BAB II PERSPEKTIF TEOR
2.1.2. Perceraian
2.1.2.5. Pengaturan Hak Asuh Anak Setelah Perceraian
Pengasuhan anak setelah perceraian mengacu pada hak dan tanggung jawab orangtua secara fisik dan hukum kepada anak-anak mereka (Clarke-Stewart & Brentano, 2006). Pengasuhan anak secara hukum (legal custody) yakni orangtua memiliki hak dalam membuat dan mengambil keputusan terkait dengan kesehatan, kesejahteraan, pendidikan, dan pengajaran agama kepada anak. Pengasuhan anak secara fisik (physical custody) yakni orangtua memiliki hak dan tanggung jawab dalam mengontrol dan merawat anak sehari-hari (Clarke-Stewart & Brentano, 2006). Model pengasuhan physical custody ini menjadi salah satu jenis pengasuhan anak yang dapat di jumpai di Indonesia, dimana dijelaskan
sebagai hak yang diberikan oleh pengadilan pada salah satu orangtua secara fisik (mengontrol dan merawat sehari-hari) namun terkait dengan masa depan maupun biaya hidup tidak ditangani sendiri oleh orangtua yang mengasuh secara fisik (Ka’Bah, 2007 dalam Gofar, 2013). Pada beberapa negara penerapan bentuk fisik dan hukum dalam pengasuhan anak pada praktiknya sering menjadi satu atau di kombinasi (Clarke-Stewart & Brentano, 2006). Berikut merupakan beberapa model pengasuhan anak :
1. Sole Custody
Model pengasuhan ini merupakan salah satu model pengasuhan anak yang digunakan di Indonesia (Ka’Bah, 2007 dalam Gofar, 2013), dimana merupakan model pengaturan pengasuhan anak yang mencakup sole legal
custody dan sole physical custody. Sole legal custody merupakan pemberian
hak asuh secara hukum kepada satu orangtua (Clarke-Stewart & Brentano, 2006). Orangtua yang mendapatkan hak asuh atas anak memiliki hak dalam memberikan kontrol secara penuh serta membuat dan mengambil semua keputusan besar untuk anak tanpa harus meminta pertimbangan lebih dulu kepada mantan pasangannya (Clarke-Stewart & Brentano, 2006; Ka’Bah, 2007 dalam Gofar, 2013). Bagi mantan pasangan biasanya mereka memiliki hak atas anak terkait kunjungan, jadi mantan pasangan berhak untuk melakukan kunjungan terhadap anak baik selama semalam atau saat sedang liburan. Selanjutnya sole physical custody merupakan pemberian hak asuh fisik secara eksklusif kepada satu orangtua (Clarke-Stewart & Brentano, 2006).
Pemberian hak asuh kepada satu orangtua, baik secara hukum maupun fisik atau kombinasi keduanya, biasanya dilakukan hanya ketika orangtua lainnya (mantan pasangan) sudah mengabaikan atau melakukan penyiksaan terhadap anak (Clarke-Stewart & Brentano, 2006). Sole custody ini dapat diberikan kepada ibu, yang dikenal dengan mothers with custody, atau diberikan kepada ayah, yang dikenal dengan father with custody (Olson & DeFrain, 2003). Berikut merupakan penjelasan lebih lanjut terkait dengan
mother with custody dan father with custody :
a. Mothers with Custody
Mothers with custody merupakan salah satu model pengasuhan anak
dimana salah satu dari orangtua yang bercerai, yakni ibu, berperan sebagai orangtua tunggal bagi anak (Olson & DeFrain, 2003). Model pengasuhan ini dapat membuat stress ibu sebagai pengurus tunggal anak, hal ini karena banyak masalah yang akan di alami oleh ibu sebagai orangtua tunggal. Masalah yang cukup sering membuat stress adalah keuangan yang terbatas, belum lagi jika mantan suami tidak bisa secara rutin memberikan tunjangan kepada anaknya (Olson & DeFrain, 2003). Ibu sebagai pengasuh tunggal harus mencari uang lebih banyak lagi agar dapat mencukupi kebutuhan anak.
b. Fathers with Custody
Fathers with custody merupakan model pengasuhan anak dimana salah
satu dari orangtua yang bercerai, yakni ayah, berperan sebagai orangtua tunggal bagi anak (Olson & DeFrain, 2003). Ayah sebagai orangtua
tunggal dalam mengurus anak biasanya sering merasa sedih, kesepian, dan sulit menyeimbangkan antara pekerjaan dan juga keluarga (Olson & DeFrain, 2003).
2. Joint Custody
Joint custody merupakan salah satu model pengaturan pengasuhan anak
yang juga digunakan oleh pasangan bercerai di Indonesia (Ka’Bah, 2007 dalam Gofar, 2013), yakni merupakan model pengasuhan anak yang masih melibatkan pengasuhan dari kedua orangtua secara penuh meskipun telah bercerai, jadi kedua orangtua sama-sama bertanggungjawab dan mempunyai kekuasaan terhadap anak (Ka’Bah, 2007 dalam Gofar, 2013; Olson & DeFrain, 2003), yang mencakup joint legal custody dan joint physical custody (Clarke-Stewart &Brentano, 2006). Joint legal custody merupakan pemberian hak asuh anak secara hukum kepada kedua orangtua, jadi disini antar mantan pasangan harus saling memberikan informasi dan meminta persetujuan terlebih dahulu dalam mengambil keputusan tertentu untuk anak. Selanjutnya
joint physical custody merupakan pemberian hak asuh anak secara fisik
kepada kedua orangtua (Clarke-Stewart & Brentano, 2006).
