BAB 5. PEMBAHASAN
5.1. Pengaruh Komunikasi Interpersonal terhadap Kelengkapan
5.1.1. Pengaruh Keterbukaan terhadap Kelengkapan Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Bandar Dolok Kabupaten Deli Serdang
Hasil penelitian tentang variabel keterbukaan ditemukan ibu yang menyatakan adanya keterbukaan dari petugas kesehatan dengan persentase lengkap imunisasi dasar bayinya sebesar 85,7%. Uji statistik menunjukkan variabel keterbukaan berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi dasar. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin tinggi keterbukaan komunikasi interpersonal petugas kesehatan kepada ibu maka akan meningkat kelengkapan imunisasi dasar. Keterbukaan penting karena merupakan dasar dari mengertinya orang dalam hal menerima informasi dapat lebih mudah diterima dan diadopsi pada orang. Dalam hal ini keterbukaan komunikasi interpersonal petugas kesehatan masih kurang dapat kita lihat dari 66 orang ibu, yang menyatakan ada keterbukaan komunikasi interpersonal petugas kesehatan terhadap ibu sebanyak 28 orang (42,4%).
Keterbukaan petugas kesehatan yang diterima oleh ibu akan berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi dasar, dengan keterbukaan yang diperolehnya, akan berusaha untuk lebih mengetahui tentang imunisasi dasar dan lebih berupaya mencari informasi tentang jenis dan manfaat jenis imunisasi dasar. Keterbukaan akan membuat seseorang ingin lebih mengetahui lebih banyak hal yang diperlukan dan
lebih tanggap terhadap informasi serta peka melihat perubahan-perubahan yang terjadi.
Pada penelitian ini masih banyak ibu yang menyatakan petugas kesehatan tidak ada keterbukaan saat melakukan komunikasi interpersonal tentang kelengkapan imunisasi dasar yaitu petugas kesehatan tidak menjelaskan jadwal pemberian imunisasi DPT sebesar 51,5%, petugas kesehatan tidak menjelaskan jadwal pemberian campak sebesar 54,5%, petugas kesehatan tidak menjelaskan manfaat dari pemberian imunisasi polio sebesar 51,5% dan petugas kesehatan tidak menjelaskan efek samping setiap pemberian imunisasi yang diberikan sebesar 54,5%.
Keterbukaan yang dilakukan oleh petugas kesehatan terhadap ibu yang mempunyai balita saat melakukan komunikasi interpersonal adalah dengan terbuka menjelaskan semua jenis-jenis imunisasi dasar dan kegunaannya masing-masing, menjelaskan secara terbuka jadwal pemberian setiap jenis imunisasi, menjelaskan secara jelas manfaat dan efek samping setiap imunisasi dasar.
Selain itu komunikasi interpersonal yang dilakukan petugas kesehatan adalah dengan menjelaskan semua yang berhubungan dengan imunisasi dasar secara terperinci dan jelas dan petugas kesehatan menunjukkan sudah memberikan segala informasi yang penting tentang imuniasasi dasar kepada ibu. Dengan komunikasi interpersonal antara petugas kesehatan dengan ibu dapat membantu dan mendorong keinginan ibu untuk lebih mengikuti jadwal pemberian imunisasi dasar.
Hal ini sesuai Sedarmayanti (2001) yang dikutip oleh Hardywinoto (2007), keterbukaan akan mendorong individu untuk mengungkapkan segala sesuatu yang akan dibicarakan dan merupakan salah satu unsur penting yang dapat memengaruhi seseorang untuk bertindak yang lebih bagus. Komunikasi interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi dan sebaiknya harus ada kesediaan untuk membuka diri mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan orang lain. Kita ingin orang bereaksi secara terbuka terhadap apa yang kita ucapkan dan kita berhak mengharapkan hal ini. Tidak ada yang lebih buruk dari pada ketidak acuhan, bahkan ketidak sependapatan jauh lebih menyenangkan. Kita memperlihatkan keterbukaan spontan terhadap orang lain.
