• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 10 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 10 Universitas Kristen Petra"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

10

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1 Agency Theory

Agency theory merupakan dasar yang digunakan untuk memahami corporate governance dan earnings management. Agency theory mendeskripsikan hubungan antara pemegang saham atau pemilik perusahaan sebagai principal dan manajemen yang mengelola perusahaan sebagai agent. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa hubungan keagenan timbul karena adanya kontrak antara principal dan agent, dimana principal memberikan kepercayaan kepada agent untuk menjalankan perusahaan serta mendelegasikan kewenangan untuk mengambil keputusan dalam menjalankan tugasnya. Pendelegasian kewenangan kepada agent tersebut dengan harapan bahwa agent akan bekerja sesuai dengan kepentingan principal (Bonazzi & Islam, 2007). Oleh karena itu, kewenangan untuk menggunakan sumber daya perusahaan berada di tangan pihak manajemen (agent) sepenuhnya.

Agency theory mengakibatkan terjadinya informasi asimetri (asymmetry information) yaitu informasi yang tidak seimbang karena adanya distribusi informasi yang tidak sama antara prinsipal dengan agen. Umumnya, manajemen memiliki lebih banyak informasi mengenai posisi keuangan yang sebenarnya dan posisi operasi entitas dibandingkan prinsipal. Adanya informasi asimetri antara manajemen dan pemilik memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba dalam rangka menyesatkan pemilik mengenai kinerja ekonomi perusahaan (Bonazzi & Islam, 2007).

Selain itu, agency theory mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan (conflict of interest) akibat adanya perbedaan tujuan, dimana agen tidak selalu bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal. Agen diasumsikan sebagai pihak yang memiliki kepentingan pribadi yaitu memaksimalkan kesejahteraannya sendiri, sehingga agen belum tentu melakukan hal yang terbaik untuk kepentingan prinsipal. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa perbedaan kepentingan inilah yang menyebabkan agency problem antara pemilik perusahaan (principal) dan pihak manajemen (agent).

(2)

11

Universitas Kristen Petra

2.2 Stakeholder Theory

Teori stakeholder merupakan teori yang menyatakan bahwa perusahaan bukan entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingan sendiri, namun harus memberikan manfaat kepada seluruh stakeholder-nya. Kelompok stakeholder yang dimaksud yaitu pemegang saham, kreditor, konsumen, pemasok, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak lain. Kelompok tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi pihak manajemen dalam mengungkapkan atau tidak mengungkapkan suatu informasi dalam laporan perusahaan (Belkaoui, 2003).

Teori ini berpendapat bahwa seluruh stakeholder berhak untuk diperlakukan secara adil dalam sebuah organisasi, dan manajer harus mengelola organisasi tersebut untuk kepentingan semua pemangku kepentingan. Dalam teori stakeholder, manajemen diharapkan untuk melaksanakan dan melaporkan aktivitas – aktivitas penting perusahaan kepada stakeholder. Teori ini menunjukkan bahwa seluruh stakeholder berhak untuk memperoleh dan mengetahui semua informasi mengenai aktivitas dalam perusahaan, termasuk dampaknya terhadap mereka. Teori ini juga menekankan pada akuntabilitas perusahaan melebihi kinerja keuangannya.

Ini menunjukan bahwa perusahaan akan mengungkapan informasi yang bersifat sukarela (voluntary), bukan hanya mengungkapkan informasi yang bersifat wajib (mandatory) (Guthrie & Parker, 1990).

2.3 Signaling Theory

Signaling theory adalah sinyal informasi yang dibutuhkan oleh para investor untuk menentukan apakah investor tersebut akan menanamkan sahamnya pada suatu perusahaan (Ho & Wei, 2016). Bagi para investor dan pelaku bisnis lainnya, informasi merupakan suatu hal yang sangat penting karena mengandung keterangan, catatan, dan gambaran mengenai kondisi masa lalu, sekarang, dan masa depan suatu perusahaan. Investor yang aktif di pasar modal sangat membutuhkan informasi yang lengkap, relevan, akurat, dan tepat waktu untuk membantu dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan investasi. Teori ini memberikan penekanan terhadap pentingnya informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap keputusan investasi pihak luar perusahaan.

(3)

12

Universitas Kristen Petra

Asumsi teori ini yaitu bahwa para manajer perusahaan mempunyai informasi yang lebih banyak dan akurat mengenai perusahaan dibandingkan pihak luar perusahaan. Hal tersebut akan menimbulkan adanya asimetri informasi antara pihak manajemen dengan pihak luar yang berkepentingan. Kurangnya informasi yang dimiliki oleh pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan mereka melindungi diri mereka dengan memberikan harga yang rendah untuk perusahaan.

Bahkan, pihak luar yang tidak memiliki informasi mengenai perusahaan akan memiliki persepsi yang sama tentang nilai semua perusahaan. Pandangan seperti ini akan merugikan perusahaan yang memiliki kondisi yang lebih baik karena pihak eksternal akan menilai perusahaan lebih rendah dari yang seharusnya dan demikian juga sebaliknya (Monks & Minow, 2011).

Ho dan Wei (2016) menyatakan bahwa pengumuman informasi akuntansi merupakan berita baik yang menjadi sinyal bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik di masa mendatang. Hal ini akan menarik perhatian investor untuk melakukan perdagangan saham. Pasar akan memberikan reaksi atas sinyal tersebut yang dapat dilihat dari perubahan volume perdagangan saham. Salah satu jenis informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan yang dapat menjadi sinyal adalah laporan tahunan. Informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan dapat berupa informasi yang berkaitan dengan laporan keuangan maupun informasi yang tidak berkaitan dengan laporan keuangan. Oleh karena itu, perusahaan yang ingin sahamnya dibeli oleh investor harus mengungkapkan laporan tahunan secara transparan dan terbuka.

2.4 Legitimacy Theory

Suatu perusahaan dapat diterima di lingkungan masyarakat karena adanya dukungan dari masyarakat. Oleh sebab itu, perilaku perusahaan dan cara yang digunakan perusahaan saat menjalankan bisnis harus berada dalam aturan dan pedoman yang ditetapkan masyarakat. Legitimasi adalah persepsi umum atau anggapan bahwa tindakan suatu entitas diinginkan, tepat, atau sesuai dalam beberapa sistem norma, nilai, kepercayaan, dan definisi yang dibangun secara sosial (Tiling, 2010). Dari pengertian tersebut, teori legitimasi mengandung arti bahwa organisasi atau perusahaan secara berkesinambungan harus memastikan apakah

(4)

13

Universitas Kristen Petra

mereka telah beroperasi sesuai dengan norma-norma yang dijunjung masyarakat dan memastikan bahwa aktivitas mereka bisa diterima pihak luar (legitimasi).

Operasi perusahaan harus sesuai dengan harapan masyarakat. Deegan, Rankin, & Tobin (2002) menyatakan bahwa legitimasi dapat diperoleh apabila terdapat kesesuaian antara apa yang diharapkan masyarakat dari sebuah organisasi dengan keberadaan perusahaan yang tidak mengganggu atau sesuai dengan eksistensi sistem nilai yang ada dalam masyarakat dan lingkungan. Ketika terjadi pergeseran yang menuju ketidaksesuaian, maka pada saat itu legitimasi perusahaan dapat terancam. Dalam teori legitimasi, perusahaan harus secara berkelanjutan menunjukkan bahwa perusahaan telah beroperasi dalam perilakunya yang konsisten dengan nilai sosial. Hal ini seringkali dapat dicapai melalui pengungkapan (disclosure) dalam laporan tahunan (Wilmshurst & Frost, 2000). Teori legitimasi menempatkan persepsi dan pengakuan publik sebagai dorongan utama dalam melakukan pengungkapan suatu informasi di dalam laporan tahunan (O’Donovan, 2002).

2.5 Stewardship Theory

Stewardship theory lebih menekankan pada motif non-keuangan dalam melihat aktivitas manajerial (Donaldson & Davis, 1991). Hal tersebut termasuk adanya kebutuhan akan pencapaian dan pengakuan, kepuasan intrinsik dalam mencapai suatu kinerja yang memuaskan dan etika kerja yang kuat. Manajer disebut sebagai good steward, dimana manajer tidak dimotivasi oleh kepentingan individual, namun menyatukan diri dengan tujuan dan kepentingan pemegang saham (Davis et al., 1997).

Stewardship theory bertentangan dengan agency theory, dimana manajer dianggap memiliki perilaku oportunistik yang akan memaksimalkan kepentingan pribadinya sendiri dan hal tersebut dapat bersifat merugikan bagi pihak lainnya (Donaldson & Davis, 1991). Dalam teori ini, perilaku manajer dikatakan jauh dari perilaku oportunistik, dimana manajer pada dasarnya ingin melakukan suatu pekerjaan dengan sangat baik sehingga bisa menjadi steward yang baik. Seorang steward akan berusaha untuk mencapai tujuan perusahaan (misalnya melalui peningkatan profitabilitas) sehingga akan memberikan keuntungan kepada para

(5)

14

Universitas Kristen Petra

pemegang saham (Davis et al., 1997). Oleh karena itu, teori tersebut menunjukkan bahwa manajer yang menjalankan perusahaan dapat dipercaya (Letza, Sun, Kirkbride, 2004).

