BAB III METODE PENELITIAN
C. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Pengaruh Locus of Control pada hubungan antara
Kecerdasan Emosional (EQ) merupakan faktor penting yang mempengaruhi hasil belajar. Hasil penelitian di sekolah-sekolah Amerika menunjukkan bahwa jika kecerdasan emosional berkembang dengan baik maka akan sangat menentukan keberhasilan seseorang di kemudian hari, termasuk meningkatkan prestasi belajar. Pelatihan-pelatihan emosional
(self science/social development/life skill) merupakan upaya mengem-bangkan pengenalan emosi diri, mengolah emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan akan membentuk keseimbangan mental antara nalar dan perasaan atau emosi. Hal-hal tersebut menjadi hal penting dalam pengembangan prestasi belajar seseorang. Hasil-hasil pembelajaran keterampilan emosional di berbagai tempat di Amerika menunjukkan bahwa siswa yang telah mengikuti pendidikan pengembangan emosional menunjukkan hasil yang lebih positif di bidang akademik dibandingkan dengan siswa yang tidak mengikuti pelatihan pengembangan emosional, misalnya membantunya dalam keterampilan belajar, lebih peduli dan percaya diri (Goleman, 2001:432-435)
Hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa, diduga kuat tidak sama pada individu dengan locus of control yang berbeda. Siswa dengan kecenderungan locus of control internal diduga kuat mempunyai prestasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa dengan locus of control eksternal. Hal demikian disebabkan siswa dengan locus of control internal memiliki keyakinan diri yang tinggi, berprestasi, aktif, tidak mudah terpengaruh, mandiri, mampu mengendalikan hidupnya, yakin akan keberhasilan hidupnya, sehingga dengan kesadaran itu siswa akan belajar lebih giat untuk mencapai prestasi. Oleh sebab siswa dengan locus of control eksternal mengandalkan penentu hidupnya dari luar dirinya, maka ia hanya pasrah menerima nasib
dan keberuntungan, tanpa ada usaha merubah keadaan menjadi lebih baik. Hal ini berpengaruh terhadap hasil prestasi belajar yang diperolehnya. 2. Pengaruh kultur keluarga pada hubungan antara kecerdasan emosional
dengan prestasi belajar
Kultur keluarga adalah suatu nilai yang dimiliki masyarakat/ keluarga yang merupakan hasil kajian/pengalaman yang berlangsung turun temurun. Siswa yang berasal dari kultur keluarga yang berbeda, diduga kuat mempunyai derajat hubungan yang tidak sama antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajarnya. Pada siswa yang berasal dari kultur keluarga yang bercirikan power distance kecil, derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa diduga kuat akan lebih tinggi dibandingkan siswa yang berasal dari kultur keluarga dengan power distance besar. Siswa yang berasal dari keluarga dengan power distance
kecil mempunyai ketaatan kepada norma keluarga, menghormati orang tua dan yang lebih tua sebagai daasar kebaikan, otoritas orang tua berpengaruh terus menerus sepanjang hidup dan ketergantungan. Berbeda dengan siswa yang berasal dari keluarga dengan power distance besar dimana sebaliknya sehingga melemahkan derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa.
Pada siswa yang berasal dari kultur keluarga yang bercirikan
collectivism, derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa diduga kuat akan lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang berasal dari kultur keluarga yang bercirikan individualism. Siswa
yang berasal dari keluarga dengan ciri collectivism mempunyai demokratis dalam keluarga, kesetiaan kepada kelompok adalah sumber daya bersama, mampu mengelola keuangan, kebutuhan untuk berkomunikasi, merasa bersalah jika melanggar peraturan dan keluarga menjadi tempat bersatunya anggota keluarga. Berbeda dengan siswa yang berasal dari keluarga yang bercirikan individualism terjadi sebaliknya, sehingga melemahkan derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa.
Pada siswa yang berasal dari kultur keluarga yang bercirikan
masculinity, derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa diduga kuat akan lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang berasal dari kultur keluarga yang bercirikan femininity. Siswa yang berasal dari keluarga dengan ciri masculinity mempunyai dominasi penetapan aturan dalam keluarga, pembagian peran orangtua, perhatian pada anggota yang lebih kuat, dan hasrat untuk hidup lebih baik. Berbeda dengan siswa yang berasal dari keluarga yang bercirikan femininity dimana sebaliknya, sehingga melemahkan derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa.
