• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Teknik Komunikasi terhadap Kepatuhan Berobat Penderita TB Paru Rawat Jalan RSUD Sidikalang Kabupaten Dairi TB Paru Rawat Jalan RSUD Sidikalang Kabupaten Dairi

HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

D. Produk Layanan

5.5. Pengaruh Teknik Komunikasi terhadap Kepatuhan Berobat Penderita TB Paru Rawat Jalan RSUD Sidikalang Kabupaten Dairi TB Paru Rawat Jalan RSUD Sidikalang Kabupaten Dairi

Teknik komunikasi dalam penelitian ini adalah teknik yang dilakukan oleh perawat selama penyampaian informasi kepada penderita TB paru yang datang berobat ke RSUD Sidikalang agar komunikasi berjalan dengan lancar dan efektif.

Tujuan dalam teknik komunikasi adalah dalam rangka memperoleh hasil atau efek yang sebesar-besarnya, sifatnya tahan lama bahkan kalau mungkin bersifat abadi. Jika suatu komunikasi berhasil mengubah perilaku kepercayaan dan sikap seseorang, maka perubahan tersebut diharapkan dapat benar-benar langgeng atau dapat tahan lama (Widjaja, 2000).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 37 responden yang menyatakan teknik komunikasi perawat baik, sebanyak 32 orang (86,5%) patuh berobat dan sebanyak 5 orang (13,5%) tidak patuh berobat. Kemudian, dari 16 responden yang menyatakan teknik komunikasi perawat kurang baik, sebanyak 8 responden (50,0%) patuh berobat dan 8 responden (50,0%) tidak patuh berobat. Hal ini menunjukkan bahwa teknik komunikasi yang dilakukan oleh perawat cukup efektif dalam memberikan pemahaman kepada penderita TB paru sehingga penderita TB paru patuh berobat.

Menurut Skinner yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), proses dalam penyampaian informasi sampai dapat dipahami oleh seseorang tergantung pada kemahiran intelektualnya. Untuk menangkap rangsangan atau stimulus dari orang lain sangat dipengaruhi oleh karakteristik dari orang yang bersangkutan. Faktor karakteristik seseorang digunakan untuk menggambarkan fakta bahwa tiap individu mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena adanya ciri-ciri individu yang berbeda-beda. Oleh sebab itu dalam memberikan informasi hendaknya dilakukan dengan memperhatikan kondisi penerima informasi dan teknik penyampaian informasi itu sendiri.

Hasil uji chi-square menunjukkan secara statistik variabel teknik komunikasi mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepatuhan berobat penderita TB paru (p = 0,005). Hal ini mengindikasikan bahwa teknik dan media informasi digunakan dalam penyampaian informasi serta merta akan meningkatkan pemahaman penderita TB paru tentang penyakit dan prosedur pengobatannya sehingga patuh berobat, hal ini kemungkinan disebabkan karena teknik atau metode yang digunakan oleh perawat bervariasi sehingga cukup menarik perhatian, juga mungkin perawat tidak terlalu mendominasi selama pembicaraan berlangsung sehingga pasien cukup mendapat kesempatan untuk bertanya dan mengungkapkan pendapatnya. Selain itu, informasi yang disampaikan perawat melalui media cukup jelas sehingga pasien tidak mengalami salah tafsir terhadap informasi yang tertera pada media.

Hal ini sesuai dengan pendapat Ley dan Spelman dalam Niven (2002) yang menyatakan bahwa tak seorang pun mematuhi instruksi jika ia salah pesan tentang

intstruksi yang diberikan kepadanya. Ley dan Spelman menemukan bahwa lebih dari 60% yang diwawancarai setelah bertemu dengan dokter salah mengerti tentang instruksi yang diberikan pada mereka.