Stewardship theory juga menjelaskan bagaimana keperluan pribadi yang harusnya dimiliki oleh seorang manajer sebagai steward (Davis et al., 1997). Tentu, steward juga memiliki kebutuhan untuk bertahan berupa income. Seorang steward percaya bahwa adanya trade-off antara kebutuhan pribadi dengan tujuan organisasi.

Sehingga, jika seorang steward bekerja sesuai dengan tujuan organisasi, maka keperluan pribadinya pun akan terpenuhi. Steward percaya bahwa manfaat yang didapatkan dari pro-organizational behavior akan lebih tinggi dibandingkan dengan manfaat yang didapatkan dari self-serving berhavior. Sehingga, dalam teori ini, corporate governance berfokus pada struktur yang menfasilitasi dan memberdayakan para manajer dibadingkan dengan melakukan pemantauan (Davis et al., 1997).

2.6 Corporate Governance

2.6.1 Pengertian Corporate Governance

Pada umumnya, corporate governance (tata kelola perusahaan) berfokus pada hubungan antara pemegang saham dan manajemen. Pada tahun 1992, Cadbury Comitte pertama kali memperkenalkan istilah corporate governance ke dalam Cadbury Report dan sekaligus mendefinisikannya sebagai suatu sistem yang mengarahkan dan mengatur perusahaan. Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) juga mendefinisikan corporate governance sebagai seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemangku kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak dan kewajiban mereka. Dengan kata lain, corporate governance adalah suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan dengan tujuan untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders).

Corporate governance berkaitan dengan sistem hukum, peraturan, dan praktek yang akan mendorong perusahaan untuk meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, serta memastikan adanya akuntabilitas (Monks & Minow, 2011).

(6)

15

Universitas Kristen Petra

Claessens dan Yurtoglu (2013) menyatakan corporate governance terbagi ke dalam dua kategori. Pertama, menyangkut seperangkat pola perilaku perusahaan yang sebenarnya dalam ukuran kinerja, efisiensi, pertumbuhan, struktur keuangan, serta perlakuan terhadap pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Kedua, menyangkut dengan kerangka kerja normatif seperti aturan dimana perusahaan beroperasi dan aturan yang berasal dari sumber hukum, sistem peradilan, pasar keuangan, dan pasar faktor (tenaga kerja).

Menurut Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD, 2004) corporate governance merupakan salah satu unsur utama dalam meningkatkan efisiensi dan pertumbuhan ekonomi, serta kepercayaan investor yang melibatkan hubungan serta tanggung jawab antara pihak manajemen perusahaan, dewan direksi, pemegang saham, dan para pemangku kepentingan lainnya dalam perusahaan. Corporate governance juga menyediakan suatu struktur dan cara bagi perusahaan dalam mencapai tujuan utamanya. Corporate governance yang baik harus memberikan insentif yang tepat bagi dewan direksi dan manajemen untuk mencapai tujuan yang menjadi kepentingan perusahaan dan pemegang sahamnya.

Tujuan mendasar dari corporate governance yaitu untuk mempromosikan transparansi dan akuntabilitas publik.

Megginson (2001) mendefinisikan corporate governance sebagai seperangkat hukum, lembaga, praktik, dan peraturan bagi semua pihak yang berkepentingan dalam menjalankan perusahaan. Selain itu Velnampy (2013) menjelaskan bahwa corporate governance berkaitan dengan sistem yang mengatur stuktur, proses, dan mekanisme yang memastikan bahwa perusahaan diarahkan dan dikelola dengan baik sehingga mampu meningkatkan shareholder value dalam jangka panjang melalui akuntabilitas manajer dan meningkarkan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, tata kelola perusahaan yang baik akan memaksimalkan profitabilitas dan nilai perusahaan bagi pemegang saham dalam jangka panjang.

Claessens dan Yurtoglu (2013) membuktikan bahwa perusahaan yang memiliki tata kelola yang tidak efisien akan memberikan keuntungan yang lebih rendah kepada pemegang saham dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki tata kelola yang efisien.

(7)

16

Universitas Kristen Petra

2.6.2 Prinsip – Prinsip Good Corporate Governance

Berdasarkan Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG, 2006), terdapat lima prinsip utama dari corporate governance antara lain :

1. Transparansi (Transparency)

Untuk menjaga objektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh para pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk tidak hanya mengungkapkan masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.

2. Akuntabilitas (Accountability)

Perusahaan harus mampu mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Oleh karena itu, perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.

3. Responsibilitas (Responsibility)

Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan. Hal ini bertujuan agar kesinambungan usaha dapat terpelihara dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.

4. Independensi (Independency)

Untuk melancarkan pelaksanaan asas Good Corporate Governance, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.

5. Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)

Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.

(8)

17

Universitas Kristen Petra

2.6.3 Indikator Corporate Governance

Struktur corporate governance terdiri dari board structure dan ownership structure (Chen, 2015). Board structure berkaitan dengan proporsi non-executive directors (board independency), dan board size. Sedangkan ownership structure berkaitan dengan persentase kepemilikan saham oleh pihak internal maupun eksternal perusahaan. Pemegang saham dapat berupa individu, keluarga, perusahaan induk (holding company), pemerintah, manajerial, publik, asing (foreign ownership), serta investor institusional (institusi keuangan dan non- keuangan) (Ehikioya, 2009). Penelitian ini hanya berfokus pada ownership structure saja.

Ownership structure merupakan faktor terpenting dalam membentuk sistem tata kelola perusahaan (Samad, 2010). Ownership structure adalah pemisahan antara pemilik perusahaan dan manajer perusahaan. Pemilik atau pemegang saham adalah pihak yang menyertakan modal ke dalam perusahaan, sedangkan manajer adalah pihak yang ditunjuk pemilik dan diberi kewenangan untuk mengambil keputusan dalam mengelola perusahaan, dengan harapan manajer bertindak sesuai dengan kepentingan pemilik. Hal tersebut menentukan masalah agensi, yaitu adanya konflik antara manajer dan pemegang saham, atau antara pemegang saham pengendali dan minoritas. Tingkat kepemilikan saham dalam perusahaan menentukan kekuatan antara manajer dan pemegang saham. Ketika kepemilikan saham tersebar, maka pengendalian yang dimiliki oleh pemegang saham cenderung lemah sehingga pemantauan menjadi tidak memadai. Struktur kepemilikan perusahaan dianggap sebagai mekanisme pemantauan yang signifikan bagi para manajer (Alzoubi, 2016).

Claessens dan Fan (2002) melaporkan bahwa kepemilikan saham yang terkonsentrasi pada beberapa pihak memiliki dua konsekuensi terhadap CG perusahaan. Di satu sisi, pemegang saham dominan memiliki insentif dan kekuatan untuk mendisiplinkan manajemen. Di sisi lain, kepemilikan saham yang terkonsentrasi dapat mengakibatkan munculnya masalah baru, karena kepentingan pemegang saham dominan dan pemegang saham minoritas tidak selaras (Morck, Wolfenzon, &Yeung, 2005). Dengan semakin terkonsentrasinya kepemilikan

(9)

18

Universitas Kristen Petra

perusahaan, maka pemegang saham mayoritas akan semakin menguasai perusahaan dan semakin berpengaruh dalam pengambilan keputusan.

Hal utama dari struktur kepemilikan perusahaan adalah komposisinya, yaitu siapa pemegang saham dalam suatu perusahaan. Menurut Shleifer dan Vishny (1986), keberadaan pemegang saham yang besar dalam perusahaan mengarah pada adanya pemantauan dan kinerja yang lebih baik. Namun, tidak semua pemegang saham memiliki dampak yang sama. Penelitian ini menggunakan kepemilikan institusional (institutional ownership), kepemilikan pemerintah (government ownership), dan kepemilikan manajerial (managerial ownership) untuk mengukur struktur kepemilikan dan menentukan dampaknya terhadap corporate governance dan earnings quality.

2.6.3.1 Institutional Ownership

Institutional ownership (kepemilikan institusional) adalah persentase kepemilikan saham oleh perusahaan atau instansi lain yang secara aktif dalam pengambilan keputusan. Yang termasuk dalam pemilik institusional yaitu perusahaan asuransi, reksadana, trust departments of commercial banks, dan perbankan. Kepemilikan institusional biasanya bersifat mayoritas, sehingga kelompok ini dapat memantau kinerja manajer secara optimal. Peningkatan kepemilikan institusional berarti meningkatkan pengawasan dan pengendalian perilaku oportunistik manajer agar berhati-hati dalam mengambil keputusan ((Bathala, Moon, & Rao, 1994). Kepemilikan saham oleh institusional dapat diukur dengan perbandingan jumlah saham oleh institusional dengan total jumlah saham beredar (Hessayri & Saihi, 2015).