Pada siswa yang berasal dari kultur keluarga yang bercirikan
uncertainty avoidance yang lemah, derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa diduga kuat akan lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang berasal dari kultur keluarga yang bercirikan uncertainty avoidance yang kuat. Siswa yang berasal dari keluarga yang bercirikan uncertainty avoidance yang lemah mampu
menyikapi situasi ketidakpastian sebagai sesuatu yang wajar, tidak cemas menghadapi persoalan hidup dan mempunyai feleksibilitas dalam penetapan aturan keluarga. Berbeda dengan siswa yang berasal dari keluarga yang bercirikan uncertainty avoidance yang kuat dimana sebaliknya, sehingga melemahkan derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa.
3. Pengaruh kultur sekolah pada hubungan antara kecerdasan emosional
dengan prestasi belajar.
Kultur sekolah adalah suatu nilai yang dianut oleh sekolah yang mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya siswa. Siswa yang berasal dari kultur sekolah yang berbeda, diduga kuat mempunyai derajat hubungan yang tidak sama antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajarnya. Pada siswa yang berasal dari kultur sekolah yang bercirikan power distance
kecil, derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa diduga kuat akan lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang berasal dari kultur sekolah dengan ciri power distance besar. Siswa yang berasal dari sekolah dengan power distance kecil perlakuan guru terhadap para siswa sama, proses pembelajaran terpusat pada siswa, kesempatan bertanya, kebebasan menyampaikan kritik, komunikasi dua arah (di kelas), peran orang tua pada anak di sekolah, aturan dan norma dalam sekolah, pengembangan kemampuan dan bakat, serta orang tua yang merasa diuntungkan dengan proses pembelajaran di sekolah. Berbeda dengan siswa yang berasal dari sekolah dengan power distance besar dimana sebaliknya,
sehingga melemahkan derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa.
Pada siswa yang berasal dari kultur sekolah yang bercirikan
collectivism, derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa diduga kuat akan lebih tinggi dibandingkan siswa yang berasal dari kultur sekolah dengan ciri individualism. Siswa yang berasal dari sekolah yang bercirikan collectivism siswa mempunyai kebebasan mengungkapkan pendapat, penyelesaian tugas dari guru, tingkat penerimaan diri oleh orang lain, sikap positif dalam mengerjakan tugas dan tujuan berprestasi Berbeda dengan siswa yang berasal dari sekolah yang bercirikan individualism dimana sebaliknya, sehingga melemahkan derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa.
Pada siswa yang berasal dari kultur sekolah yang bercirikan
masculinity, derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa diduga kuat akan lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang berasal dari sekolah yang bercirikan femininity. Siswa yang berasal dari sekolah dengan masculinity suasana kompetisi di kelas, berorientasi pada prestasi dan kompetensi guru. Berbeda dengan siswa yang berasal dari sekolah dengan ciri femininity dimana sebaliknya, sehingga melemahkan derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa.
Pada siswa yang berasal dari kultur sekolah yang bercirikan
dengan prestasi belajar siswa diduga kuat akan lebih tinggi dibandingkan siswa yang berasal dari kultur sekolah dengan ciri uncertainty avoidance
kuat. Siswa yang berasal dari sekolah dengan uncertainty avoidance
tingkat penerimaan siswa dan kekurangan guru, kejelasan guru dalam menerangkan dan kedekatan hubungan antara guru, siswa, dan orange tua. Berbeda dengan siswa yang berasal dari keluarga yang bercirikan
uncertainty avoidance kuat dimana sebaliknya, sehingga melemahkan derajat hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa.
G. Hipotesis Penelitian
1. Ada pengaruh positif locus of control pada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar. Pada locus of control internal, derajat hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar lebih tinggi dibanding dengan locus of control eksternal.
2. Ada pengaruh positif kultur keluarga pada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar. Pada kultur keluarga yang bercirikan
power distance kecil, derajat hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar akan lebih tinggi dibanding dengan kultur keluarga yang bercirikan power distance besar. Pada kultur keluarga yang bercirikan
collectivism, derajat hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar akan lebih tinggi dibanding dengan kultur keluarga yang bercirikan
individualism. Pada kultur keluarga yang bercirikan masculinity, derajat hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar akan lebih
tinggi dibanding dengan kultur keluarga yang bercirikan femininity. Pada kultur keluarga yang bercirikan uncertainty avoidance lemah, derajat hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar akan lebih tinggi dibanding dengan kultur keluarga yang bercirikan uncertainty avoidance kuat.
