• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh dari Luar Kelompok (Eksternal)

Dalam dokumen sma11sos Sosiologi Suhardi (Halaman 195-199)

Bab V Klasifikasi Kelompok Sosial dalam Masyarakat

B. Dinamika Kelompok Sosial

2. Pengaruh dari Luar Kelompok (Eksternal)

Tidak ada satu kelompok sosial pun yang terbebas dari pengaruh kelompok lain. Ini berarti terjadi hubungan dengan kelompok lain. Hubungan itu menimbul- kan pengaruh terhadap masing-masing kelompok. Pengaruh yang terjadi bersifat dua arah (saling memengaruhi).

Hubungan antarkelompok dapat bersifat asosiatif atau justru disasosiatif. Hubungan yang saling mendukung atau bekerja sama akan menimbulkan semakin kokohnya struktur dan keutuhan kelompok, sedangkan konflik dengan kelompok lain dapat menyebabkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama akan ter- jadi kehancuran, dan kemungkinan kedua justru akan membuat semakin kokoh.

Konflik antarkelompok dapat berupa persaingan untuk memperoleh sumber- sumber ekonomi (mata pencaharian, barang modal, dll), atau pemaksaan unsur- unsur kebudayaan. Di samping itu, dapat juga terjadi pemaksaan agama, do- minasi politik, dan dominasi ekonomi. Konflik dua kelompok sosial yang paling parah adalah perang. Kerusuhan di berbagai daerah di Indonesia (Poso, Ambon, Papua, Aceh) merupakan konflik sosial yang melibatkan beberapa kelompok masyarakat. Sedangkan perang antara Amerika dengan Irak (2005), atau antara Israel dengan Lebanon (2006) adalah konflik antarnegara yang melibatkan faktor agama, ideologi, politik, dan kepentingan ekonomi.

Apabila dua kelompok saling bertentangan maka terjadi proses sebagai berikut:

a. Apabila dua kelompok bersaing maka akan timbul stereotip

Stereotip adalah prasangka penilaian buruk kelompok lain. Penilaian itu ti- dak didasarkan atas kenyataan yang sebenarnya. Prasangka biasanya bersifat tidak objektif, dan menganggap setiap anggota kelompok lain memiliki sifat sama (generalisasi).

Sebagai contoh, kelompok pedagang kaki lima terlibat konflik dengan petugas ketertiban kota. Kelompok pedagang menganggap pemerintah kota yang di-wakili oleh para petugas ketertiban sebagai kelompok orang yang hanya mau menang sendiri, tidak memihak kepada rakyat kecil. Anggapan itu ditujukan kepada semua petugas ketertiban, walaupun di antara para petugas itu ada orang-orang yang sehari-harinya baik hati dan penuh pengertian kepada ke- sulitan pedagang kaki lima.

Pihak pemerintah yang diwakili para petugas ketertiban juga muncul stereotip terhadap kelompok pedagang kaki lima, stereotip itu berupa anggapan terhadap kelompok pedagang kaki lima sebagai orang-orang yang tidak mengindahkan aturan yang dibuat pemerintah.

b. Walaupun kedua kelompok yang bertentangan mengadakan kontak, sikap bermusuhan mereka tidak berkurang

Kontak adalah bentuk hubungan yang dangkal. Dalam kontak belum terjadi pertukaran informasi mengenai maksud dan tujuan masing-masing kelompok yang berseberangan. Oleh karena itu, kontak belum bisa mengurangi ketegangan yang telah terjadi. Dalam kasus yang dicontohkan di atas, kedatangan wakil pemerintah untuk membacakan keputusan pemerintah sebagai dasar peng- gusuran tidak akan mengurangi ketegangan mereka. Bahkan, kelompok pe- dagang kaki lima memusuhi petugas atau menghalang-halangi proses penggusuran.

c. Apabila kedua kelompok saling bekerja sama untuk satu tujuan tertentu, maka pertentangan mereka ternetralisir

Sikap bekerja sama dalam kasus ini dapat diawali perundingan antara kedua kelompok secara adil, terbuka, dan saling mengerti. Pemerintah harus dapat menunjukkan alasan-alasan yang dapat diterima kelompok pedagang kaki lima perlunya menata kembali lokasi yang mereka tempati. Penggusuran itu jangan sampai merugikan usaha pedagang kaki lima. Hal-hal yang berhubungan dengan besarnya uang pengganti kerugian, dan penempatan pada lokasi baru yang memadahi harus dibicarakan bersama secara terbuka dan adil.

