2.10 Hipotesa Penelitian
2.10.2 Pengaruh Ownership Structure terhadap Voluntary Disclosure in Corporate Governance
2.10.2.1 Institutional Ownership dan Voluntary Disclosure in Corporate Governance
Kepemilikan institusional merupakan bentuk kepemilikan saham suatu perusahaan yang dimiliki oleh satu atau lebih institusi (Alzoubi, 2016). Berdasarkan agency theory, kepemilikan institusional yang besar dapat mendesak para manajer
37
Universitas Kristen Petra
untuk melakukan pengungkapan, baik pengungkapan wajib maupun pengungkapan sukarela (Jensen & Meckling, 1976) karena investor institusi memiliki kemampuan dan sumber daya dalam melakukan pemantauan secara efektif. Hal ini sejalan dengan penelitian Albassam dan Ntim (2017) yang menemukan adanya hubungan positif antara kepemilikan institusional dan pengungkapan sukarela praktik corporate governance.
Namun, Jiang dan Habib (2009) menemukan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap luas pengungkapan corporate governance. Dimana semakin tinggi kepemilikan institusional maka corporate governance disclosure akan semakin berkurang. Hal ini dikarenakan kepemilikan institusional yang terdiri dari perusahaan investasi, perbankan, dan lembaga lain seperti dana pensiun lebih berfokus pada peningkatan kinerja perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan dibandingkan kualitas dan luas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan. Oleh karena itu, semakin besar kepemilikan institusional dalam sebuah perusahaan maka semakin besar tujuan investor institusional ini untuk memperoleh laba sehingga kurang memperhatikan corporate governance disclosure sebagai suatu hal yang penting untuk diungkapkan kepada publik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Donelly dan Mulcahy (2008), tingkat kepemilikan institusional dalam perusahaan tidak berpengaruh terhadap corporate governance disclosure. Hal ini disebabkan oleh investor institusional yang bersikap pasif terhadap pengungkapan perusahaan secara umum, dan mereka memiliki saluran yang lebih efisien dan tepat waktu untuk memperoleh informasi perusahaan yang lebih relevan selain melalui corporate governance disclosure. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Shehata (2017) dan Agyei-Mensah (2017).
2.10.2.2 Government Ownership dan Voluntary Disclosure in Corporate Governance
Berdasarkan legitimacy theory, perusahaan akan mengutamakan persepsi dan pengakuan publik sebagai dorongan utama dalam melakukan pengungkapan suatu informasi di dalam laporan tahunan, seperti corporate governance disclosure.
38
Universitas Kristen Petra
Dengan adanya intervensi pemerintah dalam kepemilikan di perusahaan akan memberi tekanan kepada perusahaan untuk mengungkapkan lebih banyak informasi, karena pemerintah merupakan badan yang dipercaya oleh rakyat.
Masyarakat akan memberikan sorotan yang besar pada perusahaan dengan kepemilikan pemerintah yang besar. Hal ini dikarenakan masyarakat memiliki ekspektasi lebih terhadap perusahaan tersebut. Besarnya tekanan pemerintah dan publik membuat perusahaan harus lebih transparan dalam manajemennya. Sebagai bentuk akuntabilitas atas pengelolaan perusahaan, maka dilakukan pengungkapan informasi yang lebih luas mengenai corporate governance.
Selain itu, adanya kepemilikan saham oleh pemerintah dalam struktur modal perusahaan menyebabkan pengelolaan bisnis perusahaan harus diselaraskan dengan kepentingan pemerintah (Albassam & Ntim, 2017). Pemerintah yang bertindak sebagai regulator, apabila memiliki proporsi saham yang mayoritas pada sebuah perusahaan, maka pemerintah memiliki kekuatan untuk menekan perusahaan mematuhi peraturan pemerintah mengenai tingkat pengungkapan perusahaan. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Alhazaimeh, Palaniappan, dan Almsafir (2013) juga mengungkapkan tingkat kepemilikan pemerintah dalam perusahaan berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan informasi perusahaan.
Namun di sisi lain, kepemilikan pemerintah yang besar juga bisa menimbulkan corporate governance disclosure yang buruk. Perusahaan yang dikendalikan pemerintah sangat terkait dengan kegiatan politik dan perusahaan semacam itu akan mengungkapkan sedikit informasi untuk melindungi praktik politiknya (Ghazali & Weetman, 2006) . Selain itu, adanya kepemilikan pemerintah dalam perusahaan memungkinkan perusahaan mendapatkan akses yang lebih mudah ke berbagai saluran pembiayaan. Hal ini dapat menghilangkan tekanan perusahaan dalam melakukan pengungkapan sukarela yang diarahkan ke publik.
