HASIL PENELITIAN
5.3 Pengaruh Provider Factor terhadap Pemanfaatan Posyandu Lansia
Provider factor dalam penelitian adalah persepsi tentang pelayanan yang diberikan, faktor petugas yang memberikan pelayanan serta fasilitas atau peralatan yang tersedia di posyandu lansia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan Posyandu Lansia berdasarkan persepsi tentang penyedia layanan (provider factor) ditemukan lebih banyak pada kategori tidak baik, yaitu sebanyak 96 orang (62,3%). Berdasarkan uji statistik Chi-square diperoleh nilai
X
2=41,288; p=0,000<0,05,menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara persepsi tentang penyedia layanan dengan pemanfaatan Posyandu Lansia.
Hasil uji multivariat variabel persepsi tentang penyedia layanan berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan Posyandu Lansia dengan probabilitas p=0,002<0,05. nilai Exp(B)= 16,570; CI For Exp (B) (2,769-99,166). Hal ini berarti responden yang memiliki persepsi tentang penyedia layanan kategori baik mempunyai peluang 16,570 kali memanfaatkan Posyandu Lansia dibandingkan dengan responden yang memiliki persepsi tentang penyedia layanan kategori tidak baik.
a. Persepsi tentang Pelayanan yang di Berikan
Sebagian besar pelayanan Posyandu Lansia dilakukan pada Poskesdes. Diperoleh data bahwa lima dari tujuh posyandu berada di Poskesdes, selebihnya dilaksanakan di Meunasah Gampong dan Balai Desa. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan pengertian posyandu dimana posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, dan untuk masyarakat guna memberdayakan masyarakat
dengan menitikberatkan pelayanan pada upaya promotif dan preventif. Bila pelayanan di lakukan di poskesdes maka dikhawatirkan upaya pelayanan
yang dilakukan dapat bergeser lebih kepada upaya kuratif karena dari penelitian yang telah dilaksanakan rata-rata Lansia yang berkunjung ke poskesdes lebih banyak yang meminta pengobatan dan mengeluh sakit.
Hasil wawancara dengan responden dan observasi lapangan oleh peneliti sendiri diketahui sebagian besar responden menyatakan jenis pelayanan Posyandu
Lansia belum memadai dan belum sesuai dengan harapan lansia hal ini dapat dilihat dari pernyataan responden yang menyatakan bahwa : (1) kader dan petugas kesehatan di Posyandu Lansia tidak terampil dalam melayani pasien. Hal ini dikarenakan oleh pembagian tugas tidak dilakukan dengan benar maka pelayanan yang diberikan tidak dilakukan secara sistematis dan pasienpun berebut untuk diperiksa sehingga bidan atau petugas kesehatan yang ada menjadi terburu-buru dalam memberikan pelayanan, kemudian tidak semua kader telah memperoleh pembinaan, pelatihan dan pengembangan pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam memberikan pelayanan (2) kehadiran kader dan petugas kesehatan di Posyandu Lansia tidak tepat waktu dalam melayani pasien. Hal ini dikarenakan oleh jadwal keberangkatan petugas kesehatan dari puskesmas ke posyandu Lansia tidak selalu sama karena terkadang ada petugas contohnya seperti supir pusling yang terlambat datang sehingga harus ditunggu, setelah smua peralatan dan petugas posyandu tiba barulah berangkat ke posyandu lansia yang dituju. (3) kader dan petugas kesehatan di Posyandu tidak mempunyai rasa keperdulian/perhatian dalam melayani pasien. Hal ini dikarenakan oleh banyaknya jumlah lansia dan sistem kerja yang tidak sistematis sehingga Lansia yang hadir lebih awal kemungkinan belum memperoleh pelayanan sedangkan Lansia yang baru datang telah mendapat makanan tambahan dan diperiksa oleh petugas. Keadaan ini sebetulnya dapat dihindari dengan cara menerapkan sistem 3 meja secara benar sehingga pelayanan yang diberikan dapat dilakukan secara adil dan merata. (4) Jadwal pelayanan belum sesuai dengan waktu yang dimiliki oleh lansia. Hal ini dapat dikarenakan sebagian besar Lansia yang berada dikecamatan Blangjerango masih suka bekebun dan melakukan aktifitas sehari-hari seperti
membersihkan rumah, memcuci, memasak dan lain-lain, sehingga agak sulit untuk datang pagi hari keposyandu.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Aswan (2006) di Kabupaten Banggai Kepulauan Provinsi Sulawesi Tengah, mengungkapkan bahwa persepsi Lansia tentang posyandu Lansia meliputi harapan terhadap pemeriksaan dan pengobatan yang lebih lengkap mempunyai hubungan yang signifikan dengan pemanfaatan posyandu Lansia. Demikian juga dengan hasil penelitian Henniwati (2008) di Puskesmas Kabupaten Aceh Timur menyimpulkan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi pengambilan keputusan Lansia untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan adalah kualitas pelayanan.
