• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN HUKUM KOPERASI DAN USAHA

B. Pengaturan Hukum Koperasi dan Usaha Mikro,

a. Pengaturan Hukum Koperasi Sebelum Lahirnya Undang-Undang Cipta Kerja.

Koperasi mendapatkan tempat yang istimewa sejak berdirinya negara Indonesia. Hal demikian ditunjukkan dalam konstitusi Indonesia terutama Pasal 33 ayat (1) yang menyatakan: “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.” Dalam Penjelasan Pasal 33 yang merupakan bagian tidak terpisahkan keberlakuannya dari Pasal tersebut menyebutkan “Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi.”

Koperasi merupakan bagian dari tata susunan ekonomi, hal ini berarti bahwa dalam kegiatannya koperasi turut mengambil bagian bagi tercapainya kehidupan ekonomi yang sejahtera, baik bagi orang-orang yang menjadi anggota perkumpulan itu sendiri maupun untuk masyarakat di sekitarnya.18 Koperasi sebagai perkumpulan untuk kesejahteraan bersama, melakukan usaha dan kegiatan di bidang pemenuhan kebutuhan bersama dari para anggotannya. Koperasi mempunyai peranan yang cukup besar dalam menyusun usaha bersama dari orang-orang yang mempunyai kemampuan ekonomi terbatas. Dalam rangka usaha untuk memajukan kedudukan

18 Pujiyono, Hukum Koperasi dalam Potret Sejarah di Indonesia, Surakarta, CV. Indotama Solo, 2015. hlm. 15

rakyat yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas tersebut, maka Pemerintah Indonesia memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan perkumpulan- perkumpulan Koperasi.

Koperasi didesain harus dalam kerangka meningkatkan kesejahteraan anggota. Kepentingan mensejahterakan anggota adalah kepentingan ekonomi.

Sebagai salah satu pelaku ekonomi, koperasi merupakan organisasi ekonomi yang berusaha menggerakkan potensi sumber daya ekonomi demi memajukan kesejahteraan anggota. Diutamakan sumber daya berasal dari potensi anggota itu sendiri. Namun harus disadari bahwa ketersediaan sumber daya ekonomi adalah terbatas dan dalam mengembangkan koperasi harus mengutamakan kepentingan anggota, maka koperasi harus mampu bekerja seefektif dan seefisien mungkin berdasarkan prinsip-prinsip koperasi.19 Di dalam Penjelasan pasal tersebut, dinyatakan bahwa bangunan usaha yang sesuai dengan kepribadian bangsa indonesia adalah koperasi. Koperasi adalah sebuah gerakan terorganisasir yang didorong oleh citacita rakyat mencapai masyarakat yang maju, adil dan makmur seperti yang diamanatkan di dalam pembukaan UUD 1945.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka salah satu usaha pemerintah adalah membuat berbagai regulasi tentang koperasi dan mendorong perkembangan koperasi.

Pada perkembangan rezim orde baru, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Koperasi pada tahun 1992 diganti menjadi Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Secara gagasan hukum, UndangUndang ini

19 Ibid, hlm. 5

melanjutkan Undang-Undang yang telah dibentuk sebelumnya. Kemudian ebih dari satu dasawarsa pasca reformasi, pengaturan koperasi diganti dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian yang menggantikan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992. Sayangnya Undang-Undang ini jauh panggang dari api untuk memajukan koperasi. Yang ada malah melemahkan koperasi dan bertentangan dengan UndangUndang Dasar. Undang-Undang ini baru dua tahun berjalan kemudian dibatalkan secara keseluruhan oleh Mahkamah Konstitusi. Undang-Undang Koperasi dianggap sudah kehilangan ruhnya sebab tidak lagi mendasari pada prinsip-prinsip koperasi. Koperasi didesain seperti halnya perusahaan kapitalisme yang semata-mata mencari keuntungan, bukan bertujuan untuk mensejahterakan anggotanya. Bahkan koperasi dalam definisinya menjadi lahan utuk mencari keuntungan oleh oranag peroranagan. Dalam pengujian ini Mahkamah mengabulkan permohonan pemohon dan membatalkan keseluruhan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 dengan beberapa pertimbangan yang kemudian bermuara kepada pengaturan koperasi kembali ke Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992.

Dalam Undang-Undang Perkoperasian definisi Koperasi mengalami perubahan paradigm yang mendasar. Koperasi diberi pengertian sebagai Koperasi adalah badan usahayang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. dalam definisi tersebut koperasi sudah menonjolkan bentuknya sebagai badan usaha, artinya koperasi sudah dilepaskan untuk melakukan usaha ekonomi. Koperasi sudah diperkenankan untuk

mencari keuntungan usaha. Hal ini berbeda dengan pengertian sebelum-sebelumnya yang mendefinisikan koperasi sebagai perkumpulan atau sebagai organisasi ekonomi.

Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, Pengaturan yang lebih mengekang dan membatasi ruang gerak koperasi adalah pengaturan tentang Lembaga Gerakan Koperasi. Dalam Pasal 57 tentang lembaga ini diatur Koperasi secara bersama-sama mendirikan satu organisasi tunggal yang berfungsi sebagai wadah untuk memperjuangkan kepentingan dan bertindak sebagai pembawa aspirasi Koperasi.20 Dalam Pengaturan ini mengatur bahwa semua koperasi nanti akan bergabung dalam satu wadah organisasi tunggal. Seandainya ada koperasi yang tidak sepakat dengan kebijakan organisasi maka koperasi tidak bisa berbuat apa- apa karena organisasi tersebut merupakan satu-satunya wadah koperasi yang sah.

Sebagai wadah tunggal, organisasi tersebut rentan dipolitisasi dari internal kepengurusannya sendiri. Organisasi ini memiliki tugas:21 (1) Memperjuangkan dan menyalurkan aspirasi Koperasi; (2) Meningkatkan kesadaran ber koperasi di kalangan masya rakat; (3) Melakukan pendidikan perko perasian bagi anggota dan masyarakat;

(4) Mengembangkan kerja sama antar Koperasi dan anggota Koperasi dengan Badan usaha lain, baik pada tingkat nasional maupun internasional. Tugas poin (1) di atas menderogasi keberadaan koperasi sebagai organisasi otonom. Setelah didirikannya organisasi tersebut, suara masing-masing koperasi untuk menyalurkan aspirasi diambil oleh organisasi tersebut. Koperasi tidak berhak lagi memperjuangkan dan

20 Pasal 57 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian

21 Pasal 58 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian

menyalurkan aspirasinya sendiri. Dalam masa orde baru ini, koperasi menjadi kepanjangan tangan pemerintah. Keberadaannya direkayasa sedemikian rupa sehingga meninggalkan prinsip-prinsip dasar koperasi.22

b. Pengaturan Hukum Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Sebelum Lahirnya UU Cipta Kerja

Dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dalam meningkatkan perekonomian nasional, Usaha Kecil dan Menengah merupakan sektor yang yang mampu menyerap lapangan kerja, memberikan penambahan pendapatan secara ekonomi kepada masyarakat.23 Dalam industri yang dilakukan diberbagai sektor UKM, masuknya produk impor ke dalam negeri yang lebih bagus kulitasnya dan berdaya saing tinggi, telah menerobos ke pasar Indonesia. Bahkan, industri garmen Indonesia yang sebelumnya kokoh di pasar internasional mulai kalah bersaing dan tak berdaya menghadapinya. Hal tersebut tentu saja membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah agar upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia dapat tercapai bagi para pelaku usaha di sektor UMK-M

Kesejahteraan tercapai apabila pemerintah memberikan perlindungan hukum pada usaha kecil dan menengah (UKM). Perlindungan terhadap pelaku usaha dan produk dalam negeri skala ini akan memberi keuntungan ekonomi, khususnya industri ekspor Indonesia.24 Sebab bagaimanapun kehidupan dan perkembangan dunia perdagangan membutuhkan perhatian yang khusus,terlebih kepada UKM.

22 Mochamad Adib Zain, Politik Hukum Koperasi di Indonesia (Tinjauan Yuridis Historis Pengaturan Koperasi di Indonesia), Jurnal Penelitian Hukum Volume 2, Nomor 3, 2015, hlm.173

23 Wiwik Sri Widiarty, Perlindungan Hukum Usaha Kecil, dan Menengah Dalam Perdangangan Garmen, Jakarta, Universitas Kristen Indonesia Press, 2019, hlm. V

