisitas dilakukan pada lapisan tanah bagian atas yaitu pada kedalaman 0-40 cm dari permukaan tanah atau lapisan tanah di atas muka air tanah. Sampel tanah untuk pengamatan hidrofobisitas tersebut diambil pada interval kedalaman 0-2.5, 2.5-5, 5-10, 10-20, 20-30, dan 30-50 cm. Pengamatan hidrofobisitas dilakukan pada piringan pohon dan di gawangan antar pohon.

Sampel tanah pada setiap lapisan selanjutnya ditentukan kadar airnya secara gravimetrik secara aktual di lapangan. Hidrofobisitas tanah ditentukan dengan membandingkan dengan kadar air kritis tanah gambut pada lokasi tersebut. Pengamatan hidrofobisitas dilakukan terhadap setiap kombinasi perlakuan pengelolaan kedalaman muka air dan pemberian amelioran. Pengamatan dilakukan sebanyak 6 kali selama periode pelaksanaan penelitian, yaitu bulan Februari, Maret, Juni, Juli, Oktober, dan November 2014.

Pengamatan Emisi Karbon Dioksida (CO2)

Pengamatan emisi karbon hanya dilakukan terhadap gas CO2 saja, sedangkan gas CH4 tidak dilakukan karena mengacu pada hasil penelitian Handayani (2009), bahwa emisi CH4 pada perkebunan kelapa sawit teramati pada muka air tanah sampai 18 cm dan tidak terdeteksi pada kedalaman muka air tanah lebih dari 34 cm dari permukaan gambut.

Pengukuran emisi gas CO2 dari tanah gambut dilakukan secara langsung pada setiap petak penelitian dengan metode close chamber technique yang diadopsi dari Setyanto et al. (2010). Pengambilan sampel gas dilakukan secara manual di lapangan menggunakan sungkup (chamber) yang terbuat dari pipa PVC diameter 25 cm dengan panjang 30 cm dan dilengkapi dengan kipas. Kipas dijalankan dengan baterai elemen kering dan berfungsi untuk menghomogenkan konsentrasi gas dalam sungkup. Syringe dengan volume 10 ml digunakan untuk mengambil sampel gas. Dalam satu kali pengamatan dilakukan pengambilan sampel gas dengan interval waktu 10, 20, 30 dan 40 menit (waktu penyungkupan total adalah 40 menit). Pengambilan sampel gas dilakukan pada pukul 06.00-07.00 pagi dan 13.00-14.00 siang. Analisis konsentrasi gas dilakukan dengan menggunakan micro Gas Chromatograph (micro-GC) CP 4900 yang bersifat portable dan dapat dioperasikan langsung di lapangan. Micro-GC CP 4900 menggunakan detektor TCD (thermal conductivity detector) dengan gas pembawa yang digunakan adalah helium dengan kemurnian 99.9% (ultra high purity).

Konsentrasi gas CO2 diperoleh berdasarkan nilai area dari satu standar gas dan area gas sampel yang akan dihitung konsentrasinya menggunakan persamaan:

dimana, Csp adalah nilai konsentrasi gas dari satu sampel (ppm), Cstd adalah konsentrasi dari gas standar, Asp adalah area dari peak hasil pembacaan kromatogram, dan Astd adalah area dari pembacaan kromatogram gas standar. Perhitungan fluks CO2 pada setiap perlakuan menggunakan persamaan yang diadopsi dari IAEA (1993), yaitu sebagai berikut:

dimana:

E = emisi CO2 (mg m-2 jam-1) V = volume sungkup (m3) A = luas dasar sungkup (m2)

T = suhu udara rata-rata di dalam sungkup (oC) Csp/t = laju perubahan konsentrasi gas CO2 (ppm/menit) Bm = berat molekul gas CO2 dalam kondisi standar

Vm = volume gas pada kondisi stp (standard temperature and pressure) yaitu 22.41 liter pada 23 oK

Pengukuran fluks dan emisi gas dilakukan pada bulan Maret, Juli, dan November. Pengukuran emisi karbon tersebut mewakili kondisi bulan basah, bulan kering, dan peralihan. Pengukuran emisi karbon dilakukan di dua titik pengambilan sampel gas yaitu: (i) di bawah naungan tanaman berjarak 1 m dari pohon, (ii) di bawah naungan tanaman berjarak 2 m dari pohon, dan (ii) di sela-sela antar tanaman kelapa sawit (4.5 m dari pohon). Pengulangan dilakukan sebanyak 2 kali di setiap titik pengambilan sampel gas. Gambar 18 menyajikan diagram pengambilan sampel gas secara keseluruhan.

