ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
10. Pengaruh Komisaris Independen dalam memoderasi Arus Kas Operasi terhadap Return Saham
Berdasarkan uji Moderated Regression Analysis (MRA) yang telah dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi antara variabel Arus Kas Operasi dan variabel Komisaris Independen terhadap
Return Saham memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu
sebesar 0,608 sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian tidak mendukung hipotesis H10 yang telah dirumuskan yaitu Komisaris Independen dapat memoderasi hubungan antara Arus Kas Operasi terhadap Return Saham.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Komisaris Independen ternyata belum mampu untuk memoderasi hubungan antara Arus Kas Operasi terhadap Return Saham. Dalam hal ini, keberadaan Komisaris Independen tidak mampu meningkatkan nilai Return Saham yang disebabkan oleh Arus Kas Operasi.
Peneliti tidak menemukan penelitian sejenis yang menggunakan Komisaris Independen sebagai variabel moderasi hubungan antara Arus Kas Operasi dengan Return Saham tetapi menurut penelitian dari Novitasari (2017) keberadaan Komisaris Independen ternyata tidak berpengaruh terhadap Return Saham. Berdasarkan hasil penelitian ini Komisaris Independen tidak mampu memoderasi hubungan antara Arus Kas Operasi terhadap Return Saham dikarenakan ternyata dengan adanya keberadaan Komisaris Independen di dalam perusahaan belum mampu menarik minat investor untuk serta tidak dapat meningkatkan daya tarik perusahaan di mata investor. Hasil ini juga sejalan dengan hasil penelitian
108 dari Budiharjo (2016) yang menyatakan Good Corporate Governance tidak berpengaruh terhadap Return Saham.
Hasil penelitian ini justru bertolak belakang dari teori stakeholder yang mengatakan bahwa keberadaan suatu perusahaan tidak akan terlepas dari adanya peranan berbagai stakeholder yang memiliki berbagai latar belakang serta kepentingan yang berbeda dengan adanya penerapan
Corporate Governance dinilai dapat mengatasi benturan kepentingan yang
ada dalam perusahaan tersebut. (Lindawati dan Puspita, 2015: 162) Keberadaan Komisaris Independen dapat melindungi hak-hak pemegang saham minoritas dan berbagai stakeholder lainnya karena sifatnya yang independen dapat memastikan objektifnya keputusan-keputusan yang diambil dalam perusahaan. Dalam hal ini keberadaan Komisaris Independen dengan nilai Arus Kas Operasi yang positif harusnya mampu berdampak terhadap peningkatan Return Saham. Hasil penelitian ini justru bertolak belakang dengan teori dimana Komisaris Independen justru tidak mampu memoderasi hubungan antara Laba Akuntansi dan Return Saham.
Hasil penelitian ini berbeda dari hasil penelitian dari Manse (2018) yang menyatakan bahwa Komisaris Independen berpengaruh positif terhadap Return Saham. Komisaris Independen dapat digunakan sebagai alat pengawas agar tidak terjadinya pengambilan keputusan yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan antara pemilik saham minoritas dan pihak atau pemilik yang lain. Dalam hal ini jika dewan komisaris independen dapat menjaga sikap independensinya serta melaksanakan tugasnya dengan baik dan efektif maka akan tercerminkan melalui hasil keputusan-keputusan perusahaan yang objektif dan baik bagi keberlangsungan perusahaan. Arus Kas Operasi dapat dijadikan indikator yang menentukan apakah dari operasi perusahaan dapat menghasilkan kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber pendanaan.
109 Oleh karena itu, walaupun Komisaris Independen tidak mampu memoderasi hubungan antara Arus Kas Operasi terhadap Return Saham tetapi keberadaan Komisaris Independen tetaplah menjadi hal yang penting karena tugasnya yaitu menjalankan fungsi pengawasan di dalam perusahaan sehingga transparansi dan akuntabilitas perusahaan dapat terjaga salah satunya mengenai informasi Arus Kas Operasi yang menjadi salah satu pertimbangan yang dibutuhkan oleh para investor dalam berinvestasi serta stakeholders lainnya.
11. Pengaruh Komite Audit dalam memoderasi Likuiditas terhadap Return Saham
Berdasarkan uji Moderated Regression Analysis (MRA) yang dilakukan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa interaksi antara variabel Likuiditas dan variabel Komite Audit terhadap Return Saham memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,391 sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian tidak mendukung hipotesis H11 yang telah dirumuskan yaitu Komite Audit dapat memoderasi hubungan antara Likuiditas terhadap Return Saham.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Komite Audit ternyata belum mampu untuk memoderasi hubungan antara Likuiditas terhadap Return Saham. Dalam hal ini, keberadaan Komite Audit tidak mampu meningkatkan nilai Return Saham yang disebabkan oleh Likuiditas.
