• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. HASIL PENELITIAN

5.2. Pengaruh Paparan Media Internet terhadap Perilaku Seks

maupun orang lain. Ketidaktahuan informan tentang bahaya seks kemungkinan disebabkan kurangnya informasi pendidikan seks yang benar. Menurut Sarwono (2011), pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang di lazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.

5.2. Pengaruh Paparan Media Internet terhadap Perilaku Seks Bebas Remaja

Bagi orang-orang yang tinggal di kota, peran internet dijadikan kebutuhan informasi utama karena saat ini masyarakat kota cenderung haus akan informasi, apabila tidak memperoleh informasi terbaru terasa ketinggalan zaman. Semakin

kuatnya peran internet terhadap kebutuhan manusia, maka fasilitas-fasilitas yang ada di internet bersaing secara ketat untuk menampilkan hal-hal atau info semenarik mungkin. Salah satu fasilitas yang tersedia di internet dan mudah diakses adalah pornografi.

Seks menjadi bagian yang penting dan selalu diadopsi oleh teknologi baru. Kehadiran internet seks sebagai media eksploitasi erotika dan pornografi. Hal ini disebabkan karena mengakses pornografi di internet adalah hal yang paling mudah diakses oleh siapapun, apalagi perkembangan situs porno yang semakin hari semakin meningkat di internet. Dalam penelitian ini paparan media internet dikaji berdasarkan frekuensi, durasi bermain internet, menonton video porno, melihat gambar porno, dan membaca cerita porno.

5.2.1. Pengaruh Frekuensi terhadap Perilaku Seks Bebas di SMA XYZ

Horrigan dalam Qomariah (2002), terdapat dua hal mendasar yang harus diamati untuk mengetahui intensitas penggunaan internet seseorang, yakni frekuensi internet yang sering digunakan dan lama menggunakan tiap kali mengakses internet yang dilakukan oleh pengguna internet. Menurut Stylianou & Jackson, (2007), frekuensi mengacu pada pengertian seberapa sering atau berapa kali seseorang menggunakan internet. Frekuensi terkait dengan penggunaan internet dalam suatu periode tertentu (Kusumaardhiati, 2011).

Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa sebagian besar frekuensi responden bermain internet ≤3 kali per minggu sebanyak 51,4%, sedangkan dengan frekuensi >3

kali per minggu yaitu 48,6%. Responden yang mengakses internet ≤3 kali/minggu sebagian besar perilaku seks bebas dalam kategori ringan (68,4%), sedangkan responden yang mengakses internet >3 kali/minggu sebagian besar perilaku seks dalam kategori berat (83,3%). Hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa frekuensi bermain internet tidak berpengaruh terhadap perilaku seks bebas pada remaja di SMA X tahun 2012 (p=0,586).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Murti (2008) yang menunjukkan bahwa responden dengan frekuensi paparan pornografi dengan frekuensi tinggi berperilaku seksual berat (50,0%), sedangkan yang memiliki frekuensi terpapar pornografi rendah termasuk dalam kategori perilaku seksual ringan (9,5%). Semakin tinggi frekuensi remaja terpapar pornografi maka akan semakin memiliki kecenderungan perilaku seksual berat.

Penelitian Lubis (2010) yang meneliti situs porno dan persepsi remaja tentang seks pranikah menunjukkan bahwa sebanyak 43,2% mengatakan dirinya mengakses internet yakni 6-7 kali dalam seminggu, 27,3% mengaku 3-4 kali dalam seminggu, 15,9% mengaku 4-5 kali dalam seminggu, dan 13,6% mengaku mengakses internet 1- 2 kali dalam seminggu.

Frekuensi bermain internet dipengaruhi oleh motif menggunakan internet, jaringan hubungan internet dan biaya penggunaan internet. Jika frekuensi mengakses internet dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap pengguna maka semakin sering pengguna mengakses situs tertentu maka akan mempengaruhi perilakunya. Intensitas penggunaan yakni terdapat dua hal mendasar yang harus diamati untuk mengetahui

intensitas penggunaan internet seseorang, yakni keaktifan berdasarkan frekuensi internet yang sering digunakan dan lama menggunakan setiap kali mengakses internet (Kusumaardhiati, 2011).

Sudah menjadi rahasia umum kalau di internet dengan mudah didapatkan materi porno baik itu berupa cerita, gambar, film atau chatting. Materi ini semakin tersebar melalui situs-situs dan ada juga yang melalui mailing-list. Erotika di internet bukan saja berkembang menjadi sebuah kebutuhan pribadi tapi juga menjadi komoditi yang diperjualbelikan secara komersil dan dilakukan secara profesional (Asfriyati, 2006).