3. Ada pengaruh positif kultur sekolah pada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar. Pada kultur sekolah yang bercirikan
power distance kecil, derajat hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar akan lebih tinggi dibanding dengan kultur sekolah yang bercirikan power distance besar. Pada kultur sekolah yang bercirikan
collectivism, derajat hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar akan lebih tinggi dibanding dengan kultur sekolah yang bercirikan
individualism. Pada kultur sekolah yang bercirikan masculinity, derajat hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar akan lebih tinggi dibanding dengan kultur sekolah yang bercirikan femininity. Pada kultur sekolah yang bercirikan uncertainty avoidance lemah, derajat hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar akan lebih tinggi dibanding dengan kultur sekolah yang bercirikan uncertainty avoidance kuat.
BAB III
METODA PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian verificative research dengan metode explanatory survey.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan apa yang akan terjadi bila variabel-variabel tertentu dikontrol atau dimanipulasi secara tertentu (Mardalis, 1990:26). Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan kejelasan atas pengaruh variabel locus of control, kultur keluarga, dan kultur sekolah pada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar.
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri dan Swasta di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan November-Desember 2006
C. Subjek dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP Negeri dan Swasta kelas 3 yang ada di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
2. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah locus of control, kultur keluarga, kultur sekolah, kecerdasan emosional, dan prestasi belajar.
D. Variabel Penelitian dan Pengukurannya
1. Variabel Locus of Control
Locus of control merupakan suatu keyakinan atau kepercayaan dari individu atas penentu hidupnya, yang terbagi menjadi locus of control internal dan
locus of control eksternal. Dimensi locus of control didasarkan pendapat dari Rotter yang terdiri dari: status-recognition, dominance, independence, protec tion-dependency, love and affection, dan physical comfort. Berikut ini disajikan tabel operasionalisasinya:
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel Locus of Control
No Item Dimensi Indikator
Internal Eksternal
1. Status-recognition
(pengakuan status)
• Kebutuhan untuk dihargai
• ingin dianggap kompeten
• kesuksesan dalam berkarya
4a,5a,10a, 14a, 14b, 23b 4b,5b,10b, 23a 2. Dominance (dominasi) • Kebutuhan untuk
mengontrol aktivitas orang lain
• Kebutuhan untuk berkuasa
3a,12a,17b,2 2a,24a, 24b 3b,12b,17a,2 2b 3. Independence (ketidak tergantungan) • Keyakinan diri
• menggantungkan pada diri sendiri/usaha sendiri 9b,11a, 13a,15a,16b,1 8b,21b,25b,2 8a 8a,8b,9a,11b 13b,15b,16a,1 8a,21a, 25a,28b 4. Protection-dependency (perlindungan-ketergantungan)
• menghindari frustasi dengan mencari perlindungan dan keamanan
• menggantungkan diri pada orang lain 2b,6b, 7b,19a,19b, 29b 1a,1b,2a,6a, 7a, 29a
5. Love and affection
(cinta dan kasih sayang)
• Kebutuhan untuk dicintai
• kehangatan, perhatian, cinta dan kasih sayang
20b,26a 20a,26b
6. Physical comfort
(kenyamanan fisik)
• Kebutuhan akan kepuasan fisik (menghindari sakit,mencari kesenangan jasmani)
Pengukuran locus of control yang digunakan dalam penelitian ini merupakan pengembangan dari instrumen yang pernah digunakan Indriantoro (1993) yang bersumber pada penelitian Rotter (1966). Pada penelitian ini item pertanyaan yang mengukur locus of control terdiri dari 29 pertanyaan. Dari 29 item, 23 item tersebut merupakan item yang mengukur locus of control
sedangkan 6 item ditambahkan sebagai filler (pengisi). Fungsi filler ini adalah untuk menyamarkan penggunaan pernyataan lain dalam instrumen tersebut. Instrumen dibuat dalam bentuk format pilihan, yaitu pernyataan internal berpasangan dengan pernyataan eksternal. Nilai atau skor nol (0) diberikan untuk pernyataan eksternal yang dipilih, dan skor satu (1) untuk pernyataan internal yang dipilih. Jika total skor locus of control responden tinggi, maka responden tersebut cenderung memiliki internal locus of control, dan sebaliknya jika skor total locus of control responden rendah, maka responden tersebut cenderung memiliki external locus of control. 2. Variabel Kultur Keluarga
Kultur keluarga adalah suatu nilai-nilai yang dimiliki suatu masyarakat/ keluarga yang merupakan hasil kajian/pengalaman yang berlangsung turun temurun. Nilai-nilai tersebut terlihat dari adanya pola pikir, sikap, rasa ataupun reaksi atas sesuatu yang terjadi. Dimensi kultur keluarga mencakup
power distance, collectivism vs individualism, femininity vs masculinity, dan
uncertainty avoidance. Masing-masing dimensi dijabarkan dalam bentuk indikator. Setiap indikator selanjutnya dijabarkan dalam bentuk pertanyaan.