Peneliti tidak menemukan penelitian sejenis yang menggunakan Komite Audit sebagai variabel moderasi hubungan antara Likuiditas dengan Return Saham tetapi menurut penelitian dari Budiharjo (2016)
Good Corporate Governance ternyata tidak berpengaruh terhadap Return
Saham. Berdasarkan hasil penelitian ini Komite Audit tidak mampu memoderasi hubungan antara Likuiditas terhadap Return Saham dikarenakan ternyata dengan adanya keberadaan Komite Audit di dalam perusahaan belum mampu menarik perhatian investor untuk berinvestasi di
110 dalam perusahaan atau belum mampu meningkatkan daya tarik perusahaan di mata investor.
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan teori agensi dimana penerapan Corporate Governance diharapkan menambah keyakinan para pemegang saham bahwa mereka akan memperoleh return atas dana yang telah diinvestasikan. (Novitasari, 2017: 38) Dalam penelitian ini Komite Audit harusnya mampu memastikan keandalan informasi keuangan perusahaan serta memberikan masukan kepada dewan komisaris terkait tingkat Likuiditas perusahaan yang harus dijaga pada tingkat tertentu. Dengan adanya pihak yang ikut menjamin keandalan laporan keuangan tentunya dapat menjadi nilai tambah sehingga para investor tertarik menanamkan modalnya dan pada akhirnya akan meningkatkan nilai
Return Saham. Berdasarkan teori agensi Komite Audit diharapkan akan
meningkatkan transparansi antara pemegang saham dengan manajemen perusahaan, tetapi hasil penelitian ini bertolak belakang dengan teori agensi karena Komite Audit justru tidak mampu memoderasi hubungan antara Likuiditas dan Return Saham.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian dari Novitasari (2017) yang menyatakan bahwa Komite Audit berpengaruh positif terhadap Return Saham yang artinya keberadaan Komite Audit akan meningkatkan nilai perusahaan yang diwujudkan berupa kenaikan harga saham dan pada akhirnya dapat meningkatkan nilai Return Saham. Keberadaan Komite Audit diharapkan mampu memainkan perannya dalam memastikan kredibilitas laporan keuangan perusahaan dan membantu dewan komisaris memperoleh kepercayaan dari pemegang saham dalam hal pemenuhan kewajiban penyampaian informasi. Laporan Keuangan menjadi sangat penting dikarenakan fungsinya sebagai media informasi antara pihak internal perusahaan dengan pihak eksternal salah satunya investor.
Oleh karena itu, walaupun dalam penelitian ini Komite Audit tidak mampu memoderasi hubungan antara Likuiditas dan Return Saham tetapi
111 keberadaan Komite Audit sangat penting karena memiliki peran aktif dalam menjamin penyajian laporan keuangan yang kredibel yang tentunya sangat berguna bagi seluruh stakeholders perusahaan.
12. Pengaruh Komite Audit dalam memoderasi Profitabilitas terhadap Return Saham
Berdasarkan uji Moderated Regression Analysis (MRA) dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa interaksi antara variabel Profitabilitas dan variabel Komite Audit terhadap Return Saham memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,616 sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian tidak mendukung hipotesis H12 yang telah dirumuskan yaitu Komite Audit dapat memoderasi hubungan antara Profitabilitas terhadap Return Saham.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Komite Audit ternyata belum mampu untuk memoderasi hubungan antara Profitabilitas terhadap Return Saham. Dalam hal ini, keberadaan Komite Audit tidak mampu meningkatkan nilai Return Saham yang disebabkan oleh Profitabilitas.
Peneliti tidak menemukan penelitian sejenis yang menggunakan Komite Audit sebagai variabel moderasi hubungan antara Profitabilitas dengan Return Saham tetapi menurut penelitian dari Budiharjo (2016)
Good Corporate Governance ternyata tidak berpengaruh terhadap Return
Saham. Berdasarkan hasil penelitian ini Komite Audit ternyata belum mampu memoderasi hubungan antara Profitabilitas terhadap Return Saham. Hal tersebut dikarenakan ternyata dengan adanya keberadaan Komite Audit di dalam perusahaan belum mampu menarik perhatian investor terhadap perusahaan tersebut serta belum mampu meningkatkan daya tarik perusahaan di mata publik dalam rangka pengambilan keputusan investasi yang akan dilakukan.
