3.1. Menurut Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik
Kegiatan yang dilakukan melalui media elektronik, yang disebut juga ruang siber (cyberspace), meskipun bersifat virtual, namun dapat dikategorikan sebagai tindakan atau perbuatan hukum yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum karena kegiatan pada ruang siber tidak dapat didekati dengan ukuran dan kualifikasi hukum konvensional saja sebab jika cara ini yang ditempuh, akan terlalu banyak kesulitan dan hal-hal yang lolos dari pemberlakuan hukum. Kegiatan dalam ruang siber adalah kegiatan virtual yang berdampak sangat nyata meskipun alat buktinya bersifat elektronik.
Permasalahan yang lebih luas terjadi pada bidang keperdataan karena transaksi elektronik untuk kegiatan perdagangan melalui sistem elektronik (e-commerce) telah menjadi bagian dari perniagaan nasional dan internasional. Kenyataan ini menunjukkan bahwa konvergensi di bidang teknologi informasi, media, dan informatika (telematika) berkembang terus tanpa dapat dibendung, seiring dengan ditemukannya perkembangan baru di bidang teknologi informasi, media, dan komunikasi. Begitupun halnya dari perspektif hukum pidana. Kegiatan e-commerce ini justru membuka peluang yang besar bagi seseorang untuk berbuat jahat. Perbuatan jahat yang dilakukan di dunia maya cenderung lebih sulit untuk dibuktikan karena pelakunya belum secara jelas dapat diketahui. Pelaku
kejahatan di dunia maya bisa saja mengaburkan atau menyamarkan identitasnya untuk meciptakan rasa aman bagi dirinya, dengan demikian, subjek pelakunya harus dikualifikasikan pula sebagai orang yang telah melakukan perbuatan hukum secara nyata. Kegiatan e-commerce
mengenal adanya dokumen elektronik yang kedudukannya disetarakan dengan dokumen yang dibuat di atas kertas.
Berkaitan dengan hal itu, perlu diperhatikan sisi keamanan dan kepastian hukum dalam pemanfaatan teknologi informasi, media, dan komunikasi agar dapat berkembang secara optimal, oleh karena itu, terdapat 3 (tiga) pendekatan untuk menjaga keamanan di cyberspace, yaitu pendekatan aspek hukum, aspek teknologi, dan aspek sosial, budaya, dan etika. Pendekatan hukum bersifat mutlak untuk mengatasi gangguan keamanan dalam penyelenggaraan sistem secara elektronik, karena tanpa kepastian hukum, persoalan pemanfaatan teknologi informasi menjadi tidak optimal.
Berdasarkan hal-hal di atas yang telah dijelaskan sebelumnya, pemerintah dalam hal ini merasa perlu untuk membuat ketentuan tersendiri di luar KUHPidana yang mengatur tentang ketentuan cyber law atau hukum siber di Indonesia, sehingga pemerintah merancang dan mengesahkan Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Penerapan pasal-pasal yang terdapat di dalam KUHPidana terkesan menyamakan kejahatan yang dilakukan di dunia nyata dengan kejahatan yang dilakukan di dunia maya, padahal
sebenarnya tidak sama dan jelas sangat berbeda meskipun dampaknya belum dapat dirasakan secara langsung oleh semua orang.
Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik muncul karena pengaruh dari globalisasi serta kemajuan dan perkembangan teknologi yang dewasa ini kian pesat. KUHPidana dirasa belum cukup untuk mencegah dan memberantas kejahatan-kejahatan yang terjadi di dunia maya, khususnya untuk kejahatan carding. Berikut ini adalah beberapa pasal di dalam Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang berkenaan dengan kejahatan carding, antara lain:
1. Pasal 30 ayat (3) berbunyi:
“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer dan/atau sistem elektronik dengan cara apa pun dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan”.
Sistem pengamanan yang dimaksud di sini adalah sistem yang membatasi akses komputer atau melarang akses ke dalam komputer dengan berdasarkan kategorisasi atau klasifikasi pengguna beserta tingkatan kewenangan yang ditentukan, sehingga dalam hal terjadinya kejahatan carding, pelaku kejahatan carding atau carder, baik secara sadar maupun tidak sadar, telah melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan yang terdapat di dalam suatu sistem elektronik yang dalam hal ini adalah sistem yang terdapat di dalam kartu kredit itu sendiri.