Sering tidaknya remaja mengakses internet terutama situs-situs porno akan mempengaruhi perkembangan dan kejiwaan remaja tersebut terutama dalam masalah seks. Hasil wawancara dengan informan diketahui bahwa Informan 1 bermain internet 3-4 kali seminggu, demikian juga informan 2 bermain internet 3- 4 kali seminggu, informan ketiga dan keempat mengaku hampir setiap hari bermain internet baik di rumah ataupun di warnet. Kemudahan remaja mengakses internet (memiliki akses internet di rumah) dan terpapar dalam jumlah yang tinggi terutama paparan situs-situs porno maka remaja tersebut memiliki kecenderungan untuk berperilaku seperti yang dilihatnya tersebut. Hal ini juga didukung oleh kurangnya pengawasan dari orang tua, meningkatnya hormon-hormon dalam tubuh remaja tersebut.

5.2.2. Pengaruh Durasi terhadap Perilaku Seks Bebas di SMA XYZ

Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh durasi bermain internet terhadap perilaku seks bebas di SMA XYZ menunjukkan bahwa sebagian besar responden bermain internet dengan durasi ≤2 jam per hari yaitu 56,8%, sebagian kecil yang bermain internet dengan durasi >2 jam per hari yaitu 43,2%. Responden yang mengakses internet dengan durasi ≤2 jam/hari sebagian besar perilaku seks be bas dalam kategori ringan yaitu 14 orang (66,7%), sedangkan dari responden yang mengakses internet dengan durasi >2 jam/hari sebagian besar perilaku seks dalam kategori berat yaitu 14 orang (87,5%). Hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa durasi bermain internet tidak berpengaruh terhadap perilaku seks bebas pada remaja di SMA X tahun 2012 (p=0,251).

Penelitian Fadhila (2008), bahwa sebagian besar responden menyatakan 1 jam adalah lamanya waktu mengakses situs porno yaitu sebanyak 78 orang (64,5%), sedangkan sebagian kecil responden menyatakan bahwa 2 jam adalah lamanya waktu mengakses situs porno yaitu sebanyak 13 orang (10,7%).

Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Lubis (2010) bahwa sebanyak 31,8% responden mengatakan dirinya dapat menghabiskan waktu lebih dari 3 jam setiap kali mengakses internet, 28,4% menghabiskan waktu 1-2 jam, 26,1% menghabiskan waktu 2-3 jam, dan 13.6% menghabiskan waktu kurang dari 1 jam mengakses internet.

Para peneliti menyimpulkan bahwa hanya dalam 30 menit, televisi sudah dapat mengubah kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang dalam beberapa bulan.

Dampak media massa itu dapat dijelaskan melalui teori kultivasi yang menggambarkan kekuatan media dalam membentuk sikap dan perilaku seseorang. Dewasa ini teori itu mulai digunakan untuk meneliti masalah kesadaran gender dalam masyarakat seperti yang dilakukan oleh Terry Fruch dan Paul McGhee (1975) yang menemukan bahwa seorang anak yang tertolong ‘heavy viewers’ (menonton televisi lebih kurang 25 jam per minggu) lebih memegang stereotip peran gender tradisional daripada yang ‘light viewers’ (menonton televisi lebih kurang 10 jam per minggu).

Semakin lama seseorang mengakses internet atau terpaparkan oleh hal-hal yang berbau erotis, maka akan semakin membekas dalam ingatan dan persepsi mereka tentang hal-hal yang erotis tersebut. Dengan kata lain, semakin lama remaja mengisi harinya dengan mengakses internet, semakin besar kemungkinan persepsi mengenai frekuensi dan norma hal yang dipaparkan berpengaruh kuat sehingga tidak sesuai dengan kenyataan. Terbentuknya sikap seksual yang semakin permisif berdasarkan durasi mengakses internet dapat juga dikaitkan dengan kondisi observasi dimana remaja yang mengakses internet dengan durasi yang lama, maka mereka cenderung mempelajari dan melakukan imitasi sikap yang mereka peroleh dari hal- hal erotis yang telah mereka akses melalui internet seperti film (video) porno, gambar-gambar porno, dan cerita porno.

Hasil wawancara dengan informan bahwa informan 1 biasanya bermain internet rata-rata 3-4 jam setiap kali mengakses internet. Informan 2 mengaku rata- rata bermain internet selama 2 jam setiap mengakses internet. Informan 3 rata-rata bermain 3-4 jam terutama pada malam hari. Informan 4 mengatakan kira-kira 2-3 jam

mengakses internet. Terlihat bahwa informan rata-rata >2 jam setiap mengakses internet. Pada umumnya mereka lebih suka mengakses game online ataupun situs porno saat mengakses internet, sehingga tidak terasa waktunya atau lupa waktu dan mereka melakukan akses internet tersebut lebih banyak pada malam hari. Hal ini selain faktor lalu lintas data yang lebih cepat dibandingkan siang hari, pada malam hari mereka tidak mempunyai aktivitas seperti sekolah.