Sedangkan menurut Sarwono (2007), hal-hal yang dapat menghambat komunikasi antara petugas kesehatan dengan pasien adalah penggunaan simbol (istilah-istilah medis atau ilmiah yang diartikan secara berbeda atau sama sekali tidak dimengerti oleh pasien); dan pseudo komunikasi (tetap berkomunikasi dengan lancar padahal sebenarnya pasien tidak sepenuhnya mengerti atau mempunyai persepsi yang berbeda tentang apa yang dibicarakan). Seringkali petugas kesehatan memberikan terlalu banyak informasi dan berbicara dengan gaya paternalistik dan merendahkan pasien, terutama jika si pasien berasal dari tingkat sosial/pendidikan yang rendah. Hal-hal ini dapat menimbulkan kerancuan dalam proses komunikasi sehingga pesan yang disampaikan oleh kedua belah pihak tidak dapat mencapai sasaran seperti yang diharapkan.

Menurut Depkes RI (1999), dalam melaksanakan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS) dapat menggunakan metode yang beragam, seperti ceramah dan konseling serta menggunakan media penyuluhan seperti poster,

leaflet, video/film, dan lain-lain. Metode dan media yang beragam diharapkan dapat

lebih meningkatkan pemahaman sasaran terhadap informasi yang disampaikan. Selain itu, perawat harus berusaha mengerti pasien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan pasien. Mendengar merupakan dasar utama dalam komunikasi, dengan mendengar perawat mengetahui perasaan pasien. Beri kesempatan lebih

banyak pada pasien untuk berbicara dan menguraikan persepsinya. Perawat harus menjadi pendengar yang aktif. Apabila perawat ingin mengerti pasien, maka perawat harus melihat segala sesuatunya dari perspektif. Pasien harus merasa bebas untuk menguraikan persepsinya kepada perawat. Refleksi menganjurkan pasien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri, dengan demikian perawat mengidentifikasi bahwa pendapat klien adalah berharga dan pasien mempunyai hak untuk mengemukakan pendapatnya, untuk membuat keputusan, dan memikirkan dirinya sendiri (Morrison, 2009).

Agar pesan dapat sampai dengan benar, perawat perlu memberikan contoh yang kongkret dan mudah dimengerti pasien. Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti. Perawat tidak seharusnya memutuskan pembicaraan berlanjut tanpa informasi yang baru. Perawat perlu memberikan umpan balik kepada pasien dengan menyatakan hasil pengamatannya, sehingga dapat diketahui apakah pesan dapat diterima dengan benar (Meidiana, 2008).

Selanjutnya, berdasarkan hasil uji regresi logistik ternyata teknik komunikasi memengaruhi kepatuhan berobat dimana nilai p = 0,009. Besar pengaruh teknik komunikasi dapat dilihat dari nilai Exp (B) dimana dari hasil terlihat bahwa jika teknik komunikasi baik maka peluang responden untuk patuh berobat 34,483 kali dibandingkan jika teknik komunikasi kurang atau tidak baik.

Menurut Graef (1996), teknik komunikasi merupakan faktor penting dalam penyampaian pesan. Berbagai metode dan teknik komunikasi dapat dilakukan untuk

menyampaikan pesan agar mudah diterima oleh sasaran. Komunikator (dalam hal ini adalah perawat) dapat menggunakan media sebagai alat bantu penyampaian pesan untuk menghindari salah persepsi. Teknik komunikasi menjadi penting karena komunikan (dalam hal ini adalah penderita TB paru) akan merasa tertarik dengan informasi yang diberikan apabila didukung dengan teknik komunikasi yang baik dan bervariasi. Jika penderita TB paru sudah merasa tertarik terhadap informasi, harapan selanjutnya adalah akan timbul keinginan untuk mencoba melakukan seperti yang disampaikan oleh petugas kesehatan. Setelah mencoba dan dirasa bermanfaat, penderita akan memutuskan untuk merubah perilakunya, yaitu patuh dalam menjalankan pengobatan.

5.6. Pengaruh Komunikasi Terapeutik terhadap Kepatuhan Berobat