Berikut ini disajikan tabel operasionalisasinya.
Tabel 3.2
Operasionalisasi Variabel Kultur Keluarga
No Dimensi Indikator No. Item
1 Power
distance
a. ketaatan kepada norma keluarga
b. menghormati orang tua dan yang lebih tua sebagai dasar kebaikan
c. otoritas orang tua berpengaruh terus menerus sepanjang hidup
d. ketergantungan/ kebersamaan 1 2 3 4 2 Collectivism vs individualism
a. demokratis dalam keluarga b. loyalitas pada anggota keluarga
c. mampu mengelola keuangan/
kemandirian
d. kebutuhan untuk berkomunikasi
e. keluarga menjadi tempat bersatunya
anggota keluarga
f. merasa bersalah jika melanggar
peraturan 5 6 7 8 9 10,11 3 Femininity vs masculinity
a. dominasi penetapan aturan b. pembagian peran orangtua c. hasrat untuk hidup lebih baik
d. perhatian pada anggota yang lebih kuat
12 13 14 15 4 Uncertainty avoidance
a. toleransi terhadap situasi yang tidak pasti dan mempunyai inisiatif
b. perasaan terhadap ketidakpastian
c. ketat/tidaknya pengatuaran hal baik atau tidak baik
16 17 18
Pengukuran variabel kultur keluarga didasarkan pada indikator-indikatornya. Masing-masing indikator dijabarkan dalam bentuk pernyataan yang dinyatakan dalam empat skala sikap, yaitu sangat setuju (SS) = 4; setuju (S) = 3; tidak setuju (TS) = 2; dan sangat tidak setuju (STS) =1
3. Variabel Kultur Sekolah
Kultur sekolah adalah suatu nilai yang dianut oleh sekolah yang mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya siswa di sekolah. Dimensi kultur
sekolah mencakup power distance, collectivism vs individualism, femininity vs masculinity, dan uncertainty avoidance. Masing-masing dimensi dijabarkan dalam bentuk indikator. Setiap indikator selanjutnya dijabarkan dalam bentuk pertanyaan. Berikut ini disajikan tabel operasionalisasinya.
Tabel 3.3
Operasionalisasi Variabel Kultur Sekolah
No Demensi Indikator No.
