• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Risiko Terhadap Kinerja

Dalam dokumen Buku 3. Efisiensi dan Kinerja Bank.pdf (Halaman 80-82)

ANALISIS DAN TEMUAN TEORITIS

G. Pengaruh Risiko Terhadap Kinerja

Berdasarkan Tabel 5.15., menunjukkan bahwa pengaruh risiko terhadap kinerja memiliki koefisien jalur sebesar -0,495 dengan tingkat probabilitas sebesar 0,002 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis enam (H6) yang menyatakan bahwa “Risiko memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Bank umum swasta nasional di Indonesia“ dapat diterima.

Hal ini mengisyaratkan bahwa semakin tinggi risiko suatu Bank umum swasta nasional devisa di Indonesia, maka akan semakin rendah kinerjanya, atau semakin tinggi kinerja Bank umum swasta nasional devisa di Indonesia, maka semakin rendah risikonya. Hal ini disebabkan karena kinerja yang tinggi, akan menyebabkan semakin besarnya kemampuan bank untuk menyediakan dana bagi pelaksanaan manajemen risiko secara teritegrasi, sehingga risiko dapat diminimisasi menjadi semakin rendah.

Hal ini juga menunjukkan bahwa risiko kredit (non performing loan) Bank umum swasta nasional di Indonesia masih relatif tinggi, yaitu sekitar 50 % obyek penelitian yang memiliki non performing loan(kredit macet) di atas 5 %. Di lain pihak orientasi bank yang dapat dilihat dariloan to deposit ratio (LDR) dan pendapatan valuta asing. Dari sisi LDR, maka baru 13 Bank umum swasta nasional devisa di Indonesia (54,17 %) yang telah bergeser kepada fee base income (off balance sheet), sementara selebihnya yaitu sebanyak 11 BUSND (45,83 %) yang masih tetap pada orientasi lending base income(on balance sheet), sedangkan dari sisi pendapatan valuta asing hanya 4 BUSND (16,67 %) yang menghasilkan pendapatan valuta asing sekitar Rp. 2 milyar sampai dengan Rp. 160 milyar, dan sebanyak 10 BUSND (41,67 %) yang menghasilkan pendapatan valuta asing di bawah Rp. 2 milyar, serta selebihnya yaitu sebanyak 10 BUSND (41,67 %) yang bahwa tidak memiliki pendapatan valuta asing (Lihat Tabel Lampiran 5).

Penelitian ini didukung oleh pendapat Rose (2002 : 165) yang mengatakan bahwa “ semakin besar non performing loan (NPL), maka akan menyebabkan menurunnya;income, profit, rentability, return on asset(ROA) dancapital adequacy ratio(CAR), serta kesehatan perbankan, sebaliknya akan meningkatkanbad debt ratio(BDR) dan penyisihan penghapusan aktiva produktif kredit “.

Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat Coolet al. (1989 : 507 – 522) yang mengatakan bahwa “ jika terjadi perubahan lingkungan perbankan bersifat dramatis, maka terdapat hubungan negatif antara risiko dengan kembalian (kinerja) “. Hipotesis yang menyatakan bahwa risiko memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja Bank umum swasta nasional di Indonesia dalam penelitian ini, karena didasarkan pada kondisi krisis moneter pada tahun 1997, sebagai salah satu bentuk perubahan lingkungan yang dramatis telah berlalu. Hal ini berarti bahwa kondisi krisis moneter tahun 1997 masih tetap dirasakan sebagai perubahan lingkungan yang sangat dramatis sampai tahun 2004.

Dukungan lain berasal dari pendapat Tampubolon (2004 : 13) yang mengatakan penerapan manajemen risiko secara terintegrasi akan menyebabkan pengendalian risiko akan menjadi efisien yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja. Begitu pula dukungan pendapat dari Djohanputro

(2004 : 27) yang mengatakan bahwa “ dengan prinsip portofolio maka manajemen dapat membuat komposisi asset yang berisiko rendah, tetapireturnyang tinggi “.