Apabila proses seperti itu dilakukan, barulah ketengangan dapat dikendorkan dan akhirnya menjadi netral (tidak bermusuhan). Kerja sama antarkelompok membuat terjadinya sikap saling pengertian, saling membutuhkan, dan saling menghargai. Oleh karena itu, sikap bermusuhan harus ditinggalkan dan digantikan oleh semangat kerja sama.

d. Apabila kedua kelompok saling bekerja sama, timbullah saling pengertian dan pemahaman terhadap pihak lain

Hal seperti ini dapat menghilangkan prasangka yang telah timbul sebelum- nya. Pertentangan dua kelompok sosial dapat saja dialami oleh kelompok mayo- ritas dan minoritas, apabila hal ini terjadi maka kelompok minoritas bereaksi dalam bentuk menerima, agresif, menghindari, atau asimilasi. Sikap menerima terjadi, apabila kelompok minoritas merasa tidak berdaya menghadapi tekanan kelompok mayoritas.

Sikap menghindari konflik juga sering mewarnai hubungan kelompok mayoritas dan minoritas. Apabila merasa tidak mungkin mengalahkan dominasi kelompok besar, maka banyak kelompok kecil yang dengan sengaja dan terencana menghindari konflik dengan kelompok besar. Selain itu, dapat pula terjadi asimilasi. Dalam asimilasi, kelompok kecil menerima unsur-unsur kebudayaan kelompok besar, walaupun pada mulanya merasa asing dan tidak suka, namun sedikit demi sedikit mengikuti kemauan kelompok mayorias.

Salah satu wujud dinamika kelompok sosial adalah perilaku kolektif. Perilaku kolektif adalah cara berpikir, merasa, atau tindakan orang-orang yang berada dalam suatu kerumuman atau kelompok tak terorganisasi lainnya.

Pada umumnya, perilaku kolektif berasal dari dorongan perasaan (hati), tidak direncanakan, dan berlangsung singkat. Perilaku seperti ini sering bangkit dalam situasi yang menyulut emosi banyak orang. Situasi tersebut dapat berupa pertandingan olah raga, unjuk rasa, dan terjadinya bencana, sedangkan perilaku kelompok sosial terorganisasi bersifat dapat diduga, terencana, dan jangka panjang.

Pilih dan kerjakan salah satu tugas di bawah ini, kemudian serahkan kepada guru untuk dinilai!

1. Carilah informasi dari berbagai sumber mengenai proses pergantian pimpinan di Tentara Nasional Indonesa (TNI)! Temukan alasan-alasan yang menjadi dasar tetap stabilnya organisasi TNI walaupun sering terjadi pergantian kepemimpinan! Buatlah laporannya!

2. Carilah informasi dari berbagai sumber, mengapa beberapa partai politik di Indonesia yang mengalami perpecahan. Tulis hasil kajian Anda dalam bentuk makalah untuk dipresentasikan di depan diskusi kelas!

Kerjakan di buku tugas Anda!

Jawablah dengan tepat!

1. Sebutkan faktor internal yang menyebabkan terjadinya perubahan ke- lompok sosial!

2. Faktor-faktor apa saja yang menyebutkan terjadinya dinamika kelom- pok?

3. Apakah yang dimaksud dengan sosiometri?

4. Apabila Anda sedang berdiskusi mengenai suatu persoalan, pola apakah yang sebaiknya Anda gunakan? Mengapa?

5. Jelaskan perbedaan definisi dinamika kelompok menurut Paul B. Horton dengan Soerjono Soekanto!

Kerjakan di buku tugas Anda!

Ungkapkan tanggapan anda terhadap pernyataan atau kasus di bawah ini, dengan cara memberi tanda cek (

—

) pada kolom S (Setuju), TS (Tidak Setuju) atau R (Ragu-ragu)!

Aktivitas Siswa

Pelatihan

Dalam dokumen sma11sos Sosiologi Suhardi (Halaman 195-199)