Institutional Ownership = 𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐦 𝒊𝒏𝒔𝒕𝒊𝒕𝒖𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍

𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐣𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐦 𝐛𝐞𝐫𝐞𝐝𝐚𝐫 𝐱 𝟏𝟎𝟎% (2.1)

2.6.3.2 Government Ownership

Government ownership merupakan kepemilikan pemerintah atas perusahaan di mana pemerintah memiliki kewenangan penting dalam penunjukan atau membuat keputusan (Henryani & Kusumastuti, 2013). Huang dan Xiao (2012) berpendapat bahwa proporsi kepemilikan pemerintah yang tinggi dalam perusahaan dapat memberikan “helping hand” karena perusahaan dapat memperoleh subsidi

(10)

19

Universitas Kristen Petra

modal yang lebih dari pemerintah. Di sisi lain, kepemilikan pemerintah juga dapat diasumsikan sebagai “grabbing hand” yang artinya pemerintah akan mengambil lebih banyak keuntungan perusahaan sebagai akibat dari kepemilikan untuk kepentingan politik dan birokrat. Menurut Cornett (2009) birokrat politik mempunyai tujuan yang seringkali berbau kepentingan politik tetapi bertentangan dengan perbaikan kesejahteraan sosial dan maksimalisasi nilai perusahaan.

Kepemilikan pemerintah dapat membawa manfaat bagi perusahaan.

Kepemilikan pemerintah dapat membantu perusahaan untuk mengatasi ketidakpastian eksternal dan dapat memfasilitasi akses ke sumber daya keuangan seperti pinjaman bank dengan memberikan jaminan eksplisit dan implisit untuk mengamankan pembiayaan utang. Dengan adanya kepemilikan pemerintah juga memberikan komitmen untuk menyelamatkan perusahaan pada saat krisis ekonomi sehingga meminimalkan resiko perusahaan (Borisova dan Megginson, 2011).

Kepemilikan saham oleh pemerintah dapat diukur dengan perbandingan jumlah saham oleh pemerintah dengan total jumlah saham beredar (Mohamed-Rusdi &

Nelson, 2015).

Government Ownership = 𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐦 𝒈𝒐𝒗𝒆𝒓𝒏𝒎𝒆𝒏𝒕

𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐣𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐦 𝐛𝐞𝐫𝐞𝐝𝐚𝐫 𝐱 𝟏𝟎𝟎% (2.2)

2.6.3.3 Managerial Ownership

Managerial ownership (kepemilikan manajerial) adalah keadaan dimana manajer memiliki saham perusahaan atau dengan kata lain manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham perusahaan (Christiawan dan Tarigan, 2007).

Kepemilikan manajerial yang tinggi dalam perusahaan dapat mengurangi masalah keagenan antara manajer dan pemegang saham, serta dapat membantu dalam mensejajarkan perbedaan kepentingan antara manajer dan pemegang saham (Iturriaga dan Sanz, 2001; Jensen dan Meckling 1976). Persentase kepemilikan saham oleh manajer dalam perusahaan yang semakin tinggi membuat setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh manajer semakin sesuai dengan kepentingan pemegang saham (Kamardin, 2014). Hal ini disebabkan karena manajer juga ikut memiliki perusahaan, sehingga setiap manfaat atau kerugian dari keputusan dan tindakan yang dilakukan akan dirasakan langsung oleh manajer (Warfield et al., 1995). Oleh sebab itu, perusahaan cenderung akan meningkatkan

(11)

20

Universitas Kristen Petra

kepemilikan manajerial dalam perusahaan untuk mensejajarkan kedudukan para manajer dengan pemegang saham sehingga manajer bertindak sesuai keinginan pemegang saham (Crutchley & Hansen, 1989).

Namun, Morck, Wolfenzon, dan Yeung (2005); Fan dan Wong (2002) menyatakan bahwa semakin tinggi kepemilikan saham manajerial, maka akan berpotensi timbul efek entrenchment pada manajer. Hal ini karena manajer memiliki hak kontrol yang kuat menggunakan perusahaan untuk kepentingan pribadi dibanding kepentingan pemegang saham lainnya. Kepemilikan manajerial diukur melalui persentase kepemilikan saham oleh pihak manajemen dalam perusahaan dari total jumlah saham yang beredar (Kamardin, 2014).

Managerial Ownership = 𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐦 𝐦𝐚𝐧𝐚𝐣𝐞𝐫𝐢𝐚𝐥

𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐣𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐦 𝐛𝐞𝐫𝐞𝐝𝐚𝐫 𝐱 𝟏𝟎𝟎% (2.3)

2.6.4 Corporate Governance Disclosure

Dalam teori keagenan (agency theory), biaya agensi timbul karena adanya asimetri informasi antara pemegang saham dan manajer, atau antara pemegang saham pengendali dan pemegang saham minoritas (Darmadi, 2013). Salah satu cara untuk mengurangi asimetri informasi tersebut yaitu dengan adanya peningkatan pengungkapan yang dilakukan perusahaan. Dalam hal ini, manajer selaku pihak yang memiliki pengetahuan dan informasi yang lebih rinci mengenai operasi perusahaan akan memberikan informasinya kepada pemegang saham dan kelompok pengguna lain sehingga dapat mempengaruhi keputusan ekonomi mereka (Cooke, 1989). Guthrie dan Parker (1990) menyatakan bahwa pengungkapan merupakan ketersediaan informasi keuangan dan non-keuangan yang berkaitan dengan interaksi perusahaan dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya, yang dibuat dalam laporan tahunan perusahaan. Peraturan pelaporan keuangan umumnya mensyaratkan persyaratan pengungkapan minimum, sehingga informasi lain yang diungkapkan dianggap sukarela.

Terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan perusahaan dalam mendistribusikan informasi perusahaan kepada pemangku kepentingan eksternal (O’Sullivan et al., 2008). Namun, seperti yang dikemukakan oleh Botosan (1997), laporan tahunan perusahaan dipandang sebagai media utama untuk menyampaikan informasi keuangan dan non keuangan secara rinci. Laporan tahunan dianggap

(12)

21

Universitas Kristen Petra

penting karena dinilai efektif dalam menyampaikan pesan dan citra perusahaan.

Oleh karena itu, perusahaan dengan pengungkapan yang berkualitas tinggi akan memastikan bahwa informasi penting akan digabungkan dalam laporan tahunan mereka.

Informasi mengenai corporate governance penting untuk diungkapkan oleh perusahaan. Bushman dan Smith (2003) mendefinisikan transparansi perusahaan sebagai ketersediaan informasi yang relevan dan dapat diandalkan secara luas mengenai kinerja periodik perusahaan, posisi keuangan, peluang investasi, tata kelola, nilai dan risiko perusahaan publik. Bhat (2006) berpendapat bahwa pengetahuan tentang struktur tata kelola sebuah perusahaan akan berguna untuk menilai kredibilitas informasi keuangan, serta secara akurat menetapkan harapan dan mengurangi ketidakpastian mengenai kinerja perusahaan.

Pengungkapan tersebut berkaitan dengan siapa yang bertanggung jawab untuk mengatur perusahaan, bagaimana kompensasi mereka terstruktur, serta bagaimana dan di mana mereka menginvestasikan sumber keuangan (Bushman &

Smith, 2003). Selain itu, corporate governance disclosure dapat meningkatkan pemantauan dan pengendalian internal, memperbaiki kinerja perusahaan, serta mendorong perbaikan pada struktur dan proses internal. Jika mekanisme tata kelola tidak diungkapkan, pemangku kepentingan perusahaan mungkin tidak dapat mengakses informasi tersebut.

Corporate governance disclosure menyediakan informasi tentang struktur kepemilikan perusahaan, struktur manajemen, komposisi manajemen, serta pengendalian internal dan audit dari suatu perusahaan kepada investor dan masyarakat umum. Pengungkapan tersebut juga memungkinkan para manajer perusahaan untuk memberikan informasi mengenai bagaimana mereka menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka kepada pemangku kepentingan (Hassan, 2012). Salah satu kunci dari corporate governance disclosure adalah akuntabilitas publik (Wei et al., 2008). Akuntabilitas merupakan bentuk pertanggungjawaban dimana manajer dan organisasi menjadi lebih bertanggung jawab kepada masyarakat dan individu yang berkepentingan. Coy dan Dixon (2004) berpendapat bahwa akuntabilitas publik memerlukan pengungkapan yang terbuka terhadap semua warga negara dan pemangku kepentingan.

(13)

22

Universitas Kristen Petra

Kunci lain dari pengungkapan tata kelola perusahaan adalah transparansi.

