HASIL PENELITIAN
5.2. Pengaruh Konseling Keluarga Berencana terhadap Niat Pasangan Usia Subur tentang kontrasepsi IUD Subur tentang kontrasepsi IUD
Niat diasumsikan sebagai faktor pemotivasi di dalam diri individu yang memengaruhi perilaku, Hasil penelitian ini menunjukan bahwa konseling Keluarga Berencana berpengaruh terhadap niat PUS tentang metode kontrasepsi IUD karena dengan konseling yang baik PUS dapat lebih memahami metode kontrasepsi khususnya IUD.Pengunaan metode kontrasepsi IUD dapat ditingkatkan dengan meningkatkan niat penguna. Niat yang dimaksud adalah kecendrungan PUS untuk menggunakan metode kontrasepsi IUD untuk mencegah dan menjarangkan kehamilannya.
Konseling merupakan salah satu cara untuk meningkatkan niat PUS dalam memilih kontrasepsi IUD disebabkan dengan konseling yang baik dan lengkap akan dapat merubah pandangan dan penilaian PUS tentang kontrasepsi IUD. Karna tingkat pendidikan PUS mayoritas menengah kebawah sehingga mereka butuh informasi yang lengkap guna untuk bekal mereka merubah perilaku dan pandangannya.
Berdasarkan hasi penelitian bahwa pemberian konseling dapat meningkatkan niat PUS untuk menggunakan metode kontrasepsi IUD hal ini terbukti dari hasi pre tes dimana terdapat 3 orang pada kelompok perlakuan dan 2 orang pada kelompok kontrol yang berniat menggunakan metode kontrasepsi IUD, tetapi meraka belum
mewujudkannya disebabkan PUS masih ragu karna banyaknya mitos-mitos yang beredar di masyarakat dan masih minimnya pengguna metode kontrasepsi IUD hal ini dapat di lihat dari nilai rata-rata niat untuk kelompok perlakuan 1,479 sedangkan untuk kelompok control 1,813 dengan nilai p= 0,260 berbeda dengan hasil post tes setelah diberikan konseling pada kelompok perlakukan terjadi peningkatan Niat responden sebanyak 15 orang sedang untuk kelompok kontrol tidak terjadi peningkatan niat yaitu 2 orang ini dapat di lihat dari nilai rata- rata kelompok perlakuan 3,021 sedangkan untuk kelompok kontrol 1,854 dengan nilai p= <0,001.
Menurut asumsi peneliti bahwa seorang PUS tidak akan mengunakan kontrasepsi IUD bila ia berpenilaian negatif tentang metode kontrasepsi IUD. Keadaan ini disebabkan karena pengetahuan atau informasi yang diperoleh PUS tidak lengkap sehingga banyaknya mitos-mitos yang berkembang di masyarakat sehingga melemahkan niat PUS untuk menggunakan metode kontrasepsi IUD.
Menurut keterangan responden penyebab mereka tidak menggunakan metode kontrasepsi IUD dikarenakan banyaknya mitos-mitos yang beredar di masyarakat bahwa kontrasepsi IUD dapat lepas dengan sendirinya, dapat berpindah tempat, bahkan bisa sampai ke jantung, tingkat kegagalan IUD yang tinggi sehingga dapat menyebabkan kehamilan. Penyebab lainnya adalah Budaya masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Blang Mancung yang tidak terbiasa untuk membuka aurat sedangkan pada pemasangan dan pencabutan kontrasepsi IUD diperlukan prosudur medis yang membuka aurat. Hal ini membuat PUS malu jika harus membuka bagian yang paling sensitive dari tubuhnya apalagi mayoritas PUS beragama Islam sehingga
mereka merasa tidak nyaman jika harus membuka aurat . Faktor lainya adalah masih sedikitnya aseptor kontrasepsi IUD sehingga PUS tidak memiliki informasi mengenai kelebihan kontrasepsi IUD. Mereka juga tidak berniat di sebabkan karna mereka tidak tahu tentang metode kontrasepsi IUD karena selama ini sumber informasi mereka adalah teman ataupun masyarakat di mana PUS tinggal.
Banyak PUS yang tidak mendapat izin dari suami dalam memilih kontrasepsi IUD disebabkan karena adanya rumor atau informasi yang salah mengenai metode kontrasepsi IUD dimana salah satunya adalah karna IUD dapat menggangu hubungan suami istri sehingga banyak suami yang tidak memberikan izin pada istri untuk menggunakan metode kontrasepsi IUD.
