• Tidak ada hasil yang ditemukan

UANG DI INDONESIA

2. Pengaturan di dalam KUHPidana dan KUHAP (Lex Generalis)

2.2. Pengaturan Menurut KUHAP

2.2.1. Sistem Pembuktian yang Berlaku di Indonesia

Pembuktian tentang benar atau tidaknya Terdakwa melakukan perbuatan yang didakwakan merupakan bagian yang terpenting dalam acara pidana karena dalam hal ini pun hak asasi manusia dipertaruhan. Tidak bisa dibayangkan bagaimana akibat

90 Edmon Makarim, Kajian Aspek Hukum Kearsipan dan Dokumentasi: Kompilasi

Hukum Telematika, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, halaman 210. 91Ibid.

jika seseorang yang didakwa dinyatakan terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan berdasarkan alat bukti yang ada disertai keyakinan Hakim, padahal tidak benar, maka untuk hal inilah hukum acara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materiil, berbeda dengan hukum acara perdata yang cukup puas dengan kebenaran formil saja.92

Sejarah perkembangan hukum acara pidana menunjukkan bahwa terdapat beberapa sistem untuk membuktikan perbuatan yang didakwakan. Sistem pembuktian bervariasi menurut waktu dan tempat (negara).93

Indonesia sama dengan Belanda dan negara-negara Eropa Kontinental lainnya yang menganut paham bahwa Hakimlah yang menilai alat bukti yang diajukan dengan keyakinannya sendiri dan bukan menggunakan juri seperti di Amerika Serikat dan negara- negara Anglo Saxon lainnya. Di negara-negara tersebut, bagian belakang dari juri yang pada umumnya terdiri dari orang awam itulah yang menentukan sah atau tidaknya (guilty or not guilty) seorang Terdakwa, sedangkan Hakim hanya memimpin persidangan dan menjatuhkan pidana (sentencing).94

Demi alasan mencari kebenaran materiil itulah, maka asas

akusator (accusatoir) memandang Terdakwa sebagai pihak yang

92 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, halaman 249.

93Ibid. 94Ibid.

sama dalam perkara perdata yang telah ditinggalkan dan diganti

dengan asas inkisitor (inquisitoir) memandang bahwa Terdakwa

sebagai objek pemeriksaan, bahkan kadangkala digunakan alat penyiksa untuk memperoleh pengakuan secara langsung dari Terdakwa.95

Terdapat beberapa sistem pembuktian untuk menilai kekuatan pembuktian terhadap alat-alat bukti yang ada, antara lain:96

1. Sistem Pembuktian Berdasarkan Undang-undang

Secara Positif atau Positief Wettelijk Bewijstheorie. Pembuktian yang hanya didasarkan kepada alat-alat pembuktian yang disebut undang-undang, disebut sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif (positief wettelijk bewijstheorie), dikatakan positif karena hanya didasarkan kepada undang-undang, artinya, jika telah terbukti suatu perbuatan sesuai dengan alat-alat bukti yang disebut oleh undang-undang, maka keyakinan Hakim tidak diperlukan sama sekali. Sistem ini disebut juga dengan teori pembuktian formil atau formele bewijstheorie.

Menurut D. Simons, sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif (positiefwettelijk) ini berusaha untuk menyingkirkan semua pertimbangan subjektif Hakim

95Ibid., halaman 250. 96Ibid., halaman 251.

dan mengikat Hakim dengan ketat menurut peraturan- peraturan pembuktian yang keras. Sistem pembuktian ini dianut di Eropa pada waktu berlakunya asas inkisitor (inquisitoir) dalam acara pidana.97

Tidak ada yang menganut sistem ini sekarang.98

Sistem ini terlalu banyak mengandalkan kekuatan pembuktian yang disebut oleh undang-undang.