Barth dan Schipper (2008) berpendapat bahwa transparansi adalah sejauh mana laporan keuangan mengungkapkan bagaimana manajer perusahaan menjalankan tanggung jawab mereka dengan cara yang mudah dimengerti oleh pengguna laporan keuangan. Parker (2007) menunjukkan bahwa pengungkapan tata kelola perusahaan lebih dari sekedar mematuhi persyaratan hukum (mandatory disclosure), melainkan mencakup pengungkapan informasi secara sukarela (voluntary disclosure) yang berkaitan dengan isu-isu organisasi yang lebih luas seperti proses manajemen, hak investor, struktur kepemilikan dan informasi lainnya yang melepaskan tanggung jawab manajemen perusahaan.

2.6.4.1 Mandatory Disclosure

Mandatory disclosure merupakan pengungkapan informasi yang berlaku secara wajib yang berisikan informasi-informasi keuangan yang diatur oleh ketentuan dan standar akuntansi yang berlaku (Suwardjono, 2005). Secara umum, tujuan pengungkapan wajib adalah menyajikan informasi yang dipandang perlu untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan dan untuk melayani berbagai pihak yang mempunyai kepentingan berbeda-beda. Untuk melindungi kepentingan pemegang saham dalam suatu perusahaan, diperlukan peraturan tentang mandatory disclosure (pengungkapan wajib).

Peraturan tentang pengungkapan wajib telah diungkapkan dalam Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor: Kep- 134/Bl/2006 tentang kewajiban penyampaian laporan tahunan bagi emiten atau perusahaan publik serta Keputusan Ketua BAPEPAM dan Lembaga Keuangan No:

Kep-346/BL/2011, tentang penyampaian laporan keuangan berkala emiten atau perusahaan publik. Setiap emiten atau perusahaan publik yang terdaftar di bursa efek wajib menyampaikan laporan tahunan dan informasi material lainnya secara berkala kepada BAPEPAM dan publik (Suwardjono, 2005). Tanpa peraturan ini, perusahaan bisa menyembunyikan informasi yang paling penting yang seharusnya mereka ungkapkan.

(14)

23

Universitas Kristen Petra

2.6.4.2 Voluntary Disclosure

Voluntary disclosure adalah pengungkapan yang dilakukan secara sukarela berupa penyampaian informasi yang melebihi syarat minimum dari ketentuan dari standar pelaporan yang berlaku. Pengungkapan ini tidak bersifat mengatur dan mengikat selayaknya pengungkapan wajib sehingga memberikan kebebasan untuk perusahaan dalam memilih jenis informasi yang ingin diungkapkan yang dipandang relevan untuk membantu proses pengambilan keputusan. Pengungkapan sukarela merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kredibilitas pelaporan keuangan perusahaan dan membantu investor dalam memahami strategi bisnis perusahaan (Healy & Whalen, 1999).

Pengungkapan informasi secara sukarela akan mengurangi ketidakpastian, asimetri informasi dan skeptisisme, serta cenderung memperkuat kepercayaan investor terhadap manajemen perusahaan. Informasi sukarela mengenai pengakuan, pengukuran dan pengungkapan item akuntansi dalam laporan keuangan akan menarik minat investor dan secara signifikan akan menguntungkan profil keuangan dan manajerial perusahaan (Iatridis & Alexakis, 2012). Pengungkapan sukarela dalam laporan keuangan adalah cara yang tepat untuk memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan kepada stakeholder, tetapi tidak semua perusahaan mengungkapkan informasi yang sama dalam pengungkapan mereka dikarenakan perbedaan karakteristik dari masing-masing perusahaan.

Manajer dapat memberikan pengungkapan akuntansi secara sukarela untuk menggambarkan dan mengkomunikasikan secara lebih rinci mengenai keuangan, keputusan dan tindakan mereka, serta informasi penjelasan lainnya (Iatridis &

Alexakis, 2012). Lan et al. (2013) berpendapat bahwa perusahaan akan mendapat keuntungan jika memberi informasi tambahan perusahaan kepada investor. Pasar saham cenderung akan menghargai pengungkapan sukarela perusahaan yang tercermin dari tingkat pengembalian saham yang lebih tinggi (Guay & Verrecchia, 2007). Dewan Standar Akuntansi Keuangan (FASB, 2000) menjelaskan pengungkapan sukarela sebagai informasi terutama di luar laporan keuangan yang tidak secara eksplisit disyaratkan oleh peraturan atau standar akuntansi.

Dalam penelitian ini, voluntary disclosure dalam laporan tahunan diukur melalui voluntary disclosure index yang dibuat oleh Hassan (2012). Indeks tersebut

(15)

24

Universitas Kristen Petra

dibuat berdasarkan dua sumber, yaitu prinsip OECD tentang tata kelola perusahaan (OECD, 2004), serta penelitian-penelitian sebelumnya yang membahas pengungkapan corporate governance (Aksu & Kosedag, 2006; Chen et al., 2007).

Indeks tersebut berjumlah 48 item yang terbagi ke dalam empat kategori, yaitu struktur kepemilikan dan hubungan atau hak investor sebanyak 10 item, struktur atau proses dewan dan manajemen sebanyak 16 item, audit eksternal dan layanan non-audit sebanyak 6 item, dan transparansi pengungkapan sebanyak 15 item. Skor 1 diberikan apabila item tersebut telah diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan dan 0 jika tidak. Selanjutnya, melakukan perhitungan rata – rata atas item yang telah diberikan skor. Dengan demikian, perhitungan VD Index dapat dirumuskan sebagai berikut :

𝑽𝑫𝒊 =𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒌𝒐𝒓

𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒊𝒕𝒆𝒎 (2.4)

Keterangan :

VDi = Indeks pengungkapan sukarela dalam tata kelola perusahaan

2.7 Firm Size

Firm size (ukuran perusahaan) merupakan suatu ukuran dimana perusahaan dikategorikan sebagai perusahaan besar atau kecil (Bishop & Megicks, 2002). Firm size dapat ditentukan berdasarkan jumlah tenaga kerja serta kapitalisasi pasar.

Ukuran perusahaan akan menentukan kapasitas perusahaan untuk melakukan operasi, kemungkinan menghasilkan laba, dan mempengaruhi reaksi pasar. Dalam penelitian ini, variabel firm size akan diukur menggunakan logaritma jumlah aktiva yang dimiliki perusahaan. Semakin besar total aktiva, maka semakin besar ukuran suatu perusahaan.

Dalam penelitian ini, firm size digunakan sebagai variabel kontrol, dimana variabel tersebut dibuat konstan dengan tujuan agar hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Berdasarkan sejumlah teori, firm size merupakan variabel positif yang signifikan jika dikaitkan dengan tingkat pengungkapan. Pertama, cost–benefit theory (Healy & Whalen, 1999) yang menyatakan bahwa mengungkapkan informasi rinci relatif lebih murah untuk perusahaan besar karena diasumsikan akan

(16)

25

Universitas Kristen Petra

menghasilkan lebih banyak informasi untuk keperluan internal perusahaan. Dan biaya untuk menyebarkan pengungkapan mungkin lebih rendah dibandingkan perusahaan kecil karena media lebih cenderung fokus pada perusahaan besar.

Kedua, signaling theory (Bishop & Megicks, 2002) mengemukakan bahwa perusahaan besar lebih banyak diawasi oleh pemerintah dan otoritas pengatur sehingga mereka menganggap pelaporan yang lebih baik akan cenderung mengurangi tekanan yang tidak diinginkan dari pemerintah. Ketiga, cost of capital theory (Singhvi & Desai, 1971) yang mengatakan perusahaan besar membutuhkan lebih banyak dana dari pasar modal eksternal. Adanya peningkatan pengungkapan yang memadai dapat meningkatkan kepercayaan investor sehingga membuat pendanaan eksternal melalui sekuritas menjadi lebih murah (Donnelly & Mulcahy, 2008).

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Hossain, Marks dan Mitra (2006) yang mengatakan bahwa firm size berpengaruh negatif terhadap luas pengungkapan. Pengungkapan perusahaan dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi asimetri informasi antara manajer dan pemegang saham sehingga dapat mengurangi biaya agensi. Namun, perusahaan besar biasanya bersedia menanggung biaya agensi sehingga tidak memerlukan pengungkapan informasi yang lebih banyak untuk mengurangi biaya tersebut. Sementara hasil lain yang dikemukakan oleh Albassam dan Ntim (2017) menunjukkan bahwa firm size tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela. Karena tingkat pengungkapan informasi perusahaan berbeda-beda sesuai dengan kebijakan manajemen masing-masing perusahaan. Hal ini berarti tidak menutup kemungkinan bahwa perusahaan kecil juga mampu melakukan pengungkapan yang besar apabila memang dianggap perlu.