Hasil penelitian tentang variabel empati ditemukan ibu yang menyatakan adanya empati dari petugas kesehatan dengan persentase lengkap imunisasi dasar
Menurut Deborah (1996), bahwa seni komunikasi adalah mengidentifikasikan isyarat orang lain, mengenali bagaimana isyarat-isyarat tersebut digunakan, dan memahami apa artinya. Mereka yang hubungannya akrab akan menyadari bahwa mengenali isyarat-isyarat orang lain memerlukan waktu yang sangat lama dan seringkali membutuhkan kesabaran. Jika kita ingin benar-benar memahami apa yang dimaksud seseorang, bukan sekadar mengerti apa yang dikatakan atau dilakukannya, kita harus mengenal ada keterbukaan dalam berkomunikasi.
5.1.2. Pengaruh Empati terhadap Kelengkapan Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Bandar Dolok Kabupaten Deli Serdang
sebesar 92,9%. Uji statistik menunjukkan variabel empati berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi dasar.
Hal ini sesuai sesuai menurut Devito (1997) bahwa empati merupakan sebagai ”kemampuan seseorang untuk ‘mengetahui’ apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu. Dengan adanya empati dari petugas kesehatan, maka petugas kesehatan akan merasakan apa yang akan dialami oleh ibu yang akan memberi imunisasi dasar pada bayinya. Dalam penelitian ini adanya empati dari petugas kesehatan terhadap sikap ibu serta harapan dan ibu untuk melaksanakan kelengkapan imunisasi dasar.
Pada penelitian ini masih banyak ibu yang menyatakan petugas kesehatan tidak ada empati saat melakukan komunikasi interpersonal tentang kelengkapan
Menurut Ann Marriner (1996), selama berinteraksi atau tanya jawab dalam komunikasi kita terlibat dan menghargai lawan bicara dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan dan memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengutarakan segala topik yang sedang dibicarakan.
Empati dari petugas kesehatan berarti penting karena merupakan salah satu dasar dari mengertinya orang dalam hal menerima informasi dapat lebih mudah diterima dan diadopsi pada orang. Dalam hal ini empati saat melakukan komunikasi interpersonal petugas kesehatan masih kurang dapat kita lihat dari 66 orang ibu yang menyatakan ada empati dari petugas kesehatan terhadap ibu saat berkomunikasi dengan ibu sebanyak 28 orang (42,4%).
imunisasi dasar yaitu petugas kesehatan tidak memiliki kemampuan menyesuaikan diri pada ibu saat berkomunikasi sebesar 50,0%, dan petugas kesehatan tidak memberikan tanggapan yang baik pada saat ibu menyampaikan keluhan sebesar 51,5%.
Empati yang dilakukan petugas kesehatan adalah dengan menempatkan diri secara emosional dan intelektual pada posisi ibu, melibatkan apa yang dirasakan oleh ibu, bagaimana menempatkan diri sebagai orang lain, sehingga petugas kesehatan dapat merasakan apa yang di rasakan ibu. Empati petugas kesehatan memainkan peranan penting dalam melakukan komunikasi interpersonal. Dalam penelitian ini empati yang dilakukan oleh petugas kesehatan saat melakukan komunikasi interpersonal adalah proses mental yang kompleks. Dalam proses empati maka ada hubungan yang saling berinteraksi antara penularan emosi, pengambilan perspektif dan akurasi empati satu sama lain untuk menghasilkan respon adaptif sosial.
Ibu yang merasakan tidak ada empati dari petugas kesehatan lebih banyak tidak lengkap imunisasi dasar pada bayinya, hal ini menunjukkan bahwa ibu yang merasakan tidak ada empati dari petugas kesehatan kurang menerima komunikasi interpersonal dari petugas kesehatan tentang kelengkapan imunisasi dasar. Dalam keadaan ini upaya untuk meningkatkan kelengkapan imunisasi dasar pada ibu dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan komunikasi interpersonal yang menunjukkan rasa empati dari petugas kesehatan. Peningkatan komunikasi interpersonal (empati) tentu dapat merubah sikap atau pandangan ibu tentang kelengkapan imunisasi dasar.