2. Pasal 32 ayat (1) berbunyi:
“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik milik orang lain atau milik publik”.
3. Pasal 32 ayat (2) berbunyi:
“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun memindahkan atau mentransfer informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik kepada sistem elektronik orang lain yang tidak berhak”.
4. Pasal 35 ayat (1) berbunyi:
“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dengan tujuan agar informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik”.
3.2. Pengaturan Menurut Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010
tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
Pelaku tindak pidana pada umumnya berusaha menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang merupakan hasil dari tindak pidana dengan berbagai cara agar harta kekayaan hasil tindak pidana susah ditelusuri oleh aparat penegak hukum sehingga dengan leluasa memanfaatkan harta kekayaan tersebut, baik untuk kegiatan yang sah maupun tidak sah, oleh karena itu, tindak pidana pencucian uang tidak hanya mengancam stabilitas dan integritas sistem perekonomian dan sistem keuangan, tetapi juga dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Menurut konsep anti-pencucian uang, pelaku dan hasil tindak pidana dapat diketahui melalui penelusuran untuk selanjutnya hasil tindak pidana tersebut dirampas untuk negara atau dikembalikan kepada yang berhak. Apabila harta kekayaan hasil tindak pidana yang dikuasai oleh pelaku atau organisasi kejahatan dapat disita atau dirampas, dengan sendirinya dapat menurunkan tingkat kriminalitas, untuk itu, upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang memerlukan landasan hukum yang kuat untuk menjamin kepastian hukum, efektivitas penegakan hukum serta penelusuran dan pengembalian harta kekayaan hasil tindak pidana.
Penelusuran harta kekayaan hasil tindak pidana pada umumnya dilakukan oleh lembaga keuangan melalui mekanisme yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Lembaga keuangan memiliki peranan penting khususnya dalam menerapkan prinsip mengenali pengguna jasa dan melaporkan transaksi tertentu kepada otoritas (financial intelligence unit) sebagai bahan analisis dan untuk selanjutnya disampaikan kepada Penyidik.
Lembaga keuangan tidak hanya berperan dalam membantu penegakan hukum, tetapi juga menjaga dirinya dari berbagai risiko, yaitu risiko operasional, hukum, terkonsentrasinya transaksi, dan reputasi karena tidak lagi digunakan sebagai sarana dan sasaran oleh pelaku tindak pidana
untuk mencuci uang hasil tindak pidana, dengan pengelolaan risiko yang baik, lembaga keuangan akan mampu melaksanakan fungsinya secara optimal, sehingga pada gilirannya sistem keuangan menjadi lebih stabil dan terpercaya.
Tindak pidana pencucian uang dalam perkembangannya, menjadi semakin kompleks, melintasi batas-batas yurisdiksi, dan menggunakan
modus yang semakin variatif, memanfaatkan lembaga di luar sistem keuangan, bahkan telah merambah ke berbagai sektor, untuk mengantisipasi hal itu, Financial Action Task Force (FATF) on Money Laundering telah mengeluarkan standar internasional yang menjadi ukuran bagi setiap negara dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana pendanaan terorisme yang dikenal dengan Revised 40 Recommendations dan 9 Special Recommendations
(Revised 40+9) Financial Action Task Force (FATF), antara lain mengenai perluasan pihak pelapor (reporting parties) yang mencakup pedagang permata dan perhiasan/logam mulia dan pedagang kendaraan bermotor. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang perlu dilakukan kerja sama regional dan internasional melalui forum bilateral atau multilateral agar intensitas tindak pidana yang menghasilkan atau melibatkan harta kekayaan yang jumlahnya besar dapat diminimalisir.