Jika dikaitkan dengan earnings quality, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Hashim dan Devi (2015), Kiattikulwattana (2014) ditemukan hasil bahwa firm size berpengaruh negatif terhadap praktik manajemen laba, sehingga berpengaruh positif terhadap earnings quality. Perusahaan dengan ukuran yang lebih besar memiliki kecenderungan untuk meminimalisir praktik manajemen labanya. Hal ini terjadi karena pemegang saham dan pihak luar di perusahaan besar dianggap lebih kritis dibandingkan dengan perusahaan kecil, sehingga tekanan yang

(17)

26

Universitas Kristen Petra

lebih besar akan dihadapi perusahaan besar untuk menyajikan laporan keuangan yang lebih akurat.

Di sisi lain, Watt dan Zimmerman (1990) mengemukakan the political cost hypothesis (size hypothesis) yang menyatakan bahwa perusahaan besar memiliki biaya politik yang tinggi. Sehingga manajer akan cenderung menggunakan metode akuntansi yang menangguhkan laba yang dilaporkan dari periode sekarang ke periode masa mendatang dengan tujuan untuk memperkecil laba yang dilaporkan.

Biaya politik muncul dikarenakan profitabilitas perusahaan yang tinggi sehingga menarik perhatian media dan konsumen. Hal ini berarti perusahaan besar cenderung akan melakukan praktik manajemen laba yang akan menurunkan earnings quality untuk menghindari biaya politik yang tinggi.

Namun, hasil lain yang dikemukakan oleh (Kolsi & Grassa, 2017) yaitu firm size tidak dapat mempengaruhi praktek manajemen laba yang berarti firm size juga tidak mampu mempengaruhi earnings quality. Hal ini karena manajemen laba yang dilakukan manajer bukan bergantung pada besar atau kecilnya perusahaan, melainkan dari adanya kesempatan berupa asimetri informasi antara manajer dengan investor. Adanya keterbatasan pengetahuan investor mengenai informasi keuangan dan operasi perusahaan mengakibatkan manajer memiliki kesempatan yang besar untuk menaikkan, menurunkan ataupun meratakan laba perusahaan.

Secara matematis, pengukuran firm size dirumuskan sebagai berikut:

Firm Size = Log (Total Aset) (2.5)

2.8 Earnings Quality

Earnings quality (kualitas laba) merupakan salah satu indikator penting yang harus diperhatikan agar dapat mengevaluasi kualitas keuangan suatu organisasi atau perusahaan. Tinggi atau rendahnya kualitas laporan keuangan suatu perusahaan tergantung pada tinggi rendahnya kualitas laba. Semakin tinggi kualitas labanya, maka semakin tinggi pula kualitas laporan keuangannya. Bellovary et al.

(2005) menyatakan bahwa kualitas laba mengacu pada kemampuan laba yang dilaporkan dalam mencerminkan laba perusahaan yang sesungguhnya, serta kegunaan laba yang dilaporkan untuk membantu memprediksi laba yang mendatang. Maka dari itu, kualitas laba menjadi sebuah aspek yang penting dalam

(18)

27

Universitas Kristen Petra

menilai kinerja perusahaan (Lev, 1989). Hal ini dapat menyebabkan manajer memainkan pendapatan dengan tujuan untuk melindungi citra perusahaan yang baik (Chung et al., 2002).

Dechow dan Schrand (2004) menyatakan bahwa laba dikatakan berkualitas tinggi apabila laba yang dilaporkan dapat mencerminkan kinerja operasi perusahaan saat ini secara akurat sehingga dapat dipakai oleh para pengguna laporan keuangan untuk membuat keputusan yang terbaik, serta dapat digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi harga dan return saham. Selain itu, laba akuntansi yang berkualitas juga memiliki sedikit atau tidak mengandung gangguan persepsi di dalamnya, serta mampu mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Earnings quality mengacu pada hubungan antara pendapatan ekonomi perusahaan dan pendapatan yang dilaporkan oleh akuntansi.

Earnings quality dapat dipengaruhi oleh adanya praktik manajemen laba (earnings management). Manajemen laba terjadi ketika adanya kesempatan untuk mengubah pendapatan yang dilaporkan perusahaan sehingga menyesatkan beberapa pemangku kepentingan mengenai kinerja ekonomi perusahaan (Healy &

Whalen, 1999). Selain itu, manajemen laba juga terjadi ketika manajemen perusahaan memanfaatkan peluang tersebut untuk berperilaku oportunis. Dengan kata lain, manajemen laba berarti memanipulasi penghasilan untuk mencapai target yang telah ditentukan oleh manajemen (Schipper, 1989). Adanya manipulasi laba akan memunculkan skandal akuntansi sehingga akan mengakibatkan berkurangnya kepercayaan publik terhadap laporan keuangan perusahaan.

Healy dan Wahlen (1999) menyatakan bahwa laba dapat dikatakan berkualitas jika tidak terdapat manajemen laba dalam perusahaan. Hal ini disebabkan perilaku oportunistik yang dilakukan oleh manajer dalam perusahaan membuat kegunaan informasi yang terkandung dalam laba tersebut menjadi menurun. Adapun tujuan dari manajemen laba adalah untuk mempengaruhi hasil kontraktual yang bergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan oleh perusahaan. Oleh karena itu, laba yang tinggi namun merupakan hasil dari adanya manajemen laba dikategorikan sebagai laba yang tidak berkualitas. Lo (2008) juga menyatakan bahwa ketika manajemen laba tinggi, maka kualitas laba rendah.

(19)

28

Universitas Kristen Petra

Semakin banyak perusahaan yang terlibat dalam manajemen laba, maka semakin rendah kualitas laba perusahaan tersebut.

Terdapat berbagai cara untuk mengelola pendapatan perusahaan dengan menggunakan metode akuntansi. Salah satu metodenya yaitu penggunaan estimasi akuntansi yang biasanya diserahkan pada kebijakan manajemen. Misalnya, para manajer menentukan persentase allowance of uncollectible receivables. Hal ini akan memberi kesempatan kepada manajemen untuk memilih kisaran jumlah yang dapat mempengaruhi laba bersih dan laba komprehensif perusahaan dengan cara melakukan manajemen laba (earnings management). Selain itu, metode akuntansi lainnya yaitu memanipulasi laba dengan menggunakan waktu transaksi seperti pengakuan pendapatan yang tertunda atau bahkan lebih awal, sehingga akan mempengaruhi kualitas laba yang dilaporkan perusahaan (Haniffa & Cooke, 2002).

Earnings quality merupakan aspek penting dalam menilai kualitas laporan keuangan perusahaan, yang telah menjadi perhatian investor, kreditor, dan pengguna laporan keuangan lainnya. Hodge (2003) mendefinisikan kualitas laba sebagai perbedaan laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan dengan laba yang sesungguhnya dan menggambarkan keadaaan perusahaan yang sebenarnya (tidak bias dan akurat). Earnings quality yang tinggi mampu menyediakan informasi yang lebih lengkap dan akurat mengenai kinerja keuangan perusahaan dan dapat membantu dalam membuat keputusan yang relevan bagi pihak yang berkepentingan. Earnings quality penting bagi pihak-pihak yang menggunakan laporan keuangan dengan tujuan untuk kontrak dan pengambilan keputusan investasi (Schipper & Vincent, 2003). Kualitas laba dalam penelitian ini adalah gambaran dari manajemen laba, sehingga pengukuran kualitas laba dalam penelitian ini akan menggunakan pengukuran manajemen laba, yaitu nilai absolut dari discretionary accruals. Nilai tersebut diestimasi dengan menggunakan model Modified Jones yang dikembangkan oleh Dechow dan Schrand (2004).