b. Faktor Petugas yang Memberikan Pelayanan
Hasil wawancara dengan responden dan observasi lapangan oleh peneliti sendiri maka dapat diambil suatu makna bahwa Lansia datang ke Posyandu Lansia di Kecamatan Blangjerango merasakan petugas kesehatan dan kader dalam memberikan pelayanan kurang ramah serta jam pelayanan tidak sesuai dengan jadwal, sehingga Lansia menjadi kurang termotivasi dalam memanfaatkan Posyandu.
Untuk jumlah petugas peneliti merasa sudah cukup memadai tetapi akan lebih baik jika pembagian tugas dilakukan secara sistematis dan sesuai dengan porsinya. Kemudian kondisi Lansia yang rentan terhadap penyakit pikun sebaiknya sering di ingatkan kembali oleh petugas mengenai jadwal posyadu dan disesuaikan dengan waktu yang dimiliki lansia.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Suwarsono (2003) di Dusun Klowok Lor Kabupaten Temanggung, bahwa Lansia yang belum datang secara teratur karena sering lupa jadwal pelaksanaan posyandu tidak tepat setiap bulannya dan adanya kesibukan bekerja di sawah. Demikian juga hasil penelitian Aswan (2006) di Kabupaten Banggai Kepulauan Provinsi Sulawesi Tengah, mengungkapkan bahwa persepsi Lansia tentang posyandu Lansia tentang jam buka sesuai jam kerja mempunyai hubungan yang signifikan dengan pemanfaatan posyandu Lansia.
Kader mempunyai peranan sentral dalam pelaksanaan program Posyandu yang terintegrasi di masyarakat. Konsep posyandu, yaitu pelayanan dari masyarakat, untuk masyarakat dan oleh masyarakat. Agar penampilan kerja kader posyandu dapat meningkat maka perhatian terhadap kemampuan kader posyandu dan motivasi kerja kader merupakan prasyarat untuk meraih prestasi kerja yang optimal.
Kader selain mempunyai tugas dan fungsinya juga harus mampu berkomunikasi dengan efektif, baik dengan individu, kelompok maupun masyarakat, kader juga harus dapat membina kerjasama dengan semua pihak yang terkait dengan pelaksanaan Posyandu, serta dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan Lansia (Depkes RI, 2006).
Citra diri kader sebagai salah satu petugas dalam pelayanan Posyandu harus diperhatikan dan meningkatkan kualitas diri sebagai orang yang dianggap masyarakat dapat memberi informasi terkini tentang kesehatan, melengkapi diri dengan keterampilan yang memadai, membuat kesan pertama yang baik dan memperhatikan citra yang positif, menetapkan dan memutuskan perhatian lebih cermat pada
kebutuhan masyarakat, menampilkan diri sebagai bagian dari anggota masyarakat itu sendiri, mendorong keinginan masyarakat untuk datang ke Posyandu (Depkes RI, 2006).
Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Kristiani (2006) di Kota Denpasar, bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh masyarakat sangat dipengaruhi oleh peran kader sebagai motor penggerak. Hal tersebut dikarenakan salah satu tugas utama kader adalah menggerakkan masyarakat untuk datang ke posyandu.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Santosa (2007), tentang persepsi masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan menyimpulkan bahwa secara keseluruhan dimensi-dimensi penting yang perlu mendapat perhatian guna peningkatan dan perbaikan lebih lanjut pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah menyangkut: keterjangkuan lokasi, ketepatan kehadiran tenaga kesehatan perawat, kemampuan dokter dari tanggapan terhadap keluhan pasien, keramahan dan kesopanan, kesesuaian pelayanan dengan harapan pesakit. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa personil kesehatan atau provider kesehatan dalam sebuah organisasi merupakan fokus daripada hasil karya organisasi tersebut. Artinya, bahwa personil kesehatan atau provider kesehatan harus mempunyai ciri dan sifat yang melekat pada dirinya.
