• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Zat Pengatur Tumbuh

Kata hormon berasal dari kata-kerja bahasa Yunani yang berarti

“merangsang”. Ditemukan pada semua organisme multiseluler. Hormon adalah sinyal kimia yang mengkoordinasi bagian-bagian suatu organisme.

Sebagaimana pertama kali didefinisikan oleh ahli fisiologi hewan, hormon

adalah suatu senyawa yang dihasilkan oleh salah satu bagian tubuh dan

kemudian diangkut ke bagian tubuh lain, dimana hormon tersebut akan

memicu respons-respons di dalam sel dan jaringan sasaran. Karakteristik

hanya dibutuhkan dalam konsentrasi yang sangat kecil untuk menginduksi

perubahan besar dalam suatu organisme (Campbell, 2003).

1. Auksin

Istilah auksin (dari bahasa Yunani auxein, „meningkatkan‟)

pertama kali digunakan oleh Frist Went, seorang mahasiswa pascasarjana

di Negeri Belanda pada tahun 1926, yang menemukan bahwa suatu

senyawa yang belum dapat dicirikan mungkin menyebabkan

pembengkokan koleoptil oat ke arah cahaya. Fenomena pembengkokan ini, yang disebut fototropisme (Salisbury, 1995).

Campbell (2003) mengungkapkan, bahwa istilah auksin (auxin) sebetulnya digunakan untuk menjelaskan segala jenis bahan kimia yang

membantu proses pemanjangan koleoptil, meskipun auksin

sesungguhnya memiliki banyak fungsi baik pada monokotil maupun

pada dikotil. Auksin alamiah yang diekstraksi dari tumbuhan merupakan

suatu senyawa yang dinamai asam indolasetat (indoleacetic acid, IAA). Selain auksin alamiah ini, beberapa senyawa lain, termasuk beberapa

senyawa sintetik, memiliki aktivitas auksin. Meskipun auksin

mempunyai beberapa aspek perkembangan tumbuhan, salah satu

fungsinya yang paling penting adalah merangsang pemanjangan sel pada

tunas muda yang sedang berkembang.

Meyer (1973) menjelaskan, bahwa pusat sintesis auksin adalah

jaringan meristematik apikal, seperti tunas, daun muda, ujung akar, dan

organ lain pada tanaman. Konsentrasi auksin bervariasi dari satu jaringan

ke jaringan lain, konsentrasi auksin terbesar terdapat pada jaringan yang

mensintesis atau menyimpannya. Suhu merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi sintesis auksin. Suhu optimal untuk proses sintesis tidak

sama pada semua tanaman atau jaringan.

Campbell (2003) mengatakan, bahwa auksin yang ditemukan oleh

Went diketahui sebagai asam indolasetat (IAA), dan beberapa ahli

fisiologi menyamakan IAA denagn auksin. Namun, tumbuhan

mengandung tiga senyawa lain yang strukturnya mirip dengan IAA dan

menyebabkan banyak respons yang sama dengan IAA. Ketiga senyawa

tersebut dapat dianggap sebagai hormon auksin, antara lain:

a. Asam 4-kloroindolasetat (4-kloroIAA), ditemukan pada biji muda

berbagai jenis kacang-kacangan.

b. Asam fenilasetat (PAA), ditemui pada banyak jenis tumbuhan dan

sering lebih banyak jumlahnya daripada IAA, walaupun kurang aktif

dalam menimbulkan respons khas IAA.

c. Asam indolbutirat (IBA), semula diduga hanya merupakan auksin

tiruan yang aktif, namun ternyata ditemukan pada daun jagung dan

berbagai jenis tumbuhan dikotil sehingga barangkali zat tersebut

tersebar luas pada dunia tumbuhan.

Selain merangsang pemanjangan sel untuk pertumbuhan primer,

auksin mempengaruhi pertumbuhan sekunder dengan cara menginduksi

diferensiasi xilem sekunder. Auksin juga meningkatkan aktivitas

pembentukan akar adventif pada pangkal potongan dari suatu batang,

suatu efek auksin yang digunakan dalam bidang hortikultura dengan cara

mencelupkan potongan-potongan batang di dalam media perakaran yang

mengandung auksin sintetik. Benih yang sedang berkembang juga

mensintesis auksin, yang meningkatkan perkembangan buah pada banyak

tumbuhan. Auksin sintetik disemprotkan ke pohon tomat untuk

menginduksi perkembangan buah tanpa perlu melakukan penyerbukan. Ini

memungkinkan untuk menanam tomat tanpa biji dengan menggantikan

auksin yang dalam keadaan normal akan disintesis oleh biji (Campbell,

2003).