Dukungan lainnya berasal dari penelitian empirik Liang (1989 : 297 – 305) yang menemukan hubungan negatif dan signifikan antara variabel profitabilitas dengan risiko dengan argumentasi bahwa “ di dalam ketidak-pastian yang lebih besar dan variabilitas yang lebih besar dalam perluasan kredit dan aliran kas keluar deposito akan meningkatkan biaya ”

Hal ini dapat terjadi karena bank harus membayar premi risiko yang lebih tinggi terhadap depositor, atau jika dalam hal laba yang negatif, maka bank harus melikuidasi permodalannya untuk membayar debitur. Kasus ini dapat di lihat saat terjadinya krisis perbankan pada tahun 1997 bahkan hingga tahun 2004, masih terjadi pada Bank umum swasta nasionmal devisa di Indonesia yang ditandai oleh kinerja beberapa bank sampel yang masih minus.

Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian-penelitian; Porter (1985), Tan dan Lischert (1994), Yamin et al. (1999), Raveh (2000), Ma (2000), Ecclas et al. (2001), Moynihan et al. (2002) dan Coolet al. (1989 : 507 – 522) yang diakibatkan oleh perbedaan indikator–indikator yang digunakannya adalah; standar deviasireturn on asset(SD ROA) dan standar deviasiprofit margin(SD PM), dalam penelitian ini hanya menggunakan indikator standar deviasireturn on asset(SD ROA) yang dalam perjalanan analisis penelitian ini, tidak signifikan, sehingga berdasarkan teori Triming indikator tersebut dibuang, Solimun (2004 : 56), sehingga indikator–indikator yang signifikan dalam penelitian ini tersisa

hanya standar deviasireturn on equity(SD ROE).

Menurut Rose (2002 : 165 – 170) “ para harus bankir berfokus kepada 6 tipe utama dari risiko: 1. Credit risk,merupakan bahaya kelalaian dari nasabah yang telah diberikan fasilitas kredit,2. Liquidity risk,yaitu bahaya dapat dalam muncul dari ketidakcukupan dana untuk membayar kewajiban bank saat jatuh tempo,3. Market risk,adalah bahaya perubahan nilai pasar asset bank, liabilitas, dan ekuitas yang dapat merugikan,4. Interest rate risk,merupakan bahaya terhadap timbulnya pergeseran tingkat bunga yang dapat dengan kurang baik mempengaruhi suatu pendapatan netto bank, nilai assetnya, atau ekuitasnya,5. Earning risk,adalah bahaya yang dapat muncul akibat penurunan ROA atau ROE atau earningbersihnya, dan 6. Solvency risk, yaitu bahaya akan munculnya profitabilitas negatif bank yang akan menguras modalnya. Hal ini menyebabkan standar deviasi sebagai salah satu alat tolok ukur untuk diangkat menjadi indikator dalam membentuk variabel laten risiko, hanya melihat dari sisi risiko pendapatan (earning risk) saja, menjadi lemah.

Begitupula dengan indikator–indikator kinerja dalam penelitian; Porter (1985), Tan dan Lischert (1994), Yamin et al. (1999), Raveh (2000), Ma (2000), Ecclas et al. (2001), Moynihan et al. (2002) dan Coolet al. (1989 : 507 – 522) yakni ;return on asset(ROA),profit margin(PM) danmean return on asset (Mean ROA). Sedangkan dalam penelitian ini, indikator–indikator yang masih signifikan loading factornya hingga akhir pengujian structural equation modeling adalah; return on asset(ROA), biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang dikutip dari SK Direktur Bank Indonesia Nomor : 30/277/KEP/DIR (1998), danreturn on equity (ROE) yang dikutip dari pendapat Rose (2002 : 96).

Dari uraiuan yang telah dipaparkan, maka dapat disimpulkan bahwa semakin meningkat standar deviasi tingkat pengembalian atas ekuitas (SD ROE) yang membentuk variabel risiko, maka indikator–indikator; tingkat pengembalian atas aktiva (ROA), spread tingkat bunga (NIM), rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), dan tingkat pengembalian atas modal sendiri (ROE) yang membentuk variabel kinerja Bank umum swasta nasional devisa di Indonesia, akan semakin menurun. Atau dengan kata lain bahwa, indikator standar deviasi return on equity (SD ROE) yang membentuk variabel risiko, memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap indikator–indikator; tingkat pengembalian atas aktiva (ROA),spreadtingkat bunga (NIM), rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), dan tingkat pengembalian atas modal sendiri (ROE) yang membentuk variabel kinerja Bank umum swasta nasional devisa di Indonesia.

Dalam dokumen Buku 3. Efisiensi dan Kinerja Bank.pdf (Halaman 80-82)

Dokumen terkait