Gambar 18. Diagram pengambilan sampel gas dari petak penelitian di lapangan

2 . 273 2 . 273   T x A V x t Csp x Vm Bm E   Astd Asp Cstd Csp

Pengamatan Pertumbuhan dan Produksi Kelapa Sawit

Pengamatan pertumbuhan dan produksi kelapa sawit dilakukan terhadap pohon pengamatan pada setiap petak penelitian. Pohon pengamatan diberi tanda dengan penomoran pohon pada pelepah bagian bawah menggunakan cat, sedangkan pohon pagar ditandai dengan memberi cat warna merah pada batang bagian bawah. Pengamatan produksi dilakukan setiap bulan selama pelaksanaan penelitian. Pengamatan produksi dilakukan dengan menyesuaikan kegiatan panen yang dilakukan oleh kebun. Parameter pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit yang diamati meliputi:

Petiole cross-section (PCS), diperoleh dari pengukuran lebar dan tebal petiola pada rudimenter anak daun bagian paling bawah pada pelepah nomor 17. PCS hasil perkalian dari lebar dan tebal petiola.

Leaf area index (LAI). LAI merupakan rasio total luas daun (LA) terhadap luas lahan. LA merupakan luas daun (pelepah nomor 17) yang dihitung dari pengukuran panjang dan lebar anak daun, kemudian dikalikan dengan jumlah keseluruhan anak daun pada pelepah nomor 17.

 Produksi tandan per petak penelitian, meliputi jumlah tandan per petak per bulan, rerata berat tandan, dan berat total produksi per petak per bulan.

 Kandungan logam berat berbahaya dalam buah akibat aplikasi terak baja, meliputi Cd, Pb, Hg, dan As.

Pengelolaan dan Pengukuran Kedalaman Muka Air Tanah

Pengelolaan muka air tanah dalam penelitian ini dilakukan dengan pembuatan sekat-sekat air pada saluran sekunder. Sekat-sekat air berfungsi untuk mengatur muka air tanah pada saluran sekunder, sehingga muka air tanah di dalam blok tanaman dapat dipertahankan pada kedalaman tertentu sesuai perlakuan. Sekat air terbuat dari karung-karung berisi tanah mineral (soil bag) dan disusun bertumpuk dengan ketinggian sampai permukaan saluran (Gambar 19). Sisi sekat air sebelah dalam dilapisi dengan plastik dari bahan terpal untuk mencegah kebocoran sekat air tersebut. Sekat air juga dilengkapi dengan fasilitas over flow yang berfungsi untuk membuang kelebihan air di dalam saluran keluar menuju saluran utama. Over flow diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh kedalaman muka air tanah di dalam petak penelitian sesuai perlakuan. Perlakuan WLM-3 tidak dilengkapi dengan fasilitas sekat-sekat air, sehingga fluktuasi muka air tanah sangat besar.

Untuk menentukan kedalaman muka air baik di saluran maupun di dalam blok, maka perlu satu titik referensi permukaan tanah yang sama. Titik referensi permukaan tanah pada saluran dilakukan dengan menggunakan slang plastik berisi air dengan prinsip bejana berhubungan (Gambar 20). Tinggi permukaan tanah pada saluran ditentukan dengan cara membandingkan permukaan air dalam slang yang dihubungkan dengan beberapa titik pengamatan pada permukaan tanah di dalam blok. Setelah diperoleh tinggi permukaan tanah pada saluran yang sama dengan tinggi permukaan tanah dalam blok, kemudian ditandai dan digunakan sebagai titik nol pada meteran pengontrol dalam saluran maupun pada piezometer. Titik nol tersebut ditandai dengan patok kayu.

Kedalaman muka air tanah pada saluran dikontrol menggunakan patok meteran pengontrol muka air yang dipasang pada beberapa titik sepanjang saluran sekunder. Kedalaman muka air tanah di dalam blok tanaman dikontrol

menggunakan piezometer yang dibuat dari bahan pipa PVC berukuran diameter 2 inchi dan panjang 140 cm atau disesuaikan dengan kondisi muka air tanah (Gambar 21). Setiap petak penelitian dipasang 2 buah piezometer dengan interval sekitar 50 meter. Piezometer dipasang dengan cara dibenamkan secara vertikal ke dalam tanah gambut sedalam sekitar 110 cm, sedangkan ujung atas piezometer berada sekitar 30 cm di atas permukaan tanah. Piezometer dilengkapi dengan tutup untuk menjaga agar tidak terisi oleh tanah atau seresah. Pengukuran kedalaman muka air tanah dilakukan dengan cara memasukkan meteran kayu ke dalam piezometer sampai mencapai permukaan air tanah (ditandai dengan basahnya bagian meteran kayu yang tercelup ke dalam air). Kedalaman muka air tanah terbaca pada meteran sampai dengan tanda basah pada meteran.