5.1.3. Pengaruh Sikap Mendukung terhadap Kelengkapan Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Bandar Dolok Kabupaten Deli Serdang
Hasil penelitian tentang variabel sikap mendukung menunjukkan bahwa ibu yang menyatakan adanya sikap mendukung dari petugas kesehatan saat berkomunikasi untuk kelengkapan imunisasi dasar, diperoleh bahwa persentase ibu lengkap imunisasi bayinya sebesar 81,0%. Uji statistik menunjukkan variabel sikap mendukung berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi dasar. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin ada sikap mendukung dari petugas kesehatan saat berkomunikasi interpersonal dengan ibu mampu meningkatkan kelengkapan imunisasi dasar. Namun pada penelitian ini walaupun ada sikap mendukung dari petugas kesehatan saat komunikasi interpersonal terhadap ibu masih terdapat tidak lengkap imuninisasi dasar bayi ibu.
Pada penelitian ini sikap mendukung yang perlu ditingkatkan petugas kesehatan adalah memberi dorongan kepada ibu sewaktu berkomunikasi tentang imunisasi dasar sebesar 45,5%, petugas kesehatan menghargai ibu ketika berkomunikasi sebesar 45,5% dan petugas kesehatan mendukung ketika ibu memutuskan dalam pelaksanaan kelengkapan imunisasi dasar sebesar 63,6%.
Sikap mendukung dari petugas kesehatan saat melakukan komunikasi interpersonal adalah sikap yang memiliki komitmen untuk mendukung terselenggaranya interaksi secara terbuka tentang pelaksanaan imunisasi dasar. Sikap mendukung dari petugas kesehatan memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap deskriptif dan spontan memberikan dukungan kepada ibu.
Hal ini sesuai dengan Sarwono (2003), dukungan adalah suatu upaya yang diberikan kepada orang lain, baik moril maupun materil untuk memotivasi orang tersebut dalam melaksanakan kegiatan.
Selain itu penelitian ini sesuai menurut Wayne Pace (2002), dalam berkomunikasi harus dapat menciptakan tujuan dan memberikan energi dan dukungan bagi perilaku seseorang. Dukungan merupakan dorongan bertindak untuk memenuhi suatu kebutuhan, dirasakan sebagai kemauan, keinginan, yang kemudian terwujud dalam bentuk perilaku nyata.
Pada penelitian ini masih banyak ibu yang menyatakan tidak mendapatkan dukungan dari petugas kesehatan dalam kelengkapan imunuisasi dasar. Berdasarkan keadaan ini ibu perlu mendapatkan dukungan dari petugas kesehatan untuk kelengkapan imunisasi bayinya. Untuk meningkatkan kelengkapan imunisasi dasar perlu dilakukan melalui pendekatan komunikasi interpersonal yaitu sikap mendukung dari petugas kesehatan tentang imunisasi dasar dan kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh petugas kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Bandar Dolok Kabupaten Deli Serdang.
5.1.4. Pengaruh Sikap Positif terhadap Kelengkapan Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Bandar Dolok Kabupaten Deli Serdang
Hasil penelitian tentang variabel sikap positif menunjukkan bahwa ibu yang menyatakan adanya sikap positif dari petugas kesehatan saat berkomunikasi untuk kelengkapan imunisasi dasar, diperoleh bahwa persentase lengkap imunisasi bayinya sebesar 90,0%. Uji statistik menunjukkan variabel sikap positif tidak berpengaruh
terhadap kelengkapan imunisasi dasar. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin ada sikap positif dari petugas kesehatan saat berkomunikasi interpersonal dengan ibu maka belum tentu akan meningkatkan kelengkapan imunisasi dasar.