Penanganan tindak pidana pencucian uang di Indonesia yang dimulai sejak disahkannya Undang-undang RI Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah menjadi
Undang-undang RI Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-undang RI Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, yang kemudian telah diganti dengan undang-undang terbaru, yaitu Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, telah menunjukkan arah yang positif, hal itu tercermin dari meningkatnya kesadaran dari pelaksana Undang-undang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, seperti Penyedia Jasa Keuangan (PJK) dalam melaksanakan kewajiban pelaporan, Lembaga Pengawas dan Pengatur dalam pembuatan peraturan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam kegiatan analisis, dan penegak hukum dalam menindaklanjuti hasil analisis hingga penjatuhan sanksi pidana dan/atau sanksi administratif.
Upaya yang dilakukan tersebut dirasakan belum optimal, antara lain karena peraturan perundang-undangan yang ada ternyata masih memberikan ruang timbulnya penafsiran yang berbeda-beda, adanya celah hukum, kurang tepatnya pemberian sanksi, belum dimanfaatkannya pergeseran beban pembuktian, keterbatasan akses informasi, sempitnya cakupan pelapor dan jenis laporannya, serta kurang jelasnya tugas dan kewenangan dari para pelaksana Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ini.
Berikut ini adalah beberapa pasal di dalam Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang berkenaan dengan kejahatan carding, antara lain:
1. Pasal 1 angka 1 berbunyi:
“Pencucian uang adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini”.
Tindak pidana yang dimaksud di dalam undang-undang tersebut terdapat pada pasal selanjutnya.
2. Pasal 2 ayat (1) berbunyi:
“Hasil tindak pidana adalah harta kekayaan yang diperoleh dari tindak pidana:
a. korupsi; b. penyuapan; c. narkotika; d. psikotropika;
e. penyelundupan tenaga kerja; f. penyelundupan migran; g. di bidang perbankan; h. di bidang pasar modal; i. di bidang perasuransian; j. kepabeanan;
k. cukai;
l. perdagangan orang;
m. perdagangan senjata gelap; n. terorisme; o. penculikan; p. pencurian; q. penggelapan; r. penipuan; s. pemalsuan uang; t. perjudian; u. prostitusi; v. di bidang perpajakan; w. di bidang kehutanan;
y. di bidang kelautan dan perikanan; atau
z. tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih,
yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tindak pidana tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia”.
3. Pasal 3 berbunyi:
“Setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)”.
4. Pasal 4 berbunyi:
“Setiap orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber, lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)”. 5. Pasal 5 ayat (1) berbunyi:
”Setiap orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”.
6. Pasal 10 berbunyi:
“Setiap orang yang berada di dalam atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang turut serta melakukan percobaan, pembantuan, atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana pencucian uang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5”.
4. Kedudukan Korban Kejahatan Carding dalam Hukum Pidana
Agar dapat mengetahui tentang kedudukan korban kejahatan carding
dalam hukum pidana, harus dipahami terlebih dahulu mengenai pengertian korban secara umum. Pentingnya pengertian korban dalam pembahasan ini adalah untuk sekedar membantu dalam menentukan secara jelas mengenai batas-batas yang dimaksud oleh pengertian tersebut, sehingga diperoleh kesamaan cara pandang.
Menurut Arif Gosita, korban adalah mereka yang menderita secara jasmani dan rohani sebagai akibat dari tindakan orang lain yang mencari pemenuhan kepentingan diri sendiri atau orang lain yang bertentangan dengan kepentingan dan hak asasi yang menderita.113 Akan tetapi, korban suatu kejahatan tidaklah selalu berupa individu, tetapi bisa juga berupa kelompok orang, masyarakat, atau badan hukum. Bahkan pada kejahatan tertentu, korbannya bisa juga berasal dari bentuk kehidupan lainnya, seperti tumbuhan, hewan, atau ekosistem. Korban semacam ini lazimnya ditemui dalam kejahatan terhadap lingkungan misalnya.114
Menurut Muladi, korban atau victims adalah orang-orang yang baik secara individu maupun secara kolektif telah menderita kerugian, termasuk kerugian fisik
113 Arif Gosita, Masalah Korban Kejahatan (Kumpulan Karangan), CV. Akademika Pressindo, Jakarta, 1985, halaman 41.
114 Dikdik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan: Antara Norma dan Realita, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, halaman 45-46.