Gambar 19. Sekat air yang terbuat dari susunan karung berisi tanah mineral dan dilapisi plastik terpal

Gambar 21. Pemasangan piezometer dalam petak penelitian

Pengukuran Subsiden Permukaan Tanah Gambut

Penurunan permukaan tanah gambut (subsiden) diamati pada beberapa petak penelitian kaitannya dengan perlakuan kedalaman muka air tanah dan aplikasi terak baja. Pengukuran subsiden dilakukan dengan memasang patok-patok subsiden pada beberapa petak penelitian. Patok subsiden terbuat pipa PVC (diameter 5 cm) dengan ukuran panjang 6 meter. Patok tersebut ditancapkan ke dalam tanah gambut sampai menembus lapisan tanah mineral (substratum), sehingga tidak mudah tercabut atau bergeser. Patok subsiden dilengkapi dengan besi kecil sepanjang 50 cm yang dipasang melintang dan posisinya menempel di permukaan tanah (Gambar 22). Besi tersebut sebagai tanda permanen (titik awal pengamatan) untuk acuan dalam pengukuran penurunan permukaan tanah gambut. Patok subsiden ditempatkan berdekatan dengan salah satu piezometer di dalam petak penelitian, sehingga sekaligus untuk memperoleh data kedalaman muka air tanah pada site pengukuran subsiden.

Besarnya subsiden dihitung dengan cara mengukur perbedaan (selisih) titik awal pengamatan dengan titik pengamatan berikutnya pada patok subsiden. Pencatatan besarnya subsiden pada setiap tongkat pengukur subsiden dilakukan setiap 4 bulan selama pelaksanaan penelitian. Untuk melindungi patok subsiden dari gangguan aktivitas kebun, maka dibuat pagar pengaman dalam radius 1 m mengelilingi patok tersebut.

Gambar 22. Patok subsiden yang dilengkapi dengan pagar pengaman (A) dan batang besi sebagai tanda permanen serta cara pengukurannya di beberapa titik pada batang besi (B)

Pengamatan Sifat-sifat Tanah Gambut Setelah Perlakuan

Pengamatan sifat fisik tanah selain dilakukan di awal penelitian juga dilakukan setelah pelaksanaan penelitian. Data sifat fisik tanah digunakan sebagai data pendukung untuk perhitungan hasil penelitian. Sifat-sifat tanah yang diamati meliputi kadar abu, pH tanah (Eviati dan Sulaeman 2009), bobot isi, dan retensi air tanah gambut (Kurnia et al. 2006).

Hasil dan Pembahasan Kondisi Curah Hujan dan Fluktuasi Muka Air Tanah

Data curah hujan di lokasi penelitian dicatat selama pelaksanaan penelitian ini, yaitu pada periode Desember 2013 – Desember 2014. Pada periode waktu yang sama, kedalaman muka air tanah pada setiap petak penelitian juga dilakukan pencatatan pada piezometer. Gambar 23 menunjukkan fluktuasi curah hujan dan kedalaman muka air tanah selama periode penelitian. Fluktuasi kedalaman muka air tanah dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan pengelolaannya. Pengelolaan kedalaman muka air tanah ini dilakukan dengan memasang sekat-sekat air pada kanal sekunder yang dilengkapi dengan sarana over flow, sehingga diperoleh fluktuasi tinggi muka air yang berbeda diantara ketiganya. Pengelolaan WLM-1 dilakukan dengan mengatur over flow untuk memperoleh kedalaman muka air tanah pada kisaran 35-50 cm di bawah permukaan tanah, WLM-2 mengatur over flow untuk memperoleh kedalaman muka air tanah pada kisaran 60-75 cm, sedangkan WLM-3 tidak dilakukan

A

pembuatan sekat air dan kedalaman muka air tanah lebih dari 75 cm di bawah permukaan tanah. Namun dalam pelaksanaannya, sangat sulit untuk mempertahankan ketiga kisaran kedalaman muka air tanah (sesuai perlakuan awal) tetap stabil selama periode penelitian. Ketiga pengelolaan muka air tanah di atas menghasilkan kondisi fluktuasi muka air tanah yang hampir sama selama periode penelitian, bahkan untuk perlakuan WLM-1 dan WLM-2 pada beberapa periode pengamatan keduanya berhimpit.

