BAB 4. HASIL PENELITIAN
5.3. Pengaruh Teman Sebaya terhadap Perilaku Seks Bebas
Pada masa remaja, kecenderungan menjadi anggota teman sebaya (peer group) sangat kuat. Remaja menginginkan teman dan menjadi bagian dari ikatan di antara sesama mereka. Pola sikap tindakan yang diakui dan dihargai dalam ikatan teman sebaya dianggap sebagai suatu pengakuan terhadap superioritas. Interaksi yang intensif ini dan disertai oleh fenomena disebut konformitas atau tekanan teman sebaya. Di samping itu, keinginan remaja untuk diterima sebagai anggota kelompok
dengan berusaha beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan kelompok seperti cara berbicara, berpakaian, sampai masalah seks. Dalam penelitian ini paparan media internet dikaji berdasarkan konformitas dan adaptasi.
5.3.1. Pengaruh Konformitas terhadap Perilaku Seks Bebas Remaja di SMA XYZ
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar tekanan teman sebaya (konformitas) dalam kategori kuat (59,5%), selebihnya kategori lemah (40,5%). Responden yang menyatakan konformitas dalam teman sebaya lemah sebagian besar perilaku seks bebas dalam kategori ringan yaitu 13 orang (86,7%), sedangkan responden yang menyatakan konformitas dalam teman sebaya kuat sebagian besar perilaku seks dalam kategori berat yaitu 19 orang (86,4%). Hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya berpengaruh signifikan terhadap perilaku seks bebas pada remaja di SMA XYZ tahun 2012 (p=0,014) dan nilai koefisien regresi (β)=3,242.
Penelitian Gultom (2011) di SMA Methodist 4 Medan bahwa tindakan teman sebaya dengan perilaku seksual siswa SMA Methodist 4 medan diperoleh nilai probabilitas p= 0,002 (p<0,05), artinya terdapat hubungan yang bermakna antara tindakan teman sebaya dengan perilaku seksual remaja.
Asch (1959) menjelaskan konformitas adalah situasi dimana individu mengikuti tekanan dari kelompok walaupun tidak ada tuntutan atau permintaan langsung dari kelompok. Dikatakan juga oleh Deaux, et.al (1993) bahwa konformitas
berarti menyerah pada tekanan kelompok walaupun tidak ada permintaan langsung untuk mengikuti apa yang telah dibuat oleh kelompok tersebut.
Faktor yang juga diasumsikan sangat mendukung remaja untuk melakukan hubungan seks bebas (free sex) adalah konformitas remaja pada kelompoknya di mana konformitas tersebut memaksa seorang remaja harus melakukan hubungan seks. Santrock (2007) mengatakan, bahwa konformitas kelompok bisa berarti kondisi dimana seseorang mengadopsi sikap atau perilaku dari orang lain dalam kelompoknya karena tekanan dari kenyataan atau kesan yang diberikan oleh kelompoknya tersebut.
Sejalan dengan Hurlock (2003) yang mengatakan bahwa dalam menguasai tugas-tugas perkembangan remaja yaitu pembentukan hubungan-hubungan yang baru dan lebih matang dengan lawan jenis serta memainkan peran jenis kelamin, remaja mengalami konformitas (tekanan-tekanan) sosial baik dari lingkungan maupun dari teman sebaya tetapi yang terutama adalah minat remaja pada seksual dan keingintahuan tentang seksual cenderung meningkat.
Sarwono (2011) menjelaskan karena kuatnya ikatan emosi dan konformitas kelompok pada remaja, maka biasanya hal ini sering dianggap juga sebagai faktor yang menyebabkan munculnya tingkah laku remaja yang buruk. Apabila lingkungan peer remaja tersebut mendukung untuk dilakukan seks bebas, serta konformitas remaja yang juga tinggi pada peer-nya, maka remaja tersebut sangat berpeluang untuk melakukan seks bebas. Hal ini bukan saja mempengaruhi remaja tersebut
dalam berhubungan dengan keluarganya, tetapi juga mempengaruhi kehidupan sosial, sekolah dan harapannya.
Konformitas pada remaja juga dialami oleh beberapa informan walaupun dianggap dalam taraf yang wajar. Informan 1 mengatakan bahwa dalam pergaulan sebaya (geng) tidak ada keharusan sudah melakukan hubungan seks dengan pacar. Informan 3 mengatakan bahwa konformitas dalam teman sebaya biasanya dalam hal minum minuman keras, membicarakan masalah pacar dan seks. Sedangkan informan 4 mengatakan dalam geng mereka tidak ada tekanan, mereka bebas bergaul baik yang pernah melakukan hubungan seks maupun yang belum. Kebebasan mereka dalam berkelompok tersebut disebabkan tidak semuanya geng dibentuk atas dasar hobby yang negatif, tetapi banyak juga atas dasar hobby yang positif seperti geng sepeda gunung dan lain-lain Walaupun ada beberapa kelompok teman sebaya (geng) yang mengharuskan jika ingin menjadi anggota geng sudah pernah melakukan hubungan seks agar tidak dibilang ketinggalan zaman.