Item
1 Power
distance
a. perlakuan guru terhadap para siswa sama b. proses pembelajaran terpusat pada siswa c. kesempatan bertanya
d. kebebasan menyampaikan kritik e. komunikasi dua arah (di kelas) f. peran orang tua pada anak di sekolah g. aturan dan norma dalam sekolah h. pengembangan kemampuan dan bakat i. orang tua diuntungkan dengan proses
pembelajaran sekolah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2 Collectivism vs individualism
a. kebebasan mengungkapkan pendapat b. penyelesaian tugas dari guru
c. tingkat penerimaan diri oleh orang lain d. sikap positif dalam mengerjakan tugas e. tujuan berprestasi 10 11 12 13 14,15 3 Femininity Vs Masculinity
a. suasana kompetisi kelas b. berorientasi pada prestasi c. kompetensi guru 16 17 18 4 Uncertainty avoidance
a. tingkat penerimaan siswa dengan kekurangan guru
b. kejelasan guru dalam menerangkan
c. kedekatan hubungan antara guru, siswa, dan orang tua
19 20 21
Pengukuran variabel kultur sekolah didasarkan pada indikator-indikatornya. Masing-masing indikatornya dijabarkan dalam bentuk pernyataan yang dinyatakan dalam empat skala sikap, yaitu sangat setuju (SS) = 4; setuju (S) = 3; tidak setuju (TS) = 2; dan sangat tidak setuju (STS) =1
4. Variabel Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain. Dimensi kecerdasan emosional meliputi: 1) kesadaran diri, 2) pengaturan diri, 3) motivasi, 4) empati, dan 5) keterampilan sosial. Berikut ini disajikan tabel operasionalisasinya:
Tabel 3.4
Operasionalisasi Variabel Kecerdasan Emosional
No. Item No Dimensi Indikator Positif Negatif 1 Kesadaran diri
a. pengenalan emosi sendiri b. pengetahuan kekuatan diri c. pengetahuan keterbatasan diri
d. keyakinan harga diri dan kemampuan sendiri 1 3 4 5 2 6 2 Pengaturan diri
a. pengelolaan emosi dan dorongan
negatif
b. penghargaan terhadap norma kejujur an dan integritas
c. tanggung jawab atas kinerja pribadi d. fleksibilitas terhadap perubahan
e. keterbukaan dengan ide-ide serta informasi baru 7 8 9 11 12 10 3 Motivasi
a. dorongan menjadi lebih baik
b. penyesuaian diri terhadap sasaran kelompok/organisasi
c. kesiapan dalam memanfaatkan
kesempatan
d. kegigihan dalam memperjuangkan
kegagalan dan hambatan
13 14 15 16
4 Empati
a. pemahaman perasaan orang lain b. tanggap terhadap kebutuhan orang
lain
c. pengertian perasaan orang lain d. kesiapsediaan melayani e. pemberian kesempatan untuk
tumbuh melalui pergaulan
17 18 19 20 21
5
Keterampilan sosial
a. keterampilan melakukan persuasi. b. keterampilan dalam berkomunikasi c. keterampilan membangkitkan
inspirasi, memandu kelompok dan orang lain.
d. keterampilan memulai dan menge-lola perubahan.
e. negosiasi dan pemecahan silang
pendapat.
f. keterampilan menciptakan suasana terhadap sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama g. kerjasama dengan orang lain demi
tujuan bersama.
h. relasi dengan orang lain sebagai alat 22 23 24 25 26 27 28 30 29
Pengukuran variabel kecerdasan emosional didasarkan pada indikator-indikatornya. Masing-masing indikator dijabarkan dalam bentuk pernyataan yang dinyatakan dalam empat skala Likert.
Tabel 3.5
Skor Kecerdasan Emosional
Pertanyaan positif Skor Pertanyaan negatif Skor
Sangat Setuju 4 Sangat Setuju 1
Setuju 3 Setuju 2
Tidak Setuju 2 Tidak Setuju 3
Sangat Tidak Setuju 1 Sangat Tidak Setuju 4
5. Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran lazimnya ditunjukkan dengan nilai/angka yang diberikan oleh guru. Usaha untuk mengevaluasi hasil belajar siswa, biasanya dilakukan dengan mengadakan pengukuran dalam bentuk tertulis, lisan maupun praktik yang kemudian diberi skor yang biasanya berwujud angka. Hasil dari pengukuran ini merupakan informasi-informasi atau data yang diwujudkan dalam bentuk raport yang diterima siswa pada akhir
semester. Pada penelitian ini penulis mengumpulkan data dengan cara membuat rata-rata nilai raport masing-masing siswa dari kelas VII dan VIII yang didapat dari sekolah.
E. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah jumlah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi, 2002:108). Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah seluruh siswa SMP kelas 3 di Kabupaten Sleman, Yogyakarta yang berjumlah 10.476 siswa (Data Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman-Tahun Ajaran 2006/2007).