Adanya faktor bulan kering dan bulan basah yang cukup ekstrim selama pelaksanaan penelitian dan dukungan sarana tata air kebun yang masih terbatas menjadi penyebab sulitnya untuk mempertahankan kedalaman muka air tanah tetap stabil selama penelitian. Perlakuan kedalaman muka air tanah (WLM-1, WLM-2, dan WLM-3) tidak dapat diperoleh sesuai kisaran kedalaman muka air yang diinginkan (tidak sesuai dengan perencanaan awal). Namun demikian, berdasarkan Gambar 24 di bawah, diperoleh tiga kelompok muka air tanah (MAT) yaitu MAT-1 berkisar pada kedalaman 30-50 cm (periode September –

Desember), MAT-2 berkisar pada kedalaman 45-70 cm (periode Januari – April), dan MAT-3 berkisar pada kedalaman 70-90 cm (periode Mei – Agustus). Ketiga MAT tersebut dianggap dapat mewakili perlakuan kedalaman muka air tanah sesuai rencana awal dalam penelitian ini. Selanjutnya dalam analisis dan penyajian hasil penelitian akan didasarkan pada 3 kelompok MAT tersebut.

Gambar 23. Fluktuasi kedalaman muka air tanah dalam petak penelitian periode Desember 2013 – Desember 2014. MAT = muka air tanah, MAT-1 berkisar 30-50 cm (September – Desember), MAT-2 berkisar 45-70 cm (Januari – April), dan MAT-3 berkisar 70-90 cm (Mei –

Agustus) dan curah hujan tahun 2014 lokasi penelitian

C u rah H u jan (mm ) K ed al am an M u k a A ir Tan ah (c m )

Distribusi Kelembaban Aktual Tanah Gambut

Pengamatan kadar air tanah aktual di lapangan telah dilakukan pada periode Februari sampai November 2014 terhadap plot penelitian dengan kondisi kedalaman muka air tanah yang berbeda dan aplikasi berbagai dosis terak baja. Selama periode tersebut telah dilakukan 6 kali pengamatan kadar air tanah aktual yaitu pada 6 Februari 2014, 12 Maret 2014, 4 Juni 2014, 15 Juli 2014, 8 Oktober 2014, dan 13 November 2014. Gambar 24 menyajikan kadar air tanah aktual dan distribusinya pada profil tanah lapisan atas di piringan pohon dan gawangan pada kondisi muka air tanah yang berbeda pada periode pengamatan Februari –

November 2014. Pengamatan kadar air aktual dibedakan antara daerah piringan pohon dan gawangan. Sebagaimana telah diuraikan di awal bahwa terdapat perbedaan kondisi antara piringan pohon dan gawangan akibat aktivitas kultur teknis tanaman kelapa sawit. Intensitas kultur teknis (seperti pemupukan, pengendalian gulma secara kimia, dan kegiatan panen) yang lebih tinggi di piringan pohon menyebabkan terjadinya perubahan sifat-sifat fisik tanah yang lebih besar dibandingkan di gawangan. Proses pemadatan tanah gambut di daerah piringan pohon lebih besar dibandingkan daerah gawangan.

Kelembaban tanah aktual pada profil tanah meningkat dengan bertambahnya kedalaman lapisan tanah gambut, terjadi pada semua kondisi muka air tanah baik di piringan pohon maupun di gawangan. Kadar air aktual tanah pada lapisan 0-2.5 cm < 2.5-5 cm < 5-10 cm < 10-20 cm < 20-50 cm, hal ini karena semakin dalam lapisan tanah gambut akan semakin mendekati muka air tanah. Secara umum, pada lapisan 0-10 cm menunjukkan bahwa kadar air aktual tanah gambut pada MAT-1 > MAT-2 > MAT-3 baik di piringan pohon maupun di gawangan. MAT-1 berkisar 30-50 cm, MAT-2 berkisar 45-70 cm, dan MAT-3 berkisar 70-90 cm.

Perbedaan kondisi muka air tanah (MAT-1, MAT-2, dan MAT-3) menyebabkan adanya perbedaan distribusi kelembaban tanah aktual pada lapisan profil tanah 0-50 cm. Kondisi MAT-3 (70-90 cm) nyata (P<0.05) menurunkan kelembaban tanah pada lapisan 0-2.5, 2.5-5, dan 5-10 cm di daerah piringan pohon dibandingkan dengan MAT-1 dan MAT-2. Hal ini akan mudah terjadi pada saat bulan kering atau terdapat dry spell. Kondisi muka air tanah MAT-3 nyata (P<0.05) menurunkan kelembaban tanah gambut di daerah gawangan dibandingkan MAT-1 dan MAT-2, yaitu pada lapisan tanah gambut 0-2.5, 2.5-5, dan 5-10 cm. Sementara pada lapisan tanah lebih dalam dari 10 cm (baik di piringan pohon dan gawangan) tidak menunjukkan perbedaan kadar air tanah aktual yang nyata.

Penurunan muka air tanah yang terlalu dalam (MAT-3) akan