24 Ibid, hlm. 3

Perlindungan hukum dari pemerintah bagi UKM dirasakan sangat penting terutama dalam menjalankan usaha dan perdagangannya. Indonesia sebagai negara berpenduduk besar berpotensi ikut meramaikan perdagangan pasar dunia, khususnya di bidang ekspor dan impor produk yang mengandung nilai ekonomi demi kesejahteraan rakyat. Untuk memperkuat UKM, pemerintah telah merencanakan program yang dimuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005 sampai dengan tahun 2025, yaitu “Melakukan restrukturisasi kredit, memperkuat struktur permodalan, menyalurkan peminjaman kredit yang berjangka waktu relatif pendek, sehingga kondisi yang stabil memberikan kesempatan kepada dunia usaha.25 Untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku usaha guna mengembangkan usahanya, khususnya pada UKM dalam perdagangan garmen sebagai sektor unggulan, bagi pertumbuhan perekonomian nasional maka pemerintah mengeluarkan peraturan (regulasi) untuk membangun dan memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah agar lebih mandiri dan kuat yaitu lahirnya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional yang berdasarkan ekonomi yang berkeadilan.26

Dalam upaya melindungi UKM pemerintah telah menyusun serangkaian peraturan perundang-undangan yang memberikan penjaminan kredit bagi UKM.

25 Undang – Undang Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJPN) Tahun 2005 – 2025, pada Bab II Kondisi Umum, Ekonomi dan IPTEK, Jakarta; CV Novindo nasional Pustaka Mandiri, 2007, hlm. 28

26 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Tujuannya, memacu pertumbuhan sektor riil yang berdampak terbukanya penyediaan lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan kemiskinan. Nasroen Yasabari, Direktur Penjaminan Kredit Perum Sarana Pembangunan Usaha, menyatakan bahwa para pengambil keputusan di Indonesia dapat mengadopsi praktek penjamin kredit di negara lain guna memacu program pengentasan kemiskinan dan pengangguran.

Penjaminan kredit ini juga diatur didalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah sehingga pinjaman untuk permodalan bagi UKM dapat mendorong penyerapan tenaga kerja, sekaligus pelaku usaha dipacu untuk berkreativitas mencari peluang pasar. Pemerintah pun bertugas mengakselarasikan peningkatan daya saing sektor usaha untuk memperbaiki akses bahan baku dan akses modal.27

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Merupakan bentuk sikap politik pemerintah dalam melakukan penguatan ketahanan ekonomi nasional khususnya dibidang UMK-M. Salah satu pertimabngan diterbitkannya Undang-Undang UMK-M tersebut sebagaimana termaktub dalam konsideransnya yaitu bahwa pemberdayaan UMK-M perlu diselengarakan secara menyeluruh, optimal, dan berkesinambungan melalui pengemabangan iklim yang kondusif, pemberian kesempatan berusaha, dukungan, perlindungan, dan pengembangan usaha seluas-luasnya sehingga mampu meningkatkan kedudukan, potensi dan peran UMK-M dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan

27 Lihat UU Nomor. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang berbunyi penjaminan adalah pemberian jaminan pinjaman UMKM oleh lembaga kredit sebagai dukungan untuk memperbesar kesempatan memperoleh pinjaman dalam rangka memperkuat permodalannya.

dan peningkatan pendapatan rakyat, penciptaaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan. Undang-Undang UMK-M juga telah mengantisipasi terhadap berbagai bahaya dari liberalisasi ekonomi, melalui mekanisme pasar bebas dengan kekuatan modalnya, yang selalu mengancam ekonomi nasional dan khususnya UMK-M. Peran pemerintah dapat dilihat didalam Pasal 7 sampai dengan Pasal 15 Bab V mengenai Penumbuhan Iklim Usaha.

Undang-Undang UMK-M disebutkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah akan memberikan dukungan dalam persoalan:

a. Pendanaan;

b. sarana dan prasarana;

c. informasi usaha;

d. kemitraan;

e. perizinan usaha;

f. kesempatan berusaha;

g. promosi dagang; dan h. dukungan kelembagaan

Pengembangan dan pemeberdayaan UMK-M tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada pihak pemerintah karena pemerintah sendiri mempunyai keterbatasan, seperti anggaran keuangan, jumlah dan kompetensi aparat, batas kewengan, periodeisasi tugas, dan sebagainya sehingga diperlukan pelibatan dari

pihak swasta. Peran sawasta dalam pemberdayaan UMK-M adalah memberikan kontribusi dan foemulasi, implementasi, monitoring dan evaluasi.28

Menurut ketentuan Pasal 1 ayat (8) Undang-Undang UMK-M pengertian pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, dan masyarakat secara sinergis dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan usaha terhadap UMK-M, sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri. Pemberdayaan UMK-M dilaksanakan dengan berpegangan pada beberapa prinsip, yaitu:29

a. penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah untuk berkarya dengan prakarsa sendiri;

b. perwujudan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan;

c. pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan kompetensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;

d. peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; dan

e. penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu.

C. Perubahan Pengaturan Hukum Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan

Dokumen terkait