Hal ini terjadi variabel lain yang lebih dominan berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi dasar. Penelitian ini menunjukkan walaupun ada sikap positif dari petugas kesehatan saat komunikasi interpersonal terhadap ibu tidak mengakibatkan peningkatan kelengkapan imunisasi dasar. Banyak faktor yang dapat menyebabkan ibu untuk kelengkapan imunisasi dasar bayinya. Petugas kesehatan sebagai komunikator yang paling dekat dengan ibu bukan hanya berperan sebagai tenaga kesehatan saja tetapi juga memiliki peran serta dalam memberikan dukungan kepada ibu sejak ibu melakukan imunisasi dasar bayinya.
Pada penelitian ini masih banyak ibu yang menyatakan petugas kesehatan tidak bersikap positif saat melakukan komunikasi interpersonal tentang kelengkapan imunisasi dasar yaitu petugas kesehatan tidak menginformasikan efek samping pemberian imunisasi kepada ibu sebesar 54,5% dan petugas kesehatan tidak membantu ibu untuk mengambil keputusan keputusan sebesar 83,3% Hal ini membuat ibu tidak lengkap imunisasi dasar bayinya. Berdasarkan keadaan ini perlu meningkatkan pemahaman bagi petugas kesehatan bahwa ibu perlu mendapatkan sikap positif dari petugas kesehatan untuk melaksanakan imunisasi dasar bayi.
Sikap positif petugas kesehatan terhadap ibu adalah secara positif mendorong ibu yang menjadi teman kita berinteraksi. Sikap positif petugas kesehatan mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri. Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan terhadap situasi atau suasana interaksi.
Menurut Devito (1997), dalam melakukan komunikasi interpersonal petugas kita mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi interpersonal dengan sedikitnya dua cara: (1) menyatakan sikap positif dan (2) secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi. Komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri dan perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang efektif.
Untuk meningkatkan kelengkapan imunisasi dasar dapat dilakukan melalui pendekatan komunikasi interpersonal dari petugas kesehatan tentang imunisasi dasar yang dilakukan oleh petugas kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Bandar Dolok Kabupaten Deli Serdang. Pada komunikasi interpersonal tersebut ditekankan bahwa petugas kesehatan sebagai tenaga kesehatan atau mediator yang paling dekat dengan ibu harus memiliki peran serta dalam memberikan sikap positif kepada ibu.
5.1.4. Pengaruh Kesetaraan terhadap Kelengkapan Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Bandar Dolok Kabupaten Deli Serdang
Hasil penelitian tentang variabel kesetaraan ditemukan ibu yang menyatakan adanya kesetaraan dari petugas kesehatan dengan persentase lengkap imunisasi dasar bayinya sebesar 88,9%. Uji statistik menunjukkan variabel kesetaraan tidak berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi dasar. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan adanya kesetaraan komunikasi interpersonal petugas kesehatan dengan ibu maka tidak meningkatkan kelengkapan imunisasi dasar. Hal ini menunjukkan bahwa kesetaraan saat berkomunikasi interpersonal petugas kesehatan terhadap ibu kurang bermanfaat dalam berkomunikasi interpersonal.
Hal ini tidak sesuai menurut Devito (1997), bahwa dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan, ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain, kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain.
Menurut Roger (1995), dalam berkomunikasi harus berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain. Dengan komunikasi kita berhubungan
dan mengajak orang lain untuk mengerti apa yang kita sampaikan. Komunikasi adalah suatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Dalam berkomunikasi seseorang harus memiliki dasar sebagai berikut; niat, minat, pandangan, lekat, libat. Dalam proses komunikasi kita juga harus ingat bahwa ada hambatan yaitu baik dari pengirim, saluran, penerima dan umpan balik serta hambatan fisik dan psikologis.
Kesetaraan yang dilakukan oleh petugas kesehatan adalah ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan,
Hasil penelitian tentang variabel umur ditemukan ibu dengan umur 20-35 tahun dengan proporsi lengkap imunisasi dasar bayinya sebesar 63,8%. Berdasarkan hasil penelitian tidak ada hubungan umur ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar. Mengacu pada hasil tersebut dapat dijelaskan semakin tinggi umur belum tentu akan meningkat kelengkapan imunisasi dasar. Terlepas dari itu, umur penting karena umur ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain. Kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain.