• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Ownership Structure terhadap Earnings Quality .1 Institutional Ownership dan Earnings Quality

2.10 Hipotesa Penelitian

2.10.1 Pengaruh Ownership Structure terhadap Earnings Quality .1 Institutional Ownership dan Earnings Quality

Berdasarkan agency theory, kepemilikan institusional memiliki peranan yang sangat penting dalam meminimalisasi konflik keagenan yang terjadi antara pihak manajer dan pemegang saham. Keberadaan investor institusional dianggap mampu memonitor manajemen karena kepemilikan institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal. Investor institusi memiliki kesempatan, sumber daya, dan kemampuan untuk memantau, mendisiplinkan, dan mempengaruhi manajer perusahaan (Chung et al., 2002). Pengaruh kepemilikan institusional sebagai agen pengawas ditentukan melalui investasi mereka yang cukup besar. Karena investor institusi akan memantau perkembangan investasinya secara profesional sehingga pengendalian terhadap tindakan manajemen sangat tinggi. Dengan demikian, mereka lebih mampu mendeteksi adanya manajemen laba yang dilakukan karena memiliki banyak akses terhadap informasi yang tepat waktu dan relevan. Beberapa penelitian lain yang mendukung pernyataan tersebut dilakukan oleh Hessayri & Saihi (2015); Hashim & Devi (2015); Alzoubi (2016).

Di sisi lain, besarnya kepemilikan saham oleh institusional membuat institusi sebagai pemegang saham tertinggi memiliki kemampuan untuk mengintervensi kinerja manajemen sedemikian rupa. Manajemen dituntut melakukan berbagai hal yang dianggap akan menaikkan nilai perusahaan dan daya jual perusahaan. Untuk tetap menjaga kondisi perusahaan di mata publik, institusi cenderung akan membuat manajemen menampilkan laba perusahaan secantik mungkin (Cornett, 2009). Langkah ini dilakukan untuk melindungi nilai investasi yang dimiliki institusi sebagai bagian dari portofolio keuangan mereka di pasar modal. Manajemen menampilkan laba sesuai dengan apa yang pemegang saham

34

Universitas Kristen Petra

pengendali harapkan. Dengan demikian, semakin tinggi kepemilikan institusi, semakin rendah kualitas laba yang dihasilkan.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Yang, Chun, dan Ramadili (2009) menyatakan institutional ownership tidak berpengaruh terhadap absolute discretionary accrual, hal ini berarti institutional ownership tidak mempengaruhi earnings quality. Hal ini karena kemampuan investor institusi dalam memantau adanya praktik manajemen laba ditentukan berdasarkan kemampuannya dalam memahami peluang dan strategi perusahaan dalam memperoleh profit. Dengan pengetahuan tersebut, investor institusi lebih mampu menganalisis proses pelaporan keuangan dan mendeteksi adanya praktik manajemen laba. Oleh karena itu, adanya kepemilikan institusional yang tinggi dalam perusahaan belum tentu akan mengurangi praktik manajemen laba sehingga berdampak pada peningkatan earnings quality (Kolsi & Grassa, 2017).

2.10.1.2 Government Ownership dan Earnings Quality

Jumlah kepemilikan pemerintah diukur dari jumlah kepemilikan saham oleh pihak pemerintah dari seluruh jumlah saham yang dikelola (Mohamed-Rusdi &

Nelson,2015). Dengan adanya kepemilikan saham oleh pemerintah membuat perusahaan mampu memperoleh subsidi modal yang lebih dari pemerintah.

Sehingga berdasarkan agency theory, pemerintah mampu meminimalisasi konflik keagenan karena memiliki peranan dan kemampuan yang besar untuk memantau tindakan manajer agar mencapai tujuan pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan negara, dimana tujuan tersebut saling bertentangan dengan tujuan perusahaan. Hal ini membuat manajer menjadi lebih bertanggungjawab kepada pemerintah (Shleifer & Vishny, 1994) sehingga pemerintah lebih mudah mendeteksi tindakan manajer, termasuk adanya tindakan oportunistik. Dengan demikian, adanya kepemilikan pemerintah akan mengurangi manajemen laba, yang berarti earnings quality semakin meningkat. Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh Wang & Yung (2011) bahwa kepemilikan pemerintah memainkan peran penting dalam mengurangi tekanan pada manajer untuk memanipulasi laba.

35

Universitas Kristen Petra

Sementara, menurut Ben-Nasr, Boubakri dan Cosset (2015), kepemilikan pemerintah yang besar dalam perusahaan membuat pemerintah memiliki lebih banyak insentif untuk mengarahkan sumber daya perusahaan dan mengambilalih hak pemegang saham lainnya untuk mendapatkan keuntungan politik. Untuk menyembunyikan pengambilalihan ini, pemerintah dapat mengarahkan manajer untuk memanipulasi pendapatan, atau dengan kata lain melakukan manajemen laba.

Hal ini akan menghasilkan kualitas laba perusahaan yang lebih rendah. Hasil penelitian ini juga serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Selahudin dan Nawang (2015); Guo dan Ma (2015).

Menurut Bozec, Cote, dan Breton (2002), kepemilikan saham oleh pemerintah tidak akan berpengaruh terhadap earnings quality perusahaan. Karena kualitas laba perusahaan tidak ditentukan dari siapa pemilik terbesar dalam perusahaan, melainkan dari tujuan yang ingin dikejar oleh perusahaan. Tujuan perusahaan yang akan menentukan ada atau tidaknya praktik manajemen laba dalam perusahaan, yang akan berdampak pada tinggi rendahnya kualitas laba.

2.10.1.3 Managerial Ownership dan Earnings Quality

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa salah satu cara untuk mengurangi masalah keagenan yang timbul antara manajer dan pemegang saham adalah dengan meningkatkan kepemilikan saham oleh pihak manajemen.

Peningkatan kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan akan mensejajarkan kepentingan manajemen dan pemegang saham, sehingga manajer akan merasakan langung manfaat dari keputusan yang diambil dengan benar dan kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah. Hal ini membuat manajer tidak akan berperilaku oportunis karena untuk kepentingannya juga. Manajer akan bertindak sama seperti pemegang saham umumnya dan memastikan bahwa laporan keuangan telah disajikan dengan wajar dan menungkapkan kondisi riil perusahaan.

Selain itu, berdasarkan stewardship theory, manajer merupakan pihak yang dapat dipercaya dan tidak akan melakukan perilaku oportunistik, seperti melakukan manajemen laba. Seorang manajer akan bertindak dengan sangat baik sehingga bisa menjadi steward yang baik. Manajer akan berusaha mencapai tujuan

36

Universitas Kristen Petra

perusahaan yang dapat memberikan keuntungan kepada pemegang saham. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Niu (2006); Siallagan & Machfoedz (2006); Warfield et al (1995) juga membuktikan adanya pengaruh negatif antara kepemilikan manajerial terhadap kualitas laba, artinya kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap kualitas laba.

Di sisi lain, Aygun, Ic, & Sayim (2014); Guo & Ma (2015) menemukan bahwa kepemilikan manajerial yang tinggi berpengaruh positif terhadap absolute discretionary accruals. Hal ini dikarenakan semakin besarnya persentase managerial ownership dalam perusahaan akan menimbulkan efek entrenchment pada manajer, dimana manajer akan merasa memiliki hak kontrol yang kuat dalam menggunakan perusahaan untuk kepentingan pribadi manajer tanpa melihat kepentingan pemegang saham lainnya sehingga peluang terjadinya perilaku oportunis manajer akan semakin meningkat yang akan berdampak pada penurunan kualitas laba. Namun, kepemilikan manajerial yang relatif kecil tidak mampu mempengaruhi earnings quality. Kepentingan pribadi manajemen belum dapat diselaraskan dengan kepentingan pemilik maupun perusahaan, sehingga belum mampu mengurangi perilaku oportunistik secara menyeluruh. Namun, Hashim dan Devi (2015) menemukan hasil yang berbeda yaitu managerial ownership tidak mampu mempengaruhi earnings quality karena praktik manajemen laba yang berdampak pada earnings quality ditentukan berdasarkan apa motivasi para manajer, bukan dari besar kepemilikan manajer dalam perusahaan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

H1: Ownership structure berpengaruh terhadap earnings quality.

2.10.2 Pengaruh Ownership Structure terhadap Voluntary Disclosure in

Dokumen terkait