TINJAUAN PUSTAKA
4. Return Saham
Return Saham adalah imbal hasil yang diperoleh investor dari
ketika melakukan suatu kegiatan investasi berupa pembelian saham.
Return Saham adalah keuntungan yang dinikmati pemodal atas
investasinya, dengan adanya keuntungan tersebut seorang investor akan tertarik untuk melakukan investasi baik jangka pendek maupun jangka panjang. (Putra dan Widaningsih, 2016: 1051) Dapat disimpulkan bahwa
return saham merupakan hasil atau laba atas suatu surat berharga atau
investasi modal yang biasanya dinyatakan dalam tingkat persentase tertentu.
Komponen return saham yaitu capital gain atau capital lost merupakan selisih antara harga saham pada awal periode dengan harganya di akhir periode. Jika harga saham pada akhir periode lebih tinggi dari
23 awal maka dapat dikatakan investor memperoleh capital gain, jika yang terjadi sebaliknya maka investor dikatakan memperoleh capital lost. (Putra dan Dana, 2016: 6826)
Return Saham yang tinggi merupakan harapan yang ingin dicapai
oleh investor. Salah satu tujuan investor berinvestasi adalah untuk mendapatkan return atau pengembalian. Tanpa adanya tingkat keuntungan yang dinikmati dari suatu investasi, tentunya investor enggan melakukan investasi. Sebaliknya, investor akan senang apabila mendapatkan return yang tinggi dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, return saham dijadikan sebagai salah satu indikator prestasi perusahaan secara langsung kepada pemegang saham. Semakin tinggi return saham yang diperoleh maka investor senang untuk menanamkan modalnya di perusahaan. Return saham sendiri berupa pengembalian sejumlah nominal saham beserta hasilnya dari pihak broker atau perusahaan kepada investor yang telah melakukan investasi pada perusahaan tersebut.
Sedangkan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected
return) merupakan jumlah peluang laba yang mungkin akan diterima oleh
investor atas investasinya pada perusahaan emiten dalam waktu yang akan datang dan tingkat keuntungan ini sangat dipengaruhi oleh prospek perusahaan di masa yang akan datang. Investor akan melalui serangkaian pertimbangan dalam memperkirakan tingkat pengembalian yang akan diperoleh seperti analisis terhadap kinerja keuangan perusahaan. Seorang investor akan mengharapkan return tertentu di masa yang akan datang tetapi jika investasi yang dilakukannya telah selesai maka investor aka mendapat return realisasi (realized return) yang telah dilakukan. Realized
return akan diterima investor jika saham yang dimiliki telah telah dijual
atau habis masa kontrak kerjasama dan tidak dilakukan perpanjangan atau masalah lainnya, seperti terjadinya likuidasi pada perusahaan yang tersebut.
24 5. Likuiditas
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial yang sifatnya jangka pendek dengan menggunakan dana lancar yang tersedia. Likuiditas merupakan salah satu rasio keuangan yang sering dijadikan perhatian utama oleh pihak eksternal seperti kreditor dan investor dalam pengambilan keputusan seperti pemberian kredit maupun investasi. Hal tersebut dikarenakan jika perusahaan dalam kegiatan operasionalnya memperoleh laba yang optimal maka akan semakin lancar pembiayaan dan pendanaan perusahaan, begitupula sebaliknya. (Putra dan Dana, 2016: 6828-6829)
Likuiditas merupakan salah satu faktor yang yang dapat mendorong terjadi perubahan harga saham. Semakin tinggi tingkat likuiditas perusahaan akan menunjukan semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Likuiditas perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan Current Ratio, yaitu rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan untuk membayar utang lancar atau jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki. Dapat diartikan seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia oleh perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo.
Current Ratio dapat pula dikatakan sebagai bentuk untuk mengukur
tingkat keamanan (margin of safety) suatu perusahaan. (Octaviani dan Komalasarai, 2017: 78)
Likuiditas mengacu pada kemampuan perusahaan melunasi utang jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancar seperti uang tunai atau kas sedangkan fasilitas pabrik tidak termasuk jenis aset yang likuid atau aset lancar. Asset yang sangat likuid adalah aset yang dapat dijual dengan cepat tanpa adanya kerugian nilai yang signifikan dan tidak memiliki penurunan nilai atau penyusutan yang tinggi.
Tingkat likuiditas sebuah entitas perusahaan biasanya dijadikan sebagai salah satu tolok ukur untuk pengambilan keputusan orang-orang yang berkaitan dengan perusahaan. Beberapa pihak yang biasanya terkait
25 dengan tingkat likuiditas suatu perusahaan yaitu pemegang saham,
supplier, kreditor, konsumen, pemerintah, lembaga asuransi dan lembaga
keuangan.