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan teori agensi dimana pelaksanaan Corporate Governance dimaksudkan mengatasi masalah
112 keagenan yang timbul karena terjadinya benturan kepentingan yang akan menimbulkan terjadinya asimetris informasi antara manajemen perusahaan dengan pemilik perusahaan. (Novitasari, 2017: 38) Komite Audit diharapkan dapat melakukan pengawasan terhadap laporan keuangan yang disajikan perusahaan serta memberikan review terhadap profitabilitas perusahaan kepada dewan komisaris, ketika perusahaan memiliki tingkat profitabilitas yang baik serta dibarengi dengan informasi keuangan yang andal maka akan membuat nilai tambah sehingga para investor tertarik untuk berinvestasi dan nantinya akan berdampak terhadap Return Saham perusahaan. Berdasarkan teori ini, keberadaan Komite Audit dapat menghindarkan perusahaan terhadap benturan kepentingan berkaitan dengan tugasnya dalam mengawasi penyajian laporan keuangan sehingga terjadinya transparansi antara pemegang saham dan manajemen. Namun, hasil dalam penelitian ini justru bertentangan dengan teori agensi karena Komite Audit tidak mampu memoderasi hubungan antara Profitabilitas dan Return Saham.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian dari Novitasari (2017) yang menyatakan bahwa keberadaan Komite Audit berpengaruh positif terhadap Return Saham. Komite Audit dinilai memiliki peran yang penting yaitu memastikan penyajian laporan keuangan yang berkualitas, transparan, serta kredibel. Tentunya laporan keuangan merupakan alat komunikasi perusahaan yang sangat penting, melalui laporan ini investor dapat mengetahui bagaimana kegiatan operasional serta kinerja perusahaan selama satu tahun sehingga mampu mengambil keputusan investasi ke depannya.
Walaupun dalam penelitian ini Komite Audit tidak mampu memoderasi hubungan antara Profitabilitas dan Return Saham tetapi keberadaan Komite Audit sangat penting karena berperan dalam menjamin penyajian laporan keuangan yang andal yang tentunya sangat berguna bagi para pemakai laporan keuangan perusahaan tersebut.
113 13. Pengaruh Komite Audit dalam memoderasi Solvabilitas terhadap
Return Saham
Berdasarkan uji Moderated Regression Analysis (MRA) yang telah dilakukan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa interaksi antara variabel Solvabilitas dan variabel Komite Audit terhadap Return Saham memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,640 sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian tidak mendukung hipotesis H13 yang telah dirumuskan yaitu Komite Audit dapat memoderasi hubungan antara Solvabilitas terhadap Return Saham.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Komite Audit ternyata belum mampu untuk memoderasi hubungan antara Solvabilitas terhadap Return Saham. Dalam hal ini, keberadaan Komite Audit tidak mampu meningkatkan nilai Return Saham yang disebabkan oleh Solvabilitas.
Peneliti tidak menemukan penelitian sejenis yang menggunakan Komite Audit sebagai variabel moderasi hubungan antara Solvabilitas dengan Return Saham tetapi menurut penelitian dari Budiharjo (2016)
Good Corporate Governance ternyata tidak berpengaruh terhadap Return
Saham. Berdasarkan hasil penelitian ini Komite Audit ternyata belum mampu memoderasi hubungan antara Solvabilitas terhadap Return Saham. Hal tersebut dikarenakan ternyata dengan adanya keberadaan Komite Audit di dalam perusahaan belum mampu menjadi daya tarik perusahaan di mata investor atau belum mampu menarik perhatian publik terhadap perusahaan dalam rangka pengambilan keputusan investasi yang akan dilakukan.