Peran orang tua sangat besar dalam mengawasi anaknya dalam pergaulan baik di rumah maupun di luar rumah. Pengawasan perlu dilakukan dengan cara-cara yang persuasif, tidak membuat remaja merasa dihakimi ataupun digurui seolah-olah remaja selalu membuat masalah yang harus terus menerus diatur. Pengawasan orang tua dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan pada anak bahwa harus hati-hati dalam memilih teman dalam bergaul. Orang tua juga harus mempunyai pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi dan pendidikan seks sehingga dapat
memberikan informasi yang tepat pada anaknya tentang seks yang sehat, bahaya melakukan hubungan seks bebas, penularan penyakit akibat perilaku seks yang tidak sehat.
5.3.2. Pengaruh Adaptasi terhadap Perilaku Seks Bebas Remaja di SMA XYZ
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar adaptasi responden terhadap teman sebaya dalam kategori lemah yaitu 19 orang (51,4%), selebihnya kategori kuat yaitu 18 orang (48,6%). Responden yang menyatakan adaptasi dalam teman sebaya lemah sebagian besar perilaku seks bebas dalam kategori ringan yaitu 15 orang (78,9%), sedangkan dari 18 responden yang menyatakan adaptasi dalam teman sebaya kuat sebagian besar perilaku seks dalam kategori berat yaitu 17 orang (94,4%). Hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa adaptasi teman sebaya tidak berpengaruh terhadap perilaku seks bebas pada remaja di SMA XYZ tahun 2012 (p=0,142).
Menurut Santrock (2007) kualitas hubungan pertemanan dengan teman sebaya akan memberikan umpan balik bagi remaja mengenai bagaimana seharusnya bersikap dan mengevaluasi diri dan orang lain. Hal ini sulit dilakukan di rumah karena saudara biasanya berusia lebih tua atau lebih muda. Hal ini didukung pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Meijs et al. (2010) mengenai keterampilan sosial dan prestasi akademik sebagai prediktor popularitas remaja, yang menunjukkan bahwa keterlibatan remaja dalam aktivitas peer group dan dapat diterima di dalamnya akan membantu remaja dalam membangun perasaan menjadi anak yang populer. Menjadi
anak yang populer dapat membantu anak dalam melakukan tindakan prososial dan menciptakan kebiasaan membantu kelompok teman sebayanya. Tindakan prososial yang dimaksud seperti kemampuan untuk memecahkan masalah sosial, perilaku sosial yang positif, dan membantu mereka dalam menjalin hubungan pertemanan.
Dalam teman sebaya, sekumpulan individu membentuk suatu kelompok yang terdiri dari teman-teman seperkembangan atau sebaya yang memiliki pola perilaku (kebiasaan) dan tujuan yang sama, dimana individu memiliki kecenderungan untuk berusaha mengikuti dan menerima segala keputusan yang dibuat oleh kelompok, sehingga persepsi individu diabaikan untuk dapat menerima persepsi kelompoknya (Taimiyah dan Utomo, 2011).
Remaja selalu berusaha untuk menemukan konsep dirinya di dalam kelompok teman sebaya. Kelompok sebaya memberikan lingkungan, yaitu dunia tempat remaja dapat melakukan sosialisasi di mana nilai yang berlaku bukanlah nilai yang ditetapkan oleh orang dewasa, melainkan oleh teman seusianya. Inilah letak berbahayanya bagi perkembangan jiwa remaja, apabila nilai yang dikembangkan dalam kelompok sebaya ini cenderung tertutup, di mana setiap anggota tidak dapat terlepas dari kelompoknya dan harus mengikuti nilai yang dikembangkan oleh kelompok teman sebaya tersebut misalnya dalam hal seks bebas (free sex).
Kecenderungan untuk mengikuti penampilan atau gaya teman sebaya terlihat juga dari hasil wawancara dengan informan 1 bahwa masalah gaya penampilan yang sering dijadikan panutan dalam teman sebaya seperti gaya rambut, dan menggunakan
softlens. Informan 2 mengatakan bahwa gaya yang diikuti dalam pergaulan teman sebaya yaitu merokok. Sedangkan informan 3 mengatakan gaya teman sebaya yang diikuti seperti minum-minum dan main judi. Sedangkan informan 4 mengatakan tidak ada masalah dalam gaya penampilan di kelompok sebaya. Remaja memang cenderung untuk mengikuti atau beradaptasi dengan teman-teman sebayanya agar dianggap sejajar, tidak ketinggalan zaman dan diterima atau diakui oleh anggota kelompok sebaya lainnya.