Senyawa tertentu yang disintesis oleh ahli kimia juga mampu

menimbulkan banyak respons fisiologis seperti yang ditimbulkan oleh

IAA, dan biasanya senyawa itu dianggap sebagai auksin juga. Beberapa

diantaranya yang paling dikenal baik ialah asam α-naftalenasetat (NAA),

asam 2,4-diklorofenoksiasetat (2,4-D), dan asam 2-metil-4- klorofenoksiasetat (MCPA). Karena ketiga senyawa tersebut tidak disintesis tumbuhan, maka tidak disebut hormon, tapi dikelompokkan

sebagai zat pengatur tumbuh tanaman. Banyak jenis senyawa lain bisa

dimasukkan ke dalam kelompok ini. Istilah auksin menjadi semakin meluas sejak IAA ditemukan oleh Went, sebab banyak sekali senyawa

yang strukturnya mirip dengan IAA dan menyebabkan respons serupa

auksin karena memiliki sebuah gugus karboksil yang menempel pada

gugus lain yang mengandung karbon (biasanya –CH2-), yang akhirnya

berhubungan dengan sebuah cincin aromatik (Salisbury, 1995).

a. Pusat pembentukan auksin

Pusat pembentukan auksin ialah ujung koleoptil. Jika ujung itu

dibuang, terhambatlah pertumbuhan koleoptil (Dwijoseputro, 1992).

b. Distribusi auksin

Auksin yang terbentuk di puncak koleoptil beredar ke bagian-

bagian yang ada di bawah koleoptil, jadi auksin mengalir dari puncak

ke dasar (Dwijoseputro, 1992).

c. Auksin dan pengembangan sel

Dwijoseputro (1992) mengungkapkan, bahwa berdasarkan

eksperimen-eksperimen yang telah dilakukan dapat ditarik

kesimpulan, bahwa fungsi auksin bukan hanya menambah kegiatan

pembelahan sel di jaringan meristem saja, melainkan berupa

pengembangan sel-sel yang ada di daerah belakang meristem. Sel-sel

tersebut menjadi panjang-panjang dan banyak berisi air. Auksin

mempengaruhi pengembangan dinding sel, sehingga mengakibatkan

berkurangnya tekanan dinding sel terhadap protoplas. Karena tekanan

dinding sel berkurang, maka protoplas mendapat kesempatan untuk

menyerap air dari sel-sel yang terdekat pada titik-tumbuh yang

sel yang panjang dengan vakuola yang besar di daerah belakang titik-

tumbuh.

Meyer (1973) menjelaskan, bahwa auksin dapat meningkatkan

dan menghambat pertumbuhan, dimana merupakan respon dari efek

yang diberikan, tregantung pada konsentrasi auksin. Efektivitas auksin

diberikan tidak hanya tergantung pada konsentrasi, tetapi juga jenis

tertentu respon pertumbuhan yang dipengaruhi. Beberapa efek

penghambatan auksin, terutama pada pemanjangan segmen batang

beberapa spesies dan pertumbuhan tunas pada orang lain.

d. Pengaruh cahaya terhadap auksin

Telah diketahui, bahwa ujung batang tumbuh menuju ke arah

datangnya cahaya; kejadian ini disebut fototropisme. Jika penyinaran

ujung itu hanya dari satu sisi saja, maka ujung batang itu akan

membengkok ke arah sinar. Went menghubungkan peristiwa ini

dengan aktivitas auksin. Ia membuktikan, bahwa sinar dapat merusak

auksin dan dapat pula menyebabkan pemindahan auksin ke bagian

yang menjauhi sinar.

Pernyataan ini dibuktikan sebagai berikut. Ujung koleoptil

Avena dipangkas dan pangkasan itu kemudian diletakkan di atas suatu blok agar-agar yang tengahnya disekat dengan suatu papan dari mika

(plastik). Sekat itu masuk sedikit ke dalam dasar pangkasan koleoptil

serta benar-benar mencegah hubungan antara kedua bagian agar-agar

satu bagian saja. Beberapa jam kemudian, kedua blok agar-agar A

dan B diamati konsentrasi auksinnya. Maka hasilnya adalah agar-agar

B hanya mengandung 35% dari jumlah auksin, sedang sisanya 65%

ada di agar-agar A (Dwijoseputro, 1992).