Kecenderungan untuk mengakses situs porno lebih lama juga karena kurangnya pengawasan dari orang tua, seperti meletakkan komputer (jaringan internet) di dalam kamar remaja sehingga orang tua tidak dapat mengontrol, seperti informan 3 yang mengatakan “Hampir tiap hari saya maen internet karena internet ditaruh di kamar saya, saya bebas membuka situs porno dan mendownload film seks.” Sedangkan informan 1 dan informan 2 tidak membuka situs porno di rumah karena takut ketahuan keluarga, dan komputer (jaringan internet) diletakkan di ruang tamu sehingga kecenderungan untuk diketahui orang lain lebih besar.

5.2.3. Pengaruh Menonton Video Porno terhadap Perilaku Seks Bebas di SMA XYZ

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah terpapar atau menonton video porno di internet (62,2%), selebihnya tidak pernah menonton video porno di internet (37,4%). Responden yang tidak terpapar menonton video porno sebagian besar perilaku seks bebas dalam kategori ringan yaitu 13 orang (92,9%), sedangkan dari 23 responden yang terpapar menonton video porno sebagian besar perilaku seks dalam kategori berat yaitu 20

orang (87,0%). Hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa menonton video porno berpengaruh signifikan terhadap perilaku seks bebas pada remaja di SMA XYZ tahun 2012 (p=0,005) dan nilai koefisien regresi (β)=4,029.

Hasil Penelitian Muslim (2005) terhadap kebiasaan 87 pengunjung Warnet Triple G-II Medan terhadap materi film (video) porno yaitu menyatakan sering sebanyak 41 orang (47,13%), menyatakan kadang-kadang sebanyak 32 orang (36,78%), menyatakan tidak pernah sebanyak 11 orang (12,64%), dan menyatakan sangat sering 3 orang (3,45%).

Demikian juga hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Sari (2010), yang meneliti tentang perilaku cybersex pada remaja di Kota Medan diperoleh hasil bahwa sebanyak 171 respon (27,11%) lebih menyukai mengakses video porno di internet.

Masa remaja sebagai masa storm and stress dapat menimbulkan kesulitan dan frustrasi dalam periode kehidupan remaja dengan banyaknya tekanan yang dialami mulai dari lingkungan keluarga, sekolah maupun dari teman. Semua hal yang dapat menyebabkan frustasi tersebut – terutama frustasi agresi dan hormon seksual yang sedang meningkat – dapat dilepaskan di dunia internet dengan mengakses situs dan film-film (video) porno untuk memuaskan kebutuhan berekspresi, eksplorasi dan eksperimen. Dengan mengakses video porno, akan mempengaruhi perilaku seksual remaja yaitu dengan berupaya meniru adegan-adegan yang ditontonnya dalam video tersebut (Paat, 2006).

Hal ini terlihat dari jawaban informan 2, informan 3, dan informan 4 yang diwawancarai tentang apa yang paling disenangi dalam mengakses situs porno. Mereka lebih suka mengakses atau menonton video porno dibandingkan dengan gambar porno maupun cerita porno. Video porno lebih menyenangkan karena gambarnya hidup (bergerak), ada jalan ceritanya, bisa dilihat dari berbagai posisi sehingga tidak membosankan. Dengan menonton video porno tersebut mereka kadang berkhayal menjadi pemain dalam video itu sehingga kecenderungan untuk melampiaskan dengan pacar atau pelacur lebih besar. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin sering menonton video porno maka semakin besar remaja untuk berperilaku seks bebas.

5.2.4. Pengaruh Melihat Gambar Porno terhadap Perilaku Seks Bebas Remaja di SMA XYZ

Berdasarkan hasil penelitian bahwa sebagian besar responden telah terpapar atau melihat gambar porno di internet (64,9%), selebihnya tidak pernah melihat gambar porno di internet (35,1%). Responden yang tidak terpapar melihat gambar porno sebagian besar perilaku seks bebas dalam kategori ringan yaitu 9 orang (69,2%), sedangkan responden yang terpapar melihat gambar porno sebagian besar perilaku seks dalam kategori berat yaitu 17 orang (70,8%). Hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa melihat gambar porno tidak berpengaruh terhadap perilaku seks bebas pada remaja di SMA XYZ tahun 2012 (p=0,193).