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi, 2002:109). Pengambilan sampel didasarkan pada tabel krejcie (Sugiyono, 2005: 63). Dengan melihat tabel krejcie dan populasi siswa kelas 3 SMP yang ada di Kabupaten Sleman, maka peneliti mengambil sampel sejumlah 373 siswa. Sampel tersebut berasal dari sekolah-sekolah sebagai berikut:
Tabel 3.6
Asal Sekolah dan Jumlah Sampel
No Nama SMP Jumlah Sampel
1 SMP KARITAS Ngaglik 23
2 SMP Muh. 2 Godean 78
3 SMP St. Aloysius Turi 18
4 SMP Budi Mulia Minggir 25
5 SMP N. 1 Mlati 76
6 SMP N. 2 Pakem 75
3. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu anggota populasi yang diambil sebagai sampel sudah ditentukan sesuai dengan keperluan penelitian dan mengabaikan peluang anggota lain dari populasi yang tidak dipilih (Suharsimi, 2002:117). Peneliti menetapkan sampel penelitian ini adalah kelas 3 SMP di daerah Sleman, Yogyakarta. Alasan dipilihnya siswa kelas 3 SMP karena siswa sudah cukup waktu di sekolah tersebut, sehingga mereka dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap lingkungan pembelajaran di sekolah, sehingga hasil belajarnya merupakan representasi dari penyesuaian mereka terhadap lingkungan pembelajaran di sekolah tersebut.
F. Teknik Pengumpulan Data
1. Metode Kuesioner
Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi, 2002:128). Kuesioner ini digunakan untuk mengumpulkan data
locus of control, kultur keluarga, kultur sekolah dan kecerdasan emosional. 2. Metode dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melihat dan mempelajari buku-buku, catatan dan dokumen serta arsip-arsip yang berhubungan dengan obyek yang diteliti. Dalam penelitian ini
penulis mengumpulkan data prestasi belajar siswa dengan melihat leger/rekap nilai rapor siswa.
G. Pengujian Validitas dan Reliabilitas
1. Pengujian Validitas
Pengujian validitas dimaksudkan untuk mengukur taraf sampai dimana suatu kuesioner valid/sah. Suatu kuesioner dikatakan valid jika butir-butir pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur (Suharsimi, 2002:145). Dengan kata lain pengujian validitas dimaksudkan untuk mengukur apakah instrumen pengukurannya dapat mengukur apa yang hendak kita ukur. Rumus pengujiannya sebagai berikut:
=
r
xy( )( )
( )
{
2 2}{
2( )
2}
Y Y N X X N Y X XY N ∑ − ∑ ∑ − ∑ ∑ ∑ − ∑ Keterangan :r
xy = korelasi antar skor masing-masing item dengan skor totalN = jumlah subjek
X = skor untuk masing-masing item
Y = skor untuk semua
∑XY = produk dari X dan Y
Besarnya nilai koefisien r dapat dihitung dengan menggunakan korelasi dengan signifikansi 5%. Jika rhitung lebih besar dari pada rtabel, maka butir
soal tersebut dapat dikatakan valid. Jika sebaliknya maka butir soal tersebut tidak valid.
Pengujian validitas instrumen penelitian, dilakukan sebelum mengadakan penelitian dan dilakukan di SMP NEGERI 1 Kalibawang
dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang. Pengujian validitas dilakukan dengan bantuan program SPSS 12.0 for Windows. Hasil pengujian validitas adalah sebagai berikut (lampiran 2 hal.117-120):
Tabel 3.7
Hasil Pengujian Validitas Variabel Locus of Control
No.Item Corrected item-total correlation rtabel Keterangan
2 0,524 0,239 Valid 3 0,524 0,239 Valid 4 0,619 0,239 Valid 5 0,399 0,239 Valid 6 0,665 0,239 Valid 7 0,690 0,239 Valid 9 0,486 0,239 Valid 10 0,644 0,239 Valid 11 0,432 0,239 Valid 12 0,651 0,239 Valid 13 0,654 0,239 Valid 15 0,593 0,239 Valid 16 0,485 0,239 Valid 17 0,644 0,239 Valid 18 0,467 0,239 Valid 20 0,441 0,239 Valid 21 0,327 0,239 Valid 22 0,273 0,239 Valid 23 0,380 0,239 Valid 25 0,627 0,239 Valid 26 0,270 0,239 Valid 28 0,366 0,239 Valid 29 0,587 0,239 Valid
Dari 29 butir pertanyaan variabel locus of control, 6 butir soal tidak diuji karena hanya sebagai filler saja. Tabel 3.7 di atas menunjukkan bahwa 23 butir pernyataan variabel locus of control adalah valid oleh sebab nilai