Sistem pembuktian ini juga ditolak oleh Wirjono Prodjodikoro untuk dianut di Indonesia karena ia berpendapat bahwa bagaimana Hakim dapat menetapkan kebenaran selain dengan cara menyatakan kepada keyakinannya tentang hal kebenaran itu, lagi pula keyakinan seorang Hakim yang jujur dan berpengalaman mungkin sekali adalah sesuai dengan keyakinan masyarakat;99

2. Sistem Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim

Belaka atau Conviction in Time

Berhadap-hadapan secara berlawanan dengan sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif adalah

97 D. Simons, Beknopte Handleiding tot het Wetboek van Strafvordering, De Erven F. Bohn, Haarlem, 1925, halaman 149.

98 A. Minkenhof, De Nederlandsche Strafvordering, H. D. Tjeenk Willink & Zoon, Haarlem, 1967, halaman 217.

99 Wirjono Prodjodikoro, Perbuatan Melanggar Hukum, Penerbit Sumur Bandung, Jakarta, 1967, halaman 75.

sistem pembuktian menurut keyakinan Hakim belaka. Sistem ini disebut juga dengan conviction in time.

Alat bukti berupa pengakuan dari Terdakwa sendiri juga disadari tidak selalu membuktikan kebenaran. Pengakuan terkadang tidak menjamin bahwa Terdakwa benar-benar telah melakukan perbuatan yang didakwakan, oleh karena itu diperlukan keyakinan Hakim.

Bertolak pangkal pada pemikiran itulah, maka sistem atau teori berdasarkan keyakinan Hakim belaka yang didasarkan kepada keyakinan hati nurani Hakim sendiri ditetapkan bahwa Terdakwa telah melakukan perbuatan yang didakwakan, dengan sistem ini pemidanaan dimungkinkan tanpa didasarkan kepada alat-alat bukti dalam undang-undang. Sistem ini dianut oleh Peradilan Juri di Perancis.100

Menurut Wirjono Prodjodikoro, sistem pembuktian ini pernah dianut di Indonesia, yaitu pada Pengadilan Distrik dan Pengadilan Kabupaten. Sistem ini memungkinan Hakim menyebut apa saja yang menjadi

dasar keyakinannya, misalnya keterangan medium atau

dukun.101

100 D. Simons, Op.cit., halaman 149, merujuk pada Pasal 342 Code d’ Instruction Criminelle. Disebut juga oleh A. Minkenhof, Op.cit., halaman 219.

Sistem ini memberikan kebebasan kepada Hakim terlalu besar, sehingga sulit untuk diawasi, di samping itu, Terdakwa atau Penasihat Hukumnya sulit untuk melakukan pembelaan, namun Hakim dapat memidana Terdakwa berdasarkan keyakinannya bahwa Terdakwa telah melakukan apa yang didakwakan. Praktik Peradilan Juri di Perancis membuat pertimbangan berdasarkan metode ini dan mengakibatkan banyaknya putusan-putusan bebas yang sangat aneh.102

Pelaksanaan pembuktian seperti pemeriksaan dan pengambilan sumpah saksi serta pembacaan berkas perkara terdapat pada semua perundang-undangan acara pidana, termasuk sistem keyakinan Hakim belaka;

3. Sistem Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim

atas Alasan yang Logis atau La Conviction

Raisonnee

Sebagai jalan tengah, muncul sistem yang disebut dengan pembuktian berdasarkan keyakinan Hakim sampai batas tertentu (la conviction raisonnee). Menurut sistem ini, Hakim dapat memutuskan seseorang bersalah atau tidak bersalah, berdasarkan keyakinan, yaitu keyakinan yang didasarkan kepada dasar-dasar pembuktian yang disertai

dengan suatu kesimpulan (conclusive) yang berlandaskan kepada peraturan-peraturan pembuktian tertentu. Jadi, putusan Hakim dijatuhkan dengan suatu motivasi.

Sistem pembuktian ini disebut juga dengan pembuktian bebas, karena Hakim bebas untuk menyebutkan alasan-alasan keyakinannya (vrijebewijstheorie).

Sistem pembuktian jalan tengah atau yang berdasarkan keyakinan Hakim sampai batas tertentu ini terpecah menjadi 2 (dua) jenis. Pertama, yaitu pembuktian

berdasarkan keyakinan Hakim atas alasan yang logis (la

conviction raisonnee). Kedua, yaitu sistem pembuktian

berdasarkan undang-undang secara negatif atau negatief

wettelijk bewijstheorie.