atau mental, emosional, ekonomi, atau gangguan substansial terhadap hak-haknya yang fundamental, melalui perbuatan atau komisi yang melanggar hukum pidana di masing-masing negara, termasuk penyalahgunaan kekasaan.115
Masalah korban sebenarnya bukanlah masalah yang baru, hanya karena hal-hal tertentu kurang diperhatikan, bahkan diabaikan. Apabila diamati mengenai masalah kejahatan menurut proporsi yang sebenarnya secara dimensional, maka mau tidak mau harus memperhitungkan pernan si korban dalam timbulnya suatu kejahatan. Korban suatu kejahatan jika tidak ada si korban kejahatan yang merupakan pesera utama dari si penjahat dalam hal terjadinya suatu kejahatan dan hal pemenuhan kepentingan si penjahat yang berakibat penderitaan si korban.116
Berikut ini adalah dasar untuk memperhatikan kedudukan korban dalam tindak pidana, antara lain:117
1. Belum adanya pengaturan yang sempurna mengenai si korban secara yuridis yang menunjukkan adanya pengayoman serta keadilan dan ketertiban;
2. Adanya falsafah Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mewajibkan setiap warga negara melayani sesama manusia demi keadilan dan kesejahteraan yang bersangkutan;
3. Adanya keperluan melengkapi perbaikan pada hukum pidana dan hukum acara pidana dan pengasuhan/pemasyarakatan sebagai
115Ibid., halaman 47. 116Op.cit., halaman 43. 117Ibid., halaman 58-60.
tindak lanjut dari setiap orang yang tersangkut dalam suatu tindak pidana termasuk pihak korban;
4. Adanya peningkatan kejahatan internasional yang mungkin juga menimbulkan korban warga negara Indonesia tanpa adanya kemungkinan mendapatkan kompensasi, sedangkan yang menderita itu sangat memerlukan kompensasi untuk kelanjutan hidupnya, dalam hal ini, apabila tidak ada yang mau memberikan kompensasi tersebut, maka tidak akan ada lagi yang memberikannya;
5. Adanya kekurangan dalam usaha pencegahan terjadinya korban-korban, baik karena kurangnya penyuluhan, maupun karena bertambahnya pembiaran terjadinya penyimpangan dan tindakan pidana dengan sengaja oleh masyarakat karena beberapa hal tertentu;
6. Adanya pencerminan pencurahan perhatian yang lebih besar pada si pelaku daripada si korban dalam Undang-undang Hukum Pidana dan Acara Pidana mengenai tanggung jawab terjadinya tindak pidana. Seolah-olah Undang-undang Hukum Pidana membuat suatu perbedaan atau pemisahan yang tajam antara pelaku dan korban dalam hal terjadinya suatu tindak pidana;
7. Kurangnya perhatian terhadap yang bersengketa dimana setaraf kedudukannya dan sama martabatnya dalam perkara pidana, antara lain hal ini dirasakan pada proses peradilan penyelesaian masalah
tindak pidana. Si Terdakwa pembuat korban dan si korban yang sedikit banyak bertanggung jawab terhadap terjadinya suatu tindak pidana bersama-sama tidak berhadapan secara langsung antara satu sama lain, melainkan si korban diwakili oleh Jaksa sebagai wakil dari ketertiban hukum demi kepentingan umum (penguasa). Si korban tidak mempunyai arti lagi karena diabstrakkan. Si korban hanya sebagai pemberi keterangan, hanya sebagai saksi jika diperlukan, sebagai alat bukti saja;
8. Supaya dapat lebih baik lagi dalam merealisasikan keadilan, maka ada pendapat bahwa dalam pelaksanaan hukum pidana, perlu dimasukkan lagi dimensi hukum perdata yang lebih kuat lagi dan menetralisasikan sifat eksklusif hukum publik dari peradilan pidana.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka kedudukan korban kejahatan carding dalam hukum pidana menurut Penulis sudah sepatutnya korban kejahatan carding tersebut diberikan perlindungan atau proteksi terhadap dirinya, baik secara jasmani maupun rohani. Korban kejahatan carding biasanya adalah individu, jarang yang berkelompok karena hal ini terkait dengan pengguna kartu kredit yang hanya dapat berjumlah 1 (satu) orang saja tiap kartu kredit, artinya hanya 1 (satu) nama user atau pengguna saja yang diakui oleh penerbit, meskipun kartu kredit tersebut dipinjamkan oleh orang lain. Tidak dimungkinan untuk mendaftarkan 2 (dua) pengguna sekaligus dalam 1 (satu) kartu kredit yang sama. Seandainya kartu kredit tersebut dipinjamkan kepada orang lain, maka yang
dianggap sebagai korban apabila terjadi kejahatan carding terhadap si peminjam tersebut hanyalah pemilik atau pemegang kartu kredit yang sah karena nilai kerugian atau uang yang dicuri oleh pelaku kejahatan carding (carder) tersebut hanyalah tertuju pada pemilik atau pemegang kartu kredit yang sah.