Sehingga dengan adanya kepemilikan saham oleh pemerintah tidak membuat perusahaan harus melakukan pengungkapan yang tinggi.
Sedangkan menurut Huafang dan Jianguo (2007), kepemilikan pemerintah tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan corporate governance. Hal ini mungkin disebabkan karena pemerintah belum mempedulikan masalah
39
Universitas Kristen Petra
pengungkapan corporate governance sebagai isu kritis yang harus secara ekstensif diungkapkan dalam laporan tahunan. Jadi besar kecilnya persentase kepemilikan saham pemerintah di suatu perusahaan tidak mempengaruhi luas atau tidaknya pelaksanaan dan pengungkapan corporate governance. Hasil serupa juga didukung oleh penelitian Juhmani (2013).
2.10.2.3 Managerial Ownership dan Voluntary Disclosure in Corporate Governance
Menurut agency theory, masalah agensi muncul ketika pemilik (principal) mempekerjakan seorang manajer (agent) untuk menjalankan perusahaan, tetapi manajer tersebut memiliki tujuan yang berbeda. Perbedaan kepentingan ini mendorong manajer untuk melakukan aktivitas yang dapat memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri, seperti menyajikan informasi laba perusahaan secara berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan manajer tidak memberikan informasi, termasuk informasi mengenai tata kelola perusahaan, kepada pihak luar perusahaan untuk kepentingannya sendiri (Jensen & Meckling, 1976).
Menurut Juhmani (2013), solusi yang dapat dilakukan yaitu menyelaraskan kepentingan antara pemilik dan manajer dengan memberikan sebagian saham perusahaan kepada manajer. Ketika manajer menjadi bagian dari pemegang saham perusahaan, manajer akan termotivasi untuk meningkatkan nilai perusahaan sehingga dapat meningkatkan kekayaan pemegang saham, termasuk dirinya sendiri (Vafeas & Theodorou, 1998). Dengan demikian, pengungkapan informasi meningkat karena manajer dengan kepemilikan saham yang besar dapat memperoleh keuntungan pasar saham yang lebih besar dari pengungkapan yang lebih baik. Ketika manajer memiliki kepentingan yang sama dengan pemilik perusahaan, maka manajer akan mengungkapkan lebih banyak informasi untuk mencegah terjadinya masalah agensi sehingga biaya agensi dapat menurun (Jensen dan Meckling, 1976). Hal ini juga didukung oleh penelitian lain oleh Jiang & Habib (2009); Hossain, Marks, & Mitra (2006); dan Sheu et al (2008) yang menyatakan kepemilikan saham oleh manajer akan meningkatkan pengungkapan informasi perusahaan.
40
Universitas Kristen Petra
Eng dan Mak (2003) menyatakan adanya kepemilikan manajer dalam perusahaan akan menurunkan corporate governance disclosure. Hal ini karena manajer perusahaan yang sekaligus menjadi pemegang saham akan menyimpan informasi mengenai perusahaan dan tidak mengungkapkannya. Karena mereka memiliki akses langsung atas informasi tersebut, sehingga mereka akan mencoba untuk mengurangi pengungkapan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan mengeksproriasi pemegang saham minoritas. Namun, menurut Nerantzidis dan Tsamis (2017), kepemilikan manajer tidak berpengaruh terhadap corporate governance disclosure. Hal ini dapat disebabkan karena kepemilikan manajerial yang relatif sangat kecil belum dapat mensejajarkan kepentingan manajer dengan pemegang saham sehingga manajer tidak mememaksimalkan nilai perusahaan melalui pengungkapan corporate governance.
Berdasarkan stakeholder theory, semakin banyak pemegang saham menunjukkan semakin banyak pihak-pihak yang berkepentingan dalam perusahaan tersebut, sehingga semakin besar pula tekanan yang dihadapi perusahaan untuk mengungkapakan informasi (Guthrie & Parker, 1990). Selain itu, menurut signaling theory, perusahaan akan selalu berusaha untuk memberikan sinyal kepada investor berupa pengungkapan laporan tahunan, yang di dalamnya terdiri dari corporate governance disclosure. Mengacu pada teori tersebut, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
H2: Ownership structure berpengaruh terhadap voluntary disclosure in corporate governance
2.10.3 Pengaruh Voluntary Disclosure in Corporate Governance terhadap