Bila berbagai macam sinar satu persatu diarahkan pada ujung

kecambah Avena, maka sinar nila-lah yang paling banyak pengaruhnya terhadap fototropisme, sedangkan sinar merah sama

sekali tidak mempunyai pengaruh terhadap pembengkokan ujung

kecambah tersebut. Hal ini menyebabkan dugaan, bahwa sinar nila

dapat merusak auksin atau mencegah terjadinya auksin. Kejadian

tersebut berhubungan erat dengan absorbsi sinar.

Ada dua macam pigmen yang menyerap sinar nila, kedua

pigmen itu ialah betakarotin dan riboflavin. Riboflavin biasanya terdapat di dalam ujung batang. Telah diketahui, bahwa ujung batang

tidak mengandung betakarotin akan tetapi fototropisme tetap

berpengaruh. Jadi kesimpulannya adalah riboflavin merupakan

pigmen yang menyerap sinar nila, dan sinar yang disesapnya itu

ternyata merusak enzim-enzim yang membantu pembentukan AIA

dari triptofan. Maka sisi yang terkena sinar (sebenarnya sinar nila)

menghambat dalam pembentukan auksin, sedang sisi yang gelap tetap

e. Auksin dan perkembangan tunas

Auksin dapat menyebabakan dormansi pucuk. Hal tersebut

dapat dibuktikan pada percobaan pemangkasan tunas pada pucuk

batang. Bila tunas pada pucuk batang dipangkas, maka tunas-tunas

yang ada di ketiak daun mulai tumbuh. Bila awalnya tuans pada

pucuk batang tidak dipangkas, pertumbuhan tunas yang ada di ketiak

daun terhambat oleh tunas yang ada di pucuk.

f. Pengaruh auksin terhadap sel-sel meristem

Pada percobaan suatu tanaman dipangkas, kemudian luka itu

diberi pasta yang mengandung AIA dalam konsentrasi tinggi, maka

terjadi pembelahan dan pengembangan sel-sel meristem, sehingga

terjadilah suatu kutil (tumor). Auksin juga mempercepat terjadinya

deferensiasi di daerah meristem dan menggiatkan kambium

membentuk sel-sel baru.

g. Pengaruh auksin terhadap gugurnya daun dan buah

Laibach cs. (1933) menemukan peran auksin yang berupa kemampuan mencegah gugurnya daun dan buah. Pada dasar tangkai

daun maupun dasar tangkai buah terdapat suatu lapis sel-sel yang pada

suatu waktu menua; dinding-dindingnya menjadi lunak, sehingga

daun atau buah menjadi terlepas dari induk batang. Kejadian ini dapat

dicegah, bila tanaman tersebut disemprot dengan larutan AIA.

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa gugurnya daun

dipengaruhi oleh suatu hormon yang diberi nama asam absisat atau

dormin. Asam absisat terdapat pada banyak tumbuhan semak maupun tumbuhan berkayu. Fungsinya ialah menghambat pertumbuhan, jadi

berlawanan dengan fungsi auksin maupun giberelin (Dwijoseputro,

1992). Auksin dapat dinonaktifkan dalam sel tanaman oleh enzim

sebagai oksidase, peroksidase, dan phenolase (Meyer, 1973).

2. Sitokinin

Seperti halnya dengan auksin, maka kinin juga merupakan suatu

nama sekumpulan zat-zat yang mempunyai fungsi sama. Berdasarkan

fungsi yang dimiliki zat ini, Letham (1963) menyebutnya sitokinin. Sitokinin yang pertama kali ditemukan adalah kinetin, suatu hormon yang terdapat di dalam batang tembakau. Zat ini meningkatkan

pembelahan sel (cytokinesis). Selain itu juga berpengaruh terhadap

pertumbuhan tunas-tunas serta akar-akar. Penelitian lebih lanjut

menyatakan, bahwa di dalam air kelapa muda dan dalam ragi terdapat

juga sejumlah kinetin. Menurut susunan kimianya, maka kinetin itu suatu

6-furfurilaminopurin.

