BAB 5. PEMBAHASAN
5.2 Pengaruh Pengalaman Masa Lalu terhadap Keputusan Adopsi Ide
Hasil uji statistik regresi logistik berganda, diketahui faktor pengalaman masa lalu sebagai indikator dalam kompatibilitas program dan alat kontrasepsi KB pria berpengaruh terhadap keputusan adopsi ide dan alat kontrasepsi KB pria.
Mengacu kepada hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa pengalaman masa lalu pria pada kalangan PNS di BPPKB Kota Medan yang bertugas sebagai pelaksana program keluarga berencana di Kota Medan khususnya Sub Bidang Pengembangan Pelayanan Keluarga Berencana yang berhubungan langsung dengan masyarakat
sebagai sasaran akseptor KB pria memengaruhi keputusan dalam mengadopsi ide dan alat kontrasepsi KB pria.
Pada analisis bivariat, persentase responden yang mempunyai pengalaman masa lalu kategori baik lebih banyak yang menerima ide dan alat kontrasepsi KB pria dibandingkan responden yang pengalaman masa lalu kategori tidak baik. Hal ini menggambarkan bahwa setiap pengalaman yang terkait dengan program KB pria menjadi bahan pertimbangan bagi responden untuk menerima atau menolak ide dan alat kontrasepsi KB pria.
Sesuai dengan Strategy Demand Creation (BKKBN, 2009) bahwa proses interaksi sosial yang berlangsung diselaraskan dengan nilai-nilai budaya lokal. Melalui proses ini proses adopsi dan mendifusikan program KB akan menguat dan bergulir semakin luas di masyarakat. Hal ini perlu didukung dengan melakukan aktivasi jaringan melalui kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait dengan program KB.
Pengalaman masa lalu tentang alat kontrasepsi KB pria jenis vasektomi dimiliki oleh seluruh responden. Hal ini sesuai penelitian Fitria (2010) yang menemukan bahwa kepala UPT Kesos KB Kecamatan Serengan sebagai salah satu sampel dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa partisipasi pria di dalam program KB di Kelurahan Serengan terhitung rendah, tetapi untuk kesadaran berKB sudah cukup baik di banding dengan kelurahan yang lain di Kecamatan Serengan ini. Peneliti mendapatkan informasi tentang akseptor vasektomi. Demikian juga sampel Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) yang bertugas di wilayah Serengan
dari tahun 2009, beliau banyak sekali membantu dalam memberikan informasi terkait dengan akseptor pria baik yang menggunakan metode kondom maupun vasektomi. Selaku petugas lapangan keluarga berencana setiap harinya beliau selalu pergi kewilayah untuk melakukan pendampingan posyandu, pendataan dan pemetaan kegiatan KB, melakukan penyuluhan, pembinaan keluarga dan mengikuti kegiatan yang ada di masyarakat.
Pengalaman responden tentang sumber informasi apa yang digunakan dalam penyebarluasan informasi tentang KB dinyatakan oleh seluruh responden (100%) dilakukan melalui penyuluhan, media cetak, informasi personal dari Petugas KB maupun media elektronik. Hal ini sesuai dengan Rancangan Strategi Komunikasi untuk Revitalisasi BKKBN dan Program KB tahun 2009 dengan menyediakan informasi yang memadai, mudah dan cepat untuk diakses, mudah dimengerti sebagai sarana untuk edukasi dan advokasi, baik melalui pos-pos bimbingan konseling/kontak langsung, talkshow di media elektronik, bentuk cetakan, multi media. Program-program iklan layanan masyarakat di televisi, mengingat biaya yang besar bisa diluncurkan ketika ada momentum atau peluncuran program dengan jangkauan wilayah yang luas.
Sesuai penelitian Yuliarti (2007) bahwa aktivitas petugas penyuluh ini penting artinya untuk menyebarkan hasil inovasi dalam program-program KB selain mengurangi kepadataan penduduk dan mengurangi beban wanita dalam rumah tangga, juga demi mewujudkan kesetaraan gender dalam upaya untuk menegakkan
hak-hak perempuan dan laki-laki atas kesempatan yang sama, pengakuan yang sama dan penghargaan yang sama oleh masyarakat.
Responden yang mempunyai pengalaman dengan mendengar informasi tentang kelemahan dan keunggulan kontrasepsi KB Pria dari masyarakat yang menjadi akseptor KB tidak memengaruhi dalam menerima ide kontrasepsi KB Pria sebanyak 61,0%.