Pada model Modified Jones, total accrual dibagi menjadi dua komponen yaitu discretionay accruals dan nondiscretionary accruals. Discretionary accruals (DA) merupakan akrual bebas, tidak diatur, dan berasal dari kebijakan akuntansi yang memberi kebebasan kepada manajemen dalam menentukan nilai estimasi atas metode akuntansi, seperti menaikkan dan menurunkan laba. Metode seperti ini

(20)

29

Universitas Kristen Petra

memberikan peluang kepada manajemen untuk melakukan manipulasi pendapatan akrual dengan tujuan mencapai angka laba yang diinginkan. Non-discretionary accruals (NDA) merupakan pengakuan akrual yang wajar dan terdapat dalam laporan keuangan dengan mengikuti standar akuntansi yang berlaku umum (Schipper, 1989). Model persamaan discretionary accrual model Modified Jones dihitung dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menghitung total akrual perusahaan menggunakan persamaan:

Total Accrual (TA) = NIit – CFOit (2.6)

2. Nilai total accruals yang diestimasi dengan persamaan regresi OLS adalah sebagai berikut:

𝑇𝐴𝑖𝑡

𝐴𝑖,𝑡−1= α1 ( 1

𝐴𝑖,𝑡−1)+α2 ((∆𝑅𝐸𝑉𝑖𝑡−∆𝑅𝐸𝐶𝑖𝑡)

𝐴𝑖,𝑡−1 )+α3 (𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡

𝐴𝑖,𝑡−1)+𝜖 (2.7)

3. Dari persamaan regresi di atas, non-discretionary accruals (NDA) dapat dihitung dengan memasukkan koefisien-koefisien yang telah diperoleh : NDAit = α1 ( 1

𝐴𝑖,𝑡−1)+ α2((∆𝑅𝐸𝑉𝑖𝑡−∆𝑅𝐸𝐶𝑖𝑡)

𝐴𝑖,𝑡−1 )+ α3(𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡

𝐴𝑖,𝑡−1) (2.8)

4. Total accruals terdiri dari komponen discretionary accruals dan non- discretionary accruals (TA = DA + NDA). Jadi, perhitungan discretionary accruals (tingkat accruals hasil rekayasa laba) dapat dihitung sebagai berikut:

DAit = (𝑇𝐴𝑖𝑡

𝐴𝑖𝑡−1)- NDAit (2.9)

Dimana:

Dait = Discretionay accrual pada perusahaan i pada periode t NDAit = Nondiscretionary accruals perusahaan i pada periode t TAit = Total accruals perusahaan i pada periode t

NIit = Laba bersih pada perusahaan i pada periode t

CFOit = Arus kas dari aktivitas operasi perusahaan i pada periode t Ai, t-1 = Total aktiva perusahaan i pada periode t-1

∆REVit = Pendapatan perusahaan i pada periode t dikurangi pendapatan periode t-1

(21)

30

Universitas Kristen Petra

∆RECit = Piutang perusahaan i pada periode t dikurangi piutang periode t-1

PPEit = Saldo dari (asset tetap) bruto perusahaan i pada periode t α1 𝛼2 𝛼3 = Koefisien

ϵ = Eror term perusahaan i pada periode t

2.9 Kajian Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai pengaruh ownership structure telah banyak dilakukan, khususnya terkait pengaruhnya terhadap earnings quality dan voluntary disclosure.

Hashim & Devi (2015) melakukan penelitian terhadap 280 perusahaan non- keuangan yang terdaftar di Bursa Malaysia’s Main Board pada tahun 2014. Mereka menemukan bahwa managerial ownership tidak berpengaruh terhadap earnings quality, sementara institutional ownership berpengaruh positif terhadap earnings quality. Namun, penelitian lain yang dilakukan oleh Siallagan dan Machfoedz (2006) pada 74 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dengan periode 2000-2004 memberikan hasil yang berbeda, dimana managerial ownership berpengaruh positif terhadap earnings quality. Hasil penelitian tersebut didukung oleh beberapa penelitian lain, seperti Warfield, Wild, dan Wild (1995), Niu (2006), serta Alzoubi (2016). Penelitian yang dilakukan terhadap 1306 perusahaan yang terdaftar di Taiwan periode tahun 1997-2004 kecuali sektor keuangan oleh Yang, Lai, dan Tan (2008) memiliki hasil lain. Mereka mengungkapkan adanya pengaruh positif antara managerial ownership terhadap earnings management, dimana ini akan berdampak negatif pada earnings quality perusahaan. Hasil serupa juga dikemukakan oleh Guo dan Ma (2015), serta Aygun, Ic, dan Sayim (2014).

Selahudin dan Nawang (2015) melakukan penelitian terhadap semua perusahaan industri yang terdaftar di Bursa Malaysia, kecuali perusahaan keuangan, investasi, trust dan dana selama tahun 2013 dan untuk meneliti hubungan antara government ownership dengan earnings management. Penelitian tersebut menemukan adanya pengaruh positif antara government ownership terhadap earnings management. Hal ini berarti government ownership berpengaruh negatif terhadap earnings quality. Hasil penelitian serupa juga telah ditemukan oleh Ben- Nasr, Boubakri, dan Cosset (2015), Guo dan Ma (2015). Namun, Wang dan Yung

(22)

31

Universitas Kristen Petra

K. (2011) berpendapat sebaliknya, yaitu government ownership berpengaruh negatif terhadap earnings management dengan melakukan pengamatan terhadap semua perusahaan yang terdaftar di Shanghai Stock Exchanges pada tahun 2002.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Alzoubi (2016) terhadap 62 perusahaan industri yang terdaftar di ASE (Amman Stock Exchange) pada akhir tahun 2013 mengatakan bahwa institutional ownership berpengaruh negatif terhadap earnings management. Hasil penelitian tersebut didukung oleh beberapan penelitian lain, yaitu Hessayri dan Saihi (2015), Hashim dan Devi (2015), serta Aygun, Ic, dan Sayim (2014). Hasil tersebut bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Guo dan Ma (2015), serta Kolsi dan Grassa (2017), dimana kedua penelitian tersebut tidak menemukan adanya pengaruh antara nstitutional ownership terhadap earnings quality.

Berbagai penelitian yang membahas mengenai ownership structure yang diproksikan dengan menggunakan managerial ownership, government ownership dan institutional ownership terhadap voluntary disclosure juga memiliki hasil yang beragam dan tidak konsisten. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jiang dan Habib (2009) terhadap perusahaan yang terdaftar di New Zealand Stock Exchange tahun 2001-2005 ditemukan hasil bahwa managerial ownership berpengaruh positif terhadap voluntary disclosure. Hasil serupa juga telah dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Sheu et al (2008), Hossain, Marks, dan Mitra (2006).

Ansah (1998) mengemukakan bahwa managerial ownership berpengaruh positif terhadap mandatory disclosure. Beberapa penelitian tersebut membuktikan bahwa managerial ownership memiliki pengaruh positif terhadap voluntary disclosure.

Beberapa penelitian yang menguji pengaruh managerial ownership terhadap voluntary disclosure telah dilakukan. Nerantzidis dan Tsamis (2017) melakukan penelitian terhadap 156 perusahaan yang terdaftar di Athens Stock Exchange (ASE) pada tahun 2011, penelitian Huafang dan Jianguo (2007) terhadap 559 perusahaan yang terdaftar di SSE (Shanghai Stock Exchange) pada akhir tahun 2002, tidak termasuk perusahaan di sektor keuangan, dan diperoleh hasil bahwa managerial ownership tidak berpengaruh terhadap voluntary disclosure. Selain itu, Shehata (2017) juga telah membuktikan hal tersebut dengan melakukan penelitian pada 270 perusahaan non keuangan publik yang terdaftar di Gulf Stock Exchange tahun 2009.

(23)

32

Universitas Kristen Petra

Hasil serupa ditemukan oleh Donnelly dan Mulcahy (2008), sedangkan Eng dan Mak (2003) menemukan bahwa managerial ownership berpengaruh negatif terhadap voluntary disclosure.

Albassam dan Ntim (2017), Grassa dan Chakroun (2016), Hossain, Marks, dan Mitra (2006), serta Barako, Hancock, dan Izan (2006) menemukan adanya pengaruh positif antara institutional ownership terhadap voluntary disclosure.

Namun di sisi lain, Sheu et al (2008) serta Jiang dan Habib (2009) menemukan hasil sebaliknya, yaitu institutional ownership berpengaruh negatif terhadap voluntary disclosure. Sementara Donnelly dan Mulcahy (2008), Shehata (2017), Agyei- Mensah (2017) tidak berhasil menemukan adanya pengaruh antara institutional ownership terhadap voluntary disclosure.

Penelitian mengenai pengaruh government ownership terhadap voluntary disclosure telah dilakukan oleh Albassam dan Ntim (2017) pada 75 perusahaan yang terdaftar di Saudi Stock Exchange tahun 2004-2010. Penelitian tersebut menyatakan bahwa government ownership berpengaruh positif terhadap voluntary disclosure. Hasil serupa dikemukakan oleh Alhazaimeh, Palaniappan, dan Almsafir (2013) dalam penelitiannya terhadap 73 perusahaan non keuangan yang terdaftar di Amman Stock Exchange (ASE) tahun 2002-2011. Penelitian lain yang menemukan hasil yang sama, yaitu Eng dan Mak (2003), Jiang dan Habib (2009). Sementara hasil negatif antara government ownership terhadap voluntary disclosure dibuktikan oleh Al-Janadi, Rahman, dan Alazzani (2016), Sheu et al (2008).

Shehata (2017), Huafang dan Jianguo (2007), serta Juhmani (2013) juga telah meneliti hubungan antara government ownership terhadap voluntary disclosure namun gagal dalam menemukan hubungan antara kedua variabel tersebut.