Mantan pasangan yang berbagi hak asuh anak secara fisik biasanya juga secara otomatis sudah berbagi hak asuh anak secara hukum, namun sebaliknya mantan pasangan yang berbagi hak asuh secara hukum tidak selalu berbagi hak asuh secara fisik juga. Berbagi secara fisik disini yakni secara bergantian mengontrol dan merawat anak sehari-hari. Dalam joint physical
fifty, akan tetapi yang penting kedua orangtua sama-sama memiliki waktu yang banyak dengan anak (Clarke-Stewart & Brentano, 2006). Model pengasuhan joint custody ini dapat berjalan dengan baik hanya jika kedua orangtua yang bercerai mampu bekerja sama demi kepentingan terbaik anak- anak mereka. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa model pengasuhan
joint custody ini memiliki dampak yang lebih positif bagi anak dibandingkan
model pengasuhan sole custody, hal ini karena anak jadi memiliki permasalahan terkait perasaan emosional yang lebih sedikit, memiliki self-
esteem yang tinggi, dan performa di sekolah juga lebih baik (Bauserman,
2002 dalam Olson & DeFrain, 2003).
3. Split/Devided Custody
Model pengasuhan ini di Indonesia dikenal sebagai devided custody.
Split/devided custody ini merupakan salah satu model pengaturan pengasuhan
anak yang melibatkan kedua orangtua yang bercerai dengan cara saling membagi hak asuh atas anak, jadi anak ada yang tinggal dengan ibu dan ada yang tinggal dengan ayah serta masing-masing memiliki pengasuhan fisik dan tanggungjawab sepenuh waktu terhadap anak (Clarke-Stewart &Brentano, 2006; Ka’Bah, 2007 dalam Gofar, 2013; Bauserman, 2002; DeFrain, dkk., 1987; Hawthorne, 2000 dalam Olson & DeFrain, 2003). Model pengasuhan split/devided custody ini memerlukan kombinasi pengasuhan anak secara fisik dan juga secara hukum (Clarke-Stewart & Brentano, 2006). Menurut Olson & DeFrain (2003) model pengasuhan
berjalan cukup baik bagi pasangan yang bercerai. Akan tetapi model pengasuhan ini dapat mengganggu penyesuaian anak dengan perceraian yang dilakukan oleh orangtua (Kaplan, Hennon & Ade-Ridder, 1993 dalam Hawthorne, 2000). Model pengasuhan split/devided custody juga diprediksi dapat mempengaruhi hubungan antar saudara, yakni dapat menghilangkan perilaku saling mendukung antar saudara kandung serta menghilangkan kenyamanan dan perlindungan yang dilakukan oleh kakak terhadap adiknya (Bryant, 1992; Kris & Ritvos, 1983; Wallerstein, 1985; Waters, 1987 dalam Hawthorne, 2000). Padahal hubungan antar saudara penting karena turut berperan dalam membantu perkembangan sosial dan emosional seorang anak (Sanders, 2004).
4. Bird’s Nest Custody
Bird’s nest custody merupakan model pengasuhan anak dimana mengacu
pada tempat tinggal anak. Dalam model pengasuhan ini seorang anak korban perceraian orangtua tetap tinggal di dalam rumah mereka (rumah saat orangtua belum bercerai) dan orangtua yang secara bergantian datang menemani anak-anak mereka di rumah. Jadi ketika ibu yang sedang tinggal di rumah bersama anak maka ayah tidak di rumah atau tinggal di tempatnya atau rumahnya sendiri, sebaliknya jika ayah sedang tinggal di rumah bersama anak maka ibu tidak di rumah atau tinggal di tempatnya atau rumahnya sendiri (Clarke-Stewart & Brentano, 2006).
Keputusan model pengasuhan anak yang digunakan sejak resmi bercerai belum tentu akan berjalan dengan terus sama selama menjalani kehidupan,
ditengah-tengah bisa saja model pengasuhan yang telah dipilih jadi berubah. Hal ini karena penentuan pengaturan pengasuhan anak merupakan bagian yang sulit dalam perceraian orangtua, ditambah dengan mengurus anak merupakan sesuatu yang kompleks dan menantang bagi pasangan yang bercerai (Clarke-Stewart & Brentano, 2006).
Dalam penelitian ini partisipan yang digunakan adalah yang memiliki latar belakang orangtua bercerai dan tinggal terpisah dengan saudara kandungnya. Seseorang yang tinggal terpisah dengan saudara kandungnya karena latar belakang perceraian orangtua dalam penjelasan diatas dikatakan diasuh dengan menggunakan model pengasuhan anak spli/devidedt custody. Penulis memilih model pengasuhan split/devided custody yang digunakan dalam penelitian ini berkaitan dengan perkembangan serta perasaan emosional yang dialami oleh anak. Perkembangan dan perasaan emosional seorang anak salah satunya dipengaruhi dan dibantu oleh hubungan antara anak dengan saudaranya (Sanders, 2004). Pada empat pengaturan pengasuhan anak tersebut hanya ada satu model yang benar- benar membuat saudara kandung saling tinggal terpisah karena hak asuh secara legal maupun fisik dibagi, jadi anak ada yang tinggal dengan ibu dan ada yang tinggal dengan ayah, yakni model pengasuhan split/devided custody (Bauserman, 2002; DeFrain, dkk., 1987; Hawthorne, 2000 dalam Olson & DeFrain, 2003; Clarke-Stewart & Brentano, 2006). Jika antar saudara kandung jadi saling tinggal terpisah maka bukan tidak mungkin pengaruh dan bantuan dari hubungan antar saudara pada perkembangan dan perasaan emosional anak juga akan hilang.
2.1.3. Hubungan antar Saudara