Korban kejahatan carding seharusnya diberikan perlindungan secara khusus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, akan tetapi biasanya korban dari kejahatan carding adalah warga negara asing yang menetap di luar negeri, dengan kata lain, perlindungan terhadap korban kejahatan carding
dapat saja diberikan oleh pemerintah negara yang bersangkutan, di tempat di mana si korban tinggal atau berdasarkan kewarganegaraannya.
5. Hubungan antara Kejahatan Carding dengan Tindak Pidana
Pencucian Uang
Sesuai dengan ketentuan yang ada di dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, yaitu:
Pasal 3 berbunyi:
“Setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga, atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)”.
Pasal 4 berbunyi:
“Setiap orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber, lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang
sebenarnya atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)”.
Pasal 5 berbunyi:
“(1) Setiap orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi pihak pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini”.
Ketiga pasal di dalam undang-undang tersebut telah secara jelas menyatakan unsur-unsur yang terdapat di dalam tindak pidana pencucian uang yang secara langsung telah memenuhi kriteria kejahatan carding, antara lain
menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan,
menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk,
menukarkan dengan mata uang atau surat berharga, atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. Kejahatan carding yang dilakukan oleh carder dilakukan dengan menggunakan kartu kredit milik orang lain tanpa seijin pemiliknya dengan cara pada umumnya adalah mentransfer, membelanjakan, dan/atau membayarkan uang yang didapat dari hasil kejahatan carding tersebut melalui situs atau website yang menyediakan layanan e-commerce yang dewasa ini perkembangannya sangat pesat, seperti amazon, ebay, lazada, tokopedia, tokobagus, zalora, bukalapak, dan lain sebagainya. Para carder yang telah melakukan kejahatan carding ini, baik
secara sadar maupun tidak sadar juga telah memenuhi unsur-unsur di dalam tindak pidana pencucian uang, sehingga terdapat kaitan yang erat antara kejahatan
carding dengan tindak pidana pencucian uang. Kegiatan pencucian uang yang dilakukan oleh carder melalui situs atau website yang menyediakan layanan e-commerce juga sejalan dengan 2 (dua) modus operandi dalam tindak pidana pencucian uang, yaitu118 pertama, modus penyelundupan uang tunai atau sistem bank paralel ke negara lain. Modus ini dilakukan dengan cara menyelundupkan sejumlah uang secara fisik ke luar negeri, namun karena cara ini sangat berisiko, seperti dirampok, hilang, atau tertangkap dalam pemeriksaan di bandara atau pelabuhan laut, maka dicari modus atau cara yang lebih mudah, yaitu melalui
electronic transfer dari suatu negara ke negara lain. Kedua, dengan menggunakan
Modus Identitas Palsu, yaitu modus yang dilakukan dengan cara memanfaatkan identitas sebagai mesin pemutihan uang dengan cara mendepositokan,
menggunakan identitas palsu, menggunakan safe deposit box untuk
menyembunyikan uang hasil kejahatan (dirty money), menyediakan fasilitas transfer supaya dengan mudah ditransfer ke tempat yang dikehendaki,