c. Fasilitas atau Peralatan yang Tersedia di Posyandu Lansia
Hasil observasi pada posyandu lansia diketahui bahwa fasilitas yang ada di posyandu lansia sudah lengkap sesuai dengan standar peralatan posyandu lansia (Depkes RI, 2005). Meskipun fasilitas atau peralatan yang tersedia di posyandu lansia Sudah sesuai standar, namun lansia merasakan belum memenuhi kebutuhnnya
Fasilitas Posyandu turut berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan. Hasil penelitian ini sesuai dengan Budioro (2002), mengungkapkan bahwa pelayanan kesehatan adalah segala kegiatan yang secara langsung atau tidak langsung berupaya untuk menghasilkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan atau dituntut oleh masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatannya.
Berdasarkan pengamatan penulis, fasilitas kesehatan (sarana dan prasarana) yang tersedia pada posyandu Lansia belum sesuai dengan kebutuhan kesehatan Lansia yang mengalami proses degeneratif. Menurut Azwar (1996), tuntutan kesehatan berkaitan dengan tersedianya sarana dan prasarana kesehatan, dengan demikian perkembangan teknologi harus selalu diperhatikan agar kegiatan pelayanan kesehatan dapat memberikan pelayanan bermutu terhadap konsumen.
Jarak Posyandu Lansia yang harus dijangkau menurut responden juga masih menjadi masalah. Berdasarkan hasil wawancara responden menyatakan bahwa jarak posyandu yang jauh membuat responden merasa kurang nyaman untuk menjangkau tempat pelayanan. Berdasarkan hasil observasi di ketahui bahwa rata-rata jarak tempuh terjauh dari rumah lansia ke posyandu adalah 1.5 km bahkan di desa Peparik Gaib jarak terjauh yang harus ditempuh lansia berjarak hampir 3 km jauhnya.
Sebagian besar Lansia di Blangjerango tidak mahir menggunakan kendaraan dan angkutan umum jg tidak selalu ada jadi apabila keluarga Lansia tidak dapat/tidak bersedia mengantarkan lansia ke posyandu maka lansia harus berjalan kaki menuju posyandu hal ini tentu saja dapat menimbulkan kelelahan atau kecelakaan fisik akibat penurunan daya tahan tubuh/kekuatan fisik, sehingga Lansia menjadi kurang termotivasi dan menjadi malas untuk mengikuti posyandu Lansia.
Hasil penelitian ini sesuai dengan temuan Erfandi (2008), bahwa kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan dan kenyamanan bagi Lansia. Demikian juga hasil penelitian Rivai (2005) di Puskesmas Binjai, mengungkapkan bahwa persepsi masyarakat tentang lokasi posyandu berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan. Hal ini didukung hasil penelitian Adri (2008) di provinsi NAD, bahwa variabel jarak tempuh, variabel waktu tempuh dan variabel sarana transportasi dari tempat tinggal responden ke pelayanan kesehatan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan.
Menurut Notoatmojo (2005), jarak dari tempat tinggal ke sarana kesehatan mendukung Lansia dalam mengakses pelayanan kesehatan. Hasil pengkajian WHO di negara-negara berkembang menyatakan bahwa meskipun kesadaran dan pengetahuan masyarakat sudah tinggi, apabila tidak didukung oleh keterjangkauan sarana kesehatan maka akan sulit untuk mewujudkan perilaku sehat tersebut.
Kotler (2000), menyatakan perilaku pasien sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan dapat dijadikan kiat dasar untuk menghubungkan kualitas pelayanan dan
minat. Perilaku konsumen untuk menggunakan pelayanan yang sama apabila mereka merasa terpenuhi keinginannya dengan pelayanan yang mereka terima. Pembeli atau pengguna yang merasa terpenuhi keinginannya akan kualitas jasa yang mereka terima akan membeli atau menggunakan ulang produk atau jasa itu kembali. Minat perilaku konsumen untuk membeli atau menggunakan jasa dari pemberi jasa yang sama sangat dipengaruhi oleh pengalaman terhadap pelayanan yang diberikan sebelumnya.