Persamaan antara keduanya adalah bahwa keduanya sama-sama berdasarkan atas keyakinan Hakim, artinya Terdakwa tidak mungkin dipidana tanpa adanya keyakinan Hakim bahwa Terdakwa bersalah. Perbedaannya adalah bahwa jenis yang pertama berpangkal tolak pada keyakinan Hakim, tetapi keyakinan harus didasarkan kepada suatu kesimpulan (conclusive) yang logis, yang tidak didasarkan kepada undang-undang, tetapi ketentuan-ketentuan menurut ilmu pengetahuan Hakim sendiri, menurut pilihan sendiri tentang pelaksanaan pembuktian yang mana akan

dipergunakan, sedangkan jenis yang kedua berpangkal tolak pada aturan-aturan pembuktian yang ditetapkan secara limitatif oleh undang-undang, akan tetapi hal harus diikuti dengan keyakinan Hakim.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa perbedaannya ada 2 (dua), yaitu yang pertama, pangkal tolaknya pada keyakinan Hakim, sedangkan yang kedua, pada ketentuan undang- undang, kemudian pada yang pertama, dasarnya adalah suatu konklusi yang tidak didasarkan pada undang-undang, sedangkan pada yang kedua, didasarkan kepada ketentuan undang-undang yang disebut secara limitatif;

4. Sistem Pembuktian Berdasarkan Undang-undang

Secara Negatif atau Negatief Wettelijk

HIR (Herziene Inlands Regelement), KUHAP, dan

Ned. Sv. (Nederlandsche Strafvordering) yang lama dan

yang baru, semua menganut sistem pembuktian berdasarkan undang-undang negatif (negatief wettelijk), hal tersebut dapat disimpulkan dari Pasal 183 KUHAP, yang dahulu adalah Pasal 294 HIR.

Pasal 183 KUHAP berbunyi:

“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya 2 (dua) alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa Terdakwalah yang bersalah melakukannya”.

Dari kalimat tersebut, nyata bahwa pembuktian harus didasarkan kepada undang-undang (KUHAP), yaitu alat bukti yang sah tersebut dalam Pasal 184 KUHAP, disertai dengan keyakinan Hakim yang diperoleh dari alat- alat bukti tersebut.

Pasal 184 KUHAP ini dapat dikatakan sama dengan ketentuan pada Pasal 294 ayat (1) HIR yang berbunyi:

“Tidak seorang pun boleh dikenakan pidana, selain jika Hakim mendapat keyakinan dengan alat bukti yang sah, bahwa benar telah terjadi perbuatan yang dapat dipidana dan bahwa orang-orang yang didakwa itulah yang bersalah melakukan perbuatan itu”.

Sebenarnya sebelum diberlakukannya KUHAP, ketentuan yang sama telah ditetapkan dalam Undang-

undang RI tentang Kekuasaan Kehakiman pada Pasal 6

ayat (2) yang berbunyi:

“Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila Pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang mendapat keyakinan, bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya”.

Kelemahan rumus undang-undang ini adalah karena disebut alat pembuktian, melainkan bukan alat-alat pembuktian, atau seperti dalam Pasal 183 KUHAP disebut 2 (dua) alat bukti.

Dasar pemidanaan dalam sistem pembuktian yang berdasarkan undang-undang secara negatif didasarkan

kepada pembuktian yang berganda (dubbel en grondslag)

menurut D. Simons, yaitu pada peraturan perundang- undangan, keyakinan Hakim, dan menurut undang-undang, dasar keyakinan Hakim itu bersumber dari peraturan perundang-undangan.103

Sistem pembuktian inilah yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh KUHAP. Wirjono Prodjodikoro berpendapat bahwa sistem pembuktian berdasarkan undang- undang secara negatif sebaiknya dipertahankan berdasarkan 2 (dua) alasan, pertama, memang sudah selayaknya harus ada keyakinan Hakim tentang kesalahan Terdakwa untuk dapat menjatuhkan suatu hukuman pidana, sehingga Hakim tidak memidana orang lain dengan terpaksa padahal tidak yakin atas kesalahan Terdakwa. Kedua adalah berfaedah jika ada aturan yang mengikat Hakim dalam menyusun keyakinannya, agar ada patokan-patokan tertentu yang harus dituruti oleh Hakim dalam melakukan praktik peradilan.104

103 Wirjono Prodjodikoro, Op.cit., halaman 77. 104Ibid.