Semakin likuid suatu perusahaan, semakin kecil kemungkinan perusahaan tersebut mengalami kesulitan keuangan seperti kesulitan membayar utang-utang atau membeli berbagai aset yang diperlukan. Biasanya semakin tinggi tingkat likuiditas sebuah perusahaan, maka semakin baik pula kinerja perusahaan tersebut dan sebaliknya. Perusahaan yang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi biasanya lebih berpeluang mendapatkan berbagai macam dukungan dari pihak-pihak luar seperti lembaga keuangan, kreditur, dan juga supplier.
Namun, aset likuid biasanya menguntungkan untuk disimpan sehingga jika nilai Current Ratio terlalu tinggi akan menunjukkan banyak dana perusahaan yang menganggur (aktivitas sedikit) yang dapat mengurangi kemampuan perusahaan. Untuk itu perusahaan harus mempertahankan tingkat likuiditas yang optimal yaitu tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah.
6. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan rasio keuangan yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dengan menggunakan sumber-sumber yang dimiliki perusahaan tersebut seperti total aktiva, modal atau penjualan. Semakin baik rasio profitabilitas suatu perusahaan maka semakin baik pula keuntungan yang didapat perusahaan yang artinya rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan. (Oroh dkk., 2019: 662)
Jika kondisi perusahaan dikategorikan menguntungkan atau menjanjikan keuntungan di masa mendatang tentunya akan banyak investor yang tertarik untuk menginvestasikan dananya dengan cara membeli saham perusahaan, yang tentu saja mendorong harga saham naik menjadi lebih tinggi. Profitabilitas dapat diukur menggunakan Return On
26
Asset (ROA), yang menunjukan kemampuan perusahaan dengan
menggunakan seluruh aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba. (Octaviani dan Komalasarai, 2017: 78)
Profitabilitas akan menunjukkan bagaimana tingkat efektifitas maupun kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan melalui semua kemampuan yang dimiliki seperti kegiatan operasional maupun investasi dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki seperti kas, modal, sumber daya manusia, dll.
Dalam penelitian ini yang digunakan untuk mengukur profitabilitas adalah Return on Asset (ROA) yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari total aktiva yang digunakan, yang diperoleh dengan cara membandingkan laba bersih setelah pajak terhadap total aset. Semakin tinggi ROA akan menunjukan semakin efektif perusahaan memanfaatkan aset yang ada untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak, dengan semakin meningkatnya nilai ROA maka artinya semakin tinggi juga profitabilitas perusahaan sehingga diharapkan perusahaan tersebut dapat memperoleh return yang besar.
Manfaat dari mengukur profitabilitas sebuah perusahaan adalah dapat mengukur efisiensi penggunaan modal perusahaan, dapat digunakan untuk membandingkan dengan rasio profitabilitas perusahaan tahun sebelumnya dan dengan rasio perusahaan lain dalam industri yang sama sehingga dapat diketahui kedudukan atau daya saing perusahaan, serta berguna sebagai dasar perencanaan strategis perusahaan di masa depan. 7. Solvabilitas
Solvabilitas atau leverage merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur sejauh mana ekuitas perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan ekuitas yang dimiliki. Dalam arti luas dikatakan bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik
27 jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan/dilikuidasi. (Oroh dkk., 2019: 663)
Solvabilitas dalam penelitian ini diukur dengan Debt to Equity
Ratio (DER) yaitu rasio yang menunjukkan persentase penyediaan dana
oleh pemegang saham kepada pemberi pinjaman dengan cara membandingkan total utang dengan total ekuitas perusahaan. Semakin tinggi rasio artinya semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham atau semakin tinggi pendanaan yang diberikan pihak eksternal melalui pinjaman. (Octaviani dan Komalasarai, 2017: 78-79)
DER akan menunjukkan proporsi dari pemberi pinjaman terhadap hak kepemilikan, dan digunakan sebagai ukuran peranan utang. Semakin tinggi DER menunjukkan semakin besar ketergantungan perusahaan terhadap pihak luar sehingga tingkat resiko perusahaan semakin besar dalam memenuhi utangnya, yaitu membayar pokok utang ditambah dengan bunganya.
Adapun beberapa tujuan dari rasio solvabilitas atau leverage adalah: (Kasmir, 2017:153)
a. Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga). b. Untuk menilai keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva
tetap dengan modal.
c. Untuk menilai seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang. d. Untuk menilai seberapa besar pengaruh utang perusahaan terhadap
pengelolaan aktiva.
Sementara itu manfaat rasio solvabilitas atau leverage ratio adalah: (Kasmir, 2017:153)
a. Untuk menganalisis kemampuan posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak lainnya.
b. Untuk menilai keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva tetap dengan modal.
28 c. Untuk menilai seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang. d. Untuk menilai seberapa besar pengaruh utang perusahaan terhadap
pengelolaan aktiva.