Penelitian Muslim (2005) terhadap kebiasaan 87 pengunjung Warnet Triple G-II Medan terhadap materi gambar porno yaitu menyatakan sering sebanyak 47

orang (54,02%), menyatakan sangat sering sebanyak 20 orang (22,99%), menyatakan kadang-kadang sebanyak 19 orang (21,84%), dan menyatakan tidak pernah yaitu 1 orang (1,15%).

Demikian juga hasil penelitian Sari (2010) yang meneliti perilaku cybersex remaja di Kota Medan diperoleh hasil bahwa sebanyak 163 respon (25,83%) mengakses gambar porno di internet.

Tersedianya materi-materi porno di dunia maya dengan segala kemudahan mengaksesnya, dapat menjadi tempat pelarian remaja dari ketegangan mental dan dapat memperkuat pola perilaku yang mengarah pada kecanduan. Hal ini disebabkan karena gambar-gambar erotis atau porno dapat meningkatkan neurotransmitter ketika terjadi rangsangan seksual yang menghasilkan efek menyenangkan sehingga menimbulkan kecenderungan untuk diulang kembali yang secara psikologis dapat menimbulkan adiksi atau kecanduan (Paat, 2006).

Wawancara dengan informan 3 dan informan 4 menunjukkan bahwa dia lebih menyukai gambar dan video porno ketika mengakses situs porno. Gambar-gambar porno dapat dipandangi hingga detil karena tidak bergerak, gambar-gambar porno tersebut lebih ‘hot’, kadang gambar-gambar tersebut dibuat oleh sang pengunggah secara artistik sehingga lebih menggairahkan. Selain itu gambar-gambar porno dapat disimpan dalam bentuk file yang lebih kecil dibandingkan file film. Selain itu, foto atau gambar-gambar porno tersebut dapat dicetak (diprint) sehingga beberapa orang yang senang mengkhayal akan mencetak foto-foto tersebut agar mudah dipandangi.

5.2.5. Pengaruh Membaca Cerita Porno terhadap Perilaku Seks Bebas Remaja di SMA XYZ

Berdasarkan hasil penelitian tentang cerita porno terhadap perilaku seks bebas remaja bahwa sebagian besar responden telah terpapar atau membaca cerita porno di internet yaitu 19 orang (51,4%), selebihnya tidak pernah membaca cerita porno di internet yaitu 18 orang (48,6%). Responden yang tidak terpapar membaca cerita porno sebagian besar perilaku seks bebas dalam kategori ringan yaitu 11 orang (61,1%), sedangkan dari 19 responden yang terpapar membaca cerita porno sebagian besar perilaku seks dalam kategori berat yaitu 14 orang (73,7%). Hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa membaca cerita porno tidak berpengaruh terhadap perilaku seks bebas pada remaja di SMA XYZ tahun 2012 (p=0,193).

Hasil penelitian Sari (2010) diperoleh sebanyak 92 responden (14,58%) mengakses cerita porno di internet. Ini menunjukkan bahwa responden yang mengakses cerita porno lebih sedikit dibandingkan dengan yang melihat gambar porno dan menonton video porno.

Penelitian Muslim (2005) terhadap kebiasaan 87 pengunjung Warnet Triple G-II Medan terhadap materi cerita porno yaitu menyatakan sangat sering sebanyak 39 orang (44,83%), menyatakan sering sebanyak 23 orang (26,44%), menyatakan kadang-kadang sebanyak 15 orang (17,24%), dan menyatakan tidak pernah yaitu 10 orang (11,49%).

Cerita porno atau cerita seks yaitu karya pencabulan yang mengangkat cerita dari berbagai versi hubungan seksual yang disajikan dalam bentuk narasi ataupun

pengalaman pribadi secara detail dan vulgar, sehingga si pembaca merasa ia menyaksikan sendiri, mengalami atau melakukan sendiri peristiwa hubungan- hubungan seks tersebut. Pornografi yang mempertontonkan gambar telanjang dan cerita-cerita tentang hubungan seksual dengan tujuan tidak untuk menjelaskan secara benar fungsi alat kelamin, melainkan lebih untuk membuat pembaca khususnya remaja berkhayal melakukan adegan seperti yang diceritakan dalam cerita tersebut (Bungin, 2003).

Wawancara dengan keempat informan menunjukkan bahwa mereka kurang menyukai cerita porno di internet karena malas membacanya. Tetapi, beberapa orang lebih menyukai cerita porno dibandingkan melihat gambar dan menonton video porno, karena dengan membaca cerita porno dia mengetahui detil peristiwa tersebut, sehingga terjadinya hubungan seksual. Dalam penelitian ini juga terlihat sebanyak 51,4% responden pernah atau menyukai membaca cerita porno yang mereka akses di internet.

5.3. Pengaruh Teman Sebaya terhadap Perilaku Seks Bebas Remaja di