Sitokinin ditemukan dalam tahun 1950-an, dan Skoog (1957)

berhasil mengungkapkan, bahwa sitokinin bukanlah suatu zat tunggal,

melainkan kumpulan senyawa-senyawa yang fungsinya mirip antara satu

dengan yang lain. Loveless (1991) menjelaskan, bahwa sitokinin yang

Dimana, sitokinin diperlukan untuk pertumbuhan normal dan

diferensiasi, serta meningkatkan pembelahan sel dan menahan ketuaan

(senescence). Sebagai misal sitonin yang lain ialah zeatin, suatu sitokinin yang terdiri atas adenine dan gugusan hidroksimetil-meti-lalil

(Dwijoseputro, 1992).

Loveless (1991) mengungkapkan, bahwa sitokinin menahan

menguningnya daun dengan jalan membuat kandungan protein dan

klorofil seimbang dalam daun. Ketuaan (senescence) merupakan

peristiwa menguningnya daun, yang terjadi karena protein pecah dan

klorofil rusak.

3. Giberelin

Dalam tahun 1926, F. Kurusawa menemukan suatu zat yang mempunyai sifat-sifat mirip dengan sifat-sifat auksin. Giberelin

merupakan suatu zat yang diperoleh dari jenis jamur yang hidup sebagai

parasit pada tanaman padi. Jamur itu di dalam fase sempurna dikenal

sebagai Gibberella fujikuroi dan di dalam fase tidak sempurna dikenal sebagai Fusarium moniliforme. Tanaman yang terkena giberelin itu menunjukkan gejala-gejala yang aneh, sehingga orang Jepang menyebut

bakanae yang artinya sinting. Adapun khasiat giberelin:

a. Menyebabkan tanaman menghasilkan bunga sebelum waktunya.

b. Menyebabkan terjadinya buah tanpa proses penyerbukan. Buah

c. Menyebabkan tanaman yang kerdil menjadi tanaman raksasa dalam

waktu yang singkat.

d. Menyebabkan tumbuhnya biji dan tunas dengan cepat.

e. Menyebabkan tinggi tanaman menjadi 3 sampai 5 kali tinggi normal.

Suatu kol yang biasanya hanya 3 dm tingginya, setelah diberi

giberelin, maka kol tersebut mencapai tinggi 3½ m. percobaan ini

dilakukan di University of Michigan.

f. Mempercepat tumbuhnya sayur-sayuran, dapat menyingkat waktu

panen sampai 50%. Sayuran-sayuran yang biasanya baru dapat dipetik

setelah 4 atau 5 minggu, maka dengan penggunaan giberelin, sayur-

sayuran tersebut sudah dapat dipetik setelah 2 atau 3 minggu

(Dwijoseputro, 1992).

Antara auksin dan giberelin terdapat banyak kesamaan fungsi,

namun peneliti-peneliti berhasil mengungkapkan beberapa perbedaan

antara kedua fitohormon tersebut. Hasil eksperimen mereka menunjukkan

adanya perbedaan seperti terdaftar di bawah ini. Perbedaan efek auksin

dan giberelin terhadap kegiatan berbagai tumbuhan, disadur dari buku

Hendry T. Northen Introductory Plant Science 1986, The Ronald Press Company, New York:

Tabel 2.2 Perbedaan efek auksin dan giberelin terhadap kegiatan berbagai tumbuhan Jenis Kegiatan Ada-tidaknya efek oleh: Auksin Giberelin

1 Membengkokkan koleoptil (Avena) Ya Tidak 2 Memperlambat gugurnya daun Ya Tidak 3 Menggalakkan tumbuhnya akar samping Ya Tidak 4 Larutan yang tidak terlalu pekat Ya Tidak

menghambat pemanjangan akar

5 Menghambat perkembangan tunas ketiak Ya Tidak 6 Menggalakkan perkembangan jaringan kalus Ya Tidak

7

Membantu pertumbuhan jenis tanaman yang

kerdil Tidak Ya

8 Mempercepat perkecambahan, memperpendek Tidak Ya Dormansi

9

Menggalakkan perbungaan tumbuhan dua

tahunan Tidak Ya

10

Menggalakkan perbungaan tumbuhan-hari-

panjang Tidak Ya

yang ditempatkan dalam kondisi hari-hari pendek

11 Memudahkan terjadinya partenokarpi Ya Ya

(Dwijoseputro, 1992)

Dokumen terkait