Beberapa penelitian lain yang dilakukan oleh Iatridis dan Alexakis (2012) pada 171 perusahaan yang terdaftar di Athens Stock Exchange ditemukan hasil yaitu voluntary disclosure berpengaruh positif terhadap earnings quality. Hasil serupa juga telah dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Francis, Nanda, dan Olsson (2008), Ji et al (2017), Sanjaya dan Young (2012). Namun, penelitian yang dilakukan pada 181 perusahaan yang terdaftar di Stock Exchange of Thailand (SET) tahun 2009, tidak termasuk perusahaan asuransi, perbankan, dan keuangan oleh Kiattikulwattana (2014) memberikan hasil bahwa voluntary disclosure tidak

(24)

33

Universitas Kristen Petra

berpengaruh terhadap earnings management. Hal ini berarti voluntary disclosure tidak memiliki pengaruh terhadap earnings quality perusahaan. Hasil tersebut didukung dengan penelitian Niu (2006). Sementara penelitian oleh Chang dan Sun (2010) menemukan voluntary disclosure berpengaruh negatif terhadap earnings quality. Tabel mengenai penelitian terdahulu dapat dilihat pada lampiran 2.

2.10 Hipotesa Penelitian

2.10.1 Pengaruh Ownership Structure terhadap Earnings Quality 2.10.1.1 Institutional Ownership dan Earnings Quality

Berdasarkan agency theory, kepemilikan institusional memiliki peranan yang sangat penting dalam meminimalisasi konflik keagenan yang terjadi antara pihak manajer dan pemegang saham. Keberadaan investor institusional dianggap mampu memonitor manajemen karena kepemilikan institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal. Investor institusi memiliki kesempatan, sumber daya, dan kemampuan untuk memantau, mendisiplinkan, dan mempengaruhi manajer perusahaan (Chung et al., 2002). Pengaruh kepemilikan institusional sebagai agen pengawas ditentukan melalui investasi mereka yang cukup besar. Karena investor institusi akan memantau perkembangan investasinya secara profesional sehingga pengendalian terhadap tindakan manajemen sangat tinggi. Dengan demikian, mereka lebih mampu mendeteksi adanya manajemen laba yang dilakukan karena memiliki banyak akses terhadap informasi yang tepat waktu dan relevan. Beberapa penelitian lain yang mendukung pernyataan tersebut dilakukan oleh Hessayri & Saihi (2015); Hashim & Devi (2015); Alzoubi (2016).

Di sisi lain, besarnya kepemilikan saham oleh institusional membuat institusi sebagai pemegang saham tertinggi memiliki kemampuan untuk mengintervensi kinerja manajemen sedemikian rupa. Manajemen dituntut melakukan berbagai hal yang dianggap akan menaikkan nilai perusahaan dan daya jual perusahaan. Untuk tetap menjaga kondisi perusahaan di mata publik, institusi cenderung akan membuat manajemen menampilkan laba perusahaan secantik mungkin (Cornett, 2009). Langkah ini dilakukan untuk melindungi nilai investasi yang dimiliki institusi sebagai bagian dari portofolio keuangan mereka di pasar modal. Manajemen menampilkan laba sesuai dengan apa yang pemegang saham

(25)

34

Universitas Kristen Petra

pengendali harapkan. Dengan demikian, semakin tinggi kepemilikan institusi, semakin rendah kualitas laba yang dihasilkan.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Yang, Chun, dan Ramadili (2009) menyatakan institutional ownership tidak berpengaruh terhadap absolute discretionary accrual, hal ini berarti institutional ownership tidak mempengaruhi earnings quality. Hal ini karena kemampuan investor institusi dalam memantau adanya praktik manajemen laba ditentukan berdasarkan kemampuannya dalam memahami peluang dan strategi perusahaan dalam memperoleh profit. Dengan pengetahuan tersebut, investor institusi lebih mampu menganalisis proses pelaporan keuangan dan mendeteksi adanya praktik manajemen laba. Oleh karena itu, adanya kepemilikan institusional yang tinggi dalam perusahaan belum tentu akan mengurangi praktik manajemen laba sehingga berdampak pada peningkatan earnings quality (Kolsi & Grassa, 2017).

2.10.1.2 Government Ownership dan Earnings Quality

Jumlah kepemilikan pemerintah diukur dari jumlah kepemilikan saham oleh pihak pemerintah dari seluruh jumlah saham yang dikelola (Mohamed-Rusdi &

Nelson,2015). Dengan adanya kepemilikan saham oleh pemerintah membuat perusahaan mampu memperoleh subsidi modal yang lebih dari pemerintah.

Sehingga berdasarkan agency theory, pemerintah mampu meminimalisasi konflik keagenan karena memiliki peranan dan kemampuan yang besar untuk memantau tindakan manajer agar mencapai tujuan pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan negara, dimana tujuan tersebut saling bertentangan dengan tujuan perusahaan. Hal ini membuat manajer menjadi lebih bertanggungjawab kepada pemerintah (Shleifer & Vishny, 1994) sehingga pemerintah lebih mudah mendeteksi tindakan manajer, termasuk adanya tindakan oportunistik. Dengan demikian, adanya kepemilikan pemerintah akan mengurangi manajemen laba, yang berarti earnings quality semakin meningkat. Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh Wang & Yung (2011) bahwa kepemilikan pemerintah memainkan peran penting dalam mengurangi tekanan pada manajer untuk memanipulasi laba.

(26)

35

Universitas Kristen Petra

Sementara, menurut Ben-Nasr, Boubakri dan Cosset (2015), kepemilikan pemerintah yang besar dalam perusahaan membuat pemerintah memiliki lebih banyak insentif untuk mengarahkan sumber daya perusahaan dan mengambilalih hak pemegang saham lainnya untuk mendapatkan keuntungan politik. Untuk menyembunyikan pengambilalihan ini, pemerintah dapat mengarahkan manajer untuk memanipulasi pendapatan, atau dengan kata lain melakukan manajemen laba.

Hal ini akan menghasilkan kualitas laba perusahaan yang lebih rendah. Hasil penelitian ini juga serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Selahudin dan Nawang (2015); Guo dan Ma (2015).

Menurut Bozec, Cote, dan Breton (2002), kepemilikan saham oleh pemerintah tidak akan berpengaruh terhadap earnings quality perusahaan. Karena kualitas laba perusahaan tidak ditentukan dari siapa pemilik terbesar dalam perusahaan, melainkan dari tujuan yang ingin dikejar oleh perusahaan. Tujuan perusahaan yang akan menentukan ada atau tidaknya praktik manajemen laba dalam perusahaan, yang akan berdampak pada tinggi rendahnya kualitas laba.

2.10.1.3 Managerial Ownership dan Earnings Quality

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa salah satu cara untuk mengurangi masalah keagenan yang timbul antara manajer dan pemegang saham adalah dengan meningkatkan kepemilikan saham oleh pihak manajemen.

Peningkatan kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan akan mensejajarkan kepentingan manajemen dan pemegang saham, sehingga manajer akan merasakan langung manfaat dari keputusan yang diambil dengan benar dan kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah. Hal ini membuat manajer tidak akan berperilaku oportunis karena untuk kepentingannya juga. Manajer akan bertindak sama seperti pemegang saham umumnya dan memastikan bahwa laporan keuangan telah disajikan dengan wajar dan menungkapkan kondisi riil perusahaan.

Selain itu, berdasarkan stewardship theory, manajer merupakan pihak yang dapat dipercaya dan tidak akan melakukan perilaku oportunistik, seperti melakukan manajemen laba. Seorang manajer akan bertindak dengan sangat baik sehingga bisa menjadi steward yang baik. Manajer akan berusaha mencapai tujuan

(27)

36

Universitas Kristen Petra

perusahaan yang dapat memberikan keuntungan kepada pemegang saham. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Niu (2006); Siallagan & Machfoedz (2006); Warfield et al (1995) juga membuktikan adanya pengaruh negatif antara kepemilikan manajerial terhadap kualitas laba, artinya kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap kualitas laba.

Di sisi lain, Aygun, Ic, & Sayim (2014); Guo & Ma (2015) menemukan bahwa kepemilikan manajerial yang tinggi berpengaruh positif terhadap absolute discretionary accruals. Hal ini dikarenakan semakin besarnya persentase managerial ownership dalam perusahaan akan menimbulkan efek entrenchment pada manajer, dimana manajer akan merasa memiliki hak kontrol yang kuat dalam menggunakan perusahaan untuk kepentingan pribadi manajer tanpa melihat kepentingan pemegang saham lainnya sehingga peluang terjadinya perilaku oportunis manajer akan semakin meningkat yang akan berdampak pada penurunan kualitas laba. Namun, kepemilikan manajerial yang relatif kecil tidak mampu mempengaruhi earnings quality. Kepentingan pribadi manajemen belum dapat diselaraskan dengan kepentingan pemilik maupun perusahaan, sehingga belum mampu mengurangi perilaku oportunistik secara menyeluruh. Namun, Hashim dan Devi (2015) menemukan hasil yang berbeda yaitu managerial ownership tidak mampu mempengaruhi earnings quality karena praktik manajemen laba yang berdampak pada earnings quality ditentukan berdasarkan apa motivasi para manajer, bukan dari besar kepemilikan manajer dalam perusahaan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

H1: Ownership structure berpengaruh terhadap earnings quality.