Hasil kajian Hartanto (2008) bahwa keluhan utama yang sering diungkapkan oleh akseptor pria adalah kurangnya sensitivitas alat kelamin pria (penis) saat melakukan hubungan senggama dan alergi terhadap karet kondom. Kontrasepsi mantap pria atau vasektomi merupakan metode kontrasepsi operatif minor pada pria yang sangat aman, sederhana, dan sangat efektif, dengan waktu operasi yang singkat dan tidak memerlukan anestesi umum. Dan terkait dengan metode keluarga berencana untuk pria dalam hal ini vasektomi, masih memerlukan banyak perhatian dan promosi lebih lanjut untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi seorang pria dalam program keluarga berencana.
Keberhasilan dari upaya promosi vasektomi memiliki dua pihak, yaitu klien dan penyedia layanan. Media massa dan komunikasi interpersonal yang diarahkan kepada klien dapat menghilangkan mitos dan rumor, menyebarkan informasi akurat tentang prosedur, memberitahu pria di mana metode ditawarkan, dan mendorong orang untuk membahas vasektomi dengan keluarga dan teman-teman mereka. Keberhasilan akseptor dalam mengakses vasektomi akan sangat berpengaruh terhadap cara kita untuk mempengaruhi mereka agar terlibat di dalamnya. Vasektomi
juga perlu dipromosikan oleh seluruh sistem kesehatan dan semua staf klinik harus menerima pelatihan umum untuk membantu mereka memahami vasektomi secara lebih baik dan mampu membuat klien vasektomi merasa aman dan nyaman. Hal ini akan mendorong mereka untuk menginformasikan klien tentang vasektomi dan menawarkan konseling yang tepat sebelum menjalani operasi vasektomi. Pelatihan klinis dapat memastikan bahwa pihak yang menangani vasektomi diharapkan memiliki keterampilan bedah yang baik dan mampu menjalankan operasi dengan aman dan dengan penggunaan teknik yang paling efektif.
Sesuai penelitian Fitria (2010) bahwa partisipasi laki-laki di dalam program KB di Kelurahan Serengan menunjukkan bahwa partisipasi yang telah dilakukan oleh akseptor pria terjadi secara sukarela tanpa paksaan dari orang lain dan terkait dengan penggunaan kontrasepsi (kondom dan vasektomi) adalah menggunakan pendekatan kesetaraan gender, hal ini terbukti bahwa alasan mereka menggunakan kontrasepsi karena mereka berpikir bahwa KB adalah kewajiban bersama antara suami dan istri. Pengungkapan kerjasama yang mereka lakukan digambarkan dalam dimensi reproduksi yang mereka lakukan adalah kerjasama antara suami dan istri, oleh sebab itu untuk urusan penggunaan kontrasepsi tidak adil jika suami hanya menuntut istrinya saja dalam penggunaan kontrasepsi tersebut. Analisis penelitian Fitria juga menggunakan paradigma sosial dalam menganalisis tindakan akseptor di dalam penggunaan kontrasepsi yang merupakan tindakan sosial yang diarahkan kepada orang lain, dalam hal ini tindakan pemakaian kontrasepsi yang dilakukan oleh suami melalui arahan dari istri. Di dalam penelitian ini juga menggunakan analisis teori aksi
yaitu terkait dengan tindakan yang dilakukan oleh akseptor pria di dalam penggunaan kontrasepsi merupakan kesadaran pribadi yang timbul dari dalam diri akseptor dengan tujuan untuk mensejahterakan istri dan keluarga.
Program KB pria merupakan program pemerintah yang bersifat nasional karena sasaran program ini adalah seluruh pria yang telah menikah (pasangan usia subur). Dengan demikian upaya meningkatkan jumlah akseptor KB pria dapat dilakukan dengan sistem pengerahan massa, yaitu melakukan suatu gerakan yang dapat memobilisasi pria untuk mau menggunakan kondom atau menjalani vasektomi. Namun sistem ini dapat menimbulkan masalah apabila pria yang dimobilisasi menjadi akseptor KB pria mengalami efek yang tidak baik akibat penggunaan kondom maupun vasektomi. Kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkecimpung pada bidang kependudukan dan kesehatan untuk memberikan penilaian negatif terhadap program KB pria.
Untuk mengantisipasi munculnya permasalahan tersebut perlu pertimbangan dan kajian secara mendalam tentang penggunaan upaya pengerahan masa dalam meningkatkan pencapaian KB pria. Sebagaimana konsep adopsi inovasi yang dikembangkan Rogers (1983), maka proses adopsi ide dan alat kontrasepsi KB pria lebih logis apabila dilakukan melalui sistem persuasif (pendekatan) kepada masyarakat sehingga keputusan adopsi yang dilakukan pria berdasarkan kesadaran sendiri.
5.3 Pengaruh Norma-Norma yang Berlaku terhadap Keputusan Adopsi Ide