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan teori agensi dimana pelaksanaan Corporate Governance diharapkan akan mampu mengurangi
agency cost yang terjadi karena benturan kepentingan antara stakeholders
perusahaan (Novitasari, 2017) Komite Audit sebagai salah satu mekanisme penerapan Corporate Governance dapat menjadi alat pengawasan pemegang saham terhadap manajemen yang menjalankan
114 perusahaan agar mengelola perusahaan dengan jalan terbaik termasuk berkaitan dengan utang. Dimana ketika tingkat utang yang dimiliki perusahaan berada pada tingkat yang aman yaitu tidak terlalu tinggi dan terlalu rendah serta dapat dipastikan mampu melakukan pembayaran pada waktu jatuh temponya ditambah keberadaan Komite Audit sebagai pihak penjamin keandalan laporan keuangan. Hal tersebut tentunya membuat investor merasa aman untuk berinvestasi di perusahaan tersebut sehingga membuat nilai Return Saham pun ikut meningkat. Dalam hal ini hasil penelitian justru menunjukkan hasil yang berlawanan dengan teori agensi yaitu Komite Audit tidak mampu memoderasi hubungan antara Solvabilitas terhadap Return Saham.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Novitasari (2017) yang menyatakan bahwa keberadaan Komite Audit berpengaruh positif terhadap Return Saham. Komite Audit dinilai telah menjadi salah satu posisi yang penting untuk berada di dalam perusahaan yakni untuk memastikan laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya (transparan) dan tidak ada manipulasi maupun kecurangan di dalamnya. Bahkan menurut Undang-Undang No.19 tahun 2003 pasal 70 tentang Badan Usaha Milik Negara mewajibkan komisaris BUMN untuk membentuk komite audit.
Oleh karena itu, walaupun dalam penelitian ini Komite Audit tidak mampu memoderasi hubungan antara Solvabilitas dan Return Saham tetapi keberadaan Komite Audit tetaplah menjadi penting dapat menjadi pihak yang berperan dalam menjamin kewajaran penyajian laporan keuangan yang tentunya sangat berguna bagi para pemakai laporan keuangan perusahaan tersebut.
14. Pengaruh Komite Audit dalam memoderasi Laba Akuntansi terhadap Return Saham
Berdasarkan uji Moderated Regression Analysis (MRA) yang telah dilakukan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa interaksi antara
115 variabel Laba Akuntansi dan variabel Komite Audit terhadap Return Saham memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,391 sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian tidak mendukung hipotesis H14 yang telah dirumuskan yaitu Komite Audit dapat memoderasi hubungan antara Laba Akuntansi terhadap Return Saham.
Peneliti tidak menemukan penelitian sejenis yang menggunakan Komite Audit sebagai variabel moderasi hubungan antara Laba Akuntansi dengan Return Saham tetapi menurut penelitian dari Budiharjo (2016)
Good Corporate Governance ternyata tidak berpengaruh terhadap Return
Saham. Berdasarkan hasil penelitian ini Komite Audit ternyata belum mampu memoderasi hubungan antara Laba Akuntansi terhadap Return Saham. Hal tersebut dikarenakan ternyata dengan adanya keberadaan Komite Audit di dalam perusahaan belum mampu menarik minat investor untuk menanamkan modalnya serta belum mampu meningkatkan daya tarik perusahaan di mata publik dalam rangka pengambilan keputusan investasi yang akan dilakukan.
Hasil penelitian ini berbeda dari teori stakeholder yang mengatakan bahwa keberlangsungan suatu perusahaan tidak terlepas dari adanya peranan stakeholder yang memiliki perbedaan kepentingan, penerapan Corporate Governance dinilai sejalan dengan teori karena dapat mengatasi benturan kepentingan yang ada dalam perusahaan. (Lindawati dan Puspita, 2015: 162) Keberadaan Komite Audit dalam hal pengawasan terhadap penyajian laporan keuangan menjadi salah satu cerminan bahwa kepentingan berbagai stakeholder perusahaan terlindungi karena
stakeholder menerima informasi perusahaan yang andal sehingga tidak
menyesatkan mereka dalam rangka pengambilan keputusan berkaitan dengan perusahaan. Selain itu, fungsi Komite Audit dalam hal pengawasan tersebut dapat membuat informasi Laba Akuntansi menjadi lebih di percaya investor dan dapat meningkatkan nilai tambah perusahaan yang nantinya akan meningkatkan nilai Return Saham perusahaan. Hasil penelitian ini berlawanan dengan teori stakeholder dimana Komite Audit
116 justru tidak mampu memoderasi hubungan antara Laba Akuntansi dan
Return Saham.
Walaupun dalam penelitian ini Komite Audit tidak mampu memoderasi hubungan antara Laba Akuntansi dan Return Saham tetapi keberadaan Komite Audit sangat penting karena berperan sebagai pihak yang mengawasi dan memastikan penyajian laporan keuangan yang andal di dalam perusahaan yang tentunya sangat berguna bagi para pemakai laporan keuangan perusahaan tersebut dan memastikan transparansi antara manajemen dengan pemegang saham perusahaan.
15. Pengaruh Komite Audit dalam memoderasi Arus Kas Operasi