2.10.2 Pengaruh Ownership Structure terhadap Voluntary Disclosure in Corporate Governance

2.10.2.1 Institutional Ownership dan Voluntary Disclosure in Corporate Governance

Kepemilikan institusional merupakan bentuk kepemilikan saham suatu perusahaan yang dimiliki oleh satu atau lebih institusi (Alzoubi, 2016). Berdasarkan agency theory, kepemilikan institusional yang besar dapat mendesak para manajer

(28)

37

Universitas Kristen Petra

untuk melakukan pengungkapan, baik pengungkapan wajib maupun pengungkapan sukarela (Jensen & Meckling, 1976) karena investor institusi memiliki kemampuan dan sumber daya dalam melakukan pemantauan secara efektif. Hal ini sejalan dengan penelitian Albassam dan Ntim (2017) yang menemukan adanya hubungan positif antara kepemilikan institusional dan pengungkapan sukarela praktik corporate governance.

Namun, Jiang dan Habib (2009) menemukan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap luas pengungkapan corporate governance. Dimana semakin tinggi kepemilikan institusional maka corporate governance disclosure akan semakin berkurang. Hal ini dikarenakan kepemilikan institusional yang terdiri dari perusahaan investasi, perbankan, dan lembaga lain seperti dana pensiun lebih berfokus pada peningkatan kinerja perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan dibandingkan kualitas dan luas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan. Oleh karena itu, semakin besar kepemilikan institusional dalam sebuah perusahaan maka semakin besar tujuan investor institusional ini untuk memperoleh laba sehingga kurang memperhatikan corporate governance disclosure sebagai suatu hal yang penting untuk diungkapkan kepada publik.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Donelly dan Mulcahy (2008), tingkat kepemilikan institusional dalam perusahaan tidak berpengaruh terhadap corporate governance disclosure. Hal ini disebabkan oleh investor institusional yang bersikap pasif terhadap pengungkapan perusahaan secara umum, dan mereka memiliki saluran yang lebih efisien dan tepat waktu untuk memperoleh informasi perusahaan yang lebih relevan selain melalui corporate governance disclosure. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Shehata (2017) dan Agyei- Mensah (2017).

2.10.2.2 Government Ownership dan Voluntary Disclosure in Corporate Governance

Berdasarkan legitimacy theory, perusahaan akan mengutamakan persepsi dan pengakuan publik sebagai dorongan utama dalam melakukan pengungkapan suatu informasi di dalam laporan tahunan, seperti corporate governance disclosure.

(29)

38

Universitas Kristen Petra

Dengan adanya intervensi pemerintah dalam kepemilikan di perusahaan akan memberi tekanan kepada perusahaan untuk mengungkapkan lebih banyak informasi, karena pemerintah merupakan badan yang dipercaya oleh rakyat.

Masyarakat akan memberikan sorotan yang besar pada perusahaan dengan kepemilikan pemerintah yang besar. Hal ini dikarenakan masyarakat memiliki ekspektasi lebih terhadap perusahaan tersebut. Besarnya tekanan pemerintah dan publik membuat perusahaan harus lebih transparan dalam manajemennya. Sebagai bentuk akuntabilitas atas pengelolaan perusahaan, maka dilakukan pengungkapan informasi yang lebih luas mengenai corporate governance.

Selain itu, adanya kepemilikan saham oleh pemerintah dalam struktur modal perusahaan menyebabkan pengelolaan bisnis perusahaan harus diselaraskan dengan kepentingan pemerintah (Albassam & Ntim, 2017). Pemerintah yang bertindak sebagai regulator, apabila memiliki proporsi saham yang mayoritas pada sebuah perusahaan, maka pemerintah memiliki kekuatan untuk menekan perusahaan mematuhi peraturan pemerintah mengenai tingkat pengungkapan perusahaan. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Alhazaimeh, Palaniappan, dan Almsafir (2013) juga mengungkapkan tingkat kepemilikan pemerintah dalam perusahaan berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan informasi perusahaan.

Namun di sisi lain, kepemilikan pemerintah yang besar juga bisa menimbulkan corporate governance disclosure yang buruk. Perusahaan yang dikendalikan pemerintah sangat terkait dengan kegiatan politik dan perusahaan semacam itu akan mengungkapkan sedikit informasi untuk melindungi praktik politiknya (Ghazali & Weetman, 2006) . Selain itu, adanya kepemilikan pemerintah dalam perusahaan memungkinkan perusahaan mendapatkan akses yang lebih mudah ke berbagai saluran pembiayaan. Hal ini dapat menghilangkan tekanan perusahaan dalam melakukan pengungkapan sukarela yang diarahkan ke publik.

Sehingga dengan adanya kepemilikan saham oleh pemerintah tidak membuat perusahaan harus melakukan pengungkapan yang tinggi.

Sedangkan menurut Huafang dan Jianguo (2007), kepemilikan pemerintah tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan corporate governance. Hal ini mungkin disebabkan karena pemerintah belum mempedulikan masalah

(30)

39

Universitas Kristen Petra

pengungkapan corporate governance sebagai isu kritis yang harus secara ekstensif diungkapkan dalam laporan tahunan. Jadi besar kecilnya persentase kepemilikan saham pemerintah di suatu perusahaan tidak mempengaruhi luas atau tidaknya pelaksanaan dan pengungkapan corporate governance. Hasil serupa juga didukung oleh penelitian Juhmani (2013).

2.10.2.3 Managerial Ownership dan Voluntary Disclosure in Corporate Governance

Menurut agency theory, masalah agensi muncul ketika pemilik (principal) mempekerjakan seorang manajer (agent) untuk menjalankan perusahaan, tetapi manajer tersebut memiliki tujuan yang berbeda. Perbedaan kepentingan ini mendorong manajer untuk melakukan aktivitas yang dapat memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri, seperti menyajikan informasi laba perusahaan secara berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan manajer tidak memberikan informasi, termasuk informasi mengenai tata kelola perusahaan, kepada pihak luar perusahaan untuk kepentingannya sendiri (Jensen & Meckling, 1976).

Menurut Juhmani (2013), solusi yang dapat dilakukan yaitu menyelaraskan kepentingan antara pemilik dan manajer dengan memberikan sebagian saham perusahaan kepada manajer. Ketika manajer menjadi bagian dari pemegang saham perusahaan, manajer akan termotivasi untuk meningkatkan nilai perusahaan sehingga dapat meningkatkan kekayaan pemegang saham, termasuk dirinya sendiri (Vafeas & Theodorou, 1998). Dengan demikian, pengungkapan informasi meningkat karena manajer dengan kepemilikan saham yang besar dapat memperoleh keuntungan pasar saham yang lebih besar dari pengungkapan yang lebih baik. Ketika manajer memiliki kepentingan yang sama dengan pemilik perusahaan, maka manajer akan mengungkapkan lebih banyak informasi untuk mencegah terjadinya masalah agensi sehingga biaya agensi dapat menurun (Jensen dan Meckling, 1976). Hal ini juga didukung oleh penelitian lain oleh Jiang & Habib (2009); Hossain, Marks, & Mitra (2006); dan Sheu et al (2008) yang menyatakan kepemilikan saham oleh manajer akan meningkatkan pengungkapan informasi perusahaan.

Referensi

Dokumen terkait

Logam Na dengan etanol bereaksi dengan baik hal ini ditandai dengan terjadinya ledakan kecil ketika logam Na dimasukan ke dalam etanol hasil distilasi, hal ini disebabkan karena

Bagaimanakah hasil belajar siswa dengan pembelajaran yang menggunakan metode yang berorientasi praktik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Buddha.. 1.5

Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Kinerja Lingkungan Semakin besar kepemilikan institusi keuangan maka akan semakin besar kekuatan suara dan dorongan dari

bahwa keduanya dapat dipastikan sezaman, bertemu dan sekaligus berguru. Adapun lambang periwayatan yang digunakan dalam meriwayatkan hadis tersebut adalah h}

Umumnya dapat hidup bebas di berbagai habitat secara kosmopolitan, dan dapat hidup sebagai bagian dari organisme multiseluler (sebagai parasit). Sel tunggal

Transaksi Pandawa memulai jasa reparasi televisi dengan investasi kas sebesar Rp15,000,000 pada tanggal 1 September 20XX Analisis Aktiva Kas bertambah Rp15,000,000 dan Modal

bertulis yang berlawanan, jika seseorang dipertuduh atas sesuatu kesalahan di bawah Akta ini, apa-apa pernyataan sama ada pernyataan itu terjumlah kepada suatu

terhadap persistensi laba karena semakin besar atau semakin tinggi porsi kepemilikan institusional belum tentu bisa mendorong manajemen perusahaan untuk