Penyebab lainnya adalah pelayanan kontrasepsi IUD yang hanya bisa dilakukan di puskesmas dan bidan terlatih karena banyak sekali bidan belum dapat pemasangan dan mencabutan IUD sehingga PUS harus ketempat pelayanan kesehatan atau puskesmas sehinggamengurangi niat PUS untuk menggunakan kontrasepsi IUD sehubungan dengan jarak tempuh dari rumah ke tempat pelayanan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Ajzen (2005) mengatakan bahwa niat terbentuk dari sikap, norma subjektif dan prilaku kontrol dimana sikap terhadap perilaku adalah penilaian subjektif dari individu menyangkut pengetahuan dan keyakinan tentang perilaku tertentu, baik buruknya, keuntungan dan manfaatnya. Berdasarkan theory of planned behavior, sikap ditentukan oleh adanya keyakinan tentang konsekuensi dari tingkah laku hal ini disebut dengan keyakinan bertingkah laku (behavioral belefs,).Selain itu, sikap juga ditentukan oleh evaluation
towardobjek, yakni penilaian seseorangterhadap hasil-hasil yang dimunculkan di dalam suatu perilaku.atau mengarah pada penilaian positif atau negatif dari individu terhadap perilaku tertentu yang ingin dilakukannya. Sikap terhadap perilaku ditentukan oleh keyakinan merujuk kepada penilaian subjektif PUS berkaitan dengan berbagai aspek dari dunianya, dan pemahaman PUS mengenai diri dan lingkungannya. Keyakinan diperoleh dengan menghubungkan mamfaat dan atau kerugian yang akan diperoleh. Keyakinan dapat memperkuat sikap terhadap prilaku apabila penilaian yang di lakukan dapat memberikan keuntungan (Fishbein dan Ajzen, 1975).
Norma subjektif adalah persepsi individu mengenai tekanan sosial atau lingkungan untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu. Persepsi ini sifatnya subjektif sehingga faktor lingkungan disebut juga norma subjektif. Norma subjektif di pengaruhi oleh keyakinan individu yang diperoleh atas pandangan orang lain di sekitarnya seperti: orang tua, suami /istri, teman kantor dan orang–orang yang terdekat dengan individu tersebut. Ajzen (2005). Mengemukakan bahwa individu meyakini bahwa sebahagian besar orang lain berpengaruh dalam kehidupannya berfikir bahwa ia harus melakukan suatu prilaku tertentu akan merasakan tekanan bahwa ia harus melakukan prilaku tersebut, sebaliknya apabila individu menyakini bahwa sebahagian besar orang lain yang berpengaruh baginya tidak mendukungnya melakukan prilaku tersebut, maka iaakan memiliki keyakinan untuk menolak melakukan prilaku tersebut, Norma subjektif juga ditentukan oleh keinginan individu untuk memenuhi tuntutan yang dikenalkan padanya.
Persepsi kontrol perilaku merupakan perasaan mampu yang dimiliki PUS sebagai individu untuk menggunakan kontrasepsi berdasarkan persepsinya tentang ketersediaan sumber daya dan kesempatan yang dibutuhkan untuk mewujudkan perilaku yang dimaksud. keyakinan yang mendasari biasanya berupa pengalaman, rasa malu atau perilaku-perilaku tertentu. Ajzen (1991) menyatakan kontrol perilaku dan niat berhubungan erat dengan dilakukan atau tidak dilakukanya sebuah perilaku. Persepsi kontrol memengaruhi niat terhadap perilaku sehingga persepsi kontrol mempunyai dua fungsi, yaitu: (1)sebagai motivator yang secara tidak langsung memengaruhi perilaku melalui niat; (2) mencerminkan kontrol perilaku nyata dan berhubungan langsung dengan perilaku tanpa melalui niat. Kontrol perilaku nyata dapat berupa ketersediaan sarana yang dibutuhkan untuk mewujudkan perilaku misalnya ketersediaan metode KB, SDM petugas kesehatan, fasilitas kesehatan, dapat digunakan untuk mempermudah PUS dalam menggunakan kontrasepsi KB.
Konseling merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan. karena komunikasi yang diterapkan adalah komunikasi dua arah sehingga PUS akan bebas mengungkapkan perasan dan pikirannya yang beroreantasi pada kenyataan atau permasalahannya, saling percaya, saling perhatian, saling memahami, dan saling mendukung. Menurut Walgito (2003) dan Azwar, bahwa faktor pengetahuan dapat memengaruhi pembentukan sikap dan niat karena keyakinan yang didasari pengetahuan, sifatnya akan lebih lama dan langgeng dibandingkan dengan keyakinan atau niat yang tidak didasari pengetahuan. Oleh karena itu, semakin baik konseling yang diberikan maka semakin baik pula pengetahuan dan Niat PUS tentang metode
kontrasepsi IUD. karena tujuan konseling adalah merubah tingkah laku dari yang buruk menjadi kearah yang lebih baik. Dimana hal tersebut tentunya memerlukan tehnik-tehnik penyampaian materi agar dapat diingat dan diwujudkan di dalam suatu perilaku.Terbukti pada kelompok perlakuan yang diberikan konseling oleh tenaga kesehatan memiliki pengetahuan dan niat yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol. Ini tercermin dari adanya dua orang PUS dari kelompok perlakuan yang langsung memasang kontrasepsi IUD setelah mendapatkan konseling dari tenaga tenaga kesehatan.
BAB 6